Jawaban singkat
Apa Itu Trombosis Vena Dalam?
Trombosis vena dalam adalah bekuan darah di vena dalam, umumnya di betis, paha, atau panggul. Bekuan ini membuat tungkai bengkak dan nyeri, dapat terlepas ke paru, dan perlu segera diobati dengan obat pengencer darah.
Sumber informasiTanda yang Memerlukan Pertolongan Segera
- Sesak napas yang muncul tiba-tiba
- Nyeri dada tajam yang memberat saat menarik napas atau batuk
- Batuk darah
- Jantung berdebar sangat cepat
- Pingsan, pusing berat, atau hampir pingsan
- Seluruh tungkai sangat bengkak, kebiruan atau pucat, dingin, dan sangat nyeri
Bila tanda ini muncul, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258.
01 / Memahami kondisi
Mengenal Trombosis Vena Dalam
Trombosis vena dalam (dalam bahasa Inggris deep vein thrombosis atau DVT) adalah bekuan darah yang terbentuk di vena dalam, yaitu vena besar yang berada di antara otot. Umumnya bekuan muncul di betis, paha, atau panggul, dan lebih jarang di lengan. Bekuan menghambat aliran darah kembali ke jantung, sehingga tungkai bengkak dan nyeri. Pada sebagian orang, bekuan tidak menimbulkan keluhan sama sekali.
Satu Proses dengan Emboli Paru
Bila sebagian bekuan terlepas, bekuan terbawa aliran darah melewati jantung dan menyumbat pembuluh darah paru. Keadaan ini disebut emboli paru dan merupakan kegawatan, yang dibahas di halaman Emboli Paru. Karena keduanya berasal dari proses yang sama, dokter menyebut keduanya tromboemboli vena. Bekuan di vena paha dan panggul lebih berisiko terlepas daripada bekuan kecil di betis.
Mengapa Bekuan Terbentuk
Tiga hal mendorong pembentukan bekuan: aliran darah yang melambat, misalnya saat lama berbaring atau duduk; kerusakan dinding vena, misalnya setelah operasi atau cedera; dan darah yang lebih mudah membeku, misalnya karena kanker, kehamilan, atau hormon estrogen. Pada sebagian orang, bekuan muncul tanpa pemicu yang jelas. Dokter membedakan bekuan dengan pemicu sementara dan bekuan tanpa pemicu karena hal ini memengaruhi lama pengobatan.
Pengobatan yang Teratur
Obat antikoagulan (pengencer darah) mencegah bekuan membesar dan mencegah bekuan baru, sementara tubuh perlahan meluruhkan bekuan yang ada. Pengobatan berlangsung minimal tiga bulan, dan pada sebagian orang lebih lama. Pedoman ESVS 2021 menganjurkan pasien tetap bergerak dan berjalan setelah obat dimulai, bukan berbaring terus. Tindakan untuk mengangkat bekuan atau memasang filter hanya dipakai pada keadaan tertentu.
Dampak Jangka Panjang
Sebagian orang mengalami keluhan menetap berupa tungkai berat, bengkak, dan perubahan kulit setelah bekuan, yang dibahas di halaman Sindrom Pasca Trombosis. Bekuan juga dapat berulang, terutama bila pemicunya menetap. Kontrol teratur membantu dokter menentukan kapan obat dapat dihentikan dengan aman. Selama memakai antikoagulan, laporkan tanda perdarahan seperti gusi berdarah, urine kemerahan, atau tinja hitam. Jenis penyakit vena lainnya dibahas di halaman Penyakit Vena.
02 / Memahami kondisi
Gejala yang Perlu Dikenali.
Gejala Umum
- Bengkak pada satu tungkai, betis, atau paha
- Nyeri atau rasa tegang di betis yang memberat saat berdiri atau berjalan
- Kulit tungkai terasa hangat dan tampak kemerahan atau kebiruan
- Vena di permukaan kulit tungkai tampak lebih jelas
- Betis yang sakit tampak lebih besar daripada betis lainnya
- Bengkak dan nyeri di satu lengan, bila bekuan ada di vena lengan
- Pada sebagian orang tidak ada keluhan sama sekali
Gejala pada Perempuan Dewasa
Risiko bekuan lebih tinggi saat hamil sampai sekitar enam minggu setelah melahirkan. Bengkak kedua kaki biasa saat hamil; bengkak di satu sisi perlu diperiksa.
- Bengkak dan nyeri pada satu tungkai saat hamil, lebih sering tungkai kiri
- Bengkak seluruh tungkai disertai nyeri pinggang, bokong, atau lipat paha
- Tungkai bengkak dan nyeri pada minggu-minggu setelah melahirkan atau operasi caesar
- Bengkak dan nyeri tungkai saat memakai pil KB atau terapi hormon berisi estrogen
03 / Memahami kondisi
Apa yang Menyebabkan Kondisi Ini?
- Aliran darah vena melambat, misalnya saat lama berbaring, sakit berat, atau duduk lama dalam perjalanan
- Kerusakan dinding vena akibat operasi, patah tulang, cedera, atau kateter di dalam vena
- Darah lebih mudah membeku, misalnya karena kanker, kehamilan, atau hormon estrogen
- Kelainan pembekuan darah bawaan atau sindrom antifosfolipid
- Penekanan vena panggul kiri oleh arteri di atasnya, yang dibahas di halaman Sindrom May-Thurner
- Pada sebagian orang, bekuan muncul tanpa pemicu yang jelas
04 / Memahami kondisi
Siapa yang Lebih Berisiko?
Medis
Operasi besar, terutama operasi tulang pinggul dan lutut, rawat inap, patah tulang dan pemasangan gips, kanker dan terapinya, gagal jantung, infeksi berat, penyakit radang usus, serta riwayat bekuan darah sebelumnya.
Gaya Hidup
Duduk lama tanpa bergerak, misalnya perjalanan lebih dari empat jam, kurang aktif, berat badan berlebih, dan merokok meningkatkan kecenderungan bekuan.
Genetik
Kelainan pembekuan darah bawaan seperti faktor V Leiden, mutasi gen protrombin, atau kekurangan protein C, protein S, dan antitrombin, serta riwayat bekuan darah pada keluarga dekat.
Usia
Risiko naik bertahap seiring usia dan jauh lebih tinggi pada usia lanjut, terutama bila disertai penyakit lain atau tirah baring.
Lainnya
Kehamilan sampai sekitar enam minggu setelah melahirkan, pil KB atau terapi hormon yang mengandung estrogen, dan kateter yang dipasang di vena besar.
Kelompok yang Lebih Berisiko
- Pasien Pascaoperasi dan Rawat Inap: Tirah baring dan cedera jaringan saat operasi memperlambat aliran darah vena. Dokter menilai kebutuhan obat atau alat pencegah bekuan.
- Penyandang Kanker: Kanker dan sebagian terapinya membuat darah lebih mudah membeku. Pilihan dan lama antikoagulan disesuaikan dengan jenis kanker dan risiko perdarahan.
- Perempuan Hamil dan Masa Nifas: Risiko bekuan meningkat sejak awal kehamilan sampai sekitar enam minggu setelah melahirkan, terutama setelah operasi caesar.
- Orang dengan Riwayat Bekuan Darah: Bekuan yang pernah terjadi, terutama tanpa pemicu jelas, menandakan risiko berulang. Dokter menimbang perlunya antikoagulan jangka panjang.
- Lansia: Usia lanjut, penyakit penyerta, dan berkurangnya gerak membuat risiko bekuan lebih tinggi, sementara gejalanya kadang kurang khas.
05 / Memahami kondisi
Bagaimana Diagnosis Ditegakkan?
Gejala trombosis vena dalam mirip dengan keluhan lain, seperti cedera otot, kista di belakang lutut, atau infeksi kulit. Karena itu, dokter tidak menegakkan diagnosis dari pemeriksaan fisik saja. Dokter lebih dulu menilai seberapa besar kemungkinan bekuan dengan skor klinis, misalnya skor Wells, berdasarkan bengkak, nyeri, riwayat operasi, kanker, atau tirah baring.
Bila kemungkinannya rendah, tes D-dimer dikerjakan. Hasil normal hampir menyingkirkan bekuan, sedangkan hasil tinggi belum memastikan karena D-dimer juga naik setelah operasi, saat hamil, pada kanker, infeksi, dan usia lanjut. Bila kemungkinannya tinggi atau D-dimer meningkat, pemeriksaan berikutnya adalah USG dupleks: vena yang tidak dapat ditekan oleh alat USG menandakan bekuan. Bila USG pertama normal tetapi kecurigaan tetap tinggi, USG dapat diulang dalam sekitar satu minggu. Bekuan di vena panggul atau perut dinilai dengan CT atau MR venografi. Sebelum memilih obat, dokter memeriksa darah lengkap, fungsi ginjal, dan fungsi hati.
Pemeriksaan Fisik
Menilai bengkak, nyeri tekan, warna kulit, dan lingkar betis, lalu menghitung kemungkinan klinis bekuan dengan skor seperti skor Wells.
Tes D-dimer
Bila kemungkinan klinis rendah, hasil normal dapat menyingkirkan bekuan. Hasil tinggi belum memastikan dan perlu dilanjutkan dengan USG.
USG Dupleks
Pemeriksaan utama tanpa radiasi. Vena yang tidak dapat ditekan oleh alat USG menandakan bekuan; dapat diulang bila hasil pertama meragukan.
CT atau MR venografi bila bekuan dicurigai di vena panggul atau vena besar perut, yang sulit dinilai dengan USG.
Pemeriksaan Laboratorium
Darah lengkap, fungsi ginjal, dan fungsi hati sebelum memilih jenis antikoagulan dan untuk menilai risiko perdarahan.
Tes Antibodi Antifosfolipid
Pada kasus terpilih, misalnya bekuan tanpa pemicu di usia muda atau riwayat keguguran berulang, karena hasilnya memengaruhi pilihan obat.
06 / Memahami kondisi
Pilihan Penanganan.
Penanganan ditentukan dokter setelah evaluasi. Kategori berikut membantu Anda memahami pembicaraan dengan dokter.
Obat Antikoagulan
Obat pengencer darah berupa tablet antikoagulan oral langsung, suntikan heparin, atau warfarin, minimal tiga bulan. Jenis dan lamanya ditentukan dokter. Dibahas di halaman Terapi Antikoagulan dan Pencegahan Stroke.
Mobilisasi Dini dan Berjalan
Setelah obat dimulai, berjalan lebih dianjurkan daripada berbaring terus. Gerakan membantu meredakan bengkak dan nyeri tanpa menambah risiko bekuan terlepas.
Stoking Kompresi
Dapat meredakan nyeri dan bengkak tungkai setelah bekuan. Dokter menentukan kapan mulai dipakai dan berapa lama, sesuai keluhan Anda.
Pemantauan dengan USG Ulang
Untuk bekuan kecil yang hanya ada di vena betis dengan keluhan ringan, dokter dapat memilih USG ulang dalam satu sampai dua minggu sebelum memutuskan obat.
Trombolisis atau Trombektomi Kateter
Melarutkan atau mengangkat bekuan lewat kateter, untuk pasien terpilih dengan bekuan luas di vena paha dan panggul atau tungkai yang terancam. Dibahas di halaman Trombektomi.
Filter Vena Cava
Saringan kecil di vena besar perut, hanya bila antikoagulan tidak dapat diberikan, dan diangkat kembali bila memungkinkan. Dibahas di halaman Penempatan Filter Vena Cava.
07 / Memahami kondisi
Komplikasi yang Perlu Dipantau.
Emboli Paru
Bekuan terlepas dan menyumbat arteri paru, menimbulkan sesak dan nyeri dada mendadak. Perlu penanganan di IGD. Dibahas di halaman Emboli Paru.
Sindrom Pasca Trombosis
Keluhan menahun berupa tungkai berat, bengkak, dan perubahan kulit karena katup vena rusak. Dibahas di halaman Sindrom Pasca Trombosis.
Trombosis Berulang
Bekuan dapat muncul lagi di tungkai yang sama atau yang lain, terutama bila pemicunya menetap atau obat dihentikan terlalu cepat.
Perdarahan karena Obat Pengencer Darah
Antikoagulan menaikkan risiko perdarahan. Dokter menimbang manfaat dan risikonya, dan Anda perlu melaporkan setiap tanda perdarahan.
Sumbatan Vena Luas yang Mengancam Tungkai
Pada keadaan yang jarang, bekuan menyumbat hampir semua vena tungkai sehingga tungkai sangat bengkak, kebiruan, dan nyeri. Perlu ditangani segera di IGD.
Hipertensi Pulmonal Tromboemboli Kronis
Pada sebagian kecil orang setelah emboli paru, sisa bekuan menyumbat arteri paru secara menahun. Dibahas di halaman Hipertensi Pulmonal Tromboemboli Kronis.
08 / Memahami kondisi
Apa yang Bisa Dilakukan?
- Bergerak dan berjalan sesegera mungkin setelah operasi atau sakit, sesuai arahan tim medis.
- Saat perjalanan lebih dari empat jam, berdiri dan berjalan berkala, gerakkan pergelangan kaki, dan cukup minum.
- Bila akan operasi atau dirawat, tanyakan kepada dokter perlu tidaknya obat atau alat pencegah bekuan.
- Jaga berat badan sehat dan berhenti merokok.
- Diskusikan risiko bekuan dengan dokter sebelum memakai pil KB atau terapi hormon, terutama bila pernah ada bekuan.
- Bila sedang memakai antikoagulan, minum sesuai jadwal dan jangan menghentikannya sendiri.
09 / Memahami kondisi
Kapan Harus ke Dokter?
Periksakan diri pada hari yang sama bila satu tungkai atau lengan bengkak dan nyeri tanpa sebab jelas, terutama bila Anda baru menjalani operasi, dirawat, menempuh perjalanan jauh, sedang hamil, atau baru melahirkan. Segera ke IGD bila muncul sesak napas mendadak, nyeri dada, atau batuk darah.
- Bengkak dan nyeri di satu betis, paha, atau lengan
- Tungkai terasa hangat, kemerahan, atau kebiruan
- Keluhan tungkai setelah operasi, pemasangan gips, rawat inap, atau perjalanan jauh
- Bengkak atau nyeri bertambah walau sudah memakai antikoagulan
- Gusi berdarah, mimisan berulang, urine kemerahan, atau tinja hitam saat memakai antikoagulan
- Sesak napas, nyeri dada, atau batuk darah: langsung ke IGD
Jangan Menunggu bila Kondisinya Darurat.
Bila keluhan terasa berat atau muncul mendadak, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258, bukan menunggu janji temu.
10 / Pertanyaan umum
Hal yang Mungkin Anda Tanyakan.
Pertanyaan yang sering diajukan tentang trombosis vena dalam.
Berapa lama saya harus memakai obat pengencer darah?
Umumnya minimal tiga bulan. Bila bekuan dipicu hal sementara yang jelas, seperti operasi besar, obat sering dapat dihentikan setelah masa itu. Bila bekuan muncul tanpa pemicu atau pemicunya menetap, misalnya kanker, dokter dapat menganjurkan pengobatan lebih lama dengan menimbang risiko perdarahan. Jangan menghentikan atau mengganti obat sendiri, dan bawa daftar obat Anda setiap kali kontrol.
Apakah saya harus berbaring terus agar bekuan tidak lepas?
Tidak. Pedoman ESVS 2021 menganjurkan pasien tetap bergerak dan berjalan setelah obat pengencer darah dimulai. Penelitian menunjukkan berjalan tidak menambah risiko emboli paru dan membantu nyeri serta bengkak lebih cepat reda. Tinggikan tungkai saat duduk atau berbaring. Bila tungkai sangat bengkak atau nyeri, tanyakan kepada dokter seberapa banyak aktivitas yang aman untuk Anda.
Apakah bekuan darah di vena bisa hilang?
Obat pengencer darah tidak langsung melarutkan bekuan, tetapi mencegahnya membesar dan mencegah bekuan baru. Selama itu, tubuh perlahan meluruhkan bekuan dalam beberapa minggu sampai bulan. Pada sebagian orang, sisa bekuan atau jaringan parut tetap ada dan dapat terlihat di USG. Sisa ini tidak selalu berarti pengobatan gagal; dokter menilainya bersama keluhan Anda.
Apakah trombosis vena dalam bisa terjadi lagi?
Bisa. Risiko berulang lebih rendah bila bekuan dipicu hal sementara, seperti operasi, dan lebih tinggi bila muncul tanpa pemicu jelas atau pemicunya menetap. Risiko juga naik setelah obat dihentikan. Karena itu, dokter menimbang lama pengobatan untuk setiap orang. Anda dapat membantu dengan tetap aktif, menjaga berat badan, dan memberi tahu dokter tentang riwayat bekuan setiap kali akan operasi atau dirawat.
Apakah saya boleh naik pesawat setelah mengalami trombosis vena dalam?
Umumnya boleh setelah keadaan stabil dan obat pengencer darah dipakai teratur, tetapi tanyakan dulu kepada dokter, terutama pada minggu-minggu pertama. Selama perjalanan lebih dari empat jam, berdirilah dan berjalan berkala, gerakkan pergelangan kaki, cukup minum, dan pilih kursi dekat lorong. Dokter dapat menganjurkan stoking kompresi. Segera cari pertolongan bila muncul sesak atau nyeri dada.
Apakah saya perlu tes kelainan pembekuan darah?
Tidak semua orang perlu. Tes kelainan pembekuan bawaan tidak dianjurkan secara rutin karena sering tidak mengubah pengobatan. Dokter dapat mempertimbangkannya pada keadaan tertentu, misalnya bekuan tanpa pemicu di usia muda, bekuan di tempat yang tidak biasa, atau riwayat bekuan yang kuat dalam keluarga. Tes antibodi antifosfolipid penting pada kasus terpilih karena hasilnya memengaruhi jenis obat yang dipilih.
Sumber dan Tinjauan Medis
Ditinjau secara medis oleh dr. Emanoel Oepangat, Sp.JP(K).
- Kakkos SK, Gohel M, Baekgaard N, Bauersachs R, Bellmunt-Montoya S, Black SA, et al. European Society for Vascular Surgery (ESVS) 2021 Clinical Practice Guidelines on the Management of Venous Thrombosis. Eur J Vasc Endovasc Surg. 2021;61(1):9-82.
- Stevens SM, Woller SC, Baumann Kreuziger L, Bounameaux H, Doerschug K, Geersing GJ, et al. Antithrombotic Therapy for VTE Disease: Second Update of the CHEST Guideline and Expert Panel Report. Chest. 2021;160(6):e545-608.
- Ortel TL, Neumann I, Ageno W, Beyth R, Clark NP, Cuker A, et al. American Society of Hematology 2020 guidelines for management of venous thromboembolism: treatment of deep vein thrombosis and pulmonary embolism. Blood Adv. 2020;4(19):4693-738.
- Lim W, Le Gal G, Bates SM, Righini M, Haramati LB, Lang E, et al. American Society of Hematology 2018 guidelines for management of venous thromboembolism: diagnosis of venous thromboembolism. Blood Adv. 2018;2(22):3226-56.
- Konstantinides SV, Meyer G, Becattini C, Bueno H, Geersing GJ, Harjola VP, et al. 2019 ESC Guidelines for the diagnosis and management of acute pulmonary embolism developed in collaboration with the European Respiratory Society (ERS). Eur Heart J. 2020;41(4):543-603.
- Vedantham S, Goldhaber SZ, Julian JA, Kahn SR, Jaff MR, Cohen DJ, et al. Pharmacomechanical Catheter-Directed Thrombolysis for Deep-Vein Thrombosis. N Engl J Med. 2017;377(23):2240-52.




