Jawaban singkat
Apa Itu Angina Tidak Stabil?
Angina tidak stabil adalah nyeri dada yang baru muncul, makin sering atau berat, atau terjadi saat istirahat, karena aliran darah koroner tiba-tiba berkurang. Keadaan ini termasuk sindrom koroner akut dan perlu segera ditangani di IGD.
Sumber informasi01 / Memahami kondisi
Mengenal Angina Tidak Stabil
Angina tidak stabil adalah angina pektoris yang muncul tanpa pemicu jelas, terasa baru dan berat, atau polanya berubah dengan cepat. Dokter menggolongkannya ke dalam sindrom koroner akut (SKA), bersama serangan jantung. Bedanya, pada angina tidak stabil tes troponin tidak menunjukkan kerusakan otot jantung, walaupun aliran darahnya sedang terganggu.
Apa yang Terjadi di Arteri Koroner
Pada umumnya, plak lemak di dinding arteri koroner retak atau terkikis. Tubuh merespons dengan membentuk bekuan darah di atasnya. Bekuan ini menyempitkan aliran, tetapi belum menyumbat sepenuhnya atau hanya menyumbat sesaat. Bila bekuan membesar, sumbatan dapat menjadi total dan berubah menjadi serangan jantung. Pada sebagian kecil orang, penyebabnya adalah kejang arteri koroner atau kebutuhan oksigen yang naik tajam pada penyempitan yang sudah berat.
Tiga Pola yang Perlu Dikenali
Pertama, angina saat istirahat yang berlangsung lama. Kedua, angina yang baru pertama kali muncul dan langsung terasa berat atau membatasi aktivitas ringan. Ketiga, angina yang sebelumnya stabil menjadi lebih sering, lebih lama, atau dipicu aktivitas yang lebih ringan. Angina yang muncul kembali dalam beberapa minggu setelah serangan jantung juga termasuk pola ini. Penjelasan tentang angina dengan pola tetap ada di halaman Angina Stabil.
Mengapa Harus ke IGD
Di rumah, angina tidak stabil tidak dapat dibedakan dari serangan jantung. EKG dan tes troponin berulang di IGD menentukan apakah otot jantung sudah rusak. Dengan tes troponin sensitivitas tinggi, makin banyak kasus yang dulu disebut angina tidak stabil kini terbukti sebagai serangan jantung kecil tanpa elevasi segmen ST, yang dibahas di halaman Infark Miokard tanpa Elevasi Segmen ST. Penanganan dini dengan obat pencegah bekuan dan, bila perlu, pembukaan arteri koroner menurunkan risiko serangan jantung.
Setelah Masa Akut
Angina tidak stabil adalah tanda bahwa penyakit koroner sedang aktif. Setelah pulang, obat jangka panjang, pengendalian faktor risiko, dan rehabilitasi jantung membantu menurunkan risiko kejadian berulang. Banyak orang dapat kembali bekerja dan beraktivitas setelah masa pemulihan.
02 / Memahami kondisi
Gejala yang Perlu Dikenali.
Gejala Umum
- Nyeri, tekanan, atau rasa berat di dada saat istirahat
- Nyeri dada yang berlangsung lebih lama dari angina biasanya
- Angina yang makin sering, makin lama, atau muncul dengan aktivitas lebih ringan
- Nyeri dada baru yang langsung terasa berat
- Nyeri menjalar ke lengan, bahu, leher, rahang, atau punggung
- Sesak napas, keringat dingin, atau mual
- Nyeri yang tidak reda dengan istirahat atau obat nitrat
Gejala pada Perempuan Dewasa
Nyeri dada tetap keluhan utama, tetapi keluhan penyerta berikut lebih sering ditemui dan kadang lebih menonjol.
- Sesak napas yang muncul tiba-tiba
- Mual, muntah, atau rasa tidak nyaman di ulu hati
- Lelah berat yang tidak biasa
- Nyeri di punggung atas, leher, rahang, atau lengan
- Rasa berdebar atau pusing
Gejala pada Lansia
Pada usia lanjut, terutama bila juga menyandang diabetes, keluhan dapat samar tanpa nyeri dada yang jelas.
- Sesak napas mendadak
- Lemas berat atau kelelahan yang muncul tiba-tiba
- Pingsan atau hampir pingsan
- Kebingungan atau perubahan kesadaran yang mendadak
- Rasa tidak nyaman di perut atas
03 / Memahami kondisi
Apa yang Menyebabkan Kondisi Ini?
- Plak di arteri koroner yang retak atau terkikis lalu memicu bekuan darah
- Bekuan yang menyempitkan arteri koroner mendadak tetapi belum menyumbat penuh
- Kejang arteri koroner di sekitar plak yang memperberat penyempitan
- Penyempitan ulang atau bekuan di dalam stent, yang dibahas di halaman Trombosis Stent.
- Kebutuhan oksigen yang naik tajam pada penyempitan berat, misalnya karena anemia berat, demam, atau denyut sangat cepat
04 / Memahami kondisi
Siapa yang Lebih Berisiko?
Gaya Hidup
Merokok sangat berperan dalam retaknya plak dan pembentukan bekuan. Kurang gerak, pola makan tinggi lemak jenuh, dan obesitas menambah risiko.
Medis
Penyakit jantung koroner yang sudah diketahui, riwayat stent atau bypass, diabetes, hipertensi, kolesterol tinggi, dan penyakit ginjal kronis.
Usia
Risiko naik setelah usia 45 tahun pada laki-laki dan setelah menopause pada perempuan. Lansia juga lebih sering datang dengan keluhan yang samar.
Lainnya
Menghentikan obat antiplatelet atau statin tanpa arahan dokter, infeksi berat, stres emosional berat, serta pemakaian kokain atau amfetamin dapat memicu kejadian akut.
Kelompok yang Lebih Berisiko
- Penyandang Angina Stabil: Angina yang selama ini stabil dapat berubah menjadi tidak stabil, sehingga setiap perubahan pola keluhan perlu diwaspadai.
- Pasien Pasca Stent atau Bypass: Bekuan atau penyempitan baru dapat terjadi di stent, cangkok, atau arteri lain, terutama bila obat antiplatelet terhenti.
- Penyandang Diabetes: Plak cenderung lebih luas dan keluhan kadang samar, sehingga pertolongan sering terlambat.
- Perokok: Rokok membuat darah lebih mudah membeku dan plak lebih mudah retak, sehingga risiko sindrom koroner akut naik.
05 / Memahami kondisi
Bagaimana Diagnosis Ditegakkan?
Di IGD, EKG direkam dalam 10 menit pertama setelah Anda tiba dan diulang bila keluhan berlanjut. Darah diambil untuk tes troponin jantung sensitivitas tinggi saat tiba dan diulang 1 sampai 2 jam kemudian, mengikuti protokol yang dianjurkan pedoman ESC 2023. Bila keluhan khas iskemia tetapi troponin tidak naik, diagnosisnya angina tidak stabil. Bila troponin naik, diagnosisnya serangan jantung tanpa elevasi segmen ST.
Ekokardiografi menilai gerak dinding dan pompa jantung, sekaligus membantu menyingkirkan penyebab lain nyeri dada yang juga gawat, seperti robekan aorta atau sumbatan di pembuluh paru. Dokter lalu menilai tingkat risiko berdasarkan keluhan, EKG, troponin, dan kondisi umum. Penilaian ini menentukan kapan angiografi koroner dilakukan: segera pada risiko sangat tinggi, dalam 24 jam pada risiko tinggi, atau berdasarkan hasil pemeriksaan lanjutan pada risiko rendah. Pada risiko rendah tanpa keluhan berulang, CT angiografi koroner atau uji pembebanan dapat dipakai lebih dulu.
Elektrokardiogram / EKG
Direkam dalam 10 menit setelah tiba di IGD dan diulang, untuk mencari perubahan segmen ST atau gelombang T dan membedakannya dari STEMI.
Tes Troponin Jantung
Diukur saat tiba dan diulang 1 sampai 2 jam kemudian. Troponin yang tidak naik membedakan angina tidak stabil dari serangan jantung.
Ekokardiografi
Menilai gerak dinding dan pompa jantung, serta membantu menyingkirkan penyebab lain nyeri dada seperti robekan aorta atau cairan di selaput jantung.
Angiografi Koroner
Menunjukkan arteri yang menyempit atau berbekuan dan menentukan perlu tidaknya stent atau bypass; waktunya disesuaikan dengan tingkat risiko.
Angiografi Koroner CT
Dapat dipakai pada pasien berisiko rendah dengan troponin normal untuk menyingkirkan penyempitan berat tanpa kateter.
06 / Memahami kondisi
Pilihan Penanganan.
Penanganan ditentukan dokter setelah evaluasi. Kategori berikut membantu Anda memahami pembicaraan dengan dokter.
Pertolongan Awal di IGD
Pemantauan irama jantung terus-menerus, oksigen bila kadar oksigen darah rendah, dan obat pereda nyeri dada seperti nitrat sesuai penilaian dokter.
Obat Antitrombotik
Kombinasi dua antiplatelet, yaitu aspirin dan penghambat P2Y12, serta antikoagulan selama perawatan untuk menghentikan perluasan bekuan. Lama pemakaiannya ditentukan dokter, umumnya sekitar 12 bulan.
Obat Antiangina
Penghambat beta dan nitrat menurunkan kebutuhan oksigen jantung dan meredakan nyeri, disesuaikan dengan tekanan darah dan denyut jantung.
Obat Penurun Kolesterol
Statin dimulai sedini mungkin selama perawatan untuk menurunkan kolesterol LDL dan membantu menstabilkan plak, dengan obat tambahan bila target belum tercapai.
Angiografi dan Pembukaan Arteri Koroner
Sebagian besar pasien menjalani angiografi koroner, lalu pemasangan stent (PCI) atau operasi bypass bila ditemukan penyempitan yang perlu dibuka.
Pencegahan Sekunder dan Rehabilitasi
Setelah pulang, obat jangka panjang, berhenti merokok, pengendalian faktor risiko, dan rehabilitasi jantung menurunkan risiko kejadian berulang.
07 / Memahami kondisi
Komplikasi yang Perlu Dipantau.
Serangan Jantung
Bekuan yang membesar dapat menyumbat arteri sepenuhnya dan merusak otot jantung. Dibahas di halaman Infark Miokard / Serangan Jantung.
Gangguan Irama Jantung
Iskemia akut dapat memicu irama bilik yang cepat dan tidak teratur, sehingga pasien dipantau dengan monitor selama perawatan.
Gagal Jantung Akut
Pompa jantung yang kekurangan darah dapat melemah mendadak sehingga cairan menumpuk di paru. Dibahas di halaman Gagal Jantung Akut.
Perdarahan Terkait Obat
Obat pencegah bekuan yang diperlukan dapat menimbulkan perdarahan. Dokter menimbang manfaat dan risikonya, dan Anda perlu melaporkan perdarahan yang tidak biasa.
08 / Memahami kondisi
Apa yang Bisa Dilakukan?
- Kenali tanda angina tidak stabil dan segera ke IGD bila muncul
- Minum obat antiplatelet dan statin sesuai resep, jangan berhenti tanpa arahan dokter
- Berhenti merokok sepenuhnya, termasuk rokok elektrik
- Kendalikan tekanan darah, kolesterol LDL, dan gula darah sampai target
- Ikuti program rehabilitasi jantung setelah perawatan
- Kontrol rutin ke dokter jantung, terutama bila Anda memiliki angina stabil atau stent
- Lakukan vaksinasi influenza setiap tahun sesuai anjuran dokter
09 / Memahami kondisi
Kapan Harus ke Dokter?
Angina tidak stabil adalah keadaan darurat. Jangan menunggu keluhan reda sendiri dan jangan menunggu jadwal kontrol. Segera hubungi layanan gawat darurat atau minta diantar ke IGD terdekat bila Anda mengalami salah satu keadaan berikut, dan jangan menyetir sendiri. Setelah keluar dari rumah sakit, kontrol ke dokter jantung sesuai jadwal untuk meninjau obat dan memulai rehabilitasi.
- Nyeri, tekanan, atau rasa berat di dada saat istirahat.
- Angina yang biasanya stabil menjadi lebih sering, lebih lama, atau dipicu aktivitas lebih ringan.
- Nyeri dada baru yang berat, terutama bila disertai keringat dingin, mual, atau sesak napas.
- Nyeri yang tidak reda dengan istirahat atau dengan obat nitrat yang diresepkan.
10 / Pertanyaan umum
Hal yang Mungkin Anda Tanyakan.
Pertanyaan yang sering diajukan tentang angina tidak stabil.
Apa beda angina tidak stabil dan serangan jantung?
Keduanya termasuk sindrom koroner akut dan sama-sama disebabkan berkurangnya aliran darah koroner secara mendadak. Pada serangan jantung, sebagian otot jantung sudah rusak sehingga troponin dalam darah naik. Pada angina tidak stabil, troponin tidak naik. Perbedaan ini hanya dapat dipastikan di rumah sakit, sehingga keduanya ditangani sebagai keadaan darurat sejak awal.
Bolehkah saya minum aspirin sendiri saat nyeri dada?
Langkah pertama adalah menghubungi layanan gawat darurat atau segera ke IGD, bukan mengobati diri sendiri. Aspirin sebaiknya diberikan sesuai arahan petugas kesehatan, karena nyeri dada dapat disebabkan keadaan lain seperti robekan aorta, dan aspirin tidak cocok untuk orang dengan alergi atau perdarahan tertentu. Bila dokter sudah memberi petunjuk sebelumnya, ikuti petunjuk tersebut.
Apakah semua pasien angina tidak stabil harus dipasang stent?
Tidak semua. Sebagian besar pasien menjalani angiografi koroner untuk melihat penyempitan. Bila ditemukan penyempitan yang perlu dibuka, dokter dapat memasang stent atau menyarankan operasi bypass. Pada sebagian pasien berisiko rendah, pemeriksaan tanpa kateter atau uji pembebanan dilakukan lebih dulu. Keputusan diambil berdasarkan tingkat risiko, hasil pemeriksaan, dan kondisi Anda secara keseluruhan.
Berapa lama biasanya perawatan di rumah sakit?
Lama perawatan berbeda pada setiap orang. Banyak pasien dirawat beberapa hari untuk pemantauan irama jantung, pemeriksaan troponin berulang, angiografi koroner, dan penyesuaian obat. Bila diperlukan operasi bypass atau muncul komplikasi, perawatan bisa lebih lama. Dokter akan menjelaskan rencana perawatan dan kapan Anda dapat pulang dengan aman.
Apakah angina tidak stabil bisa terulang?
Bisa, karena penyakit koroner yang mendasarinya tetap ada. Risiko kejadian berulang dapat diturunkan dengan minum obat antiplatelet dan statin sesuai resep, berhenti merokok, mengendalikan tekanan darah, kolesterol, dan gula darah, serta mengikuti rehabilitasi jantung. Kenali tanda bahayanya dan segera ke IGD bila keluhan serupa muncul kembali.
Kapan saya boleh kembali beraktivitas setelah angina tidak stabil?
Waktu kembali bekerja, menyetir, dan berolahraga bergantung pada hasil pemeriksaan, tindakan yang dijalani, dan pemulihan Anda. Banyak orang dapat mulai beraktivitas ringan dalam beberapa hari sampai minggu setelah pulang. Program rehabilitasi jantung membantu menaikkan aktivitas secara bertahap dan aman. Tanyakan kepada dokter jadwal yang sesuai untuk Anda.
Sumber dan Tinjauan Medis
Ditinjau secara medis oleh dr. Puti S. Saus, Sp.JP(K).
- Byrne RA, Rossello X, Coughlan JJ, Barbato E, Berry C, Chieffo A, et al. 2023 ESC Guidelines for the management of acute coronary syndromes. Eur Heart J. 2023;44(38):3720-826.
- Rao SV, O'Donoghue ML, Ruel M, Rab T, Tamis-Holland JE, Alexander JH, et al. 2025 ACC/AHA/ACEP/NAEMSP/SCAI Guideline for the Management of Patients With Acute Coronary Syndromes: A Report of the American College of Cardiology/American Heart Association Joint Committee on Clinical Practice Guidelines. Circulation. 2025;151(13):e771-862.
- Thygesen K, Alpert JS, Jaffe AS, Chaitman BR, Bax JJ, Morrow DA, et al. Fourth Universal Definition of Myocardial Infarction (2018). Circulation. 2018;138(20):e618-51.
- Collet JP, Thiele H, Barbato E, Barthelemy O, Bauersachs J, Bhatt DL, et al. 2020 ESC Guidelines for the management of acute coronary syndromes in patients presenting without persistent ST-segment elevation. Eur Heart J. 2021;42(14):1289-367.
- Gulati M, Levy PD, Mukherjee D, Amsterdam E, Bhatt DL, Birtcher KK, et al. 2021 AHA/ACC/ASE/CHEST/SAEM/SCCT/SCMR Guideline for the Evaluation and Diagnosis of Chest Pain: A Report of the American College of Cardiology/American Heart Association Joint Committee on Clinical Practice Guidelines. Circulation. 2021;144(22):e368-454.




