Langsung ke konten

Prosedur medis · Pemeriksaan

Tes Fungsi Paru / Spirometri

Pulmonary Function Test / Spirometry

Tes meniup ke alat untuk mengukur seberapa banyak dan seberapa cepat udara keluar dari paru, membantu membedakan sesak karena paru atau jantung.

Ditinjau secara medis olehdr. Santi R. Dewayanti, Sp.P, Spesialis Paru
Terakhir diperbarui5 Oktober 2026
Ilustrasi tes spirometri dengan paru-paru, jantung, alat spirometer, mouthpiece, dan grafik aliran udara pada layar.
Ilustrasi Tes Fungsi Paru / Spirometri
Kelompok prosedur
Diagnostik
Durasi tindakan
30 menit
Anestesi
Tidak ada
Rawat inap
Tidak direncanakan

Jawaban singkat

Apa Itu Tes Fungsi Paru / Spirometri?

Spirometri adalah tes fungsi paru dengan cara menarik napas dalam lalu meniup sekuat dan secepat mungkin ke alat. Tes ini mengukur jumlah udara yang dapat dikeluarkan dan kecepatannya, sehingga membantu mengenali asma, PPOK, atau gangguan pengembangan paru, serta membedakan sesak karena paru dari sesak karena jantung.

Sumber informasi

Mengenal Tes Fungsi Paru / Spirometri

Apa Itu Spirometri

Spirometri adalah tes fungsi paru yang sering dipakai. Anda diminta menarik napas sedalam-dalamnya, lalu meniup sekuat dan secepat mungkin ke corong yang tersambung dengan alat spirometer. Alat mencatat jumlah dan kecepatan udara yang keluar, lalu membandingkannya dengan nilai normal untuk usia, jenis kelamin, dan tinggi badan Anda.

Cara Kerja Singkat

Saat Anda meniup, alat mengukur aliran udara setiap saat dan menggambarkannya sebagai kurva. Dari kurva ini dihitung berapa banyak udara yang keluar seluruhnya dan berapa banyak yang keluar pada detik pertama. Tiupan diulang beberapa kali sampai didapat hasil yang konsisten.

Apa yang Diukur

  • FVC (kapasitas vital paksa): jumlah seluruh udara yang dapat ditiupkan setelah menarik napas sedalam-dalamnya.
  • FEV1: jumlah udara yang keluar pada detik pertama tiupan.
  • Rasio FEV1/FVC: perbandingan keduanya, untuk melihat apakah saluran napas menyempit.

Bila diperlukan, tes dapat dilengkapi pengukuran kapasitas difusi (DLCO), yaitu kemampuan paru memindahkan oksigen ke darah.

Membaca Pola Hasil

  • Normal: nilai berada dalam rentang yang diharapkan.
  • Obstruktif: rasio FEV1/FVC rendah karena saluran napas menyempit, seperti pada asma dan PPOK. Untuk diagnosis PPOK, rasio kurang dari 0,7 setelah obat pelega dipakai sebagai batas.
  • Dugaan restriktif: FVC rendah dengan rasio normal, misalnya karena paru kaku atau dada sulit mengembang. Pola ini perlu dipastikan dengan pemeriksaan volume paru.

Bila tes diulang setelah obat pelega dan hasilnya membaik cukup banyak, penyempitan saluran napas dapat pulih, seperti yang sering ditemukan pada asma.

Fungsi Paru dan Jantung

Sesak napas dapat berasal dari paru, jantung, atau keduanya. Spirometri membantu dokter memilah penyebabnya. PPOK dan gagal jantung sering ditemukan bersamaan, dan cairan berlebih di paru dapat mengubah hasil, sehingga tes sebaiknya dilakukan saat kondisi jantung stabil. Hasil spirometri juga membantu memilih obat, karena PPOK umumnya bukan halangan untuk memakai obat beta blocker yang bekerja selektif pada jantung. Tes fungsi paru juga menjadi bagian dari pemeriksaan hipertensi paru dan persiapan operasi jantung.

Kapan Tindakan Ini Dipertimbangkan?

Dokter dapat mempertimbangkan tindakan ini pada keadaan berikut. Keputusan selalu ditetapkan setelah evaluasi menyeluruh.

  • Sesak Napas yang Belum Jelas PenyebabnyaMembantu membedakan penyebab dari paru, jantung, atau keduanya.
  • Batuk Lama, Mengi, atau Riwayat MerokokUntuk mencari asma atau PPOK.
  • Gagal Jantung dengan Dugaan Penyakit ParuMencari PPOK yang sering menyertai gagal jantung, saat kondisi sudah stabil.
  • Pemeriksaan Hipertensi ParuMencari penyakit paru sebagai penyebab tekanan tinggi di pembuluh darah paru.
  • Sebelum Operasi JantungMenilai fungsi paru untuk memperkirakan risiko gangguan napas setelah operasi.
  • Memakai Obat yang Dapat Memengaruhi ParuMisalnya amiodaron jangka panjang, sesuai pertimbangan dokter.
Tidak setiap pasien memerlukan tindakan ini. Tanyakan tujuan tindakan dan bagaimana hasilnya memengaruhi rencana perawatan Anda.
Keadaan yang Perlu Dipertimbangkan Lebih Dulu
  • Serangan Jantung dalam Satu Minggu TerakhirTiupan kuat menambah beban jantung, sehingga tes ditunda.
  • Gagal Jantung atau Gangguan Irama yang Belum StabilTes dilakukan setelah kondisi jantung terkendali.
  • Tekanan Darah Sangat Tinggi atau Sangat RendahTes ditunda sampai tekanan darah lebih stabil.
  • Aneurisma Aorta atau Otak yang BesarTekanan saat meniup kuat dapat membahayakan, sehingga perlu pertimbangan dokter.
  • Baru Operasi Mata, Dada, atau PerutTiupan kuat dapat mengganggu penyembuhan luka operasi.
  • Infeksi Saluran Napas yang MenularTes ditunda sampai sembuh untuk melindungi pasien dan petugas lain.

Apa yang Perlu Disiapkan?

Spirometri tidak memerlukan puasa, tetapi beberapa persiapan membantu hasil lebih akurat.

Rokok dan makan. Jangan merokok setidaknya satu jam sebelum tes, dan hindari makan dalam porsi besar dua jam sebelumnya.

Aktivitas dan pakaian. Hindari olahraga berat sebelum tes, dan kenakan pakaian longgar yang tidak menekan dada dan perut.

Obat inhaler. Bila tes untuk diagnosis, dokter dapat meminta Anda menunda obat pelega atau inhaler tertentu beberapa jam sebelumnya. Ikuti petunjuk yang diberikan, dan tetap minum obat jantung seperti biasa.

Informasi penting. Beri tahu petugas bila Anda baru mengalami serangan jantung, nyeri dada, operasi, atau pernah pingsan saat batuk kuat.

Belum jelas dengan instruksi persiapan? Tanyakan kepada tim sebelum menjalani tindakan.

Bagaimana Tindakan Dilakukan?

Tes umumnya selesai dalam 20 sampai 30 menit, dan dapat lebih lama bila dilanjutkan dengan tes setelah obat pelega.

Pengukuran Tinggi dan Berat Badan

Tinggi dan berat badan diukur karena dipakai untuk menghitung nilai normal yang sesuai dengan Anda.

Posisi dan Penjepit Hidung

Anda duduk tegak, lalu hidung dijepit dengan penjepit lunak supaya semua udara keluar lewat mulut ke corong sekali pakai.

Meniup dengan Kuat

Tarik napas sedalam-dalamnya, rapatkan bibir di corong, lalu tiup sekuat dan secepat mungkin sampai udara habis. Petugas memberi aba-aba, dan tiupan diulang minimal tiga kali.

Tes Setelah Obat Pelega

Bila diminta, Anda menghirup obat pelega dari inhaler, menunggu sekitar 10 sampai 15 menit, lalu meniup kembali untuk melihat apakah hasilnya membaik.

Manfaat dan Risiko Perlu Dibahas Bersama.

Setiap tindakan medis memiliki manfaat dan risiko. Dokter menjelaskan keduanya sesuai keadaan Anda sebelum tindakan.

Manfaat yang Dapat Diharapkan

  • Tanpa Jarum dan Tanpa RadiasiHanya memerlukan tiupan ke alat.
  • Membantu Memilah Penyebab SesakMembedakan sesak karena paru dari sesak karena jantung.
  • Menemukan Asma dan PPOKPenyakit paru dapat ditangani lebih awal sehingga sesak berkurang.
  • Membantu Memilih ObatHasil tes membantu dokter memilih obat jantung dan obat paru yang sesuai.
  • Menilai Kesiapan OperasiMembantu memperkirakan risiko gangguan napas setelah operasi jantung.

Manfaat tindakan bukan janji kesembuhan. Tanyakan bagaimana hasilnya memengaruhi rencana perawatan Anda.

Risiko yang Perlu Diketahui

  • Pusing atau Lelah SesaatAkibat tiupan kuat yang diulang. Petugas memberi waktu istirahat di antara tiupan.
  • Batuk atau Sesak SesaatBiasanya ringan dan cepat membaik.
  • Nyeri DadaJarang terjadi. Tes dihentikan dan dokter menilai Anda bila muncul nyeri dada.
  • Hasil Kurang TepatBila tiupan tidak maksimal, hasil dapat terlihat lebih buruk dari sebenarnya, sehingga tiupan diulang.

Risiko setiap orang dapat berbeda. Penjelasan lengkap dan persetujuan tindakan diberikan setelah evaluasi individual.

Bagaimana Pemulihannya?

Tidak ada masa pemulihan. Anda dapat langsung kembali beraktivitas.

Setelah meniup. Rasa pusing, lelah, atau batuk sesaat wajar. Duduklah sebentar sampai terasa nyaman.

Setelah obat pelega. Jantung dapat terasa sedikit berdebar atau tangan sedikit gemetar, dan biasanya hilang sendiri.

Hasil. Dokter membaca hasil bersama keluhan, pemeriksaan jantung, dan foto dada bila ada.

Tanda yang perlu diwaspadai. Segera beri tahu petugas atau ke IGD bila Anda mengalami:

  • Nyeri dada selama atau setelah tes
  • Sesak napas yang tidak membaik dengan istirahat
  • Jantung berdebar sangat cepat atau tidak teratur
  • Pingsan atau hampir pingsan

Kenali Tanda yang Perlu Segera Ditangani.

Ikuti arahan tim tentang tanda yang perlu diwaspadai. Bila muncul keluhan berat atau mendadak setelah tindakan, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258.

Dokter dan Dukungan Tindakan

Dokter berikut tercantum untuk tindakan ini. Urutan menurut nama, bukan peringkat.

Dr. med. dr. Denio A. Ridjab, Sp.JP(K)

Kardiologi Intervensi

Coronary Intervention Procedures +2 center

Fokus klinisKardiologi Intervensi · Penyakit Jantung Koroner

Lihat Profil

Dr. dr. Dudy A. Hanafy, Sp.BTKV, Subsp. JD(K), MARS

Bedah Jantung Dewasa

Advanced Cardiovascular Surgical Care +1 center

Fokus klinisBedah Jantung Minimal Invasif · Operasi Bypass Koroner

Lihat Profil

dr. Santi R. Dewayanti, Sp.P

Spesialis Paru

Fokus klinisPenyakit Paru dan Pernapasan · Asma dan PPOK

Lihat Profil

Sebelum Merencanakan Tindakan.

Pertanyaan yang sering diajukan tentang tes fungsi paru atau spirometri. Arti hasil untuk kondisi Anda dijelaskan oleh dokter.

Apa yang diukur oleh spirometri?

Spirometri mengukur jumlah seluruh udara yang dapat Anda tiupkan setelah menarik napas dalam (FVC), jumlah udara yang keluar pada detik pertama (FEV1), dan perbandingan keduanya. Dari ketiganya, dokter dapat melihat apakah saluran napas menyempit, apakah paru sulit mengembang, atau apakah fungsi paru masih normal.

Apakah tes ini sakit?

Tidak. Spirometri tidak memakai jarum atau obat bius, dan hanya memerlukan tiupan ke corong. Namun, tiupan kuat yang diulang beberapa kali dapat membuat Anda lelah, sedikit pusing, atau batuk sesaat. Petugas memberi waktu istirahat di antara tiupan dan akan menghentikan tes bila Anda merasa tidak nyaman.

Bagaimana dokter membedakan sesak karena jantung atau paru?

Dokter menggabungkan beberapa pemeriksaan. Spirometri menunjukkan apakah ada penyempitan saluran napas atau gangguan pengembangan paru. Ekokardiografi dan tes darah NT-proBNP menilai fungsi jantung, sedangkan foto dada melihat cairan di paru. Pada sebagian pasien, sesak berasal dari keduanya sehingga keduanya perlu ditangani.

Mengapa tes diulang setelah obat pelega?

Obat pelega melebarkan saluran napas. Bila hasil spirometri membaik cukup banyak setelah obat, penyempitan saluran napas dapat pulih, seperti yang sering ditemukan pada asma. Bila hasil hampir tidak berubah, penyempitan cenderung menetap, seperti pada PPOK. Perbedaan ini membantu dokter menentukan diagnosis dan pengobatan.

Apakah saya boleh minum obat sebelum tes?

Obat jantung dan obat rutin lain tetap diminum seperti biasa. Untuk obat pelega atau inhaler, dokter dapat meminta Anda menundanya beberapa jam sebelum tes supaya hasil tidak tertutupi efek obat. Ikuti petunjuk yang diberikan, dan bawa inhaler Anda saat datang ke rumah sakit.

Mengapa pasien jantung perlu tes fungsi paru?

Penyakit paru dan penyakit jantung sering terjadi bersamaan dan menimbulkan keluhan yang mirip, terutama sesak napas. Hasil tes fungsi paru membantu dokter memilih obat yang aman, menilai penyebab hipertensi paru, dan memperkirakan risiko gangguan napas sebelum operasi jantung, sehingga pengobatan dapat direncanakan lebih tepat.

Sumber dan Tinjauan Medis

Ditinjau secara medis oleh dr. Santi R. Dewayanti, Sp.P.

  1. Graham BL, Steenbruggen I, Miller MR, dkk. Standardization of spirometry 2019 update: an official American Thoracic Society and European Respiratory Society technical statement. Am J Respir Crit Care Med. 2019;200(8):e70-e88.
  2. Stanojevic S, Kaminsky DA, Miller MR, dkk. ERS/ATS technical standard on interpretive strategies for routine lung function tests. Eur Respir J. 2022;60(1):2101499.
  3. Agustí A, Celli BR, Criner GJ, dkk. Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease 2023 report: GOLD executive summary. Eur Respir J. 2023;61(4):2300239.
  4. McDonagh TA, Metra M, Adamo M, dkk. 2021 ESC Guidelines for the diagnosis and treatment of acute and chronic heart failure. Eur Heart J. 2021;42(36):3599-3726.
  5. Humbert M, Kovacs G, Hoeper MM, dkk. 2022 ESC/ERS Guidelines for the diagnosis and treatment of pulmonary hypertension. Eur Heart J. 2022;43(38):3618-3731.

Langkah berikutnya

Bahas Tindakan Ini dengan Lebih Jelas.

Konsultasikan tujuan, manfaat, dan risiko tindakan sebelum menentukan langkah berikutnya.

Konteks konsultasi: Tes Fungsi Paru / Spirometri

Informasi di halaman ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi, diagnosis, atau pengobatan medis. Untuk keluhan kesehatan Anda, konsultasikan langsung dengan dokter.

Kembali ke Semua Prosedur