Jawaban singkat
Apa Itu Diseksi Arteri Koroner Spontan?
Diseksi arteri koroner spontan (SCAD) adalah robekan atau perdarahan di dalam dinding arteri koroner yang menyempitkan aliran darah ke jantung tanpa disebabkan plak. SCAD memicu serangan jantung dan lebih banyak dialami perempuan, termasuk sekitar masa kehamilan.
Sumber informasi01 / Memahami kondisi
Mengenal Diseksi Arteri Koroner Spontan
Diseksi arteri koroner spontan, yang dalam bahasa Inggris disingkat SCAD, terjadi ketika dinding arteri koroner tiba-tiba terbelah dari dalam. Darah masuk ke sela lapisan dinding dan membentuk genangan (hematoma) yang menekan saluran darah dari luar. Aliran darah ke otot jantung pun berkurang atau terhenti, sehingga terjadi serangan jantung. Disebut spontan karena tidak dipicu cedera dada atau tindakan medis.
Berbeda dari Serangan Jantung Akibat Plak
Serangan jantung pada umumnya terjadi karena plak kolesterol retak lalu tertutup bekuan, seperti yang dibahas di halaman Infark Miokard / Serangan Jantung. SCAD tidak berhubungan dengan plak. Penderitanya sering tidak punya faktor risiko jantung yang umum: tidak merokok, tekanan darah dan kolesterol normal, dan aktif bergerak. Karena itu keluhannya kadang dikira serangan cemas atau sakit lambung, padahal perlu ditangani sebagai keadaan darurat. Gejala dan pertolongan pertamanya sama dengan serangan jantung lain, sehingga Anda dan keluarga tidak perlu membedakannya di rumah.
Siapa yang Mengalaminya
Sekitar 9 dari 10 penderita SCAD adalah perempuan, umumnya berusia 40 sampai 50-an tahun. Pada perempuan berusia 50 tahun ke bawah, SCAD menjadi penyebab penting serangan jantung. SCAD juga termasuk penyebab utama serangan jantung yang berkaitan dengan kehamilan, terutama pada minggu-minggu pertama setelah melahirkan. Banyak penderita juga memiliki displasia fibromuskular, yaitu kelainan dinding arteri berukuran sedang yang dapat mengenai pembuluh darah ginjal, leher, atau tungkai. Pemicu sesaat, seperti stres emosional berat atau aktivitas fisik yang sangat berat, sering mendahului kejadiannya.
Umumnya Dapat Menyembuh
Kabar baiknya, pada sebagian besar penderita dinding arteri yang robek menyembuh sendiri dalam beberapa minggu sampai bulan. Karena itu, bila kondisi stabil dan aliran darah masih cukup, dokter umumnya memilih pengobatan dan pemantauan ketat daripada pemasangan stent. Pada sebagian kecil penderita, robekan meluas atau menyumbat arteri sepenuhnya, sehingga perlu pemasangan stent atau, lebih jarang, operasi bypass. Setelah pulang, penyintas SCAD tetap perlu kontrol karena risiko kekambuhan ada, dan perlu dukungan untuk kembali beraktivitas serta mengatasi rasa cemas yang sering muncul setelah kejadian.
02 / Memahami kondisi
Gejala yang Perlu Dikenali.
Gejala Umum
- Nyeri, rasa berat, atau tertekan di dada yang muncul mendadak
- Nyeri menjalar ke lengan, bahu, leher, rahang, atau punggung
- Sesak napas
- Keringat dingin, mual, atau muntah
- Pusing, lemas mendadak, atau rasa akan pingsan
- Jantung berdebar kencang atau tidak teratur
Gejala pada Perempuan Dewasa
Sebagian besar penderita adalah perempuan tanpa faktor risiko jantung yang jelas, sehingga keluhan berikut mudah dianggap cemas atau sakit lambung.
- Nyeri dada saat hamil atau dalam minggu-minggu setelah melahirkan
- Nyeri dada setelah stres emosional berat atau olahraga yang sangat berat
- Nyeri di punggung atas, leher, atau rahang tanpa nyeri dada yang jelas
- Sesak napas atau lelah luar biasa yang muncul tiba-tiba
- Mual atau rasa tidak nyaman di ulu hati disertai keringat dingin
03 / Memahami kondisi
Apa yang Menyebabkan Kondisi Ini?
- Perdarahan di dalam dinding arteri koroner (hematoma) yang menekan saluran darah dari luar
- Robekan kecil pada lapisan dalam arteri yang membuat darah masuk ke sela lapisan dinding
- Dinding arteri yang lebih rapuh, misalnya pada displasia fibromuskular
- Perubahan hormon dan pembuluh darah selama kehamilan dan setelah melahirkan
- Pemicu sesaat seperti stres emosional berat, angkat beban sangat berat, mengejan, muntah, atau batuk keras
- Penyakit jaringan ikat turunan, misalnya yang dibahas di halaman Sindrom Marfan.
04 / Memahami kondisi
Siapa yang Lebih Berisiko?
Usia
Umumnya dialami perempuan berusia 40 sampai 50-an tahun, meskipun dapat terjadi dari usia muda sampai lanjut dan juga pada laki-laki.
Medis
Displasia fibromuskular, tekanan darah tinggi, migrain, dan penyakit radang sistemik berkaitan dengan SCAD. Tekanan darah tinggi juga menaikkan risiko kekambuhan.
Genetik
Penyakit jaringan ikat turunan seperti Sindrom Marfan, Ehlers-Danlos tipe vaskular, dan Loeys-Dietz, serta riwayat SCAD atau robekan arteri dalam keluarga.
Lainnya
Kehamilan, terutama minggu-minggu pertama setelah melahirkan, riwayat melahirkan beberapa kali, serta pemakaian hormon dari luar seperti terapi kesuburan atau terapi hormon.
Gaya Hidup
Olahraga atau angkat beban yang sangat berat, stres emosional berat, serta zat stimulan seperti kokain dan amfetamin dapat menjadi pemicu sesaat.
Kelompok yang Lebih Berisiko
- Perempuan Usia 40 sampai 60 Tahun: Sebagian besar penderita SCAD berada pada rentang usia ini, sering tanpa faktor risiko jantung yang umum.
- Perempuan Hamil dan Pascapersalinan: SCAD termasuk penyebab utama serangan jantung yang berkaitan dengan kehamilan, terutama pada minggu-minggu pertama setelah melahirkan.
- Penyandang Displasia Fibromuskular: Kelainan dinding arteri ini sering ditemukan pada penyintas SCAD dan perlu dicari dengan pencitraan pembuluh darah.
- Penyandang Penyakit Jaringan Ikat Turunan: Sindrom Marfan, Ehlers-Danlos tipe vaskular, dan Loeys-Dietz membuat dinding arteri lebih rapuh.
- Penyintas SCAD: Risiko kekambuhan tetap ada selama bertahun-tahun, sehingga kontrol, obat, dan penyesuaian aktivitas perlu dijalani.
05 / Memahami kondisi
Bagaimana Diagnosis Ditegakkan?
Di IGD, SCAD awalnya ditangani seperti serangan jantung lain: EKG dalam 10 menit, tes troponin, dan pertolongan untuk menstabilkan kondisi. Karena penderitanya sering perempuan yang tampak sehat, dokter perlu waspada agar keluhan tidak dianggap cemas atau sakit lambung.
Diagnosis dipastikan dengan angiografi koroner. SCAD biasanya tampak sebagai penyempitan panjang dan halus, berbeda dengan penyempitan pendek dan tidak rata akibat plak. Bila gambarannya belum jelas, dokter dapat melihat dinding arteri dari dalam dengan OCT atau IVUS, dengan hati-hati karena dinding sedang rapuh. CT angiografi koroner belum cukup untuk memastikan SCAD, tetapi kadang dipakai untuk memantau penyembuhan robekan di bagian arteri yang besar.
Setelah kondisi stabil, pernyataan para ahli menganjurkan pemeriksaan pembuluh darah lain dengan CT atau MR angiografi untuk mencari displasia fibromuskular, aneurisma, atau robekan di arteri lain.
Elektrokardiogram / EKG
Direkam dalam 10 menit sejak pasien ditemui tenaga medis untuk mencari tanda serangan jantung dan menentukan perlu tidaknya tindakan segera.
Tes Troponin Jantung
Tes darah troponin untuk memastikan kerusakan otot jantung, diulang 1 sampai 2 jam kemudian bila hasil pertama belum jelas.
Angiografi Koroner
Pemeriksaan utama untuk memastikan SCAD. Robekan biasanya tampak sebagai penyempitan panjang dan halus, berbeda dari penyempitan akibat plak.
Optical Coherence Tomography (OCT)
Melihat dinding arteri dari dalam bila angiografi belum jelas. Dilakukan dengan hati-hati karena dinding yang robek sedang rapuh.
Ekokardiografi
USG jantung untuk menilai kekuatan pompa dan bagian dinding jantung yang terdampak.
CT atau MR angiografi dari kepala sampai panggul setelah kondisi stabil, untuk mencari displasia fibromuskular, aneurisma, atau robekan di arteri lain.
06 / Memahami kondisi
Pilihan Penanganan.
Penanganan ditentukan dokter setelah evaluasi. Kategori berikut membantu Anda memahami pembicaraan dengan dokter.
Perawatan Konservatif dan Pemantauan
Bila kondisi stabil dan aliran darah masih cukup, dokter umumnya memilih pengobatan dan pemantauan di rumah sakit selama beberapa hari, karena sebagian besar robekan menyembuh sendiri.
Obat Penghambat Beta
Mengurangi beban pada dinding arteri. Kohort Kanada menunjukkan pemakaian penghambat beta berkaitan dengan risiko kekambuhan yang lebih rendah. Jenis dan dosisnya ditentukan dokter.
Obat Antiplatelet
Aspirin sering diberikan untuk mencegah bekuan pada bagian yang robek. Kombinasi dan lamanya ditentukan dokter karena bukti penelitiannya masih terbatas.
Pemasangan Stent bila Aliran Terhambat
Dipilih bila iskemia terus berlangsung, arteri tersumbat, atau kondisi tidak stabil. Tindakan pada dinding yang robek lebih sulit, sehingga sering dibantu pencitraan dari dalam pembuluh.
Operasi Bypass Koroner
Jarang diperlukan, misalnya bila robekan mengenai pangkal arteri koroner kiri atau beberapa arteri dan tidak dapat ditangani dengan kateter.
Rehabilitasi Jantung yang Disesuaikan
Latihan bertahap yang diawasi aman bagi penyintas SCAD, membantu memulihkan kebugaran dan rasa percaya diri. Takarannya disesuaikan untuk menghindari beban sangat berat.
07 / Memahami kondisi
Komplikasi yang Perlu Dipantau.
Kerusakan Otot Jantung
Bagian otot yang lama kekurangan darah dapat rusak permanen. Luasnya bergantung pada arteri yang terkena dan kecepatan penanganan.
Gangguan Irama Jantung
Otot jantung yang kekurangan darah dapat memicu irama tidak teratur, termasuk irama bilik yang memerlukan kejut listrik segera.
Melemahnya Pompa Jantung
Bila robekan mengenai arteri besar, pompa jantung dapat melemah sampai timbul gagal jantung atau syok, yang dibahas di halaman Syok Kardiogenik.
SCAD Berulang
Sebagian penyintas mengalami robekan baru dalam beberapa tahun, kadang di arteri lain. Tekanan darah yang terkendali dan obat teratur membantu menurunkan risikonya.
Cemas dan Depresi
Rasa takut kambuh, cemas, dan sedih berkepanjangan sering dialami penyintas SCAD. Konseling dan rehabilitasi jantung membantu pemulihan.
08 / Memahami kondisi
Apa yang Bisa Dilakukan?
- Kenali tanda serangan jantung meskipun Anda merasa tidak berisiko, dan segera ke IGD bila muncul.
- Setelah SCAD, minum obat sesuai resep, termasuk penghambat beta bila diberikan dokter.
- Kendalikan tekanan darah sesuai target dari dokter.
- Hindari angkat beban sangat berat, mengejan lama, dan olahraga kompetitif berintensitas sangat tinggi.
- Diskusikan rencana kehamilan, kontrasepsi, dan terapi hormon dengan dokter jantung dan dokter kandungan.
- Hindari zat stimulan seperti kokain dan amfetamin.
- Kelola stres dan cari dukungan bila merasa cemas atau sedih berkepanjangan.
09 / Memahami kondisi
Kapan Harus ke Dokter?
Nyeri atau rasa tertekan di dada perlu segera diperiksa di IGD, juga bila Anda masih muda, merasa sehat, sedang hamil, atau baru melahirkan. Hubungi ambulans (119) atau minta orang lain mengantar Anda, dan jangan menyetir sendiri. Sampaikan kepada petugas bila Anda pernah mengalami SCAD.
Buat janji dengan dokter jantung bila:
- Anda baru pulang dari perawatan SCAD dan perlu kontrol, penyesuaian obat, atau rehabilitasi jantung.
- Anda penyintas SCAD dan berencana hamil atau perlu memilih kontrasepsi.
- Anda didiagnosis displasia fibromuskular atau penyakit jaringan ikat dan belum pernah diperiksa jantungnya.
- Muncul rasa cemas, sulit tidur, atau sedih berkepanjangan setelah kejadian.
10 / Pertanyaan umum
Hal yang Mungkin Anda Tanyakan.
Pertanyaan yang sering diajukan tentang diseksi arteri koroner spontan (SCAD).
Mengapa SCAD lebih banyak dialami perempuan?
Penyebab pastinya belum sepenuhnya dipahami. Hormon perempuan diduga memengaruhi kekuatan dinding arteri, yang menjelaskan kaitannya dengan kehamilan, masa setelah melahirkan, dan terapi hormon. Kelainan dinding arteri seperti displasia fibromuskular juga lebih sering ditemukan pada perempuan. SCAD tetap dapat dialami laki-laki, sering setelah aktivitas fisik yang sangat berat.
Apa bedanya SCAD dengan serangan jantung biasa?
Pada serangan jantung yang umum, plak kolesterol retak lalu tertutup bekuan. Pada SCAD, dinding arteri koroner terbelah atau berdarah di dalam lapisannya, lalu menekan saluran darah dari luar. Keluhannya sama, sehingga keduanya ditangani sebagai keadaan darurat. Bedanya ada pada penanganan selanjutnya: SCAD lebih sering ditangani tanpa stent karena dinding yang robek umumnya dapat menyembuh sendiri.
Apakah robekan pada arteri koroner bisa sembuh sendiri?
Pada sebagian besar penderita, ya. Pemeriksaan ulang menunjukkan robekan dan genangan darah di dinding umumnya menyusut dan arteri kembali normal dalam beberapa minggu sampai bulan. Karena itu, bila aliran darah masih cukup dan kondisi stabil, dokter memilih pengobatan dan pemantauan ketat. Anda biasanya dirawat beberapa hari untuk memastikan robekan tidak meluas.
Apakah saya boleh hamil setelah mengalami SCAD?
Kehamilan setelah SCAD membawa risiko kekambuhan karena perubahan hormon dan beban pada pembuluh darah selama hamil dan melahirkan. Para ahli umumnya menyarankan untuk tidak hamil lagi, atau merencanakannya hanya setelah konseling mendalam dengan dokter jantung dan dokter kandungan. Keputusan ini sangat pribadi, jadi bicarakan dengan terbuka, termasuk pilihan kontrasepsi yang aman bagi Anda.
Olahraga apa yang aman setelah SCAD?
Latihan aerobik dengan intensitas ringan sampai sedang, seperti jalan cepat, bersepeda santai, atau berenang, umumnya aman dan bermanfaat. Yang perlu dihindari adalah angkat beban sangat berat, latihan yang membuat Anda menahan napas sambil mengejan, serta olahraga kompetitif berintensitas sangat tinggi. Program rehabilitasi jantung membantu menentukan takaran latihan yang sesuai untuk Anda.
Apakah SCAD bisa kambuh?
Bisa. Penelitian jangka panjang menunjukkan sebagian penyintas mengalami SCAD lagi dalam beberapa tahun, kadang di arteri yang berbeda. Risiko ini dapat diturunkan dengan mengendalikan tekanan darah, minum obat seperti penghambat beta bila diresepkan, dan menghindari pemicu seperti beban fisik yang sangat berat. Bila nyeri dada muncul lagi, segera ke IGD dan jangan menunggu.
Sumber dan Tinjauan Medis
Ditinjau secara medis oleh Dr. dr. Dafsah A. Juzar, Sp.JP(K).
- Hayes SN, Kim ESH, Saw J, Adlam D, Arslanian-Engoren C, Economy KE, et al. Spontaneous Coronary Artery Dissection: Current State of the Science: A Scientific Statement From the American Heart Association. Circulation. 2018;137(19):e523-57.
- Adlam D, Alfonso F, Maas A, Vrints C; Writing Committee. European Society of Cardiology, acute cardiovascular care association, SCAD study group: a position paper on spontaneous coronary artery dissection. Eur Heart J. 2018;39(36):3353-68.
- Hayes SN, Tweet MS, Adlam D, Kim ESH, Gulati R, Price JE, et al. Spontaneous Coronary Artery Dissection: JACC State-of-the-Art Review. J Am Coll Cardiol. 2020;76(8):961-84.
- Tweet MS, Hayes SN, Codsi E, Gulati R, Rose CH, Best PJM. Spontaneous Coronary Artery Dissection Associated With Pregnancy. J Am Coll Cardiol. 2017;70(4):426-35.
- Saw J, Humphries K, Aymong E, Sedlak T, Prakash R, Starovoytov A, et al. Spontaneous Coronary Artery Dissection: Clinical Outcomes and Risk of Recurrence. J Am Coll Cardiol. 2017;70(9):1148-58.
- Saw J, Starovoytov A, Humphries K, Sheth T, So D, Minhas K, et al. Canadian spontaneous coronary artery dissection cohort study: in-hospital and 30-day outcomes. Eur Heart J. 2019;40(15):1188-97.
- Byrne RA, Rossello X, Coughlan JJ, Barbato E, Berry C, Chieffo A, et al. 2023 ESC Guidelines for the management of acute coronary syndromes. Eur Heart J. 2023;44(38):3720-826.




