Jawaban singkat
Apa Itu Perikarditis Rekuren?
Perikarditis rekuren adalah peradangan selaput jantung yang kambuh setelah sempat bebas keluhan sedikitnya 4 sampai 6 minggu. Kekambuhan dapat terjadi berkali-kali, tetapi jarang menimbulkan komplikasi berat bila ditangani dengan tepat.
Sumber informasiTanda yang Memerlukan Pertolongan Segera
- Sesak napas berat atau makin sesak dalam beberapa jam
- Pingsan atau hampir pingsan
- Kulit pucat, dingin, dan berkeringat dengan denyut jantung sangat cepat
- Nyeri dada berat dan menekan yang berbeda dari kekambuhan biasanya
- Bingung atau mengantuk tidak seperti biasanya
Bila tanda ini muncul, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258.
01 / Memahami kondisi
Mengenal Perikarditis Rekuren
Setelah episode perikarditis akut, sekitar 15 sampai 30 dari 100 orang mengalami kekambuhan. Pada orang yang sudah pernah kambuh tanpa kolkisin, risiko kambuh berikutnya dapat mencapai sekitar separuh. Disebut rekuren bila nyeri dan tanda peradangan muncul lagi setelah ada jeda bebas keluhan sedikitnya 4 sampai 6 minggu. Bila peradangan tidak pernah benar-benar reda, kondisinya disebut perikarditis menetap atau kronis, yang dibahas di halaman Perikarditis Kronis.
Keluhan saat kambuh biasanya mirip episode awal: nyeri dada tajam yang memberat saat bernapas atau berbaring, kadang dengan demam. Kekambuhan sering terjadi saat obat dikurangi atau dalam beberapa minggu setelah obat dihentikan.
Mengapa Perikarditis Kambuh
Pada banyak orang, kekambuhan bukan disebabkan infeksi baru, melainkan sistem imun yang terus memicu peradangan. Risiko kambuh meningkat bila episode awal tidak mendapat kolkisin, obat antiradang dihentikan terlalu cepat, atau memakai kortikosteroid, terutama dosis tinggi. Penelitian menunjukkan peran zat peradangan interleukin-1 pada banyak kasus, yang kini menjadi sasaran pengobatan. Sebagian kecil kasus disebabkan penyakit autoimun, TB, atau sindrom setelah cedera jantung, sehingga penyebab ini tetap perlu dicari.
Prinsip Penanganan
Penanganan berfokus pada meredakan serangan dan mencegah serangan berikutnya. Obat antiradang diberikan bersama kolkisin, yang umumnya dilanjutkan sedikitnya enam bulan. Obat diturunkan sangat perlahan, satu per satu, dengan memantau keluhan dan CRP. Kortikosteroid dosis rendah dipakai bila obat lini pertama tidak cukup atau tidak dapat dipakai. Pada kekambuhan yang terus berulang walaupun sudah mendapat kolkisin dan bergantung pada kortikosteroid, pedoman ESC memberi tempat pada obat penghambat interleukin-1. Operasi pengangkatan perikardium hanya dipertimbangkan bila semua pengobatan tidak berhasil.
Prognosis
Walaupun melelahkan, perikarditis rekuren tanpa penyebab khusus jarang berkembang menjadi tamponade atau konstriksi, dan kekuatan pompa jantung umumnya tetap baik. Frekuensi kambuh biasanya berkurang seiring waktu dengan pengobatan yang terencana. Dukungan keluarga dan komunikasi yang terbuka dengan dokter membantu menjalani masa pengobatan yang panjang.
02 / Memahami kondisi
Gejala yang Perlu Dikenali.
Gejala Umum
- Nyeri dada tajam yang kembali muncul, mirip episode sebelumnya
- Nyeri memberat saat menarik napas atau berbaring, berkurang saat duduk condong ke depan
- Demam ringan atau badan pegal
- Nyeri muncul saat obat dikurangi atau setelah obat dihentikan
- Nyeri di sisi dada saat bernapas karena selaput paru ikut meradang
- Lelah dan sulit beraktivitas seperti biasa
03 / Memahami kondisi
Apa yang Menyebabkan Kondisi Ini?
- Peradangan yang terus dipicu sistem imun setelah episode awal (autoinflamasi)
- Pengobatan episode awal terlalu singkat atau obat diturunkan terlalu cepat
- Pemakaian kortikosteroid, terutama dosis tinggi atau diturunkan terlalu cepat
- Episode awal yang tidak mendapat kolkisin
- Penyakit autoimun seperti lupus atau penyakit autoinflamasi tertentu
- Sindrom setelah operasi jantung, serangan jantung, atau tindakan kateter
- TB atau infeksi lain yang belum terdeteksi, walaupun lebih jarang
04 / Memahami kondisi
Siapa yang Lebih Berisiko?
Medis
Episode awal yang tidak diobati kolkisin, pemakaian kortikosteroid, respons kurang baik terhadap aspirin atau antiinflamasi nonsteroid, dan penyakit autoimun.
Genetik
Sebagian kecil pasien memiliki riwayat keluarga perikarditis berulang atau kelainan gen penyakit autoinflamasi, seperti demam Mediterania familial.
Lainnya
Kembali berolahraga berat sebelum peradangan reda dan menghentikan obat sendiri saat nyeri hilang diduga ikut memicu kekambuhan.
Kelompok yang Lebih Berisiko
- Pasien yang Mendapat Kortikosteroid: Kortikosteroid, terutama dosis tinggi, dikaitkan dengan kekambuhan lebih sering, sehingga dipakai dengan dosis rendah dan diturunkan perlahan.
- Pasien Pascaoperasi Jantung: Sindrom pascacedera jantung dapat kambuh, terutama bila peradangan awal tidak ditangani tuntas.
- Penyandang Penyakit Autoimun: Lupus dan penyakit autoimun lain dapat membuat selaput jantung meradang berulang selama penyakit dasarnya aktif.
05 / Memahami kondisi
Bagaimana Diagnosis Ditegakkan?
Kekambuhan dipastikan dengan kriteria yang sama seperti episode awal: nyeri dada khas, bunyi gesekan selaput jantung, perubahan EKG, atau cairan baru di kantong jantung. Kenaikan CRP sangat membantu, karena pada kekambuhan perubahan EKG dan cairan sering lebih sedikit.
Bila keluhan tidak khas atau CRP normal, MRI jantung dapat memperlihatkan apakah selaput masih meradang. Hasil ini membantu dokter memutuskan perlu tidaknya memperpanjang atau menambah obat. Ekokardiografi menilai cairan dan tanda konstriksi. Pada kekambuhan yang sering, dokter mencari penyebab khusus, misalnya penyakit autoimun dengan tes ANA, TB, atau penyakit autoinflamasi, karena penyebab tersebut memerlukan pengobatan tersendiri.
Pemeriksaan C-Reactive Protein
Kenaikan CRP memastikan peradangan kembali aktif dan menjadi panduan kapan obat dapat diturunkan.
Elektrokardiogram / EKG
Mencari perubahan khas perikarditis, walaupun pada kekambuhan perubahannya sering lebih ringan atau tidak tampak.
Ekokardiografi
Menilai cairan di kantong jantung dan memastikan tidak ada tanda tekanan atau konstriksi.
MRI Jantung
Melihat peradangan selaput yang masih aktif, membantu memastikan diagnosis saat keluhan samar dan menyesuaikan lama pengobatan.
Tes Antibodi Anti-Nuklear / Tes ANA
Penyaring penyakit autoimun pada kekambuhan berulang atau bila ada tanda seperti nyeri sendi dan ruam.
Pemeriksaan TB, fungsi ginjal, dan penanda lain sesuai kecurigaan dokter, untuk memastikan tidak ada penyebab khusus yang terlewat.
06 / Memahami kondisi
Pilihan Penanganan.
Penanganan ditentukan dokter setelah evaluasi. Kategori berikut membantu Anda memahami pembicaraan dengan dokter.
Aspirin atau Obat Antiinflamasi Nonsteroid
Diberikan saat kambuh sampai keluhan hilang dan CRP normal, lalu diturunkan sangat perlahan sesuai arahan dokter, disertai pelindung lambung.
Kolkisin Jangka Panjang
Ditambahkan pada obat antiradang dan umumnya dilanjutkan sedikitnya enam bulan, karena terbukti menurunkan risiko kekambuhan berikutnya.
Kortikosteroid Dosis Rendah
Pilihan bila obat lini pertama tidak dapat dipakai atau tidak cukup, setelah infeksi disingkirkan. Diturunkan sangat perlahan untuk mencegah kambuh.
Obat Penghambat Interleukin-1
Untuk kekambuhan dengan CRP tinggi yang tidak membaik dengan kolkisin dan bergantung pada kortikosteroid. Obat diberikan lewat suntikan di bawah kulit dan dipantau dokter.
Obat Penekan Imun Lain
Obat penekan imun lain atau imunoglobulin lewat infus dipertimbangkan pada kasus tertentu yang tidak membaik dengan pengobatan di atas.
Perikardiektomi
Operasi pengangkatan perikardium dipertimbangkan hanya bila kekambuhan terus terjadi walaupun semua pengobatan sudah dicoba.
07 / Memahami kondisi
Komplikasi yang Perlu Dipantau.
Kekambuhan Berulang
Sebagian pasien mengalami beberapa kali kekambuhan dalam beberapa tahun. Frekuensinya umumnya berkurang seiring waktu dan pengobatan yang terencana.
Ketergantungan Kortikosteroid
Kekambuhan setiap kali kortikosteroid dikurangi dapat membuat pemakaiannya berkepanjangan, dengan efek samping seperti tulang keropos, gula darah naik, dan berat badan naik.
Efusi Perikardium dan Tamponade
Cairan dapat bertambah saat kambuh. Tamponade jarang pada perikarditis rekuren tanpa penyebab khusus, tetapi tandanya perlu dikenali.
Perikarditis Konstriktif
Risiko konstriksi pada perikarditis rekuren tanpa penyebab khusus rendah, lebih rendah dibanding perikarditis akibat TB atau infeksi bakteri.
Gangguan Kualitas Hidup
Nyeri berulang, pembatasan olahraga, dan pengobatan berbulan-bulan dapat memengaruhi pekerjaan, tidur, dan suasana hati.
08 / Memahami kondisi
Apa yang Bisa Dilakukan?
- Minum kolkisin sesuai jangka waktu yang ditentukan dokter, walaupun nyeri sudah hilang
- Jangan mengurangi atau menghentikan obat antiradang dan kortikosteroid sendiri
- Ikuti jadwal penurunan obat bertahap dan pemeriksaan CRP
- Tunda olahraga berat sampai dokter menyatakan peradangan reda
- Catat tanggal dan pemicu setiap kekambuhan untuk dibahas saat kontrol
- Beri tahu dokter semua obat lain yang Anda minum, karena sebagian berinteraksi dengan kolkisin
- Bila merencanakan kehamilan, diskusikan pilihan obat yang aman dengan dokter lebih dulu
09 / Memahami kondisi
Kapan Harus ke Dokter?
Hubungi dokter bila nyeri dada khas perikarditis muncul kembali, terutama saat obat sedang diturunkan atau setelah dihentikan. Jangan menaikkan atau memulai obat sendiri tanpa arahan, karena dokter perlu memastikan kekambuhan dengan pemeriksaan CRP dan bila perlu ekokardiografi. Hubungi dokter juga bila muncul efek samping obat, seperti diare berat, nyeri lambung, atau gula darah naik saat memakai kortikosteroid.
Segera ke IGD bila:
- Sesak napas berat atau makin sesak dalam beberapa jam
- Pingsan atau hampir pingsan
- Nyeri dada berat dan menekan yang berbeda dari kekambuhan biasanya
- Kulit pucat, dingin, dan berkeringat dengan denyut jantung sangat cepat
Jangan Menunggu bila Kondisinya Darurat.
Bila keluhan terasa berat atau muncul mendadak, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258, bukan menunggu janji temu.
10 / Pertanyaan umum
Hal yang Mungkin Anda Tanyakan.
Pertanyaan yang sering diajukan tentang perikarditis rekuren.
Mengapa perikarditis saya terus kambuh?
Pada banyak orang, kekambuhan terjadi karena sistem imun terus memicu peradangan, bukan karena infeksi baru. Risiko kambuh meningkat bila episode awal tidak mendapat kolkisin, obat dihentikan terlalu cepat, atau memakai kortikosteroid dosis tinggi. Dokter juga akan memeriksa kemungkinan penyebab khusus, seperti penyakit autoimun atau TB, terutama bila kekambuhan sering atau disertai keluhan di organ lain.
Berapa lama saya harus minum kolkisin?
Pada perikarditis rekuren, kolkisin umumnya diminum sedikitnya enam bulan, dan dapat lebih lama bila kekambuhan sering. Lamanya ditentukan dokter berdasarkan keluhan, CRP, dan hasil pemeriksaan pencitraan. Kolkisin umumnya dapat ditoleransi, tetapi dapat menimbulkan diare atau mual. Jangan menghentikannya sendiri, dan sampaikan semua obat lain yang Anda minum karena ada obat yang berinteraksi dengan kolkisin.
Apa itu obat penghambat interleukin-1?
Interleukin-1 adalah zat pembawa pesan dalam sistem imun yang berperan memicu peradangan pada perikarditis rekuren. Obat penghambatnya diberikan lewat suntikan di bawah kulit dan dalam uji klinis menurunkan kekambuhan pada pasien yang tetap kambuh walaupun sudah mendapat kolkisin dan bergantung pada kortikosteroid. Dokter spesialis menentukan pemakaiannya, termasuk lama dan cara menghentikannya, karena kekambuhan dapat muncul setelah obat dihentikan.
Apakah perikarditis rekuren berbahaya bagi jantung?
Pada perikarditis rekuren tanpa penyebab khusus, risiko komplikasi berat seperti tamponade dan konstriksi rendah, dan kekuatan pompa jantung umumnya tetap baik. Tantangan utamanya adalah nyeri yang berulang dan pengobatan yang panjang. Meski demikian, setiap kekambuhan tetap perlu diperiksa untuk menilai cairan di kantong jantung dan menyesuaikan obat.
Bolehkah saya hamil bila memiliki perikarditis rekuren?
Banyak perempuan dengan perikarditis rekuren dapat menjalani kehamilan dengan baik bila direncanakan, sebaiknya saat penyakit sedang tenang. Beberapa obat perlu disesuaikan, karena obat antiinflamasi nonsteroid dihindari pada kehamilan lanjut dan keamanan obat lain berbeda-beda. Diskusikan rencana kehamilan dengan dokter jantung dan dokter kandungan sebelum hamil, dan jangan menghentikan atau mengganti obat sendiri.
Sumber dan Tinjauan Medis
Ditinjau secara medis oleh dr. Radityo Prakoso, Sp.JP(K).
- Schulz-Menger J, Collini V, Gröschel J, Adler Y, Brucato A, Christian V, et al. 2025 ESC Guidelines for the management of myocarditis and pericarditis. Eur Heart J. 2025;46(40):3952-4041.
- Adler Y, Charron P, Imazio M, Badano L, Barón-Esquivias G, Bogaert J, et al. 2015 ESC Guidelines for the diagnosis and management of pericardial diseases: The Task Force for the Diagnosis and Management of Pericardial Diseases of the European Society of Cardiology (ESC). Eur Heart J. 2015;36(42):2921-2964.
- Imazio M, Brucato A, Cemin R, Ferrua S, Belli R, Maestroni S, et al. Colchicine for Recurrent Pericarditis (CORP): A Randomized Trial. Ann Intern Med. 2011;155(7):409-414.
- Imazio M, Belli R, Brucato A, Cemin R, Ferrua S, Beqaraj F, et al. Efficacy and safety of colchicine for treatment of multiple recurrences of pericarditis (CORP-2): a multicentre, double-blind, placebo-controlled, randomised trial. Lancet. 2014;383(9936):2232-2237.
- Klein AL, Imazio M, Cremer P, Brucato A, Abbate A, Fang F, et al. Phase 3 Trial of Interleukin-1 Trap Rilonacept in Recurrent Pericarditis. N Engl J Med. 2021;384(1):31-41.
- Brucato A, Imazio M, Gattorno M, Lazaros G, Maestroni S, Carraro M, et al. Effect of Anakinra on Recurrent Pericarditis Among Patients With Colchicine Resistance and Corticosteroid Dependence: The AIRTRIP Randomized Clinical Trial. JAMA. 2016;316(18):1906-1912.
- Imazio M, Brucato A, Cumetti D, Brambilla G, Demichelis B, Ferro S, et al. Corticosteroids for Recurrent Pericarditis: High Versus Low Doses: A Nonrandomized Observation. Circulation. 2008;118(6):667-671.




