Perjalanan perawatan
Cerita Bapak Devi.
Pak Devi dari Semarang tidak merasakan keluhan apa pun di tubuhnya. Peringatan pertama justru datang dari jam tangan pintar yang ia kenakan sehari-hari. Notifikasi itu membawanya pada diagnosis gangguan irama jantung, lalu pada tindakan ablasi di Heartology.
Peringatan dari Pergelangan Tangan
Dalam tiga bulan terakhir sebelum diagnosis, jam tangan pintar Pak Devi makin sering memberi notifikasi tentang irama jantung yang tidak teratur. Padahal, ia merasa baik-baik saja. “Atrial fibrilasi itu kan enggak kerasa di tubuh,” ujarnya.
Ia kemudian menjalani pemeriksaan laboratorium lengkap serta elektrokardiogram (EKG), yaitu rekaman aktivitas listrik jantung, saat dirawat di rumah sakit. Hasilnya menunjukkan fibrilasi atrium atau atrial fibrillation (AF), gangguan irama jantung yang membuat serambi jantung berdenyut cepat dan tidak teratur. AF dapat meningkatkan risiko stroke atau gagal jantung, sehingga perlu ditangani dokter.
Menjalani Ablasi 3D
Atas referensi dokter, Pak Devi datang ke Heartology dan ditangani oleh dr. Sunu Budhi Raharjo, Sp.JP (K), Ph.D. Ia menjalani ablasi 3D, yaitu ablasi jantung yang dipandu pemetaan tiga dimensi. Lewat kateter, selang tipis yang dimasukkan melalui pembuluh darah, dokter menonaktifkan titik atau jalur listrik di jantung yang memicu gangguan irama. Pak Devi mengibaratkan sumber gangguan itu seperti benalu di dalam jantungnya.
Sebelum tindakan, ia sempat khawatir. Namun, pengalamannya berbeda dari bayangannya. “Ablasi itu sebenarnya enggak menakutkan,” katanya. Tindakannya berlangsung hingga malam hari. Pak Devi menjalani ablasi pada hari Sabtu, dan pada Senin siang ia sudah kembali ke Semarang.
Selama di Heartology, ia merasa terbantu oleh fasilitas yang tersedia, pelayanan yang ramah, serta perhatian dan kemudahan menghubungi tim medis, termasuk untuk kontrol setelah tindakan.
Setelah Tindakan
Saat video direkam, Pak Devi merasa badannya tidak lagi gampang capek. Jam tangannya pun tidak lagi memberi peringatan. “Jam saya enggak pernah bunyi lagi, enggak pernah ngasih notif lagi,” ujarnya. Meski begitu, ia tetap perlu menjalani kontrol setelah tindakan.
Pengalaman ini membuatnya ingin mengajak orang lain lebih peduli pada kesehatan dan rutin memeriksakan diri, meski tidak merasa ada keluhan. Ia juga berpesan agar orang tidak buru-buru takut ketika mendengar kata tindakan atau operasi.
Bila perangkat yang Anda pakai sering memberi peringatan irama jantung tidak teratur, jadikan itu alasan untuk memeriksakan diri ke dokter jantung. Perangkat seperti ini bukan alat diagnosis, tetapi dapat menjadi pengingat awal.
Setiap perjalanan berbeda. Cerita ini merupakan pengalaman pribadi. Kondisi, pilihan penanganan, dan hasil perawatan setiap orang dapat berbeda.
Dengarkan langsung
Cerita dalam Suaranya Sendiri.
Peringatan dari "Smart Watch" Menjadi Deteksi Awal Keluhan Gangguan Irama Jantung (Aritmia)
Simak pengalaman yang dibagikan pasien melalui kanal Heartology. Durasi 4 menit 54 detik.
Tonton di YouTube Video dibuka di YouTube, di tab baru.



