Langsung ke konten

Kondisi Kardiovaskular Lainnya

Artritis Reumatoid

Rheumatoid Arthritis

Ditinjau secara medis olehdr. Debby C. Soemitha, Sp.PD, Spesialis Penyakit Dalam
Terakhir diperbarui7 Oktober 2026
Ilustrasi medis artritis reumatoid dengan sendi jari dan pergelangan tangan yang bengkak serta meradang, disertai potongan jantung, inset lapisan sendi yang menebal dan merusak tulang rawan, serta arteri koroner dengan dinding meradang dan plak yang menyempitkan aliran darah.
Ilustrasi Artritis Reumatoid

Jawaban singkat

Apa Itu Artritis Reumatoid?

Artritis reumatoid adalah penyakit autoimun menahun yang membuat sendi nyeri, bengkak, dan kaku, terutama sendi kecil di tangan dan kaki. Peradangannya juga mengenai pembuluh darah, sehingga risiko penyakit jantung dan stroke meningkat.

Sumber informasi

Tanda yang Memerlukan Pertolongan Segera

  • Nyeri atau rasa tertekan di dada lebih dari beberapa menit
  • Sesak napas berat atau tidak bisa berbaring
  • Kelemahan sesisi tubuh, wajah tidak simetris, atau bicara pelo
  • Nyeri dada tajam yang bertambah saat menarik napas atau berbaring
  • Satu tungkai bengkak dan nyeri disertai sesak mendadak
  • Demam tinggi atau menggigil saat memakai obat penekan kekebalan

Bila tanda ini muncul, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258.

Catatan kegawatan: Artritis reumatoid bukan keadaan darurat, tetapi perlu diobati sejak dini untuk mencegah kerusakan sendi dan menurunkan risiko penyakit jantung yang menyertainya.

Mengenal Artritis Reumatoid

Artritis reumatoid adalah penyakit autoimun menahun, yaitu keadaan ketika sistem kekebalan tubuh keliru menyerang jaringan sendiri. Sasaran utamanya adalah lapisan dalam sendi (sinovium), sehingga sendi menjadi nyeri, bengkak, hangat, dan kaku. Sendi kecil di jari tangan, pergelangan tangan, dan jari kaki sering terkena, biasanya di kedua sisi tubuh secara bersamaan. Kaku sendi di pagi hari yang berlangsung lebih dari 30 menit adalah ciri yang khas. Tanpa pengobatan, peradangan dapat merusak tulang rawan dan tulang sehingga bentuk sendi berubah.

Bukan Hanya Penyakit Sendi

Peradangan pada artritis reumatoid berlangsung di seluruh tubuh dan dapat mengenai paru, mata, kulit, pembuluh darah, serta jantung. Penyandang artritis reumatoid memiliki risiko meninggal karena penyakit jantung dan pembuluh darah sekitar 1,5 kali lebih tinggi dibanding orang seusianya. Karena itu, menjaga jantung menjadi bagian dari penanganan penyakit ini, bukan hanya meredakan nyeri sendi.

Dampak pada Jantung

Peradangan menahun mempercepat pembentukan plak di dinding pembuluh darah (aterosklerosis), sehingga risiko serangan jantung dan stroke meningkat. Keluhan serangan jantung pada penyandang artritis reumatoid kadang tidak khas, bahkan tidak terasa. Risiko gagal jantung juga lebih tinggi, sering dengan otot jantung yang kaku walau kekuatan pompanya tampak normal. Peradangan selaput jantung (perikarditis) cukup sering ditemukan pada pemeriksaan ekokardiografi, walau jarang menimbulkan keluhan. Lebih jarang, penyakit ini mengenai otot jantung, katup, atau sistem listrik jantung. Faktor risiko umum, seperti merokok, hipertensi, dan kurang bergerak, menambah beban tersebut, begitu pula beberapa obat bila dipakai lama, seperti kortikosteroid dan obat antiinflamasi nonsteroid.

Pengobatan yang Juga Melindungi Jantung

Mengendalikan peradangan sedini mungkin bermanfaat bagi sendi dan diperkirakan juga menurunkan risiko jantung. Pedoman EULAR menganjurkan penilaian risiko kardiovaskular saat diagnosis dan setidaknya setiap lima tahun, serta pengendalian tekanan darah, kolesterol, dan kebiasaan merokok seperti pada populasi umum. Penanganan artritis reumatoid melibatkan dokter penyakit dalam atau reumatologi, bersama dokter jantung bila diperlukan. Penyakit jantung koroner dibahas di halaman Penyakit Jantung Koroner.

Gejala yang Perlu Dikenali.

Gejala Umum

  • Nyeri, bengkak, dan hangat di beberapa sendi, sering di kedua sisi tubuh
  • Sendi kecil jari tangan, pergelangan tangan, dan jari kaki terkena
  • Kaku sendi di pagi hari lebih dari 30 menit
  • Mudah lelah, demam ringan, atau nafsu makan menurun
  • Benjolan keras di bawah kulit, misalnya dekat siku
  • Sulit menggenggam atau mengancingkan baju
  • Mata dan mulut terasa kering

Gejala pada Lansia

Bila mulai di usia lanjut, polanya dapat berbeda dan menyerupai penyakit lain, sehingga mudah terlambat dikenali.

  • Mulai lebih mendadak, kadang di sendi besar seperti bahu
  • Kaku dan nyeri di bahu serta pinggul
  • Lemas, demam ringan, atau berat badan turun
  • Kemampuan beraktivitas sehari-hari menurun
Tidak semua orang mengalami gejala yang sama. Bila keluhan berulang atau memburuk, periksakan diri.

Apa yang Menyebabkan Kondisi Ini?

  • Sistem kekebalan keliru menyerang lapisan sendi (sinovium) sehingga meradang dan menebal
  • Antibodi seperti faktor reumatoid dan anti-CCP, yang dapat muncul bertahun-tahun sebelum keluhan
  • Bawaan gen tertentu, terutama kelompok gen HLA-DRB1
  • Pemicu lingkungan, terutama merokok, yang berinteraksi dengan bawaan gen
  • Peradangan menahun yang ikut mengenai pembuluh darah, jantung, paru, dan organ lain

Siapa yang Lebih Berisiko?

Genetik

Riwayat keluarga dengan artritis reumatoid dan bawaan gen tertentu, terutama kelompok HLA-DRB1, meningkatkan kemungkinan terkena. Kebanyakan pembawa gen tersebut tetap tidak sakit.

Gaya Hidup

Merokok meningkatkan risiko artritis reumatoid, terutama jenis dengan antibodi anti-CCP, dan memperberat penyakit. Obesitas juga dikaitkan dengan risiko lebih tinggi.

Usia

Penyakit dapat muncul pada usia berapa pun, tetapi umumnya mulai pada usia 30 sampai 60 tahun.

Medis

Untuk dampak pada jantung, risiko bertambah bila ada hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, penyakit yang lama aktif, atau pemakaian kortikosteroid jangka panjang.

Lainnya

Perempuan dua sampai tiga kali lebih sering terkena. Penyakit gusi menahun dan paparan debu silika juga dikaitkan dengan risiko lebih tinggi.

Kelompok yang Lebih Berisiko

  • Perempuan Usia 30 sampai 60 Tahun: Perempuan dua sampai tiga kali lebih sering terkena artritis reumatoid, umumnya mulai pada usia produktif.
  • Perokok: Merokok meningkatkan risiko artritis reumatoid, terutama jenis dengan antibodi anti-CCP, sekaligus meningkatkan risiko serangan jantung pada penyandangnya.
  • Penyandang Artritis Reumatoid dengan Faktor Risiko Jantung: Hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, atau penyakit yang lama aktif menambah risiko serangan jantung dan stroke, sehingga perlu penilaian dan pengendalian rutin.
  • Keluarga Penyandang Artritis Reumatoid: Kerabat dekat memiliki kemungkinan lebih tinggi terkena. Kenali gejala awal dan periksakan diri bila sendi nyeri dan bengkak menetap.
Memiliki faktor risiko tidak berarti seseorang pasti mengalami kondisi ini.

Bagaimana Diagnosis Ditegakkan?

Tidak ada satu tes yang dapat memastikan artritis reumatoid. Dokter menanyakan pola nyeri, lama keluhan, dan kaku pagi hari, lalu memeriksa sendi yang nyeri dan bengkak. Tes darah mencari faktor reumatoid dan antibodi anti-CCP, serta penanda peradangan seperti CRP dan laju endap darah. Rontgen atau USG sendi menilai peradangan dan kerusakan. Dokter memakai kriteria klasifikasi ACR/EULAR 2010, yang menggabungkan jumlah sendi yang terkena, hasil antibodi, penanda peradangan, dan lama keluhan, yaitu enam minggu atau lebih. Setelah diagnosis, risiko jantung dinilai dengan mengukur tekanan darah, kolesterol, dan gula darah, sebaiknya saat penyakit sedang tenang. Bila ada keluhan seperti sesak, nyeri dada, atau berdebar, EKG dan ekokardiografi membantu mencari penyakit koroner, gagal jantung, atau cairan di selaput jantung.

  1. Pemeriksaan Fisik

    Menghitung sendi yang nyeri dan bengkak, mencari benjolan di bawah kulit, mendengarkan jantung dan paru, serta mengukur tekanan darah.

  2. Tes darah faktor reumatoid dan antibodi anti-CCP. Anti-CCP lebih khas untuk artritis reumatoid, tetapi hasil negatif tidak menyingkirkan penyakit ini.

  3. Pemeriksaan C-Reactive Protein

    Mengukur penanda peradangan untuk membantu diagnosis dan memantau aktivitas penyakit selama pengobatan.

  4. Pemeriksaan Laju Endap Darah / LED

    Penanda peradangan lain yang dipakai bersama CRP untuk menilai aktivitas penyakit.

  5. Rontgen atau USG sendi tangan dan kaki untuk menilai peradangan dan kerusakan sendi, termasuk sebagai dasar pembanding saat kontrol.

  6. Skrining Kolesterol & Profil Lipid

    Bagian dari penilaian risiko jantung. Sebaiknya diukur saat penyakit tenang, karena peradangan aktif dapat membuat kadar kolesterol tampak lebih rendah.

  7. Ekokardiografi

    Dilakukan bila ada sesak, nyeri dada, atau bengkak, untuk menilai pompa jantung dan mencari cairan di selaput jantung.

Pilihan Penanganan.

Penanganan ditentukan dokter setelah evaluasi. Kategori berikut membantu Anda memahami pembicaraan dengan dokter.

DMARD Konvensional

Obat pengubah perjalanan penyakit, misalnya metotreksat, dimulai sedini mungkin untuk menekan peradangan dan mencegah kerusakan sendi. Tes darah berkala diperlukan selama pemakaian. Jenis dan takarannya ditentukan dokter.

DMARD Biologis dan Sintetik Bertarget

Dipakai bila target pengobatan belum tercapai. Golongan penghambat JAK dipertimbangkan dengan hati-hati pada usia 65 tahun ke atas, perokok, atau orang berisiko jantung tinggi, berdasarkan temuan penelitian ORAL Surveillance.

Kortikosteroid Jangka Pendek

Membantu meredakan peradangan di awal pengobatan atau saat kambuh, lalu diturunkan dan dihentikan secepat yang memungkinkan, karena pemakaian lama meningkatkan tekanan darah, gula darah, dan risiko jantung.

Obat Antiinflamasi Nonsteroid

Meredakan nyeri dan kaku, tetapi tidak menghentikan kerusakan sendi. Pemakaiannya dibatasi dan diawasi dokter, terutama bila Anda menyandang penyakit jantung, hipertensi, atau gangguan ginjal.

Pengendalian Risiko Jantung

Tekanan darah, kolesterol, dan gula darah dikendalikan seperti pada populasi umum, termasuk obat statin atau obat tekanan darah bila diperlukan, disertai berhenti merokok.

Latihan Fisik dan Rehabilitasi

Latihan aerobik dan penguatan otot sesuai kemampuan, serta fisioterapi atau terapi okupasi, membantu menjaga fungsi sendi, kebugaran, dan kesehatan jantung.

Kesesuaian dan ketersediaan pemeriksaan atau terapi perlu dikonfirmasi bersama tim perawatan.

Komplikasi yang Perlu Dipantau.

Penyakit Jantung Koroner

Peradangan menahun mempercepat penumpukan plak di arteri koroner. Risiko serangan jantung lebih tinggi dan keluhannya kadang tidak khas.

Gagal Jantung

Risiko gagal jantung lebih tinggi dibanding orang seusia, sering dengan otot jantung yang kaku. Keluhannya sesak, mudah lelah, dan kaki bengkak.

Perikarditis

Radang selaput jantung dapat menimbulkan cairan di sekitar jantung. Sering tanpa keluhan, tetapi kadang menyebabkan nyeri dada tajam atau sesak.

Stroke dan Bekuan Darah

Risiko stroke, fibrilasi atrium, dan bekuan darah di vena lebih tinggi, terutama saat penyakit sedang aktif.

Kerusakan Sendi Menetap

Peradangan yang tidak terkendali merusak tulang rawan dan tulang, sehingga bentuk sendi berubah dan fungsi tangan atau kaki menurun.

Penyakit Paru Interstisial

Peradangan dan parut di jaringan paru dapat menimbulkan batuk kering dan sesak yang bertambah perlahan.

Osteoporosis

Peradangan, kurang bergerak, dan kortikosteroid jangka panjang dapat mengurangi kepadatan tulang sehingga tulang mudah patah.

Apa yang Bisa Dilakukan?

  • Berhenti merokok, untuk menurunkan risiko artritis reumatoid sekaligus risiko serangan jantung
  • Minum obat pengendali penyakit secara teratur dan kontrol sesuai jadwal
  • Minta penilaian risiko jantung saat diagnosis dan ulangi setidaknya setiap lima tahun
  • Periksakan tekanan darah, kolesterol, dan gula darah secara berkala
  • Tetap aktif bergerak dengan latihan aerobik dan penguatan sesuai kemampuan
  • Jaga berat badan dan pola makan bergizi seimbang
  • Jangan memakai obat antinyeri atau kortikosteroid jangka panjang tanpa pengawasan dokter
  • Rawat kesehatan gigi dan gusi secara teratur

Kapan Harus ke Dokter?

Periksakan diri ke dokter bila nyeri dan bengkak sendi berlangsung lebih dari beberapa minggu, karena pengobatan yang dimulai dini membantu mencegah kerusakan sendi. Bila Anda sudah terdiagnosis, sampaikan juga keluhan jantung kepada dokter. Segera ke IGD bila nyeri dada berlangsung lebih dari beberapa menit atau muncul tanda stroke.

  • Nyeri dan bengkak di beberapa sendi tangan atau kaki lebih dari enam minggu
  • Kaku sendi di pagi hari lebih dari 30 menit
  • Sesak saat beraktivitas atau berbaring, atau kaki membengkak
  • Nyeri dada, terutama yang tajam dan berubah dengan posisi atau napas
  • Berdebar tidak teratur atau mudah lelah yang tidak biasa
  • Batuk kering dan sesak yang makin lama makin berat

Jangan Menunggu bila Kondisinya Darurat.

Bila keluhan terasa berat atau muncul mendadak, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258, bukan menunggu janji temu.

Hal yang Mungkin Anda Tanyakan.

Pertanyaan yang sering diajukan tentang artritis reumatoid dan dampaknya pada jantung.

Mengapa artritis reumatoid meningkatkan risiko penyakit jantung?

Peradangan yang terjadi di sendi juga berlangsung di pembuluh darah. Zat peradangan merusak lapisan dalam pembuluh dan mempercepat terbentuknya plak, sehingga risiko serangan jantung dan stroke meningkat. Faktor risiko umum, seperti merokok dan hipertensi, serta beberapa obat bila dipakai lama, ikut menambah risiko. Karena itu, mengendalikan peradangan dan faktor risiko jantung sama-sama penting.

Apakah penyandang artritis reumatoid perlu minum obat kolesterol?

Tidak semua. Keputusan didasarkan pada penilaian risiko jantung, sama seperti pada orang lain, tetapi pedoman EULAR menganjurkan risiko tersebut dinilai dengan memperhitungkan artritis reumatoid sebagai penambah risiko. Kolesterol sebaiknya diukur saat penyakit tenang, karena peradangan aktif dapat membuat kadarnya tampak lebih rendah. Bila risiko Anda tinggi, dokter dapat menganjurkan obat statin.

Apakah obat artritis reumatoid berpengaruh pada jantung?

Sebagian berpengaruh. Kortikosteroid dan obat antiinflamasi nonsteroid yang dipakai lama dapat menaikkan tekanan darah dan risiko jantung, sehingga dipakai sesingkat mungkin. Golongan penghambat JAK dipertimbangkan dengan hati-hati pada orang berisiko jantung tinggi. Sebaliknya, pengendalian peradangan dengan obat seperti metotreksat dikaitkan dengan risiko jantung yang lebih rendah pada penelitian pengamatan. Jangan menghentikan obat tanpa berdiskusi dengan dokter.

Apakah artritis reumatoid sama dengan asam urat atau pengapuran sendi?

Berbeda. Asam urat (gout) disebabkan penumpukan kristal dan biasanya menyerang satu sendi secara mendadak. Pengapuran sendi (osteoartritis) terjadi karena tulang rawan aus, terutama di lutut dan pinggul. Artritis reumatoid adalah penyakit autoimun yang umumnya mengenai banyak sendi kecil di kedua sisi tubuh. Ketiganya juga berbeda dari penyakit jantung rematik, yang dibahas di halaman Penyakit Jantung Rematik.

Apakah artritis reumatoid bisa sembuh?

Artritis reumatoid adalah penyakit menahun yang belum dapat disembuhkan, tetapi dapat dikendalikan. Dengan pengobatan yang dimulai dini dan disesuaikan secara berkala, banyak penyandang mencapai remisi atau aktivitas penyakit yang rendah, sehingga nyeri berkurang dan kerusakan sendi dapat dicegah. Kontrol rutin tetap diperlukan walau keluhan sudah membaik, karena penyakit dapat kambuh.

Olahraga apa yang aman bagi penyandang artritis reumatoid?

Latihan aerobik intensitas sedang, seperti jalan kaki, bersepeda statis, atau berenang, ditambah latihan penguatan otot dan kelenturan, umumnya aman dan bermanfaat bagi sendi maupun jantung. Saat sendi sedang meradang, pilih gerakan ringan tanpa beban berat pada sendi tersebut. Fisioterapis dapat membantu menyusun program sesuai keadaan sendi Anda.

Sumber dan Tinjauan Medis

Ditinjau secara medis oleh dr. Debby C. Soemitha, Sp.PD.

  1. Agca R, Heslinga SC, Rollefstad S, Heslinga M, McInnes IB, Peters MJ, et al. EULAR recommendations for cardiovascular disease risk management in patients with rheumatoid arthritis and other forms of inflammatory joint disorders: 2015/2016 update. Ann Rheum Dis. 2017;76(1):17-28.
  2. Smolen JS, Landewé RBM, Bergstra SA, Kerschbaumer A, Sepriano A, Aletaha D, et al. EULAR recommendations for the management of rheumatoid arthritis with synthetic and biological disease-modifying antirheumatic drugs: 2022 update. Ann Rheum Dis. 2023;82(1):3-18.
  3. Aletaha D, Neogi T, Silman AJ, Funovits J, Felson DT, Bingham CO 3rd, et al. 2010 Rheumatoid arthritis classification criteria: an American College of Rheumatology/European League Against Rheumatism collaborative initiative. Arthritis Rheum. 2010;62(9):2569-81.
  4. Smolen JS, Aletaha D, McInnes IB. Rheumatoid arthritis. Lancet. 2016;388(10055):2023-38.
  5. Ytterberg SR, Bhatt DL, Mikuls TR, Koch GG, Fleischmann R, Rivas JL, et al. Cardiovascular and cancer risk with tofacitinib in rheumatoid arthritis. N Engl J Med. 2022;386(4):316-26.
  6. Avina-Zubieta JA, Choi HK, Sadatsafavi M, Etminan M, Esdaile JM, Lacaille D. Risk of cardiovascular mortality in patients with rheumatoid arthritis: a meta-analysis of observational studies. Arthritis Rheum. 2008;59(12):1690-7.

Langkah berikutnya

Bahas Keluhan Anda bersama Dokter.

Mulai konsultasi untuk memahami kondisi dan pilihan penanganan yang sesuai.

Konteks kunjungan: Artritis Reumatoid

Informasi di halaman ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi, diagnosis, atau pengobatan medis. Untuk keluhan kesehatan Anda, konsultasikan langsung dengan dokter.

Kembali ke Semua Kondisi