Langsung ke konten

Hipertensi & Penyakit Metabolik Kardiovaskular

Penyakit Ginjal Kronis

Chronic Kidney Disease

Ditinjau secara medis olehdr. Debby C. Soemitha, Sp.PD, Spesialis Penyakit Dalam
Terakhir diperbarui7 Oktober 2026
Ilustrasi penyakit ginjal kronis dengan kedua ginjal yang mengecil dan berpermukaan tidak rata, inset glomerulus yang membocorkan protein ke urine, dinding arteri mengeras dengan endapan kalsium, serta otot jantung yang menebal.
Ilustrasi Penyakit Ginjal Kronis

Jawaban singkat

Apa Itu Penyakit Ginjal Kronis?

Penyakit ginjal kronis adalah kerusakan atau penurunan fungsi ginjal yang menetap lebih dari 3 bulan. Umumnya berkembang perlahan tanpa keluhan, tetapi meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan gagal ginjal yang memerlukan cuci darah.

Sumber informasi

Tanda yang Memerlukan Pertolongan Segera

  • Sesak napas berat, terutama saat berbaring
  • Nyeri atau rasa tertekan di dada
  • Jantung berdebar tidak teratur disertai lemas berat
  • Urine sangat sedikit atau tidak keluar sama sekali
  • Bingung, sangat mengantuk, atau kejang
  • Muntah terus-menerus sampai tidak dapat makan atau minum
  • Wajah mencong, lengan lemah, atau bicara pelo secara mendadak

Bila tanda ini muncul, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258.

Catatan kegawatan: Penyakit ginjal kronis jarang terasa pada tahap awal, tetapi menaikkan risiko serangan jantung, gagal jantung, dan stroke sejak dini. Pengendalian yang dimulai lebih awal dapat memperlambat penurunan fungsi ginjal dan melindungi jantung.

Mengenal Penyakit Ginjal Kronis

Penyakit ginjal kronis adalah keadaan ketika ginjal mengalami kerusakan atau penurunan fungsi yang berlangsung lebih dari 3 bulan. Ginjal bertugas menyaring sisa metabolisme dan kelebihan cairan dari darah, menjaga keseimbangan garam dan kalium, membantu mengatur tekanan darah, serta membuat hormon untuk pembentukan sel darah merah dan kesehatan tulang. Saat fungsinya menurun, zat sisa dan cairan menumpuk di dalam tubuh.

Penyakit ini berkembang perlahan dan pada tahap awal hampir tidak menimbulkan keluhan, sehingga banyak orang baru mengetahuinya dari tes darah dan urine. Diperkirakan lebih dari 10 persen orang dewasa di dunia hidup dengan penyakit ginjal kronis. Penyebab utamanya adalah diabetes dan tekanan darah tinggi.

Ginjal dan Jantung Saling Memengaruhi

Penyakit ginjal kronis menaikkan risiko penyakit jantung koroner, gagal jantung, gangguan irama jantung, dan stroke, bahkan pada tahap awal. Ginjal yang terganggu membuat tekanan darah naik, cairan menumpuk, terjadi kurang darah (anemia), dan pembuluh darah mengeras karena gangguan kalsium dan fosfat. Sebaliknya, jantung yang lemah mengurangi aliran darah ke ginjal. Pada banyak penyandang penyakit ginjal kronis, risiko mengalami penyakit jantung lebih besar daripada risiko sampai memerlukan cuci darah. Karena itu, melindungi jantung menjadi bagian penting dari perawatan ginjal.

Tahapan

Dokter membagi penyakit ginjal kronis menurut eGFR, yaitu perkiraan kemampuan ginjal menyaring darah, dari G1 sampai G5, serta menurut jumlah albumin yang bocor ke urine, dari A1 sampai A3. Makin rendah eGFR dan makin banyak albumin yang bocor, makin tinggi risiko gagal ginjal maupun penyakit jantung. Tahap G5, dengan eGFR di bawah 15, disebut gagal ginjal. Pada tahap ini sebagian orang memerlukan cuci darah (dialisis) atau transplantasi ginjal.

Dapat Diperlambat

Kerusakan ginjal umumnya tidak dapat dipulihkan, tetapi penurunannya dapat diperlambat. Pedoman KDIGO 2024 menganjurkan pengendalian tekanan darah dan gula darah, obat pelindung ginjal dan jantung sesuai kondisi, berhenti merokok, serta menghindari obat yang memberatkan ginjal. Kontrol teratur juga membantu dokter menyesuaikan takaran obat lain yang dibuang lewat ginjal. Makin awal ditemukan, makin besar peluang menjaga fungsi ginjal.

Gejala yang Perlu Dikenali.

Gejala Umum

Pada tahap awal umumnya tanpa keluhan. Gejala biasanya baru terasa saat fungsi ginjal sudah banyak menurun.

  • Umumnya tanpa keluhan pada tahap awal
  • Urine berbusa atau berwarna seperti teh
  • Bengkak di kaki, pergelangan kaki, atau sekitar mata
  • Sering buang air kecil di malam hari
  • Mudah lelah, lemas, atau pucat karena kurang darah
  • Mual, nafsu makan turun, atau rasa logam di mulut
  • Kulit gatal dan kering yang menetap
  • Kram otot, terutama di malam hari
Tidak semua orang mengalami gejala yang sama. Bila keluhan berulang atau memburuk, periksakan diri.

Apa yang Menyebabkan Kondisi Ini?

  • Diabetes yang merusak penyaring kecil di ginjal (penyakit ginjal diabetik)
  • Tekanan darah tinggi jangka panjang yang merusak pembuluh darah ginjal
  • Peradangan penyaring ginjal (glomerulonefritis), termasuk akibat penyakit autoimun seperti lupus
  • Penyakit ginjal polikistik dan kelainan ginjal lain yang diturunkan
  • Sumbatan saluran kemih jangka panjang, misalnya batu ginjal atau pembesaran prostat
  • Infeksi ginjal berulang
  • Pemakaian jangka panjang obat yang memberatkan ginjal, seperti obat antinyeri golongan OAINS
  • Penyempitan arteri ginjal atau gagal jantung yang mengurangi aliran darah ke ginjal

Siapa yang Lebih Berisiko?

Gaya Hidup

Merokok, pola makan tinggi garam dan makanan olahan, kurang bergerak, obesitas, serta memakai obat antinyeri atau jamu tanpa pengawasan dokter.

Medis

Diabetes, hipertensi, penyakit jantung dan gagal jantung, batu ginjal berulang, lupus, serta riwayat cedera ginjal akut.

Genetik

Riwayat keluarga dengan penyakit ginjal, gagal ginjal, atau penyakit ginjal polikistik.

Usia

Fungsi ginjal menurun perlahan seiring usia, dan risiko penyakit ginjal kronis meningkat setelah usia 60 tahun.

Lainnya

Lahir dengan berat badan rendah atau prematur, riwayat preeklamsia saat hamil, dan paparan berulang zat yang memberatkan ginjal.

Kelompok yang Lebih Berisiko

  • Penyandang Diabetes: Diabetes adalah penyebab utama penyakit ginjal kronis. Pemeriksaan eGFR dan albumin urine dianjurkan setidaknya setiap tahun.
  • Penyandang Hipertensi: Tekanan darah tinggi merusak ginjal, dan ginjal yang rusak memperburuk tekanan darah, sehingga keduanya perlu dipantau bersama.
  • Penyandang Penyakit Jantung atau Gagal Jantung: Jantung dan ginjal saling memengaruhi, sehingga fungsi ginjal perlu dipantau, terutama saat memakai obat jantung.
  • Keluarga Penyandang Penyakit Ginjal: Riwayat keluarga, termasuk penyakit ginjal polikistik, meningkatkan kemungkinan Anda mengalami kondisi serupa.
  • Lansia: Fungsi ginjal menurun seiring usia, dan lansia lebih sering memakai beberapa obat yang takarannya perlu disesuaikan dengan fungsi ginjal.
Memiliki faktor risiko tidak berarti seseorang pasti mengalami kondisi ini.

Bagaimana Diagnosis Ditegakkan?

Penyakit ginjal kronis ditegakkan bila ada penurunan fungsi atau tanda kerusakan ginjal yang menetap lebih dari 3 bulan. Dua pemeriksaan dasarnya adalah eGFR dari tes kreatinin darah dan rasio albumin-kreatinin dari sampel urine. Karena hasil dapat berubah sementara akibat kurang minum, infeksi, atau obat, pemeriksaan yang tidak normal biasanya diulang.

Pedoman KDIGO 2024 mengelompokkan penyakit ginjal kronis menurut penyebab, kategori eGFR (G1 sampai G5), dan kategori albuminuria (A1 sampai A3). Gabungan ketiganya menentukan risiko gagal ginjal dan penyakit jantung, seberapa sering Anda perlu kontrol, serta kapan perlu dirujuk ke dokter spesialis ginjal. Dokter juga mencari penyebabnya lewat pemeriksaan urine, USG ginjal, dan bila perlu biopsi ginjal.

Karena ginjal dan jantung saling memengaruhi, pemeriksaan biasanya dilengkapi tekanan darah, gula darah, profil lipid, dan EKG. Bila ada sesak, bengkak, atau tekanan darah sulit dikendalikan, dokter dapat menambahkan ekokardiografi untuk menilai otot dan pompa jantung.

  1. Pemeriksaan Fungsi Ginjal

    Kreatinin darah dipakai untuk menghitung eGFR, perkiraan kemampuan ginjal menyaring darah. eGFR di bawah 60 selama lebih dari 3 bulan menunjukkan penyakit ginjal kronis. Sistatin C dapat ditambahkan bila perlu.

  2. Tes Protein Urine

    Rasio albumin-kreatinin urine (UACR) mendeteksi kebocoran albumin, tanda awal kerusakan ginjal dan pembuluh darah, sekaligus menentukan kategori A1 sampai A3.

  3. Pemeriksaan Urine Lengkap

    Mencari darah, sel, atau endapan dalam urine yang menunjukkan peradangan atau kerusakan ginjal.

  4. Pemeriksaan Darah Lengkap

    Menilai anemia yang sering muncul saat fungsi ginjal menurun.

  5. Pemeriksaan Elektrolit Darah

    Memantau kalium, natrium, dan bikarbonat, terutama kalium tinggi yang dapat mengganggu irama jantung.

  6. USG ginjal untuk melihat ukuran, bentuk, kista, batu, atau sumbatan saluran kemih.

  7. Biopsi Ginjal

    Pengambilan sedikit jaringan ginjal bila penyebabnya belum jelas, misalnya dugaan glomerulonefritis atau nefritis lupus.

Pilihan Penanganan.

Penanganan ditentukan dokter setelah evaluasi. Kategori berikut membantu Anda memahami pembicaraan dengan dokter.

Pengendalian Tekanan Darah

Target ditentukan dokter; KDIGO menganjurkan tekanan sistolik di bawah 120 mmHg bila dapat ditoleransi. Penghambat ACE atau ARB dipilih bila ada albuminuria.

Obat Pelindung Ginjal dan Jantung

Penghambat SGLT2 dianjurkan pada banyak penyandang penyakit ginjal kronis, dengan atau tanpa diabetes. Pada diabetes tipe 2 dengan albuminuria, dokter dapat menambahkan finerenon atau agonis reseptor GLP-1.

Obat Penurun Kolesterol

Statin, dengan atau tanpa ezetimib, dianjurkan bagi penyandang penyakit ginjal kronis usia 50 tahun ke atas yang belum menjalani dialisis, untuk menurunkan risiko serangan jantung dan stroke.

Pengendalian Gula Darah

Pada penyandang diabetes, target gula darah disesuaikan dengan fungsi ginjal dan risiko gula darah rendah, dan jenis obat dipilih sesuai eGFR.

Pola Makan Ramah Ginjal

Membatasi garam, serta menyesuaikan asupan protein, kalium, fosfat, dan cairan sesuai tahap penyakit, dengan bimbingan dokter dan ahli gizi.

Penanganan Komplikasi

Anemia, kalium tinggi, asam darah berlebih, dan gangguan kalsium-fosfat ditangani sesuai hasil pemeriksaan; takaran obat lain juga disesuaikan dengan fungsi ginjal.

Terapi Pengganti Ginjal

Pada gagal ginjal, pilihannya hemodialisis, dialisis peritoneal, transplantasi ginjal, atau perawatan konservatif tanpa dialisis, yang diputuskan bersama dokter dan keluarga.

Kesesuaian dan ketersediaan pemeriksaan atau terapi perlu dikonfirmasi bersama tim perawatan.

Komplikasi yang Perlu Dipantau.

Penyakit Jantung Koroner

Gangguan ginjal mempercepat pembentukan plak dan pengapuran di arteri koroner, sehingga risiko serangan jantung meningkat. Dibahas di halaman Penyakit Jantung Koroner.

Gagal Jantung

Kelebihan cairan, tekanan darah tinggi, dan anemia membebani jantung sehingga lama-kelamaan otot jantung menebal dan melemah. Dibahas di halaman Gagal Jantung.

Gangguan Irama Jantung

Kalium yang terlalu tinggi dan perubahan struktur jantung dapat memicu fibrilasi atrium atau irama berbahaya lain. Dibahas di halaman Gangguan Irama Jantung / Aritmia.

Hipertensi yang Sulit Dikendalikan

Ginjal yang rusak menahan garam dan air sehingga tekanan darah makin sulit turun walaupun sudah memakai beberapa obat. Dibahas di halaman Hipertensi Resisten.

Anemia dan Gangguan Tulang Mineral

Ginjal kurang membuat hormon pembentuk sel darah merah, dan keseimbangan kalsium, fosfat, serta hormon paratiroid terganggu sehingga tulang rapuh dan pembuluh darah mengapur.

Kalium Darah Tinggi

Kalium yang menumpuk dapat menimbulkan lemas dan gangguan irama jantung yang berbahaya, sehingga kadarnya perlu dipantau, terutama saat memakai obat tertentu.

Gagal Ginjal

Pada tahap lanjut, ginjal tidak lagi cukup menyaring darah sehingga diperlukan cuci darah atau transplantasi ginjal.

Apa yang Bisa Dilakukan?

  • Kendalikan gula darah dan tekanan darah sesuai target dari dokter
  • Batasi garam dan makanan olahan
  • Hindari obat antinyeri golongan OAINS jangka panjang dan jamu tanpa sepengetahuan dokter
  • Berhenti merokok dan jaga berat badan sehat
  • Bergerak aktif sekitar 150 menit per minggu sesuai kemampuan
  • Periksa eGFR dan albumin urine setiap tahun bila memiliki diabetes atau hipertensi
  • Cukupi kebutuhan cairan saat diare, muntah, atau demam agar ginjal tidak kekurangan cairan

Kapan Harus ke Dokter?

Periksakan fungsi ginjal secara berkala bila Anda memiliki faktor risiko, walaupun merasa sehat, karena tahap awal penyakit ini tanpa keluhan. Bila sudah didiagnosis, kontrol sesuai jadwal agar penurunan fungsi ginjal dan dampaknya pada jantung dapat dipantau. Segera ke IGD bila sesak berat, nyeri dada, urine hampir tidak keluar, atau muncul kebingungan.

  • Memiliki diabetes, hipertensi, penyakit jantung, atau keluarga dengan penyakit ginjal
  • Urine berbusa, berwarna seperti teh, atau jumlahnya berubah
  • Bengkak di kaki atau sekitar mata yang tidak kunjung hilang
  • Tekanan darah makin sulit dikendalikan
  • Mudah lelah, mual, gatal, atau kram otot tanpa sebab yang jelas
  • Akan menjalani pemeriksaan dengan zat kontras atau memulai obat baru

Jangan Menunggu bila Kondisinya Darurat.

Bila keluhan terasa berat atau muncul mendadak, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258, bukan menunggu janji temu.

Hal yang Mungkin Anda Tanyakan.

Pertanyaan yang sering diajukan tentang penyakit ginjal kronis dan kesehatan jantung.

Apakah penyakit ginjal kronis sama dengan gagal ginjal?

Tidak sama. Penyakit ginjal kronis mencakup semua tahap kerusakan ginjal yang menetap, dari yang sangat ringan sampai berat. Gagal ginjal adalah tahap akhirnya, yaitu G5 dengan eGFR di bawah 15, ketika ginjal tidak lagi cukup menyaring darah. Sebagian besar penyandang penyakit ginjal kronis berada di tahap awal dan dapat menjaga fungsi ginjalnya dengan pengobatan dan kontrol teratur.

Mengapa penyandang penyakit ginjal kronis perlu memeriksakan jantung?

Penyakit ginjal kronis menaikkan risiko serangan jantung, gagal jantung, gangguan irama, dan stroke, bahkan sejak tahap awal. Tekanan darah tinggi, kelebihan cairan, anemia, dan pengapuran pembuluh darah ikut membebani jantung. Pemeriksaan tekanan darah, kolesterol, EKG, dan bila perlu ekokardiografi membantu dokter menemukan masalah jantung lebih awal dan memilih obat yang sekaligus melindungi ginjal dan jantung.

Apakah penyakit ginjal kronis pasti berujung cuci darah?

Tidak. Banyak penyandang penyakit ginjal kronis tidak pernah memerlukan cuci darah, terutama bila ditemukan lebih awal. Pengendalian tekanan darah dan gula darah, obat pelindung ginjal seperti penghambat SGLT2, berhenti merokok, dan menghindari obat yang memberatkan ginjal dapat memperlambat penurunan fungsi ginjal. Dokter memantau eGFR dan albumin urine untuk menilai perjalanan penyakit dan menyiapkan rencana bila fungsi ginjal terus menurun.

Apakah penyandang penyakit ginjal kronis boleh minum obat antinyeri atau jamu?

Perlu hati-hati. Obat antinyeri golongan OAINS, seperti ibuprofen, dapat memperburuk fungsi ginjal bila dipakai sering atau lama. Sebagian jamu dan suplemen juga dapat memberatkan ginjal atau berinteraksi dengan obat. Tanyakan dulu kepada dokter atau apoteker sebelum memakai obat, jamu, atau suplemen apa pun, dan beri tahu setiap dokter yang Anda temui bahwa Anda memiliki penyakit ginjal kronis.

Apakah urine berbusa selalu berarti ginjal bocor?

Tidak selalu. Urine dapat berbusa karena berkemih dengan deras, urine pekat saat kurang minum, atau sisa sabun di kloset. Namun busa yang menetap setiap hari dapat menjadi tanda protein bocor ke urine, salah satu tanda kerusakan ginjal. Cara memastikannya adalah tes urine, misalnya rasio albumin-kreatinin. Bila Anda memiliki diabetes atau hipertensi, pemeriksaan ini dianjurkan setiap tahun.

Berapa banyak air yang sebaiknya diminum penyandang penyakit ginjal kronis?

Tidak ada satu angka untuk semua orang. Pada tahap awal, umumnya cukup minum sesuai rasa haus tanpa berlebihan. Pada tahap lanjut, atau bila disertai gagal jantung dan bengkak, dokter dapat membatasi jumlah cairan agar tidak menumpuk di paru dan tungkai. Minum air dalam jumlah sangat banyak tidak memperbaiki fungsi ginjal. Ikuti anjuran jumlah cairan dari dokter Anda.

Sumber dan Tinjauan Medis

Ditinjau secara medis oleh dr. Debby C. Soemitha, Sp.PD.

  1. Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO) CKD Work Group. KDIGO 2024 Clinical Practice Guideline for the Evaluation and Management of Chronic Kidney Disease. Kidney Int. 2024;105(4S):S117-S314.
  2. Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO) Blood Pressure Work Group. KDIGO 2021 Clinical Practice Guideline for the Management of Blood Pressure in Chronic Kidney Disease. Kidney Int. 2021;99(3S):S1-S87.
  3. Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO) Diabetes Work Group. KDIGO 2022 Clinical Practice Guideline for Diabetes Management in Chronic Kidney Disease. Kidney Int. 2022;102(5S):S1-S127.
  4. Jankowski J, Floege J, Fliser D, Böhm M, Marx N. Cardiovascular Disease in Chronic Kidney Disease: Pathophysiological Insights and Therapeutic Options. Circulation. 2021;143(11):1157-1172.
  5. Ndumele CE, Rangaswami J, Chow SL, Neeland IJ, Tuttle KR, Khan SS, et al. Cardiovascular-Kidney-Metabolic Health: A Presidential Advisory From the American Heart Association. Circulation. 2023;148(20):1606-1635.
  6. Kovesdy CP. Epidemiology of chronic kidney disease: an update 2022. Kidney Int Suppl. 2022;12(1):7-11.

Langkah berikutnya

Bahas Keluhan Anda bersama Dokter.

Mulai konsultasi untuk memahami kondisi dan pilihan penanganan yang sesuai.

Konteks kunjungan: Penyakit Ginjal Kronis

Informasi di halaman ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi, diagnosis, atau pengobatan medis. Untuk keluhan kesehatan Anda, konsultasikan langsung dengan dokter.

Kembali ke Semua Kondisi