Heartology Mulai Menggunakan Teknologi PFA untuk Penanganan Fibrilasi Atrium
Heartology Cardiovascular Hospital mulai menggunakan pulsed field ablation (PFA) untuk penanganan fibrilasi atrium. Tindakan PFA pertama di Heartology dilakukan pada 27 Desember 2024 pada pasien rujukan dari Sumatera Barat.

Jakarta, 28 Desember 2024. Heartology Cardiovascular Hospital mulai menggunakan teknologi pulsed field ablation (PFA) untuk penanganan fibrilasi atrium. Tindakan PFA pertama di Heartology dilakukan oleh tim aritmia Heartology pada 27 Desember 2024.
Mengenal Fibrilasi Atrium
Penyakit jantung merupakan salah satu penyebab utama kematian di Indonesia. Selain penyakit jantung koroner, gangguan irama jantung (aritmia) juga berperan besar, dan aritmia yang paling sering ditemukan adalah fibrilasi atrium (FA). Jumlah penderita FA di Indonesia diperkirakan lebih dari tiga juta orang, dan kejadiannya meningkat seiring bertambahnya usia.

FA adalah kondisi ketika serambi (atrium) jantung berdenyut sangat cepat dan tidak beraturan. Saat santai, jantung normal berdenyut sekitar 60 sampai 100 kali per menit, sedangkan pada FA serambi jantung dapat berdenyut lebih dari 400 kali per menit. Kondisi ini meningkatkan risiko terbentuknya gumpalan darah yang dapat menyebabkan stroke: pasien FA memiliki risiko stroke sekitar empat sampai lima kali lebih tinggi dibanding orang tanpa FA. Denyut yang sangat cepat dan tidak teratur juga dapat melemahkan fungsi pompa jantung.
Pilihan Penanganan dan Cara Kerja PFA
Penanganan FA meliputi obat-obatan, pengendalian faktor risiko, pencegahan stroke sesuai penilaian dokter, dan kateter ablasi. Bagi pasien yang keluhannya tetap muncul walau sudah minum obat, kateter ablasi dapat dipertimbangkan untuk mengendalikan irama jantung dan mengurangi keluhan. Keputusan tindakan diambil bersama dokter setelah evaluasi.
Kateter ablasi adalah tindakan invasif minimal tanpa pembedahan. Kateter dimasukkan melalui pembuluh darah di pangkal paha menuju jantung untuk menemukan dan menonaktifkan sumber aritmia. Ablasi dapat memakai energi panas (radiofrekuensi), energi dingin (cryo), atau energi nontermal.
PFA termasuk ablasi nontermal. Teknologi ini memakai rangkaian gelombang listrik yang sangat singkat untuk membuka pori membran sel (elektroporasi) pada jaringan sasaran. Karena dirancang lebih selektif terhadap jaringan otot jantung, jaringan di sekitarnya relatif lebih terlindungi. Seperti tindakan lain, kesesuaian PFA bagi setiap pasien ditentukan dokter setelah evaluasi.
Tindakan PFA Pertama di Heartology
Tindakan PFA pertama di Heartology dilakukan pada pasien rujukan dari Sumatera Barat yang telah lama mengalami FA, dengan keluhan utama berdebar, dada tidak nyaman, dan mudah lelah. Pasien sudah beberapa tahun menjalani pengobatan FA di daerah asalnya, tetapi aritmianya belum terkendali, sehingga dokternya merujuk ke Heartology untuk penanganan lanjutan.
Menurut dr. Sunu Budhi Raharjo, Sp.JP (K), Ph.D., dokter spesialis jantung konsultan aritmia di Heartology, PFA menambah pilihan dalam penanganan fibrilasi atrium, dengan kenyamanan dan keamanan pasien sebagai prioritas. Pilihan penanganan di Heartology tetap disesuaikan dengan kondisi setiap pasien.
Video

Tonton di YouTube
Penanganan Fibrilasi Atrium dengan Teknologi PFA di Heartology
Durasi 22 menit 34 detik
Layanan dalam Berita Ini
Arrhythmia and Device Center
Arrhythmia and Device Center di Heartology Cardiovascular Hospital menangani gangguan irama jantung, dari fibrilasi atrium dan takikardia hingga bradikardia dan gangguan konduksi.
Kenali Arrhythmia and Device CenterDokter yang disebut dalam berita
- dr. Sunu B. Raharjo, Sp.JP(K), Ph.D.Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah · Aritmia & ElektrofisiologiLihat Profil Dokter
Bacaan untuk Memahami Layanan
Artikel edukasi Heart Wellness untuk memahami topik di balik berita ini.



