Langsung ke konten

Hipertensi

Hipertensi pada Kehamilan

Hypertensive Disorders of Pregnancy / Hypertension in Pregnancy

Ditinjau secara medis olehdr. Siska S. Danny, Sp.JP(K), Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah
Terakhir diperbarui7 Oktober 2026
Ilustrasi preeklampsia pada ibu hamil dengan janin dan plasenta, arteri spiral plasenta yang menyempit, manset tekanan darah, serta glomerulus ginjal yang menunjukkan protein masuk ke urine.
Ilustrasi Hipertensi pada Kehamilan

Jawaban singkat

Apa Itu Hipertensi pada Kehamilan?

Hipertensi pada kehamilan adalah tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih saat hamil. Jenisnya meliputi hipertensi yang sudah ada sebelum hamil, hipertensi gestasional, dan preeklampsia, yang perlu dipantau ketat demi keselamatan ibu dan janin.

Sumber informasi

Tanda yang Memerlukan Pertolongan Segera

  • Tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih
  • Sakit kepala hebat yang tidak tertahankan
  • Pandangan sangat kabur, berbayang, atau hilang sebagian
  • Nyeri hebat di ulu hati atau perut kanan atas, kadang disertai muntah
  • Sesak napas atau sulit bernapas saat berbaring
  • Kejang atau penurunan kesadaran
  • Gerakan janin jauh berkurang
  • Perdarahan dari jalan lahir disertai nyeri perut

Bila tanda ini muncul, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258.

Catatan kegawatan: Hipertensi saat hamil dapat berkembang menjadi preeklampsia yang memengaruhi ginjal, hati, otak, dan plasenta, kadang dalam hitungan hari. Pemantauan rutin membantu masalah dikenali lebih awal. Segera ke IGD atau kamar bersalin bila tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih, atau muncul sakit kepala hebat, pandangan kabur, nyeri ulu hati, sesak, atau kejang.

Mengenal Hipertensi pada Kehamilan

Hipertensi pada kehamilan adalah tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih yang ditemukan saat hamil dari pengukuran berulang. Kondisi ini termasuk masalah medis yang umum pada kehamilan dan menjadi salah satu penyebab utama gangguan kesehatan ibu dan bayi di dunia. Dengan pemeriksaan kehamilan yang teratur, sebagian besar masalah dapat dikenali lebih awal dan ditangani bersama dokter kandungan dan dokter jantung. Hipertensi secara umum dibahas di halaman Hipertensi.

Jenis Hipertensi pada Kehamilan

Pedoman ESC dan ISSHP membaginya menjadi beberapa jenis. Hipertensi kronis sudah ada sebelum hamil atau muncul sebelum usia kehamilan 20 minggu. Hipertensi gestasional baru muncul setelah 20 minggu tanpa tanda gangguan organ. Preeklampsia adalah hipertensi setelah 20 minggu yang disertai protein dalam urine, gangguan organ ibu seperti ginjal, hati, darah, atau saraf, atau gangguan pertumbuhan janin. Preeklampsia juga dapat muncul pada perempuan yang sudah memiliki hipertensi kronis. Ada pula tekanan darah yang hanya tinggi saat diperiksa, yang dibahas di halaman Hipertensi White Coat.

Preeklampsia, Eklampsia, dan Sindrom HELLP

Preeklampsia berawal dari plasenta yang tidak terbentuk dengan baik pada awal kehamilan. Plasenta lalu melepaskan zat tertentu ke aliran darah ibu yang mengganggu lapisan dalam pembuluh darah di seluruh tubuh. Bila berlanjut, dapat terjadi eklampsia, yaitu kejang, atau sindrom HELLP, yaitu kerusakan sel darah merah, gangguan hati, dan trombosit yang rendah. Keduanya merupakan keadaan darurat.

Setelah Melahirkan

Tekanan darah dapat tetap tinggi atau bahkan memuncak beberapa hari setelah persalinan, dan preeklampsia dapat muncul pertama kali sampai enam minggu setelah melahirkan. Dalam jangka panjang, perempuan yang pernah mengalami hipertensi atau preeklampsia saat hamil berisiko lebih tinggi mengalami hipertensi, penyakit jantung, dan stroke. Pedoman ESC 2024 menyebut riwayat ini sebagai penambah risiko yang perlu diperhatikan saat menilai kesehatan jantung.

Halaman ini membahas hipertensi pada kehamilan dari sisi jantung dan pembuluh darah, sedangkan penanganan kehamilan dan persalinan dipimpin dokter kandungan. Gangguan pompa jantung yang muncul menjelang atau setelah persalinan dibahas di halaman Kardiomiopati Peripartum.

Gejala yang Perlu Dikenali.

Gejala Umum

Banyak perempuan tidak merasakan keluhan, sehingga hipertensi sering baru ketahuan saat kontrol kehamilan.

  • Tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih saat kontrol kehamilan
  • Sakit kepala yang tidak membaik dengan istirahat
  • Bengkak mendadak di wajah, tangan, atau sekitar mata
  • Berat badan naik cepat dalam beberapa hari
  • Pandangan kabur, berkunang-kunang, atau silau
  • Nyeri di ulu hati atau perut kanan atas
  • Jumlah urine lebih sedikit dari biasanya
Tidak semua orang mengalami gejala yang sama. Bila keluhan berulang atau memburuk, periksakan diri.

Apa yang Menyebabkan Kondisi Ini?

  • Plasenta yang tidak tertanam dengan baik di dinding rahim sehingga alirannya kurang, dasar terjadinya preeklampsia
  • Zat dari plasenta yang bermasalah dan mengganggu lapisan dalam pembuluh darah ibu
  • Hipertensi yang sudah ada sebelum hamil, sering belum pernah terdeteksi
  • Penyakit ginjal, diabetes, atau penyakit autoimun seperti lupus dan sindrom antifosfolipid
  • Hipertensi sekunder, misalnya gangguan hormon atau penyempitan arteri ginjal, yang baru terlihat saat hamil
  • Respons pembuluh darah terhadap kehamilan yang belum sepenuhnya dipahami, pada hipertensi gestasional

Siapa yang Lebih Berisiko?

Medis

Hipertensi kronis, diabetes sebelum hamil, penyakit ginjal kronis, lupus atau sindrom antifosfolipid, dan riwayat preeklampsia pada kehamilan sebelumnya.

Genetik

Riwayat preeklampsia pada ibu kandung atau saudara perempuan kandung meningkatkan kemungkinan mengalaminya.

Usia

Kehamilan pada usia 40 tahun atau lebih meningkatkan risiko preeklampsia dan hipertensi kronis yang belum terdeteksi.

Gaya Hidup

Berat badan berlebih atau obesitas sebelum hamil dan aktivitas fisik yang kurang ikut meningkatkan risiko.

Lainnya

Kehamilan anak pertama, kehamilan kembar, kehamilan lewat program bayi tabung, dan jarak lebih dari 10 tahun dari kehamilan sebelumnya.

Kelompok yang Lebih Berisiko

  • Perempuan dengan Riwayat Preeklampsia: Risiko berulang pada kehamilan berikutnya lebih tinggi, sehingga dokter biasanya menganjurkan pencegahan sejak awal kehamilan.
  • Penyandang Hipertensi Kronis: Tekanan darah perlu dikendalikan sejak sebelum hamil, termasuk mengganti obat yang tidak aman bagi janin bersama dokter.
  • Penyandang Diabetes atau Penyakit Ginjal: Kedua kondisi ini merusak pembuluh darah kecil dan meningkatkan kemungkinan preeklampsia.
  • Perempuan yang Hamil Anak Pertama atau Kembar: Kehamilan pertama dan kehamilan kembar lebih sering disertai preeklampsia dibanding kehamilan lain.
  • Perempuan Hamil Berusia 40 Tahun atau Lebih: Usia yang lebih tua berkaitan dengan risiko preeklampsia dan hipertensi kronis yang belum terdeteksi sebelumnya.
Memiliki faktor risiko tidak berarti seseorang pasti mengalami kondisi ini.

Bagaimana Diagnosis Ditegakkan?

Tekanan darah diukur pada setiap kontrol kehamilan dalam posisi duduk setelah istirahat, dengan manset yang sesuai ukuran lengan. Hipertensi ditegakkan bila tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih pada pengukuran berulang. Pengukuran di rumah atau pemantauan 24 jam membantu membedakan hipertensi sesungguhnya dari tekanan darah yang hanya naik saat diperiksa.

Setelah hipertensi ditemukan, dokter mencari tanda preeklampsia. Urine diperiksa untuk protein, sebaiknya dengan rasio protein dan kreatinin. Tes darah menilai trombosit, hemoglobin, fungsi hati, fungsi ginjal, dan asam urat. Dokter kandungan menilai pertumbuhan janin, air ketuban, dan aliran darah tali pusat dengan USG Doppler. Pada sebagian kasus, tes darah sFlt-1/PlGF membantu memperkirakan kemungkinan preeklampsia dalam waktu dekat. Bila Anda sesak atau dicurigai ada gangguan jantung, ekokardiografi dilakukan.

  1. Skrining Hipertensi & Tekanan Darah

    Pengukuran tekanan darah yang benar pada setiap kontrol kehamilan, dalam posisi duduk dengan manset sesuai ukuran lengan.

  2. Pemantauan Tekanan Darah di Rumah

    Pengukuran mandiri di rumah untuk memantau tren dan memastikan hipertensi tidak hanya muncul saat diperiksa.

  3. Rasio Protein-Kreatinin Urin

    Mengukur protein yang bocor ke urine dari satu sampel urine, salah satu tanda preeklampsia.

  4. Pemeriksaan Laboratorium

    Tes darah untuk trombosit, hemoglobin, enzim hati, kreatinin, dan asam urat guna mencari tanda preeklampsia dan sindrom HELLP.

  5. USG kehamilan dan Doppler oleh dokter kandungan untuk menilai pertumbuhan janin, air ketuban, serta aliran darah plasenta dan tali pusat.

  6. Ekokardiografi

    Menilai struktur dan kekuatan pompa jantung bila ada sesak, bengkak berat, atau dicurigai gangguan jantung.

Pilihan Penanganan.

Penanganan ditentukan dokter setelah evaluasi. Kategori berikut membantu Anda memahami pembicaraan dengan dokter.

Pemantauan Lebih Sering

Kontrol kehamilan lebih rapat, pengukuran tekanan darah di rumah, serta pemeriksaan urine, darah, dan USG berkala sesuai jenis dan beratnya kondisi.

Obat Antihipertensi yang Aman bagi Kehamilan

Dokter memilih obat yang sudah lama dipakai pada kehamilan, misalnya golongan penghambat kanal kalsium, beta-bloker tertentu, atau agonis alfa sentral. Pedoman ESC terkini umumnya menganjurkan pengobatan mulai 140/90 mmHg.

Perawatan di Rumah Sakit

Diperlukan pada preeklampsia berat, tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih, atau tanda gangguan organ, untuk obat lewat infus dan pemantauan ibu serta janin.

Obat Pencegah Kejang

Pada preeklampsia berat atau eklampsia, magnesium sulfat diberikan lewat infus di rumah sakit untuk mencegah dan mengatasi kejang.

Penentuan Waktu Persalinan

Persalinan adalah penanganan tuntas preeklampsia. Waktunya ditentukan dokter kandungan dengan menimbang usia kehamilan serta kondisi ibu dan janin, umumnya di usia 37 minggu atau lebih awal bila perlu.

Pemantauan setelah Persalinan

Tekanan darah dipantau ketat pada hari-hari pertama setelah melahirkan, obat disesuaikan, lalu faktor risiko jantung diperiksa berkala dalam jangka panjang.

Kesesuaian dan ketersediaan pemeriksaan atau terapi perlu dikonfirmasi bersama tim perawatan.

Komplikasi yang Perlu Dipantau.

Preeklampsia Berat dan Eklampsia

Tekanan darah sangat tinggi dengan gangguan organ yang dapat berlanjut menjadi kejang. Keadaan ini memerlukan perawatan di rumah sakit dan sering persalinan lebih awal.

Sindrom HELLP

Kerusakan sel darah merah, gangguan hati, dan trombosit rendah yang dapat muncul cepat, ditandai nyeri ulu hati, mual, dan lemas.

Solusio Plasenta

Plasenta terlepas dari dinding rahim sebelum bayi lahir, menimbulkan nyeri perut dan perdarahan, serta mengganggu pasokan oksigen janin.

Gangguan Pertumbuhan Janin

Aliran darah plasenta yang berkurang membuat janin tumbuh lebih kecil dari usianya, sehingga perlu dipantau dengan USG berkala.

Persalinan Prematur

Bila keselamatan ibu atau janin terancam, persalinan perlu dilakukan sebelum cukup bulan, sehingga bayi mungkin memerlukan perawatan khusus.

Stroke dan Edema Paru

Tekanan darah yang sangat tinggi dapat menyebabkan perdarahan otak atau cairan di paru pada ibu, sehingga perlu penanganan segera.

Penyakit Jantung di Kemudian Hari

Riwayat hipertensi saat hamil meningkatkan risiko hipertensi kronis, penyakit jantung, dan stroke bertahun-tahun kemudian.

Apa yang Bisa Dilakukan?

  • Periksakan tekanan darah sebelum merencanakan kehamilan, terutama bila Anda menyandang hipertensi atau diabetes.
  • Bila berisiko tinggi preeklampsia, dokter dapat meresepkan aspirin yang dimulai sebelum usia kehamilan 16 minggu; jangan memulainya sendiri.
  • Penuhi kebutuhan kalsium dari makanan; bila asupan Anda rendah, dokter dapat menganjurkan suplemen kalsium.
  • Jaga berat badan sehat sebelum hamil dan kenaikan berat badan yang wajar selama hamil.
  • Tetap aktif bergerak selama hamil, misalnya berjalan kaki, bila dokter kandungan mengizinkan.
  • Hadiri setiap jadwal kontrol kehamilan dan ukur tekanan darah di rumah bila dianjurkan.
  • Setelah melahirkan, periksakan tekanan darah dan faktor risiko jantung setidaknya setahun sekali.

Kapan Harus ke Dokter?

Hubungi dokter kandungan agar Anda diperiksa dalam 24 jam bila tekanan darah di rumah 140/90 mmHg atau lebih, meski tanpa keluhan. Bila Anda menyandang hipertensi, diabetes, atau penyakit ginjal, konsultasikan sebelum hamil atau sedini mungkin. Segera ke IGD atau kamar bersalin, termasuk dalam enam minggu setelah melahirkan, bila mengalami:

  • Tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih
  • Sakit kepala hebat atau pandangan kabur
  • Nyeri ulu hati atau perut kanan atas
  • Sesak napas
  • Bengkak mendadak di wajah dan tangan
  • Kejang, atau gerakan janin jauh berkurang

Jangan Menunggu bila Kondisinya Darurat.

Bila keluhan terasa berat atau muncul mendadak, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258, bukan menunggu janji temu.

Hal yang Mungkin Anda Tanyakan.

Pertanyaan yang sering diajukan tentang hipertensi pada kehamilan.

Apakah hipertensi saat hamil selalu berarti preeklampsia?

Tidak. Sebagian perempuan mengalami hipertensi kronis yang sudah ada sebelum hamil, atau hipertensi gestasional tanpa gangguan organ. Namun sebagian hipertensi gestasional, terutama yang muncul lebih awal, dapat berkembang menjadi preeklampsia. Karena itu pemeriksaan urine, darah, dan janin tetap dilakukan berkala sampai persalinan dan beberapa minggu setelahnya.

Apakah obat darah tinggi aman untuk janin?

Beberapa golongan obat sudah lama dipakai dan dinilai aman pada kehamilan, sedangkan golongan ACE inhibitor, ARB, dan penghambat renin tidak dipakai karena dapat mengganggu ginjal janin. Penelitian CHAP (2022) menunjukkan pengobatan hipertensi kronis ringan saat hamil mengurangi komplikasi berat tanpa meningkatkan risiko bayi kecil. Jangan menghentikan atau mengganti obat sendiri; diskusikan dengan dokter.

Saya minum obat hipertensi dan berencana hamil. Apa yang perlu dilakukan?

Bicarakan dengan dokter sebelum hamil. Bila Anda memakai obat golongan ACE inhibitor atau ARB, dokter biasanya menggantinya dengan obat yang aman untuk kehamilan, sebaiknya sebelum pembuahan atau segera setelah tes kehamilan positif. Dokter juga akan menilai kemungkinan hipertensi sekunder, fungsi ginjal, dan perlu tidaknya aspirin untuk mencegah preeklampsia.

Apakah tekanan darah akan kembali normal setelah melahirkan?

Pada hipertensi gestasional dan preeklampsia, tekanan darah umumnya kembali normal dalam beberapa minggu sampai tiga bulan setelah melahirkan. Pada beberapa hari pertama, tekanan darah justru dapat memuncak, sehingga pemantauan tetap diperlukan. Bila tekanan darah masih tinggi setelah tiga bulan, dokter akan menilai kemungkinan hipertensi kronis.

Apakah preeklampsia akan terulang pada kehamilan berikutnya?

Risikonya lebih tinggi dibanding perempuan tanpa riwayat tersebut, terutama bila preeklampsia dulu muncul lebih awal atau berat. Karena itu kehamilan berikutnya sebaiknya direncanakan bersama dokter: tekanan darah dikendalikan sejak awal, aspirin dapat dimulai sebelum usia kehamilan 16 minggu bila dianjurkan, dan pemantauan dilakukan lebih rapat.

Mengapa riwayat hipertensi saat hamil penting bagi kesehatan jantung saya?

Hipertensi dan preeklampsia saat hamil menunjukkan pembuluh darah yang lebih rentan. Penelitian menunjukkan perempuan dengan riwayat ini lebih berisiko mengalami hipertensi, penyakit jantung koroner, gagal jantung, dan stroke di kemudian hari. Sampaikan riwayat ini pada setiap pemeriksaan kesehatan, dan periksakan tekanan darah, kolesterol, serta gula darah secara berkala.

Sumber dan Tinjauan Medis

Ditinjau secara medis oleh dr. Siska S. Danny, Sp.JP(K).

  1. De Backer J, Haugaa KH, Hasselberg NE, et al. 2025 ESC Guidelines for the management of cardiovascular disease and pregnancy. Eur Heart J. 2025;46(43):4462-568.
  2. Magee LA, Brown MA, Hall DR, et al. The 2021 International Society for the Study of Hypertension in Pregnancy classification, diagnosis & management recommendations for international practice. Pregnancy Hypertens. 2022;27:148-69.
  3. McEvoy JW, McCarthy CP, Bruno RM, et al. 2024 ESC Guidelines for the management of elevated blood pressure and hypertension. Eur Heart J. 2024;45(38):3912-4018.
  4. Garovic VD, Dechend R, Easterling T, et al. Hypertension in Pregnancy: Diagnosis, Blood Pressure Goals, and Pharmacotherapy: A Scientific Statement From the American Heart Association. Hypertension. 2022;79(2):e21-e41.
  5. Tita AT, Szychowski JM, Boggess K, et al. Treatment for Mild Chronic Hypertension during Pregnancy. N Engl J Med. 2022;386(19):1781-92.
  6. Rolnik DL, Wright D, Poon LC, et al. Aspirin versus Placebo in Pregnancies at High Risk for Preterm Preeclampsia. N Engl J Med. 2017;377(7):613-22.

Langkah berikutnya

Bahas Keluhan Anda bersama Dokter.

Mulai konsultasi untuk memahami kondisi dan pilihan penanganan yang sesuai.

Konteks kunjungan: Hipertensi pada Kehamilan

Informasi di halaman ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi, diagnosis, atau pengobatan medis. Untuk keluhan kesehatan Anda, konsultasikan langsung dengan dokter.

Kembali ke Semua Kondisi