Perjalanan perawatan
Cerita Bapak Adi.
Pak Adi adalah sosok yang aktif. Di sela pekerjaannya, ia gemar berolahraga, mulai dari panahan, bersepeda, sampai sepak bola. Namun, ia mulai sering merasa engap dan nyeri di dada kiri setiap kali beraktivitas, misalnya saat naik tangga, berolahraga, atau ketika menjalankan ibadah umrah.
Keluhan yang Sempat Dianggap Biasa
Awalnya Pak Adi mengira keluhan itu muncul karena kelelahan atau cedera saat berolahraga. Istrinya sudah menyarankan agar ia segera ke dokter, tetapi ia sempat menanggapinya dengan santai. Belakangan ia menyadari bahwa keluhan itu sebenarnya sudah merupakan gejala.
Pak Adi kemudian menjalani elektrokardiogram (EKG), yaitu perekaman listrik jantung, dan tes treadmill, yaitu perekaman jantung saat berjalan di atas treadmill. Hasil keduanya belum menunjukkan kelainan yang berarti, padahal keluhannya masih terus berlanjut.
Mencari Second Opinion di Heartology
Pak Adi lalu mencari second opinion ke Heartology, yang memiliki fasilitas pemeriksaan CT Calcium Score. Pemeriksaan ini memakai CT scan untuk mengukur jumlah pengapuran pada pembuluh darah jantung. Hasilnya membuatnya terkejut. “Begitu punya saya keluar, kaget, 1.700, tinggi banget,” ujarnya.
Pemeriksaan dilanjutkan dengan kateterisasi jantung, yaitu tindakan memasukkan selang tipis lewat pembuluh darah untuk melihat langsung kondisi pembuluh darah jantung. Dari pemeriksaan ini, ditemukan penyumbatan hingga hampir 90 persen. “Enggak tahunya 90 persen,” kenang Pak Adi. Operasi bypass, yaitu operasi untuk membuat jalan pintas bagi aliran darah melewati pembuluh yang tersumbat, kemudian menjadi pilihan penanganannya. Pak Adi mengaku awalnya takut karena operasi bypass terdengar menyeramkan, tetapi akhirnya ia memilih pasrah dan menyerahkan penanganannya kepada para ahli.
Pemulihan setelah Operasi Bypass
Setelah operasi, Pak Adi dirawat di ICU dan HCU sekitar dua setengah hari, lalu pindah ke ruang rawat inap. Secara keseluruhan, ia dirawat sekitar satu minggu. Masa pemulihannya diisi dengan latihan otot dan jalan kaki, disertai kontrol rutin. Dalam video juga dijelaskan bahwa tulang dada perlu waktu sekitar tiga bulan untuk pulih sebelum ia kembali ke aktivitas berat.
Saat video direkam, Pak Adi masih dalam masa pemulihan otot dan tulang dada, tetapi napasnya sudah terasa jauh lebih lega. “Alhamdulillah sekarang sudah bisa jalan satu jam, bahkan masih kuat terus, napasnya kayak enggak habis,” katanya. Dari pengalamannya, Pak Adi berpesan agar mereka yang sudah berumur memeriksakan skor kalsium jantungnya. Anda bisa mendiskusikan pemeriksaan yang sesuai dengan dokter jantung.
Setiap perjalanan berbeda. Cerita ini merupakan pengalaman pribadi. Kondisi, pilihan penanganan, dan hasil perawatan setiap orang dapat berbeda.
Dengarkan langsung
Cerita dalam Suaranya Sendiri.
CT Calcium Score: Pemeriksaan Jantung yang Bisa Deteksi Sumbatan Lebih Dini
Simak pengalaman yang dibagikan pasien melalui kanal Heartology. Durasi 21 menit 22 detik.
Tonton di YouTube Video dibuka di YouTube, di tab baru.


