Langsung ke konten

Penyakit Vena

Sindrom Pasca Trombosis

Post-Thrombotic Syndrome (PTS)

Ditinjau secara medis olehdr. Radityo Prakoso, Sp.JP(K), Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah
Terakhir diperbarui7 Oktober 2026
Ilustrasi medis tungkai bawah semi-transparan dengan pembengkakan ringan, kulit kecokelatan di sekitar pergelangan kaki bagian dalam, dan vena permukaan yang melebar pada betis. Inset menunjukkan vena dalam dengan katup yang rusak dan menebal serta vena yang menyempit sebagian akibat jaringan parut sisa bekuan darah lama.
Ilustrasi Sindrom Pasca Trombosis

Jawaban singkat

Apa Itu Sindrom Pasca Trombosis?

Sindrom pasca trombosis adalah keluhan menahun di tungkai setelah trombosis vena dalam, berupa rasa berat, nyeri, bengkak, dan perubahan kulit, karena katup vena rusak atau vena menyempit akibat bekuan.

Sumber informasi

Tanda yang Memerlukan Pertolongan Segera

  • Bengkak dan nyeri tungkai yang muncul atau memberat secara tiba-tiba
  • Sesak napas mendadak atau nyeri dada saat menarik napas
  • Batuk darah, jantung berdebar sangat cepat, atau pingsan
  • Luka terbuka di tungkai yang tidak membaik dalam dua minggu
  • Luka yang makin merah, bengkak, berbau, bernanah, atau disertai demam
  • Perdarahan dari vena yang melebar atau dari luka

Bila tanda ini muncul, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258.

Catatan kegawatan: Sindrom pasca trombosis tidak membahayakan secara mendadak, tetapi dapat menetap bertahun-tahun dan pada sebagian orang menimbulkan luka di tungkai. Bengkak dan nyeri yang muncul tiba-tiba perlu segera diperiksa karena dapat menandakan bekuan baru.

Mengenal Sindrom Pasca Trombosis

Sindrom pasca trombosis adalah keluhan menahun di tungkai yang muncul setelah trombosis vena dalam, yaitu bekuan darah di vena besar di antara otot tungkai. Keluhannya berupa rasa berat, nyeri, bengkak, dan perubahan kulit di tungkai yang pernah mengalami bekuan. Menurut pernyataan ilmiah American Heart Association (AHA) 2014, sindrom ini dialami sekitar 20 sampai 50 persen orang setelah trombosis vena dalam, dan sekitar 5 sampai 10 persen mengalami bentuk berat. Trombosis vena dalam sendiri dibahas di halaman Trombosis Vena Dalam.

Bagaimana Sindrom Ini Terjadi

Bekuan di vena dalam dapat merusak katup satu arah di dalam vena. Katup yang rusak membuat darah mengalir balik ke bawah. Pada sebagian orang, sisa bekuan atau jaringan parut juga menyempitkan vena sehingga aliran darah terhambat. Akibatnya, tekanan di vena tungkai tetap tinggi, terutama saat berdiri dan berjalan. Lama-kelamaan cairan merembes ke jaringan, kulit menggelap dan mengeras, dan pada keadaan berat timbul luka di sekitar mata kaki (ulkus vena).

Keluhan yang Naik Turun

Keluhan biasanya memberat di sore hari atau setelah lama berdiri dan berjalan, lalu berkurang saat istirahat dengan kaki ditinggikan. Tingkat keparahannya beragam, dari rasa berat ringan sampai bengkak dan luka yang membatasi aktivitas. Diagnosis baru dapat ditegakkan setelah fase awal bekuan lewat, umumnya tiga sampai enam bulan, karena bengkak dan nyeri pada minggu-minggu pertama masih bagian dari bekuan itu sendiri.

Bagian dari Penyakit Vena Kronik

Sindrom pasca trombosis termasuk penyakit vena kronik dengan sebab sekunder, yaitu bekuan. Gambaran kulit dan bengkaknya mirip dengan penyakit vena karena kelemahan katup tanpa riwayat bekuan, yang dibahas di halaman Insufisiensi Vena Kronik. Pada sebagian orang dengan bekuan di tungkai kiri, sumbatan berasal dari vena panggul yang terjepit, yang dibahas di halaman Sindrom May-Thurner.

Dapat Dikendalikan

Sindrom ini umumnya tidak hilang sepenuhnya, tetapi keluhannya dapat dikendalikan dengan stoking kompresi, latihan fisik, perawatan kulit, dan pada kasus terpilih tindakan pada vena. Langkah pencegahan yang utama adalah pengobatan antikoagulan yang teratur sejak trombosis vena dalam terdiagnosis, serta mencegah bekuan berulang di tungkai yang sama. Jenis penyakit vena lainnya dibahas di halaman Penyakit Vena.

Gejala yang Perlu Dikenali.

Gejala Umum

  • Tungkai terasa berat, pegal, atau nyeri di sisi yang pernah mengalami bekuan
  • Bengkak yang memberat setelah berdiri atau berjalan dan berkurang saat kaki ditinggikan
  • Kram, kesemutan, atau gatal di betis
  • Vena di permukaan kulit tampak melebar atau berkelok
  • Kulit di sekitar mata kaki menggelap, kemerahan, atau bersisik
  • Kulit dan jaringan di bawahnya terasa mengeras dan kencang
  • Nyeri seperti meledak di tungkai saat berjalan, bila vena panggul tersumbat
Tidak semua orang mengalami gejala yang sama. Bila keluhan berulang atau memburuk, periksakan diri.

Apa yang Menyebabkan Kondisi Ini?

  • Katup vena dalam rusak oleh bekuan sehingga darah mengalir balik ke bawah
  • Sisa bekuan atau jaringan parut yang menyempitkan vena dalam
  • Tekanan darah di vena tungkai yang tinggi terus-menerus (hipertensi vena)
  • Peradangan dinding vena selama dan setelah bekuan
  • Trombosis vena dalam berulang di tungkai yang sama

Siapa yang Lebih Berisiko?

Medis

Bekuan di vena paha dan panggul, bekuan berulang di tungkai yang sama, keluhan yang masih berat sebulan setelah bekuan, varises atau penyakit vena sebelum bekuan, serta pengobatan antikoagulan yang tidak teratur pada bulan-bulan pertama.

Gaya Hidup

Berat badan berlebih menambah tekanan di vena tungkai, dan kurang bergerak melemahkan pompa otot betis yang membantu darah naik.

Usia

Usia yang lebih tua dikaitkan dengan risiko sindrom pasca trombosis yang lebih tinggi setelah trombosis vena dalam.

Kelompok yang Lebih Berisiko

  • Pasien dengan Bekuan di Vena Paha atau Panggul: Bekuan di vena besar paha dan panggul lebih sering merusak katup dan menyisakan sumbatan dibanding bekuan di betis.
  • Orang dengan Bekuan Berulang: Bekuan yang muncul lagi di tungkai yang sama menambah kerusakan katup dan memperberat keluhan.
  • Penyandang Obesitas: Berat badan berlebih menambah tekanan di vena tungkai dan memperlambat pemulihan setelah bekuan.
  • Penyandang Varises atau Penyakit Vena: Katup vena permukaan yang sudah bocor sebelum bekuan membuat tekanan vena tungkai lebih mudah meningkat.
Memiliki faktor risiko tidak berarti seseorang pasti mengalami kondisi ini.

Bagaimana Diagnosis Ditegakkan?

Diagnosis sindrom pasca trombosis ditegakkan dari keluhan dan pemeriksaan fisik pada orang yang pernah mengalami trombosis vena dalam. Penilaian dilakukan setelah fase awal lewat, umumnya tiga sampai enam bulan setelah bekuan, karena bengkak dan nyeri pada masa awal masih bagian dari bekuan itu sendiri. Dokter memakai skala Villalta, yang menjumlahkan lima keluhan, seperti nyeri, kram, dan rasa berat, serta enam tanda di tungkai, seperti bengkak, pengerasan kulit, dan perubahan warna. Skor 5 atau lebih menandakan sindrom pasca trombosis, dan adanya luka menandakan bentuk berat.

USG dupleks dipakai untuk melihat sisa bekuan, penyempitan, dan katup yang bocor, serta menyingkirkan bekuan baru bila keluhan memberat mendadak. Bila diduga ada sumbatan menahun di vena panggul dan pemasangan stent dipertimbangkan, dokter dapat meminta CT atau MR venografi. Sebelum stoking kompresi kuat dipakai, aliran arteri kaki dinilai bila denyut nadi kaki lemah.

  1. Pemeriksaan Fisik

    Menilai keluhan dan tanda di tungkai dengan skala Villalta untuk menentukan derajat ringan, sedang, atau berat.

  2. USG Dupleks

    Melihat sisa bekuan, penyempitan, dan katup vena yang bocor, serta menyingkirkan bekuan baru bila keluhan memberat mendadak.

  3. CT atau MR venografi untuk memetakan vena panggul dan perut bila diduga ada sumbatan menahun dan pemasangan stent dipertimbangkan.

  4. Tes Ankle-Brachial Index / ABI

    Membandingkan tekanan darah di pergelangan kaki dan lengan bila denyut nadi kaki lemah, sebelum stoking kompresi kuat dipakai.

Pilihan Penanganan.

Penanganan ditentukan dokter setelah evaluasi. Kategori berikut membantu Anda memahami pembicaraan dengan dokter.

Stoking Kompresi

Membantu meredakan rasa berat dan bengkak. Dicoba lebih dulu dan dilanjutkan bila terasa membantu. Ukuran dan tekanannya disesuaikan tenaga kesehatan.

Latihan Fisik Terarah

Latihan berjalan dan penguatan otot betis selama beberapa bulan membantu pompa otot betis bekerja lebih baik dan dapat mengurangi keluhan.

Peninggian Tungkai dan Perawatan Kulit

Meninggikan kaki saat istirahat mengurangi bengkak. Pelembap dan perawatan kulit yang teratur membantu mencegah eksim dan luka.

Kompresi Pneumatik Intermiten

Manset di tungkai yang mengembang dan mengempis bergantian, untuk bengkak berat yang tidak cukup membaik dengan stoking.

Perawatan Ulkus Vena

Perban kompresi dan perawatan luka yang teratur. Bila ada vena permukaan yang bocor, menutupnya dapat dipertimbangkan agar luka lebih cepat sembuh.

Pemasangan Stent Vena Panggul

Untuk sumbatan menahun di vena panggul yang menimbulkan keluhan berat, pada pasien terpilih menurut pedoman ESVS 2022.

Antikoagulan untuk Mencegah Bekuan Berulang

Obat pengencer darah dipakai sesuai lama yang ditentukan dokter, karena bekuan berulang memperberat sindrom. Dibahas di halaman Terapi Antikoagulan dan Pencegahan Stroke.

Kesesuaian dan ketersediaan pemeriksaan atau terapi perlu dikonfirmasi bersama tim perawatan.

Komplikasi yang Perlu Dipantau.

Ulkus Vena

Luka terbuka di sekitar mata kaki yang lambat sembuh dan mudah kambuh. Perlu perawatan luka dan kompresi yang teratur.

Infeksi Kulit (Selulitis)

Kulit yang bengkak dan rapuh mudah terinfeksi, ditandai kemerahan yang meluas, hangat, nyeri, dan kadang demam.

Trombosis Berulang

Bekuan dapat muncul lagi di tungkai yang sama dan memperberat sindrom. Gejala bekuan dibahas di halaman Trombosis Vena Dalam.

Eksim dan Pengerasan Kulit

Kulit di sekitar mata kaki dapat gatal, bersisik, menggelap, dan mengeras (lipodermatosklerosis) karena tekanan vena yang tinggi.

Keterbatasan Aktivitas dan Pekerjaan

Nyeri dan bengkak yang menetap dapat membatasi berjalan, berdiri lama, dan bekerja, sehingga kualitas hidup menurun.

Apa yang Bisa Dilakukan?

  • Bila Anda mengalami trombosis vena dalam, pakai antikoagulan teratur dan jangan menghentikannya sendiri.
  • Mulai berjalan sesegera mungkin setelah pengobatan bekuan dimulai, sesuai arahan dokter.
  • Pakai stoking kompresi bila dokter menganjurkannya untuk mengurangi nyeri dan bengkak.
  • Jaga berat badan sehat dan tetap aktif bergerak.
  • Cegah bekuan berulang: bergerak saat perjalanan jauh dan tanyakan pencegahan bekuan sebelum operasi.
  • Periksa kulit tungkai setiap hari dan gunakan pelembap untuk mencegah luka.

Kapan Harus ke Dokter?

Buat janji dengan dokter bila tungkai yang pernah mengalami trombosis vena dalam tetap berat, nyeri, atau bengkak setelah beberapa bulan, atau bila kulitnya mulai berubah. Segera periksakan diri bila bengkak dan nyeri muncul tiba-tiba, dan langsung ke IGD bila ada sesak napas mendadak.

  • Tungkai berat, pegal, atau bengkak yang mengganggu aktivitas
  • Kulit di sekitar mata kaki menggelap, gatal, atau mengeras
  • Luka di tungkai yang tidak membaik dalam dua minggu
  • Nyeri tungkai seperti meledak saat berjalan
  • Bengkak dan nyeri yang muncul mendadak, tanda kemungkinan bekuan baru
  • Stoking kompresi terasa terlalu sakit atau tidak dapat dipakai

Jangan Menunggu bila Kondisinya Darurat.

Bila keluhan terasa berat atau muncul mendadak, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258, bukan menunggu janji temu.

Hal yang Mungkin Anda Tanyakan.

Pertanyaan yang sering diajukan tentang sindrom pasca trombosis.

Apakah setiap orang yang pernah mengalami trombosis vena dalam akan mengalami sindrom ini?

Tidak. Sindrom pasca trombosis dialami sekitar 20 sampai 50 persen orang setelah trombosis vena dalam, dan sebagian besar dalam bentuk ringan sampai sedang. Risikonya lebih tinggi bila bekuan ada di vena paha atau panggul, bila bekuan berulang di tungkai yang sama, bila berat badan berlebih, atau bila keluhan masih berat sebulan setelah bekuan. Pengobatan antikoagulan yang teratur membantu menurunkan risiko.

Apakah sindrom pasca trombosis bisa sembuh?

Kerusakan katup vena umumnya menetap, sehingga sindrom ini cenderung berlangsung lama. Namun, keluhannya dapat dikendalikan. Banyak orang merasa lebih nyaman dengan stoking kompresi, latihan fisik teratur, meninggikan kaki, dan perawatan kulit. Pada sumbatan vena panggul tertentu, pemasangan stent dapat mengurangi keluhan. Kontrol berkala membantu dokter menyesuaikan penanganan dan mencegah luka.

Apakah saya harus memakai stoking kompresi seumur hidup?

Tidak selalu. Stoking kompresi dipakai untuk meredakan rasa berat dan bengkak. Uji klinis besar SOX menunjukkan stoking yang dipakai rutin setelah trombosis vena dalam tidak terbukti mencegah sindrom ini, sehingga kini stoking dipakai terutama bila membantu keluhan. Bila stoking terasa membantu, Anda dapat melanjutkannya. Dokter akan menilai ukuran, tingkat tekanan, dan lama pemakaiannya bersama Anda.

Apakah olahraga aman bagi penyandang sindrom pasca trombosis?

Aman dan dianjurkan. Latihan berjalan dan penguatan otot betis membantu otot memompa darah naik dari tungkai. Penelitian kecil menunjukkan latihan terarah selama beberapa bulan dapat mengurangi keluhan dan memperbaiki kualitas hidup. Mulailah bertahap, pakai stoking kompresi bila dianjurkan, dan tinggikan kaki setelah latihan. Tanyakan kepada dokter atau dokter rehabilitasi medik tentang program yang sesuai.

Bagaimana membedakan sindrom pasca trombosis dengan bekuan baru?

Keluhan sindrom pasca trombosis biasanya naik turun: memberat setelah berdiri lama dan membaik saat istirahat. Bekuan baru umumnya ditandai bengkak dan nyeri yang muncul atau memberat tiba-tiba dan menetap walau tungkai ditinggikan. Keduanya sulit dibedakan hanya dari keluhan, sehingga dokter memakai USG dupleks dan membandingkannya dengan hasil sebelumnya. Bila ragu, periksakan diri segera.

Apakah sindrom pasca trombosis bisa dicegah?

Risikonya dapat dikurangi. Langkah utama adalah pengobatan antikoagulan yang teratur sejak trombosis vena dalam terdiagnosis, mulai berjalan lebih awal, dan mencegah bekuan berulang. Pada bekuan luas di vena paha dan panggul, dokter dapat mempertimbangkan pengangkatan bekuan lewat kateter untuk pasien terpilih. Uji ATTRACT menunjukkan tindakan ini dapat mengurangi keparahan sindrom, meski tidak mencegahnya pada semua orang.

Sumber dan Tinjauan Medis

Ditinjau secara medis oleh dr. Radityo Prakoso, Sp.JP(K).

  1. Kahn SR, Comerota AJ, Cushman M, Evans NS, Ginsberg JS, Goldenberg NA, et al. The postthrombotic syndrome: evidence-based prevention, diagnosis, and treatment strategies: a scientific statement from the American Heart Association. Circulation. 2014;130(18):1636-61.
  2. Kahn SR, Partsch H, Vedantham S, Prandoni P, Kearon C. Definition of post-thrombotic syndrome of the leg for use in clinical investigations: a recommendation for standardization. J Thromb Haemost. 2009;7(5):879-83.
  3. Kakkos SK, Gohel M, Baekgaard N, Bauersachs R, Bellmunt-Montoya S, Black SA, et al. European Society for Vascular Surgery (ESVS) 2021 Clinical Practice Guidelines on the Management of Venous Thrombosis. Eur J Vasc Endovasc Surg. 2021;61(1):9-82.
  4. De Maeseneer MG, Kakkos SK, Aherne T, Baekgaard N, Black S, Blomgren L, et al. European Society for Vascular Surgery (ESVS) 2022 Clinical Practice Guidelines on the Management of Chronic Venous Disease of the Lower Limbs. Eur J Vasc Endovasc Surg. 2022;63(2):184-267.
  5. Kahn SR, Shapiro S, Wells PS, Rodger MA, Kovacs MJ, Anderson DR, et al. Compression stockings to prevent post-thrombotic syndrome: a randomised placebo-controlled trial. Lancet. 2014;383(9920):880-8.
  6. Vedantham S, Goldhaber SZ, Julian JA, Kahn SR, Jaff MR, Cohen DJ, et al. Pharmacomechanical Catheter-Directed Thrombolysis for Deep-Vein Thrombosis. N Engl J Med. 2017;377(23):2240-52.

Langkah berikutnya

Bahas Keluhan Anda bersama Dokter.

Mulai konsultasi untuk memahami kondisi dan pilihan penanganan yang sesuai.

Konteks kunjungan: Sindrom Pasca Trombosis

Informasi di halaman ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi, diagnosis, atau pengobatan medis. Untuk keluhan kesehatan Anda, konsultasikan langsung dengan dokter.

Kembali ke Semua Kondisi