Jawaban singkat
Apa Itu Kardiomiopati Peripartum?
Kardiomiopati peripartum adalah melemahnya pompa jantung yang muncul menjelang akhir kehamilan atau dalam bulan-bulan setelah melahirkan, tanpa penyebab lain yang jelas. Kondisi ini menimbulkan gagal jantung dan perlu ditangani segera.
Sumber informasiTanda yang Memerlukan Pertolongan Segera
- Sesak berat saat istirahat atau sulit berbicara karena sesak
- Batuk berbusa atau dahak berwarna merah muda
- Nyeri dada yang menetap
- Pingsan atau hampir pingsan
- Berdebar sangat cepat disertai pusing berat
- Bibir kebiruan, kulit dingin, dan lemas berat
- Wajah mencong, lengan lemah, atau bicara pelo mendadak
Bila tanda ini muncul, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258.
01 / Memahami kondisi
Mengenal Kardiomiopati Peripartum
Selama hamil, jantung bekerja lebih keras karena volume darah dan denyut jantung meningkat. Pada kardiomiopati peripartum, otot bilik kiri jantung melemah sehingga pompa jantung menurun, biasanya dengan fraksi ejeksi (persentase darah yang dipompa setiap denyut) di bawah 45 persen. Keadaan ini muncul menjelang akhir kehamilan atau dalam beberapa bulan setelah melahirkan, terutama pada bulan pertama setelah persalinan.
Diagnosis ditegakkan setelah penyebab lain disingkirkan, misalnya penyakit katup, penyakit jantung koroner, atau kardiomiopati yang sudah ada sebelum hamil. Istilah internasionalnya peripartum cardiomyopathy (PPCM).
Mengapa Bisa Terjadi
Penyebab pastinya belum sepenuhnya dipahami. Penelitian menunjukkan peran hormon kehamilan dan menyusui, terutama potongan hormon prolaktin yang terbentuk akibat stres oksidatif dan dapat merusak pembuluh darah kecil serta otot jantung. Faktor lain adalah gangguan pembuluh darah pada preeklamsia dan kecenderungan genetik. Sekitar 15 persen pasien membawa varian gen yang juga ditemukan pada kardiomiopati dilatasi.
Gejala Mirip Keluhan Hamil
Sesak, mudah lelah, dan bengkak kaki juga sering dialami perempuan hamil yang sehat. Karena itu, kardiomiopati peripartum kerap terlambat dikenali. Tanda yang perlu diwaspadai adalah sesak saat berbaring sampai harus tidur dengan beberapa bantal, batuk di malam hari, sesak yang makin berat, bengkak yang cepat bertambah, atau jantung berdebar. Tekanan darah tinggi selama hamil dibahas di halaman Hipertensi pada Kehamilan.
Arah Penanganan
Pengobatan mengikuti prinsip penanganan gagal jantung, tetapi pilihannya disesuaikan dengan masa kehamilan, persalinan, dan menyusui, karena beberapa golongan obat tidak aman bagi janin. Pada kasus tertentu, dokter dapat menambahkan obat penghambat hormon prolaktin. Bila kondisi ini muncul saat masih hamil, dokter jantung, dokter kandungan, dan dokter anestesi merencanakan waktu dan cara persalinan bersama.
Peluang Pulih
Data registri ESC menunjukkan hampir separuh pasien mengalami pemulihan fungsi pompa dalam enam bulan dengan pengobatan. Sebagian lain tetap memiliki pompa yang lemah dan memerlukan pengobatan gagal jantung jangka panjang. Kehamilan berikutnya membawa risiko kambuh, terutama bila fungsi jantung belum pulih, sehingga perlu direncanakan bersama dokter. Gambaran umum keluarga penyakit ini dibahas di halaman Kardiomiopati.
02 / Memahami kondisi
Gejala yang Perlu Dikenali.
Gejala Umum
Keluhan muncul menjelang akhir kehamilan atau dalam beberapa bulan setelah melahirkan, dan sering disangka keluhan hamil biasa.
- Sesak napas yang tidak sebanding dengan aktivitas
- Sesak saat berbaring sehingga perlu tidur dengan beberapa bantal
- Terbangun di malam hari karena sesak atau batuk
- Mudah lelah dan lemas berlebihan
- Bengkak kaki yang cepat bertambah
- Berat badan naik cepat karena tertahan cairan
- Jantung berdebar atau terasa berdenyut tidak teratur
03 / Memahami kondisi
Apa yang Menyebabkan Kondisi Ini?
- Potongan hormon prolaktin yang terbentuk berlebihan dan merusak pembuluh darah kecil serta otot jantung
- Gangguan pembuluh darah, terutama pada preeklamsia
- Varian gen otot jantung yang juga ditemukan pada kardiomiopati dilatasi
- Beban kerja jantung yang meningkat selama kehamilan dan persalinan
- Peradangan dan stres oksidatif pada otot jantung
- Pada sebagian pasien, penyebab pastinya tidak ditemukan
04 / Memahami kondisi
Siapa yang Lebih Berisiko?
Medis
Preeklamsia dan tekanan darah tinggi selama kehamilan merupakan faktor risiko kuat. Anemia, diabetes, obesitas, dan pemakaian obat penunda persalinan dalam waktu lama juga dikaitkan dengan risiko lebih tinggi.
Usia
Risiko lebih tinggi pada kehamilan di atas usia 30 tahun, walaupun kondisi ini juga dapat terjadi pada perempuan yang lebih muda.
Genetik
Riwayat kardiomiopati dilatasi atau kematian mendadak di keluarga menunjukkan kemungkinan kecenderungan genetik. Perempuan keturunan Afrika juga berisiko lebih tinggi.
Gaya Hidup
Merokok dan kekurangan gizi selama kehamilan dikaitkan dengan risiko lebih tinggi pada beberapa penelitian.
Lainnya
Kehamilan kembar, sudah beberapa kali melahirkan, dan riwayat kardiomiopati peripartum pada kehamilan sebelumnya menaikkan risiko.
Kelompok yang Lebih Berisiko
- Perempuan dengan Preeklamsia: Gangguan pembuluh darah pada preeklamsia berkaitan erat dengan kardiomiopati peripartum, sehingga sesak setelah melahirkan perlu dinilai.
- Perempuan dengan Kehamilan Kembar: Beban jantung selama kehamilan lebih besar dan berkaitan dengan risiko kardiomiopati peripartum yang lebih tinggi.
- Riwayat Kardiomiopati Peripartum: Kehamilan berikutnya berisiko kambuh, terutama bila fungsi pompa belum kembali normal.
- Keluarga Penyandang Kardiomiopati: Sebagian pasien membawa varian gen kardiomiopati yang dapat ditemukan juga pada anggota keluarga lain.
05 / Memahami kondisi
Bagaimana Diagnosis Ditegakkan?
Dokter menanyakan kapan keluhan muncul dibandingkan waktu persalinan, riwayat tekanan darah tinggi atau preeklamsia, serta riwayat penyakit jantung di keluarga, lalu memeriksa tanda gagal jantung seperti suara basah di paru dan bengkak. Tes NT-proBNP atau BNP membantu karena kadarnya relatif tidak banyak berubah pada kehamilan normal, sehingga kadar yang tinggi mengarah ke gangguan jantung.
Ekokardiografi adalah pemeriksaan kunci untuk menilai fraksi ejeksi, ukuran bilik, katup, dan bekuan darah di dalam jantung. EKG dan rontgen dada, dengan pelindung perut bila masih hamil, melengkapi penilaian. MRI jantung dapat membantu membedakan kondisi ini dari miokarditis atau kardiomiopati lain. Dokter juga menyingkirkan penyebab sesak lain, seperti emboli paru dan preeklamsia berat. Bila kondisi ini muncul saat masih hamil, penanganan melibatkan dokter jantung, dokter kandungan, dan dokter anestesi.
Ekokardiografi
Pemeriksaan kunci untuk mengukur fraksi ejeksi, ukuran bilik kiri, fungsi katup, dan mencari bekuan darah. Aman selama hamil karena tanpa radiasi.
Tes NT-proBNP / BNP
Kadar yang tinggi mendukung dugaan gagal jantung dan membantu membedakannya dari keluhan kehamilan biasa.
Elektrokardiogram / EKG
Mencari gangguan irama dan tanda beban jantung. Hasil yang normal tidak menyingkirkan kondisi ini.
Rontgen Dada
Menilai pembesaran jantung dan cairan di paru, dengan pelindung perut bila pasien masih hamil.
MRI Jantung
Membantu membedakan dari miokarditis atau kardiomiopati lain. Selama hamil umumnya dilakukan tanpa zat kontras gadolinium.
Pemeriksaan Laboratorium
Menilai darah lengkap, fungsi ginjal dan hati, elektrolit, tiroid, serta troponin untuk mencari penyebab lain dan memantau pengobatan.
06 / Memahami kondisi
Pilihan Penanganan.
Penanganan ditentukan dokter setelah evaluasi. Kategori berikut membantu Anda memahami pembicaraan dengan dokter.
Obat Gagal Jantung Sesuai Masa Kehamilan
Selama hamil, dokter memilih golongan obat yang aman bagi janin, seperti penghambat beta dan diuretik. Setelah persalinan, obat gagal jantung lain dapat ditambahkan dengan menyesuaikan pilihan bila Anda menyusui.
Bromokriptin
Obat penghambat prolaktin ini dapat dipertimbangkan dokter pada kasus tertentu, disertai obat pengencer darah. Obat ini menghentikan produksi ASI, sehingga keputusannya dibahas bersama Anda.
Obat Pengencer Darah
Diberikan bila ada bekuan di jantung, fibrilasi atrium, atau emboli, dan dipertimbangkan bila fungsi pompa sangat rendah atau saat memakai bromokriptin.
Perawatan Intensif
Pada syok atau gagal jantung berat, pasien dirawat intensif dengan obat penunjang sirkulasi yang dipilih secara hati-hati dan bila perlu alat bantu jantung sementara.
Pencegahan Henti Jantung Mendadak
Karena pompa sering pulih dalam beberapa bulan, ICD biasanya baru dipertimbangkan bila fungsi tetap rendah setelah pengobatan. Sementara itu dokter dapat menganjurkan rompi defibrilator.
Perencanaan Persalinan dan Kehamilan Berikutnya
Waktu dan cara persalinan diputuskan bersama dokter jantung, dokter kandungan, dan dokter anestesi. Kehamilan berikutnya dan pilihan kontrasepsi dibahas sebelum direncanakan.
07 / Memahami kondisi
Komplikasi yang Perlu Dipantau.
Gagal Jantung Akut dan Edema Paru
Cairan menumpuk di paru sehingga sesak menjadi berat. Keadaan ini memerlukan perawatan segera dan dibahas di halaman Edema Paru Kardiogenik.
Syok Kardiogenik
Pompa jantung terlalu lemah untuk menjaga tekanan darah dan aliran ke organ, sehingga memerlukan perawatan intensif dan kadang alat bantu sirkulasi.
Gangguan Irama Jantung
Pompa yang lemah dapat memicu irama cepat dari bilik jantung yang berisiko menyebabkan pingsan atau henti jantung.
Bekuan Darah dan Emboli
Kehamilan dan masa nifas membuat darah lebih mudah membeku. Ditambah pompa yang lemah, bekuan dapat terbentuk di jantung lalu terbawa ke otak atau organ lain.
Gagal Jantung Menetap
Pada sebagian pasien, fungsi pompa tidak pulih sepenuhnya sehingga memerlukan pengobatan gagal jantung jangka panjang.
Kambuh pada Kehamilan Berikutnya
Risiko kambuh lebih tinggi bila fungsi pompa belum normal saat hamil lagi, dan tetap ada walau fungsi jantung sudah pulih.
08 / Memahami kondisi
Apa yang Bisa Dilakukan?
- Kontrol kehamilan teratur, termasuk pengukuran tekanan darah di setiap kunjungan
- Laporkan sesak saat berbaring, batuk di malam hari, atau bengkak yang cepat bertambah
- Bila pernah mengalami kondisi ini, konsultasikan dengan dokter jantung sebelum merencanakan kehamilan lagi
- Diskusikan pilihan kontrasepsi yang aman bagi jantung bersama dokter
- Timbang berat badan setiap pagi selama masa pemulihan untuk mengenali penumpukan cairan
- Minum obat sesuai resep dan jangan menghentikannya sendiri walau sudah merasa baik
- Hindari rokok dan alkohol selama kehamilan dan masa pemulihan
09 / Memahami kondisi
Kapan Harus ke Dokter?
Keluhan jantung pada akhir kehamilan dan masa nifas mudah dianggap wajar. Segera ke IGD bila sesak terasa berat saat istirahat, batuk berbusa, nyeri dada, atau pingsan. Buat janji konsultasi dalam waktu dekat bila Anda sedang hamil tua atau baru melahirkan dan mengalami hal berikut:
- Sesak saat berbaring atau harus tidur dengan beberapa bantal
- Terbangun di malam hari karena sesak atau batuk
- Bengkak kaki yang makin luas atau berat badan naik cepat
- Jantung berdebar atau lelah yang tidak biasa
- Pernah mengalami kardiomiopati peripartum dan berencana hamil lagi
Jangan Menunggu bila Kondisinya Darurat.
Bila keluhan terasa berat atau muncul mendadak, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258, bukan menunggu janji temu.
10 / Pertanyaan umum
Hal yang Mungkin Anda Tanyakan.
Pertanyaan yang sering diajukan tentang kardiomiopati peripartum.
Apa bedanya sesak karena hamil dengan sesak karena kardiomiopati peripartum?
Sesak ringan saat aktivitas wajar pada akhir kehamilan karena rahim yang membesar mendesak paru. Sesak yang perlu diwaspadai adalah sesak saat istirahat atau berbaring, sesak yang membangunkan Anda di malam hari, sesak disertai batuk menetap, atau sesak yang makin berat dari hari ke hari. Bila ragu, tes NT-proBNP dan ekokardiografi dapat membantu dokter membedakannya dengan cepat.
Apakah saya masih boleh menyusui?
Keputusan menyusui dibuat bersama dokter. Pada kasus ringan sampai sedang dengan obat yang aman untuk menyusui, menyusui sering masih dapat dilanjutkan. Pada kasus berat, dokter dapat menyarankan menghentikan ASI, termasuk bila memberi bromokriptin, karena obat ini menekan hormon prolaktin. Beberapa obat gagal jantung juga lebih dipilih dibanding yang lain selama menyusui.
Apakah fungsi jantung bisa kembali normal?
Bisa. Hampir separuh pasien dalam registri ESC mengalami pemulihan fungsi pompa dalam enam bulan, dan sebagian lagi pulih lebih lambat. Peluang pulih lebih baik bila fungsi pompa saat awal tidak terlalu rendah dan pengobatan dimulai cepat. Walau sudah pulih, obat biasanya tidak dihentikan mendadak. Dokter akan menurunkannya bertahap sambil memantau dengan ekokardiografi.
Bolehkah saya hamil lagi?
Kehamilan berikutnya membawa risiko kambuh. Risiko tersebut tinggi bila fungsi pompa belum kembali normal, sehingga pedoman ESC tidak menganjurkan kehamilan lagi dalam keadaan itu. Bila fungsi sudah pulih, kehamilan tetap berisiko dan memerlukan konseling, pemeriksaan sebelum hamil, serta pemantauan ketat oleh dokter jantung dan dokter kandungan. Diskusikan juga kontrasepsi yang aman sejak awal pemulihan.
Apakah kondisi ini membahayakan bayi?
Bila muncul saat masih hamil, gagal jantung yang berat dapat memengaruhi aliran darah ke janin dan waktu persalinan. Karena itu, dokter jantung, dokter kandungan, dan dokter anestesi merencanakan waktu dan cara persalinan bersama. Sebagian obat jantung tidak aman bagi janin sehingga dokter memilih golongan obat yang sesuai. Kondisi ini tidak menular kepada bayi, walau sebagian kasus berkaitan dengan gen keluarga.
Berapa lama saya perlu kontrol?
Kontrol rapat dilakukan pada bulan-bulan pertama untuk menyesuaikan obat dan memantau fungsi pompa dengan ekokardiografi. Setelah pulih, kontrol tetap diperlukan secara berkala, biasanya setiap tahun, karena fungsi jantung dapat menurun lagi bertahun-tahun kemudian atau saat obat dikurangi. Jadwal pastinya ditentukan dokter sesuai perkembangan Anda.
Sumber dan Tinjauan Medis
Ditinjau secara medis oleh dr. Sri Diniharini, Sp.JP(K).
- Bauersachs J, König T, van der Meer P, Petrie MC, Hilfiker-Kleiner D, Mbakwem A, et al. Pathophysiology, diagnosis and management of peripartum cardiomyopathy: a position statement from the Heart Failure Association of the European Society of Cardiology Study Group on peripartum cardiomyopathy. Eur J Heart Fail. 2019;21(7):827-843.
- Arbelo E, Protonotarios A, Gimeno JR, Arbustini E, Barriales-Villa R, Basso C, et al. 2023 ESC Guidelines for the management of cardiomyopathies. Eur Heart J. 2023;44(37):3503-3626.
- De Backer J, Haugaa KH, Hasselberg NE, de Hosson M, Brida M, Castelletti S, et al. 2025 ESC Guidelines for the management of cardiovascular disease and pregnancy. Eur Heart J. 2025;46(43):4462-4568.
- Sliwa K, Petrie MC, van der Meer P, Mebazaa A, Hilfiker-Kleiner D, Jackson AM, et al. Clinical presentation, management, and 6-month outcomes in women with peripartum cardiomyopathy: an ESC EORP registry. Eur Heart J. 2020;41(39):3787-3797.
- Hilfiker-Kleiner D, Haghikia A, Berliner D, Vogel-Claussen J, Schwab J, Franke A, et al. Bromocriptine for the treatment of peripartum cardiomyopathy: a multicentre randomized study. Eur Heart J. 2017;38(35):2671-2679.
- Ware JS, Li J, Mazaika E, Yasso CM, DeSouza T, Cappola TP, et al. Shared genetic predisposition in peripartum and dilated cardiomyopathies. N Engl J Med. 2016;374(3):233-241.




