Perjalanan perawatan
Cerita Ibu Nur Fitriyana.
Bu Nur Fitriyana, seorang ibu asal Purwakarta, Jawa Barat, hidup bertahun-tahun dengan lubang di sekat jantung yang belum tertangani. Keluhannya makin berat dari waktu ke waktu, sampai akhirnya ia memutuskan mencari penanganan. Di Heartology, lubang itu ditutup dan dua katup jantungnya ditangani dalam satu sesi operasi.
Awal Keluhan
Kelainan jantung Bu Nur Fitriyana pertama kali diketahui pada 2015, saat ia mengalami keguguran pada kehamilan keduanya. Sejak itu ia mudah lelah dan tidak sanggup berjalan jauh. Rasanya, kata dia, seperti habis berlari. Napasnya pun sering sesak. Sejak 2023 keluhannya makin sering kambuh: saat naik motor, jantungnya tiba-tiba berdebar kencang dan tubuhnya lemas, hingga ia pernah pingsan.
Ia sempat dirujuk ke sebuah rumah sakit jantung dan mendapat pengobatan rutin, tetapi rencana operasi terus tertunda hingga 2025. Ia sendiri juga ragu. Banyak cerita yang ia dengar bahwa operasi justru membuat tubuh makin lemah, sehingga awalnya ia berpikir lebih baik tidak dioperasi daripada kondisinya malah memburuk.
Mencari Jawaban di Heartology
Ketika kondisinya terus menurun, Bu Nur Fitriyana mencari informasi lewat YouTube dan menemukan Heartology. Ia ingin segera ditangani. Di sini ia diperiksa menyeluruh oleh dr. BRM Ario Soeryo Kuncoro, Sp.JP (K), termasuk peninjauan hasil pemeriksaan dari rumah sakit sebelumnya, lalu menjalani kateterisasi jantung pada Agustus 2025. Kateterisasi adalah pemeriksaan dengan selang tipis yang dimasukkan lewat pembuluh darah untuk menilai kondisi di dalam jantung.
Hasilnya menunjukkan Bu Nur Fitriyana memiliki Atrial Septal Defect (ASD) berukuran besar, yaitu lubang pada sekat serambi jantung. Dua katup jantungnya, katup mitral dan katup trikuspid, juga sudah ikut rusak. Katup adalah pintu yang mengatur aliran darah antarruang jantung. Mengetahui ini operasi besar, keluarga sempat cemas. “Ini kan menakutkan, karena bukan operasi kecil,” ujar sang kakak yang mendampinginya. Penjelasan dokter yang rinci membuat mereka lebih tenang.
Menjalani Operasi dan Pemulihan
Tim bedah toraks dan kardiovaskular Heartology menangani ketiga masalah itu dalam satu sesi lewat Minimally Invasive Cardiac Surgery (MICS), yaitu operasi jantung melalui sayatan kecil di sela iga tanpa membelah seluruh tulang dada. Dalam operasi ini, lubang ASD ditutup, sementara katup mitral dan katup trikuspid ditangani sekaligus.
Pada hari ketiga setelah operasi, Bu Nur Fitriyana mulai belajar duduk dan berjalan dengan pendampingan tim rehabilitasi, termasuk dr. Ayu Amalia Utami Putri, Sp.KFR. Ia pulang setelah enam hari dirawat, terhitung sejak di ICU hingga di ruang rawat inap. Ada satu hal yang membuatnya heran. Saat dokter berkunjung ke kamar, ia bertanya, “Dok, saya kok enggak ada detak jantungnya, ya?” Debaran kencang yang dulu sering ia rasakan tidak lagi muncul.
Saat video direkam, Bu Nur Fitriyana sudah bisa beraktivitas lebih mandiri dan merasa sehat. Kepada orang lain yang masih ragu, ia berpesan, “Pokoknya mumpung masih bisa untuk operasi, mending langsung operasi, jangan takut.” Menurutnya, menunda hanya akan menyisakan penyesalan di kemudian hari.
Setiap perjalanan berbeda. Cerita ini merupakan pengalaman pribadi. Kondisi, pilihan penanganan, dan hasil perawatan setiap orang dapat berbeda.
Dengarkan langsung
Cerita dalam Suaranya Sendiri.
Penanganan ASD closure, MVr & TVR dalam satu sesi operasi dengan teknik bedah minimal invasif (MICS)
Simak pengalaman yang dibagikan pasien melalui kanal Heartology. Durasi 18 menit 39 detik.
Tonton di YouTube Video dibuka di YouTube, di tab baru.




