Langsung ke konten

Cerita pasien · Penyakit Jantung Bawaan & Struktural

Lahir Prematur dengan Lubang di Jantung: Perjalanan Adik Kaluela

Cerita Adik Kaluela.

Adik Kaluela lahir prematur di Medan bersama saudara kembarnya, saat kehamilan ibundanya baru berjalan tujuh bulan. Keduanya lahir dengan berat badan rendah dan sempat dirawat di NICU selama 28 hari. Setelah itu, keluarga menerima kabar bahwa Kaluela memiliki kelainan jantung bawaan. Ibundanya menceritakan perjalanan mereka hingga Kaluela menjalani tindakan di Heartology.

Kabar tentang Jantung Kaluela

Setelah lahir, Kaluela diperiksa di Medan dan didiagnosis mengalami Foramen Ovale Paten (PFO), yaitu celah kecil di antara kedua serambi jantung, serta Patent Ductus Arteriosus (PDA), yaitu saluran antara aorta dan pembuluh darah paru yang seharusnya menutup setelah bayi lahir, tetapi tetap terbuka. Orang tuanya sempat panik dan khawatir saat mendengar jantung anak mereka bocor.

Tiga bulan kemudian, Kaluela menjalani ekokardiografi ulang. PFO-nya sudah menutup, tetapi PDA masih terbuka. Sehari-hari, Kaluela mudah lelah, berat badannya sulit naik, dan ia kesulitan saat minum. Ia juga sering menangis ketika diberi makan. Pada bayi, PDA yang tetap terbuka dapat membuat jantung dan paru bekerja lebih berat, sehingga keluhan seperti ini perlu dievaluasi oleh dokter jantung anak.

Memilih Heartology

Atas rekomendasi teman dan keluarga, orang tua Kaluela membawanya ke Heartology di Jakarta. Di sana, Kaluela kembali menjalani ekokardiografi, yaitu pemeriksaan USG jantung, dan keluarga berdiskusi dengan dokter jantung anak tentang penanganannya.

Ibundanya mengaku sempat takut membayangkan tindakan lewat kateter pada bayi sekecil itu. "Kalau dipikirin, bayi sekecil ini dimasukin selang kateter ke dalam jantungnya," kenangnya. Namun, setelah mendengar penjelasan dokter, keluarga merasa yakin untuk melanjutkan.

Menjalani Penutupan PDA

Pada 11 Januari 2024, Kaluela menjalani penutupan PDA tanpa pembedahan. Dokter memasukkan kateter, yaitu selang tipis dan lentur, melalui pembuluh darah, lalu menutup saluran tersebut dengan alat penutup yang bentuknya menyerupai payung. Menurut ibundanya, seluruh proses berlangsung sekitar satu jam sejak Kaluela dibius hingga tindakan selesai. Sebelum pulang, Kaluela kembali menjalani ekokardiografi.

Saat video direkam, ibundanya bercerita bahwa Kaluela sudah makan lebih lancar, minum lebih banyak, dan tidak lagi menangis saat duduk di kursi makan. Ia juga merasa prosesnya tidak berbelit, termasuk urusan administrasinya yang tidak memakan waktu lama. "Penanganannya sangat cepat, mudah, dan tidak ribet," ujarnya.

Kepada orang tua lain, ia berpesan agar tidak takut atau panik bila anak mengalami masalah jantung, dan segera berkonsultasi dengan dokter jantung untuk mengetahui pilihan penanganan yang sesuai.

Setiap perjalanan berbeda. Cerita ini merupakan pengalaman pribadi. Kondisi, pilihan penanganan, dan hasil perawatan setiap orang dapat berbeda.

Cerita dalam Suaranya Sendiri.

Penutupan Lubang Jantung (Defek) Tanpa Pembedahan

Simak pengalaman yang dibagikan pasien melalui kanal Heartology. Durasi 5 menit 32 detik.

Tonton di YouTube Video dibuka di YouTube, di tab baru.

Pengalaman lainnya

Cerita dengan Perawatan Serupa.

Semua Cerita Pasien

Langkah berikutnya

Bicarakan Kebutuhan
Perawatan Anda.

Mulai dengan konsultasi bersama dokter yang terkait dalam cerita ini. Penanganan akan disesuaikan dengan kondisi Anda.

Janji Temu dengan DokterKenali Kondisi TerkaitBersama dr. Radityo Prakoso, Sp.JP(K).