Jawaban singkat
Apa Itu Ablasi Jantung?
Ablasi jantung adalah tindakan lewat kateter untuk mengatasi gangguan irama jantung. Kateter tipis dimasukkan dari pembuluh darah di lipat paha ke jantung, lalu titik atau jalur listrik yang memicu aritmia dinonaktifkan dengan energi panas, dingin, atau medan listrik. Tindakan umumnya berlangsung 1 sampai 4 jam, dan pasien biasanya menginap satu malam.
Sumber informasi01 / Memahami tindakan
Mengenal Ablasi Jantung
Apa Itu Ablasi Jantung
Setiap detak jantung dipicu sinyal listrik yang berjalan dengan urutan tertentu. Pada sebagian gangguan irama jantung (aritmia), sinyal muncul dari titik yang salah atau berputar di jalur listrik tambahan, sehingga jantung berdebar cepat atau tidak teratur. Ablasi jantung adalah tindakan lewat kateter untuk membuat jaringan parut yang sangat kecil di titik atau jalur tersebut, sehingga sinyal yang salah tidak dapat lagi terbentuk atau menjalar.
Cara Kerja Singkat
Kateter tipis dimasukkan dari vena di lipat paha menuju jantung dengan panduan sinar-X. Dokter merekam sinyal listrik dari dalam jantung dan sering memakai peta tiga dimensi di komputer untuk menemukan sumber aritmia. Setelah sasarannya ditemukan, energi diberikan lewat ujung kateter sampai sinyal yang salah terhenti.
Jenis Energi
Ada tiga jenis energi yang umum dipakai. Radiofrekuensi memanaskan jaringan di ujung kateter. Krioablasi membekukan jaringan, sering dengan balon yang ditempelkan di muara vena paru. Ablasi pulsed field memakai medan listrik bertegangan tinggi dalam waktu sangat singkat, yang dirancang lebih selektif terhadap sel otot jantung dibanding jaringan di sekitarnya. Dokter memilih energi sesuai jenis aritmia, letak sumbernya, dan pengalaman tim.
Aritmia yang Dapat Diablasi
Pada takikardia supraventrikular, termasuk sindrom Wolff-Parkinson-White, dan flutter atrium tipikal, ablasi sering menjadi pilihan awal karena pada sebagian besar pasien serangan tidak kambuh lagi. Pada fibrilasi atrium, ablasi mengisolasi muara vena paru, tempat sebagian besar pemicunya berasal, dan dipertimbangkan bila keluhan tetap mengganggu dengan obat atau sebagai pilihan awal pada sebagian pasien. Ablasi juga dipakai pada detak tambahan dari bilik yang sangat sering dan pada takikardia ventrikel tertentu.
Pada sebagian pasien fibrilasi atrium yang denyutnya sulit dikendalikan, dokter dapat menonaktifkan simpul AV lalu memasang alat pacu jantung, yang dibahas di halaman Pemasangan Pacemaker.
Sering Dilakukan Bersama Studi Elektrofisiologi
Sebelum ablasi, jenis dan sumber aritmia perlu dipastikan dengan studi elektrofisiologi. Pemeriksaan ini memakai kateter yang sama dan sering dilakukan dalam sesi yang sama, tepat sebelum ablasi, yang dibahas di halaman Studi Elektrofisiologi.
Yang Perlu Dipahami
Ablasi tidak selalu cukup satu kali. Pada fibrilasi atrium, sebagian pasien memerlukan ablasi ulang atau obat irama. Keputusan minum obat pengencer darah jangka panjang didasarkan pada risiko stroke, bukan pada berhasil tidaknya ablasi, yang dibahas di halaman Terapi Antikoagulan dan Pencegahan Stroke. Penanganan aritmia secara menyeluruh dibahas di halaman Manajemen Aritmia.
02 / Memahami tindakan
Kapan Tindakan Ini Dipertimbangkan?
Dokter dapat mempertimbangkan tindakan ini pada keadaan berikut. Keputusan selalu ditetapkan setelah evaluasi menyeluruh.
- Takikardia SupraventrikularJantung berdebar sangat cepat yang datang dan berhenti tiba-tiba, sering pada usia muda.
- Sindrom Wolff-Parkinson-WhiteJalur listrik tambahan yang dapat memicu denyut sangat cepat, terutama bila menimbulkan keluhan.
- Flutter AtriumIrama cepat dan teratur dari serambi kanan yang umumnya dapat dihentikan dengan ablasi.
- Fibrilasi Atrium yang MenggangguKeluhan tetap ada meski sudah minum obat, atau sebagai pilihan awal pada sebagian pasien.
- Fibrilasi Atrium dengan Pompa Jantung LemahPada pasien terpilih, ablasi dapat menurunkan risiko kematian dan rawat inap karena gagal jantung.
- Takikardia Ventrikular atau Detak Tambahan BilikIrama cepat dari bilik atau detak tambahan yang sangat sering dan menimbulkan keluhan.
Keadaan yang Perlu Dipertimbangkan Lebih Dulu
- Bekuan Darah di Serambi KiriAblasi fibrilasi atrium ditunda sampai bekuan hilang dengan obat pengencer darah.
- Tidak Dapat Memakai Pengencer DarahAblasi di serambi kiri memerlukan pengencer darah sebelum, selama, dan sesudah tindakan.
- Infeksi Aktif atau DemamTindakan ditunda sampai infeksi teratasi agar kuman tidak menyebar ke jantung.
- KehamilanUmumnya ditunda karena paparan sinar-X, kecuali aritmia berat yang tidak teratasi dengan obat.
- Keadaan Umum Tidak StabilMisalnya gagal jantung yang sedang memburuk; keadaan ini distabilkan lebih dulu.
03 / Sebelum tindakan
Apa yang Perlu Disiapkan?
Persiapan dibicarakan pada kunjungan sebelum tindakan. Petunjuknya dapat berbeda menurut jenis aritmia, jadi ikuti arahan tim.
Puasa. Umumnya tidak makan dan minum sekitar 6 jam sebelum tindakan, kecuali obat yang diizinkan dengan sedikit air.
Obat irama jantung. Sebagian obat irama jantung dapat diminta dihentikan beberapa hari sebelumnya agar aritmia dapat dipicu dan dipetakan saat tindakan.
Obat pengencer darah. Pada ablasi fibrilasi atrium, obat ini umumnya tetap diminum tanpa jeda, atau hanya dilewatkan satu dosis sesuai petunjuk dokter. Jangan menghentikannya sendiri.
Pemeriksaan sebelum tindakan. Tes darah, EKG, dan ekokardiografi. Pada ablasi fibrilasi atrium, dokter dapat memastikan tidak ada bekuan di serambi kiri dengan ekokardiografi lewat kerongkongan atau CT jantung, yang dibahas di halaman Ekokardiografi dan CT-Scan Jantung.
Informasi untuk tim. Sampaikan semua obat, alergi terutama terhadap kontras atau obat bius, dan kemungkinan hamil. Bawa rekaman EKG saat keluhan muncul.
Pendamping. Ajak keluarga untuk menemani dan mengantar pulang.
Belum jelas dengan instruksi persiapan? Tanyakan kepada tim sebelum menjalani tindakan.
04 / Saat tindakan
Bagaimana Tindakan Dilakukan?
Ablasi dilakukan di laboratorium elektrofisiologi dan umumnya berlangsung 1 sampai 4 jam, bergantung pada jenis aritmia. Lipat paha dibius lokal dan Anda diberi obat penenang; pada sebagian tindakan, seperti ablasi fibrilasi atrium, dapat dipakai bius umum.
Memasukkan Kateter
Dokter memasang selang kecil di vena lipat paha, lalu mendorong beberapa kateter ke jantung dengan panduan sinar-X. Untuk mencapai serambi kiri, sekat tipis di antara kedua serambi ditembus dengan jarum khusus.
Merekam dan Memetakan Sinyal
Kateter merekam sinyal listrik dari dalam jantung. Dokter dapat memacu jantung dengan rangsangan listrik kecil untuk memicu aritmia, lalu memetakan sumbernya, sering dengan peta tiga dimensi. Anda mungkin merasakan berdebar seperti keluhan biasanya.
Memberikan Energi
Energi panas, dingin, atau medan listrik diberikan di titik sasaran. Saat energi diberikan, Anda mungkin merasa tidak nyaman di dada; sampaikan kepada tim agar obat pereda nyeri ditambah.
Memastikan Hasil dan Menutup Akses
Dokter menguji ulang apakah aritmia masih dapat dipicu atau jalurnya sudah terputus. Kateter dicabut, lalu bekas tusukan ditekan atau dijahit sementara agar tidak berdarah.
05 / Manfaat dan risiko
Manfaat dan Risiko Perlu Dibahas Bersama.
Setiap tindakan medis memiliki manfaat dan risiko. Dokter menjelaskan keduanya sesuai keadaan Anda sebelum tindakan.
Manfaat yang Dapat Diharapkan
- Keluhan Berdebar BerkurangSerangan berdebar, pusing, atau sesak akibat aritmia berkurang atau hilang.
- Mengurangi Kebutuhan Obat IramaPada takikardia supraventrikular dan flutter atrium, banyak pasien tidak lagi memerlukan obat irama.
- Irama Normal Lebih TerjagaPada fibrilasi atrium, ablasi lebih sering menjaga irama normal dibanding obat irama saja.
- Tanpa Sayatan OperasiKateter masuk lewat tusukan kecil di lipat paha, sehingga pemulihan relatif singkat.
Manfaat tindakan bukan janji kesembuhan. Tanyakan bagaimana hasilnya memengaruhi rencana perawatan Anda.
Risiko yang Perlu Diketahui
- Memar atau Perdarahan di Lipat PahaUmumnya ringan dan membaik sendiri dalam beberapa hari.
- Cairan atau Darah di Selaput JantungJarang; bila banyak, cairan segera dikeluarkan lewat jarum oleh tim.
- Stroke atau Serangan Iskemik SesaatJarang; dicegah dengan pengencer darah sebelum, selama, dan sesudah tindakan.
- Gangguan Hantaran ListrikJarang; bila jalur normal ikut terganggu, mungkin diperlukan alat pacu jantung.
- Cedera Kerongkongan atau Saraf DiafragmaSangat jarang, terutama pada ablasi fibrilasi atrium; tim memakai langkah pencegahan.
- Aritmia KambuhSebagian pasien, terutama fibrilasi atrium, memerlukan obat lagi atau ablasi ulang.
Risiko setiap orang dapat berbeda. Penjelasan lengkap dan persetujuan tindakan diberikan setelah evaluasi individual.
06 / Setelah tindakan
Bagaimana Pemulihannya?
Umumnya pasien menginap satu malam. Sebagian pasien dengan ablasi yang lebih sederhana dapat pulang di hari yang sama.
Berbaring setelah tindakan. Tungkai yang ditusuk diluruskan selama beberapa jam untuk mencegah perdarahan di lipat paha.
Keluhan yang wajar. Memar di lipat paha, rasa lelah, dan rasa tidak nyaman di dada selama beberapa hari umumnya membaik sendiri.
Aktivitas. Kegiatan ringan dapat dimulai dalam beberapa hari. Hindari mengangkat beban berat dan olahraga berat sekitar 1 minggu, atau sesuai anjuran dokter.
Setelah ablasi fibrilasi atrium. Berdebar atau irama tidak teratur dalam 3 bulan setelah tindakan dapat terjadi selama jaringan pulih dan belum tentu berarti ablasi gagal. Obat pengencer darah dilanjutkan setidaknya 2 bulan, lalu jangka panjang sesuai risiko stroke.
Kontrol. Dokter memeriksa EKG dan dapat meminta rekaman irama beberapa hari, yang dibahas di halaman Monitoring Jantung Jangka Panjang.
Tanda yang perlu diwaspadai. Segera ke IGD bila Anda mengalami:
- Perdarahan atau bengkak yang membesar di lipat paha
- Nyeri dada yang makin berat, sesak napas, atau pingsan
- Wajah mencong, lemah separuh badan, atau bicara pelo
- Demam, nyeri saat menelan, atau muntah darah dalam beberapa minggu setelah ablasi fibrilasi atrium
- Tungkai dingin, pucat, atau nyeri
Kenali Tanda yang Perlu Segera Ditangani.
Ikuti arahan tim tentang tanda yang perlu diwaspadai. Bila muncul keluhan berat atau mendadak setelah tindakan, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258.
07 / Tim dan dukungan
Dokter dan Dukungan Tindakan
Dokter berikut tercantum untuk tindakan ini. Urutan menurut nama, bukan peringkat.

Dr. dr. Dicky A. Hanafy, Sp.JP(K)
Aritmia & Elektrofisiologi
Arrhythmia and Device Center +1 center
Fokus klinisElektrofisiologi dan Ablasi Aritmia · Pemasangan Pacemaker dan ICD
Lihat Profil
Dr. dr. Faris Basalamah, Sp.JP(K)
Kardiologi Intervensi
Coronary Intervention Procedures +1 center
Fokus klinisIntervensi Koroner Kompleks · Elektrofisiologi Jantung
Lihat Profil
dr. Sunu B. Raharjo, Sp.JP(K), Ph.D.
Aritmia & Elektrofisiologi
Arrhythmia and Device Center
Fokus klinisElektrofisiologi Klinis dan Intervensi · Ablasi Aritmia Jantung
Lihat ProfilHolter Monitoring System
Perekam EKG kecil yang dibawa beraktivitas untuk memantau irama jantung tanpa putus selama 24 sampai 48 jam atau lebih. Membantu…
Electrophysiology (EP) Laboratory
Ruang tindakan khusus untuk studi elektrofisiologi, ablasi kateter, dan pemasangan perangkat irama jantung seperti pacemaker dan…
FARAPULSE Pulsed Field Ablation (PFA)
Sistem ablasi kateter buatan Boston Scientific yang memakai medan listrik berdenyut (pulsed field), bukan panas atau dingin…
HD Grid 3D Mapping System
Kateter pemetaan buatan Abbott dengan elektroda yang tersusun seperti kisi untuk merekam sinyal listrik jantung dari banyak titik…
Ketersediaan teknologi dan dukungan pemeriksaan dikonfirmasi bersama tim. Teknologi dipilih sesuai kebutuhan klinis.
08 / Pertanyaan umum
Sebelum Merencanakan Tindakan.
Pertanyaan yang sering diajukan tentang ablasi jantung.
Apakah ablasi jantung terasa sakit?
Tusukan di lipat paha dibius lokal, dan Anda diberi obat penenang atau bius umum, sehingga sebagian besar tindakan tidak terasa sakit. Saat energi diberikan, sebagian pasien merasakan panas atau tidak nyaman di dada sebentar; sampaikan kepada tim agar obat ditambah. Setelah tindakan, lipat paha dapat terasa memar dan dada sedikit tidak nyaman selama beberapa hari.
Apa bedanya ablasi jantung dengan studi elektrofisiologi?
Studi elektrofisiologi adalah pemeriksaan untuk merekam sinyal listrik dari dalam jantung dan menemukan jenis serta sumber aritmia. Ablasi adalah tindakan untuk menonaktifkan sumber atau jalur tersebut. Keduanya memakai kateter yang sama dan sering dilakukan dalam satu sesi: pemeriksaan lebih dulu, lalu ablasi bila sumbernya ditemukan dan aman untuk diablasi. Pemeriksaannya dibahas di halaman Studi Elektrofisiologi.
Apakah aritmia bisa kambuh setelah ablasi?
Bisa. Pada takikardia supraventrikular dan flutter atrium tipikal, kekambuhan jarang terjadi. Pada fibrilasi atrium, sebagian pasien mengalami kekambuhan, terutama bila fibrilasi sudah berlangsung lama, dan dapat memerlukan obat atau ablasi ulang. Mengendalikan tekanan darah, berat badan, gangguan napas saat tidur, dan konsumsi alkohol membantu menjaga hasil ablasi.
Apakah saya masih perlu minum obat pengencer darah setelah ablasi?
Pada ablasi fibrilasi atrium, obat pengencer darah dilanjutkan setidaknya 2 bulan setelah tindakan. Setelah itu, keputusan melanjutkan didasarkan pada risiko stroke Anda, misalnya usia, hipertensi, diabetes, dan riwayat stroke, bukan pada berhasil tidaknya ablasi. Pada ablasi takikardia supraventrikular, obat ini umumnya tidak diperlukan jangka panjang. Jangan menghentikan obat tanpa berkonsultasi dengan dokter.
Kapan saya bisa kembali bekerja dan beraktivitas?
Banyak pasien kembali bekerja ringan dalam beberapa hari sampai 1 minggu. Hindari mengangkat beban berat dan olahraga berat sekitar 1 minggu agar bekas tusukan di lipat paha pulih. Rasa lelah dapat terasa beberapa hari. Tanyakan kepada dokter kapan boleh menyetir, terutama bila Anda pernah pingsan karena aritmia.
Apa bedanya energi panas, dingin, dan pulsed field?
Ketiganya bertujuan sama, yaitu membuat jaringan parut kecil yang menghentikan sinyal yang salah. Radiofrekuensi memakai panas, krioablasi memakai suhu sangat dingin, dan pulsed field memakai medan listrik singkat yang dirancang lebih selektif terhadap otot jantung. Pada fibrilasi atrium, penelitian menunjukkan hasil ketiganya sebanding. Dokter memilih sesuai jenis aritmia, bentuk jantung, dan pengalaman tim.
Sumber dan Tinjauan Medis
Ditinjau secara medis oleh dr. Sunu B. Raharjo, Sp.JP(K), Ph.D..
- Van Gelder IC, Rienstra M, Bunting KV, dkk. 2024 ESC Guidelines for the management of atrial fibrillation developed in collaboration with the European Association for Cardio-Thoracic Surgery (EACTS). Eur Heart J. 2024;45(36):3314-3414.
- Tzeis S, Gerstenfeld EP, Kalman J, dkk. 2024 European Heart Rhythm Association/Heart Rhythm Society/Asia Pacific Heart Rhythm Society/Latin American Heart Rhythm Society expert consensus statement on catheter and surgical ablation of atrial fibrillation. Europace. 2024;26(4):euae043.
- Brugada J, Katritsis DG, Arbelo E, dkk. 2019 ESC Guidelines for the management of patients with supraventricular tachycardia. Eur Heart J. 2020;41(5):655-720.
- Zeppenfeld K, Tfelt-Hansen J, de Riva M, dkk. 2022 ESC Guidelines for the management of patients with ventricular arrhythmias and the prevention of sudden cardiac death. Eur Heart J. 2022;43(40):3997-4126.
- Marrouche NF, Brachmann J, Andresen D, dkk. Catheter Ablation for Atrial Fibrillation with Heart Failure. N Engl J Med. 2018;378(5):417-427.
- Kuck KH, Brugada J, Fürnkranz A, dkk. Cryoballoon or Radiofrequency Ablation for Paroxysmal Atrial Fibrillation. N Engl J Med. 2016;374(23):2235-2245.
- Reddy VY, Gerstenfeld EP, Natale A, dkk. Pulsed Field or Conventional Thermal Ablation for Paroxysmal Atrial Fibrillation. N Engl J Med. 2023;389(18):1660-1671.

