Langsung ke konten

Hipertensi & Penyakit Metabolik Kardiovaskular

Sindrom Metabolik

Metabolic Syndrome

Ditinjau secara medis olehdr. Debby C. Soemitha, Sp.PD, Spesialis Penyakit Dalam
Terakhir diperbarui7 Oktober 2026
Ilustrasi medis torso semi-transparan dengan lemak viseral berlebih di sekitar organ perut, menyoroti jantung, hati, dan pankreas, disertai inset lingkar pinggang, pembuluh darah menyempit oleh plak, dan mekanisme resistensi insulin.
Ilustrasi Sindrom Metabolik

Jawaban singkat

Apa Itu Sindrom Metabolik?

Sindrom metabolik adalah kumpulan beberapa gangguan yang muncul bersamaan: lemak perut berlebih, tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, trigliserida tinggi, dan kolesterol HDL rendah. Gabungan ini menaikkan risiko diabetes tipe 2, penyakit jantung, dan stroke.

Sumber informasi

Tanda yang Memerlukan Pertolongan Segera

  • Nyeri atau rasa tertekan di dada yang dapat menjalar ke lengan, leher, atau rahang
  • Sesak napas, keringat dingin, atau lemas yang muncul mendadak
  • Wajah mencong, lengan atau tungkai lemah, atau bicara pelo secara mendadak
  • Sakit kepala hebat atau pandangan kabur dengan tekanan darah sangat tinggi
  • Sangat haus, lemas berat, bingung, atau sangat mengantuk

Bila tanda ini muncul, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258.

Catatan kegawatan: Sindrom metabolik bukan keadaan darurat dan dapat diperbaiki lewat perubahan gaya hidup serta kontrol rutin. Pertolongan segera diperlukan bila muncul tanda serangan jantung, stroke, atau gula darah sangat tinggi.

Mengenal Sindrom Metabolik

Sindrom metabolik bukan satu penyakit, melainkan kumpulan beberapa gangguan yang saling berkaitan dan sering muncul bersama. Kelima komponennya adalah lingkar perut yang besar, tekanan darah tinggi, gula darah puasa tinggi, trigliserida tinggi, dan kolesterol HDL (kolesterol baik) yang rendah. Seseorang disebut memiliki sindrom metabolik bila memiliki setidaknya tiga dari lima komponen tersebut.

Berawal dari Lemak Perut dan Resistensi Insulin

Inti masalahnya adalah resistensi insulin, yaitu keadaan ketika sel tubuh kurang peka terhadap insulin, hormon yang membantu gula masuk ke dalam sel. Akibatnya pankreas harus membuat insulin lebih banyak, dan lama-kelamaan gula darah ikut naik. Lemak yang menumpuk di dalam rongga perut, di sekitar hati, usus, dan organ lain, berperan besar. Lemak ini aktif mengeluarkan zat pemicu peradangan yang memperburuk resistensi insulin, menaikkan tekanan darah, dan mengubah kadar lemak darah. Pada orang Asia, gangguan ini dapat muncul pada berat badan yang tampak tidak terlalu berlebih.

Dampak pada Jantung dan Pembuluh Darah

Setiap komponen sindrom metabolik merusak pembuluh darah, dan bila muncul bersamaan dampaknya saling menguatkan. Menurut pernyataan bersama IDF, AHA, dan NHLBI, sindrom metabolik kira-kira menggandakan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah dalam 5 sampai 10 tahun, dan menaikkan risiko diabetes tipe 2 sekitar lima kali lipat. Kondisi ini juga berkaitan dengan perlemakan hati, penyakit ginjal kronis, gagal jantung, dan henti napas saat tidur. Karena itu, penyandang sindrom metabolik perlu memeriksakan tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan fungsi ginjal secara berkala, walaupun tidak merasakan keluhan apa pun.

Dapat Diperbaiki

Kabar baiknya, sindrom metabolik dapat membaik bahkan hilang. Penurunan berat badan sekitar 5 sampai 10 persen, aktivitas fisik teratur, dan pola makan sehat dapat memperbaiki hampir semua komponennya sekaligus. Bila perlu, dokter menambahkan obat untuk tekanan darah, gula darah, atau kolesterol sesuai hasil pemeriksaan. Karena tidak selalu menimbulkan keluhan, pemeriksaan kesehatan berkala menjadi cara utama untuk mengenalinya lebih awal, sebelum muncul diabetes atau penyakit jantung.

Gejala yang Perlu Dikenali.

Gejala Umum

Sebagian besar komponen sindrom metabolik tidak menimbulkan keluhan dan baru ketahuan saat pemeriksaan kesehatan.

  • Sering tanpa keluhan sama sekali
  • Lingkar perut membesar atau perut buncit
  • Kulit menebal dan menggelap di leher, ketiak, atau lipatan tubuh
  • Mendengkur keras atau mudah mengantuk di siang hari
  • Sering haus dan sering buang air kecil bila gula darah sudah tinggi
  • Tekanan darah atau gula darah tinggi pada pemeriksaan rutin
Tidak semua orang mengalami gejala yang sama. Bila keluhan berulang atau memburuk, periksakan diri.

Apa yang Menyebabkan Kondisi Ini?

  • Resistensi insulin, yaitu sel tubuh kurang peka terhadap insulin sehingga gula darah sulit masuk ke sel
  • Penumpukan lemak di dalam rongga perut dan di sekitar organ dalam (lemak viseral)
  • Pola makan tinggi kalori, gula, tepung olahan, dan minuman manis
  • Kurang bergerak dan terlalu lama duduk
  • Faktor keturunan yang memengaruhi cara tubuh mengolah gula dan lemak
  • Kurang tidur dan henti napas saat tidur (sleep apnea obstruktif)
  • Obat tertentu, misalnya kortikosteroid jangka panjang dan sebagian obat antipsikotik

Siapa yang Lebih Berisiko?

Gaya Hidup

Berat badan berlebih, kurang bergerak, sering mengonsumsi minuman manis dan makanan olahan, merokok, serta kurang tidur.

Medis

Prediabetes, riwayat diabetes kehamilan, sindrom ovarium polikistik, perlemakan hati, dan sleep apnea obstruktif.

Genetik

Orang tua atau saudara kandung dengan diabetes tipe 2, hipertensi, atau penyakit jantung dini. Orang Asia cenderung menyimpan lemak di perut pada berat badan yang lebih rendah.

Usia

Risiko meningkat seiring bertambahnya usia, terutama setelah 40 tahun, dan pada perempuan setelah menopause.

Kelompok yang Lebih Berisiko

  • Orang dengan Lingkar Perut Besar: Lemak perut berkaitan erat dengan resistensi insulin, bahkan bila berat badan total tampak normal.
  • Keluarga Penyandang Diabetes atau Penyakit Jantung: Riwayat keluarga meningkatkan kerentanan terhadap resistensi insulin dan gangguan lemak darah.
  • Perempuan dengan Sindrom Ovarium Polikistik: Sindrom ovarium polikistik berkaitan erat dengan resistensi insulin, sehingga komponen sindrom metabolik perlu diperiksa berkala.
  • Penyandang Perlemakan Hati: Perlemakan hati sering menjadi tanda resistensi insulin dan sering muncul bersama komponen sindrom metabolik lainnya.
  • Usia 40 Tahun atau Lebih: Risiko meningkat seiring usia karena massa otot berkurang dan lemak perut cenderung bertambah.
Memiliki faktor risiko tidak berarti seseorang pasti mengalami kondisi ini.

Bagaimana Diagnosis Ditegakkan?

Sindrom metabolik ditegakkan dari pemeriksaan sederhana, tanpa alat khusus. Menurut kriteria harmonisasi yang dipakai luas, seseorang memiliki sindrom metabolik bila memenuhi setidaknya tiga dari lima komponen berikut: lingkar pinggang 90 cm atau lebih pada laki-laki Asia dan 80 cm atau lebih pada perempuan Asia; trigliserida 150 mg/dL atau lebih; kolesterol HDL kurang dari 40 mg/dL pada laki-laki atau kurang dari 50 mg/dL pada perempuan; tekanan darah 130/85 mmHg atau lebih; serta gula darah puasa 100 mg/dL atau lebih. Komponen tetap dihitung bila Anda sudah memakai obat untuk keadaan tersebut.

Setelah itu dokter menilai risiko penyakit jantung secara keseluruhan dan mencari kondisi yang sering menyertai, seperti diabetes, perlemakan hati, penyakit ginjal, dan sleep apnea. Hasilnya menjadi dasar target penurunan berat badan dan perlu tidaknya obat.

  1. Pemeriksaan Fisik

    Mengukur lingkar pinggang, berat dan tinggi badan, serta tekanan darah. Pada orang Asia, lingkar pinggang 90 cm atau lebih pada laki-laki dan 80 cm atau lebih pada perempuan termasuk komponen sindrom metabolik.

  2. Skrining Kolesterol & Profil Lipid

    Mengukur trigliserida dan kolesterol HDL, dua komponen sindrom metabolik, sekaligus kolesterol LDL untuk menilai risiko jantung.

  3. Tes Gula Darah (Blood Sugar Test)

    Gula darah puasa 100 mg/dL atau lebih termasuk komponen sindrom metabolik dan menjadi petunjuk prediabetes atau diabetes.

  4. Pemeriksaan HbA1c

    Menggambarkan rata-rata gula darah dua sampai tiga bulan, membantu memastikan prediabetes atau diabetes.

  5. Tes Fungsi Hati

    Mencari tanda perlemakan hati yang sering menyertai sindrom metabolik.

  6. Skrining Risiko Jantung Individu

    Menggabungkan semua faktor risiko untuk memperkirakan risiko serangan jantung dan stroke 10 tahun ke depan.

Pilihan Penanganan.

Penanganan ditentukan dokter setelah evaluasi. Kategori berikut membantu Anda memahami pembicaraan dengan dokter.

Penurunan Berat Badan Bertahap

Menurunkan berat badan sekitar 5 sampai 10 persen dalam 6 sampai 12 bulan memperbaiki tekanan darah, gula darah, dan lemak darah sekaligus.

Pola Makan Sehat

Perbanyak sayur, buah, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, dan ikan; kurangi minuman manis, tepung olahan, garam, serta lemak jenuh.

Aktivitas Fisik Teratur

Aktivitas aerobik sekitar 150 sampai 300 menit per minggu ditambah latihan kekuatan otot dua kali seminggu membantu tubuh lebih peka terhadap insulin.

Berhenti Merokok dan Tidur Cukup

Berhenti merokok menurunkan risiko jantung, sedangkan tidur cukup dan penanganan sleep apnea membantu mengendalikan berat badan dan tekanan darah.

Obat untuk Setiap Komponen

Bila gaya hidup belum cukup, dokter dapat memberi obat penurun tekanan darah, obat penurun kolesterol seperti statin, atau obat penurun gula darah sesuai hasil pemeriksaan.

Penanganan Obesitas

Pada obesitas, dokter dapat mempertimbangkan obat penurun berat badan seperti agonis reseptor GLP-1, atau bedah bariatrik pada keadaan tertentu.

Kesesuaian dan ketersediaan pemeriksaan atau terapi perlu dikonfirmasi bersama tim perawatan.

Komplikasi yang Perlu Dipantau.

Diabetes Tipe 2

Resistensi insulin yang berlangsung lama membuat pankreas kewalahan sehingga gula darah terus tinggi. Dibahas di halaman Diabetes Tipe 2.

Penyakit Jantung Koroner

Gabungan tekanan darah, gula darah, dan lemak darah yang tidak normal mempercepat pembentukan plak di arteri koroner. Dibahas di halaman Penyakit Jantung Koroner.

Stroke

Kerusakan pembuluh darah otak dan tekanan darah tinggi menaikkan risiko stroke. Dibahas di halaman Stroke.

Gagal Jantung

Tekanan darah tinggi, obesitas, dan diabetes membuat otot jantung menebal dan kaku sehingga lama-kelamaan pompa jantung terganggu. Dibahas di halaman Gagal Jantung.

Perlemakan Hati

Lemak menumpuk di hati dan dapat berkembang menjadi peradangan serta jaringan parut hati bila tidak ditangani.

Penyakit Ginjal Kronis

Tekanan darah dan gula darah yang tinggi merusak penyaring kecil di ginjal secara bertahap. Dibahas di halaman Penyakit Ginjal Kronis.

Apa yang Bisa Dilakukan?

  • Ukur lingkar pinggang secara berkala dan jaga agar tetap di bawah batas sehat
  • Ganti minuman manis dengan air putih dan kurangi makanan dari tepung olahan
  • Bergerak aktif sekitar 150 menit per minggu dan selingi duduk lama dengan berdiri atau berjalan
  • Isi separuh piring dengan sayur dan pilih lauk yang dipanggang, direbus, atau dikukus
  • Tidur cukup sekitar 7 sampai 9 jam setiap malam
  • Berhenti merokok dan batasi alkohol
  • Periksa tekanan darah, gula darah, dan profil lipid secara berkala

Kapan Harus ke Dokter?

Periksakan diri bila lingkar perut Anda melewati batas sehat atau Anda memiliki faktor risiko, walaupun merasa sehat. Pemeriksaan sederhana dapat menunjukkan apakah Anda memiliki sindrom metabolik dan seberapa besar risiko jantung Anda. Segera ke IGD bila muncul nyeri dada, tanda stroke, atau gejala gula darah sangat tinggi.

  • Lingkar pinggang 90 cm atau lebih pada laki-laki, atau 80 cm atau lebih pada perempuan
  • Hasil tekanan darah, gula darah, atau trigliserida di atas normal
  • Ada keluarga dekat dengan diabetes atau penyakit jantung dini
  • Kulit menggelap di leher atau ketiak, atau mendengkur keras
  • Pernah mengalami diabetes kehamilan atau memiliki sindrom ovarium polikistik

Jangan Menunggu bila Kondisinya Darurat.

Bila keluhan terasa berat atau muncul mendadak, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258, bukan menunggu janji temu.

Hal yang Mungkin Anda Tanyakan.

Pertanyaan yang sering diajukan tentang sindrom metabolik dan kesehatan jantung.

Apa beda sindrom metabolik dengan diabetes?

Diabetes adalah penyakit dengan gula darah yang terus tinggi. Sindrom metabolik adalah kumpulan faktor risiko, yaitu lemak perut, tekanan darah, gula darah, trigliserida, dan HDL yang tidak normal. Seseorang dapat memiliki sindrom metabolik tanpa diabetes, dan sindrom metabolik sering menjadi tahap sebelum diabetes tipe 2. Keduanya menaikkan risiko penyakit jantung, sehingga sama-sama perlu dikendalikan.

Berapa lingkar pinggang yang perlu diwaspadai?

Untuk orang Asia, termasuk Indonesia, lingkar pinggang 90 cm atau lebih pada laki-laki dan 80 cm atau lebih pada perempuan termasuk komponen sindrom metabolik. Ukur dalam posisi berdiri, di pertengahan antara tulang rusuk terbawah dan tulang panggul, setelah membuang napas biasa. Lingkar pinggang menggambarkan lemak di dalam perut, yang lebih erat kaitannya dengan risiko jantung daripada berat badan saja.

Apakah sindrom metabolik bisa hilang?

Bisa. Banyak orang berhasil memperbaiki komponennya sampai tidak lagi memenuhi kriteria sindrom metabolik. Penurunan berat badan sekitar 5 sampai 10 persen, aktivitas fisik teratur, dan pola makan sehat dapat menurunkan tekanan darah, gula darah, dan trigliserida sekaligus menaikkan HDL. Perbaikan ini perlu dijaga jangka panjang, karena komponen dapat kembali bila berat badan dan kebiasaan lama kembali.

Apakah orang dengan berat badan normal bisa mengalami sindrom metabolik?

Bisa, terutama pada orang Asia. Sebagian orang menyimpan lemak di dalam rongga perut walaupun berat badannya tampak normal. Lemak ini aktif memicu resistensi insulin. Karena itu, lingkar pinggang, tekanan darah, gula darah, dan profil lipid tetap perlu diperiksa, terutama bila ada keluarga dengan diabetes atau penyakit jantung, atau Anda jarang bergerak.

Apakah sindrom metabolik selalu perlu obat?

Tidak selalu. Langkah pertama adalah perubahan gaya hidup, karena dapat memperbaiki semua komponen sekaligus. Obat diberikan bila salah satu komponen sudah cukup tinggi atau risiko jantung Anda tinggi, misalnya obat tekanan darah, statin, atau obat penurun gula darah. Dokter menentukan perlu tidaknya obat dari hasil pemeriksaan, dan perubahan gaya hidup tetap dijalankan walaupun sudah memakai obat.

Sumber dan Tinjauan Medis

Ditinjau secara medis oleh dr. Debby C. Soemitha, Sp.PD.

  1. Alberti KGMM, Eckel RH, Grundy SM, Zimmet PZ, Cleeman JI, Donato KA, et al. Harmonizing the Metabolic Syndrome: A Joint Interim Statement of the International Diabetes Federation Task Force on Epidemiology and Prevention; National Heart, Lung, and Blood Institute; American Heart Association; World Heart Federation; International Atherosclerosis Society; and International Association for the Study of Obesity. Circulation. 2009;120(16):1640-1645.
  2. Neeland IJ, Lim S, Tchernof A, Gastaldelli A, Rangaswami J, Ndumele CE, et al. Metabolic syndrome. Nat Rev Dis Primers. 2024;10(1):77.
  3. Visseren FLJ, Mach F, Smulders YM, Carballo D, Koskinas KC, Bäck M, et al. 2021 ESC Guidelines on cardiovascular disease prevention in clinical practice. Eur Heart J. 2021;42(34):3227-3337.
  4. American Diabetes Association Professional Practice Committee for Diabetes. 3. Prevention or Delay of Diabetes and Associated Comorbidities: Standards of Care in Diabetes, 2026. Diabetes Care. 2026;49(Suppl 1):S50-S60.
  5. Ndumele CE, Rangaswami J, Chow SL, Neeland IJ, Tuttle KR, Khan SS, et al. Cardiovascular-Kidney-Metabolic Health: A Presidential Advisory From the American Heart Association. Circulation. 2023;148(20):1606-1635.

Langkah berikutnya

Bahas Keluhan Anda bersama Dokter.

Mulai konsultasi untuk memahami kondisi dan pilihan penanganan yang sesuai.

Konteks kunjungan: Sindrom Metabolik

Informasi di halaman ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi, diagnosis, atau pengobatan medis. Untuk keluhan kesehatan Anda, konsultasikan langsung dengan dokter.

Kembali ke Semua Kondisi