Langsung ke konten

Hipertensi & Penyakit Metabolik Kardiovaskular

Diabetes Melitus

Diabetes Mellitus

Ditinjau secara medis olehdr. Debby C. Soemitha, Sp.PD, Spesialis Penyakit Dalam
Terakhir diperbarui7 Oktober 2026
Ilustrasi diabetes dan risiko penyakit jantung dengan pankreas dan sel beta penghasil insulin, molekul gula di dalam pembuluh darah, serta arteri koroner yang menyempit akibat plak.
Ilustrasi Diabetes Melitus

Jawaban singkat

Apa Itu Diabetes Melitus?

Diabetes melitus adalah penyakit jangka panjang ketika kadar gula darah terus tinggi karena tubuh kekurangan insulin atau insulin tidak bekerja dengan baik. Bila tidak dikendalikan, diabetes merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, serta gangguan ginjal.

Sumber informasi

Tanda yang Memerlukan Pertolongan Segera

  • Mual, muntah, nyeri perut, dan napas cepat serta dalam
  • Napas berbau seperti buah atau aseton
  • Sangat haus, mulut sangat kering, dan lemas berat
  • Bingung, sangat mengantuk, atau sulit dibangunkan
  • Gemetar, keringat dingin, dan berdebar karena gula darah terlalu rendah
  • Nyeri atau rasa tertekan di dada, sesak napas, atau keringat dingin
  • Wajah mencong, lengan lemah, atau bicara pelo secara mendadak
  • Luka kaki yang menghitam, berbau, atau disertai demam

Bila tanda ini muncul, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258.

Catatan kegawatan: Diabetes umumnya dikelola lewat kontrol rutin, bukan di IGD. Namun gula darah yang sangat tinggi atau sangat rendah, serta tanda serangan jantung atau stroke, perlu pertolongan segera.

Mengenal Diabetes Melitus

Diabetes melitus adalah penyakit jangka panjang yang membuat kadar gula (glukosa) dalam darah terus berada di atas normal. Gula berasal dari makanan dan menjadi bahan bakar sel tubuh. Agar gula dapat masuk ke dalam sel, tubuh memerlukan insulin, yaitu hormon yang dibuat pankreas, kelenjar yang terletak di belakang lambung. Pada diabetes, pankreas tidak lagi membuat cukup insulin, atau insulin yang ada tidak bekerja dengan baik, sehingga gula menumpuk di dalam darah.

Jenis Diabetes

Dua jenis yang umum adalah diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2. Pada tipe 1, sistem kekebalan tubuh merusak sel penghasil insulin, sehingga insulin harus diberikan dari luar sejak awal. Tipe 2 jauh lebih banyak dijumpai: tubuh kurang peka terhadap insulin dan produksinya perlahan berkurang. Ada pula diabetes kehamilan (gestasional) dan beberapa jenis lain yang jarang. Kedua jenis utama dibahas di halaman Diabetes Tipe 1 dan Diabetes Tipe 2.

Diabetes dan Kesehatan Jantung

Gula darah yang tinggi dalam waktu lama melukai lapisan dalam pembuluh darah. Bersama tekanan darah tinggi dan kolesterol tidak normal yang sering menyertai diabetes, keadaan ini mempercepat pembentukan plak (timbunan lemak) di dinding arteri, yang disebut aterosklerosis. Karena itu, risiko penyakit jantung koroner, serangan jantung, stroke, dan gagal jantung pada penyandang diabetes sekitar dua kali lipat dibanding orang tanpa diabetes. Penyakit jantung dan pembuluh darah juga menjadi penyebab utama kematian pada penyandang diabetes.

Kerusakan pembuluh darah kecil dapat mengenai mata, ginjal, dan saraf. Saraf yang terganggu membuat serangan jantung kadang muncul tanpa nyeri dada yang khas, misalnya hanya berupa sesak napas, lemas, atau keringat dingin. Itulah sebabnya pemeriksaan jantung menjadi bagian dari perawatan diabetes.

Dapat Dikendalikan

Diabetes umumnya merupakan kondisi seumur hidup, tetapi dapat dikendalikan. Menjaga gula darah, tekanan darah, dan kolesterol sesuai target, berhenti merokok, bergerak aktif, dan memakai obat sesuai anjuran dokter dapat menurunkan risiko komplikasi secara nyata. Beberapa golongan obat diabetes juga terbukti melindungi jantung dan ginjal. Menurut IDF Diabetes Atlas, pada 2021 sekitar 19,5 juta orang dewasa di Indonesia hidup dengan diabetes, dan banyak di antaranya belum mengetahui kondisinya.

Jenis dan Kondisi Turunan

Kondisi berikut termasuk dalam kelompok Diabetes Melitus. Buka masing-masing untuk penjelasan lengkapnya.

Gejala yang Perlu Dikenali.

Gejala Umum

Banyak penyandang diabetes tipe 2 tidak merasakan keluhan selama bertahun-tahun, sehingga pemeriksaan gula darah berkala tetap perlu.

  • Sering buang air kecil, termasuk terbangun malam hari untuk berkemih
  • Sering haus dan banyak minum
  • Mudah lapar
  • Berat badan turun tanpa sebab yang jelas
  • Mudah lelah dan lemas
  • Penglihatan kabur
  • Luka sulit sembuh atau infeksi kulit dan saluran kemih berulang
  • Kesemutan atau baal di tangan dan kaki

Gejala pada Anak-Anak

Diabetes pada anak umumnya tipe 1, dan gejalanya dapat memberat dalam beberapa hari sampai minggu.

  • Kembali mengompol setelah sebelumnya tidak
  • Sangat haus dan sering berkemih
  • Berat badan turun walau makan banyak
  • Rewel, lesu, atau sulit berkonsentrasi
  • Mual, muntah, atau nyeri perut

Gejala pada Lansia

Pada lansia, gejala khas seperti haus berlebihan sering tidak menonjol.

  • Keluhan samar, seperti lemas atau kurang bertenaga
  • Mudah kekurangan cairan karena rasa haus berkurang
  • Bingung atau mudah lupa yang baru muncul
  • Lebih sering jatuh
  • Penglihatan menurun
Tidak semua orang mengalami gejala yang sama. Bila keluhan berulang atau memburuk, periksakan diri.

Apa yang Menyebabkan Kondisi Ini?

  • Sistem kekebalan tubuh merusak sel beta pankreas penghasil insulin, seperti pada diabetes tipe 1
  • Sel tubuh kurang peka terhadap insulin (resistensi insulin), terutama bila lemak perut berlebih
  • Produksi insulin oleh pankreas berkurang perlahan seiring waktu
  • Perubahan hormon selama kehamilan yang memicu diabetes kehamilan
  • Penyakit pankreas, gangguan hormon lain, atau efek obat tertentu seperti kortikosteroid
  • Kelainan satu gen yang jarang dan diturunkan dalam keluarga, misalnya diabetes jenis MODY

Siapa yang Lebih Berisiko?

Gaya Hidup

Berat badan berlebih, terutama lemak di perut, kurang bergerak, sering mengonsumsi minuman manis dan makanan olahan, serta merokok.

Medis

Prediabetes, tekanan darah tinggi, kolesterol HDL rendah atau trigliserida tinggi, sindrom ovarium polikistik, riwayat diabetes kehamilan, dan penyakit jantung.

Genetik

Memiliki orang tua atau saudara kandung dengan diabetes. Pada tipe 1, riwayat keluarga dan penyakit autoimun lain juga meningkatkan kerentanan.

Usia

Risiko diabetes tipe 2 meningkat setelah usia 35 sampai 40 tahun, tetapi kini makin sering ditemukan pada usia muda. Diabetes tipe 1 sering muncul pada anak dan remaja.

Lainnya

Kurang tidur, stres berkepanjangan yang mengganggu pola makan, dan pemakaian obat tertentu seperti kortikosteroid dalam jangka panjang.

Kelompok yang Lebih Berisiko

  • Orang dengan Berat Badan Berlebih: Indeks massa tubuh 23 atau lebih pada orang Asia, atau lingkar perut yang besar, berkaitan erat dengan resistensi insulin.
  • Usia 35 Tahun atau Lebih: Pedoman ADA menganjurkan skrining gula darah bagi semua orang dewasa mulai usia 35 tahun, diulang minimal setiap tiga tahun bila hasilnya normal.
  • Keluarga Penyandang Diabetes: Orang tua atau saudara kandung dengan diabetes meningkatkan kemungkinan Anda mengalami kondisi yang sama.
  • Penyandang Penyakit Jantung atau Hipertensi: Pedoman ESC 2023 menganjurkan pemeriksaan gula darah puasa atau HbA1c pada semua orang dengan penyakit jantung dan pembuluh darah.
  • Perempuan dengan Riwayat Diabetes Kehamilan: Risiko diabetes tipe 2 tetap tinggi bertahun-tahun setelah melahirkan, sehingga gula darah perlu diperiksa ulang secara berkala.
Memiliki faktor risiko tidak berarti seseorang pasti mengalami kondisi ini.

Bagaimana Diagnosis Ditegakkan?

Diagnosis diabetes ditegakkan dari tes darah. Dokter memakai satu atau beberapa pemeriksaan: gula darah puasa, HbA1c, tes toleransi glukosa oral (TTGO), atau gula darah sewaktu bila disertai gejala khas. Bila hasil pertama tinggi tanpa gejala yang jelas, tes biasanya diulang untuk memastikan. Hasil di antara normal dan diabetes disebut prediabetes, yaitu kesempatan untuk mencegah diabetes.

Setelah diagnosis, dokter menentukan jenis diabetes, lalu menilai dampaknya pada organ: tekanan darah, profil kolesterol, fungsi ginjal dan albumin urine, mata, serta kaki. Karena diabetes erat kaitannya dengan penyakit jantung, dokter juga memperkirakan risiko kardiovaskular Anda. EKG dilakukan bila ada hipertensi atau keluhan jantung, dan pemeriksaan lanjutan seperti ekokardiografi atau uji latih jantung dipertimbangkan sesuai kebutuhan. Sebaliknya, orang yang sudah memiliki penyakit jantung dianjurkan memeriksa gula darah puasa atau HbA1c.

  1. Tes Gula Darah (Blood Sugar Test)

    Gula darah puasa 126 mg/dL atau lebih, atau gula darah 2 jam setelah minum larutan glukosa (TTGO) 200 mg/dL atau lebih, menunjukkan diabetes. Hasil biasanya dipastikan dengan tes ulang.

  2. Pemeriksaan HbA1c

    Menggambarkan rata-rata gula darah dua sampai tiga bulan. Nilai 6,5 persen atau lebih menunjukkan diabetes, sedangkan 5,7 sampai 6,4 persen termasuk prediabetes.

  3. Tes autoantibodi pankreas dan C-peptide bila dokter menduga diabetes tipe 1, terutama pada anak, dewasa muda, atau orang bertubuh kurus.

  4. Tes Protein Urine

    Mencari albumin dalam urine sebagai tanda awal kerusakan ginjal dan pembuluh darah akibat diabetes, diperiksa bersama fungsi ginjal (eGFR).

  5. Skrining Kolesterol & Profil Lipid

    Menilai kolesterol LDL, HDL, dan trigliserida untuk menentukan risiko penyakit jantung dan target pengobatan kolesterol.

  6. Elektrokardiogram / EKG

    Merekam listrik jantung untuk mencari gangguan irama atau tanda serangan jantung lama yang tidak disadari, terutama bila ada hipertensi atau keluhan jantung.

  7. Pemeriksaan mata (retina) dan pemeriksaan kaki untuk menemukan kerusakan pembuluh darah kecil dan saraf sejak dini.

Pilihan Penanganan.

Penanganan ditentukan dokter setelah evaluasi. Kategori berikut membantu Anda memahami pembicaraan dengan dokter.

Pola Makan Sehat dan Aktivitas Fisik

Dasar perawatan semua jenis diabetes: porsi karbohidrat teratur, banyak sayur dan serat, protein rendah lemak, serta aktivitas fisik sekitar 150 menit per minggu sesuai kemampuan.

Edukasi Perawatan Diri

Belajar memantau gula darah, mengenali gula darah rendah dan tinggi, merawat kaki, serta menyesuaikan makan dan aktivitas, bersama dokter, edukator diabetes, dan ahli gizi.

Obat Penurun Gula Darah

Pada diabetes tipe 2, dokter memilih golongan obat seperti metformin, penghambat SGLT2, agonis reseptor GLP-1, atau penghambat DPP-4 sesuai kondisi jantung, ginjal, dan berat badan Anda.

Terapi Insulin

Wajib pada diabetes tipe 1 dan diperlukan pada sebagian penyandang tipe 2. Jenis dan jadwal insulin ditentukan dokter, diberikan lewat suntikan pena atau pompa insulin.

Perlindungan Jantung dan Ginjal

Bila ada penyakit jantung, gagal jantung, atau penyakit ginjal, dokter dapat memilih penghambat SGLT2 atau agonis reseptor GLP-1 yang terbukti menurunkan risiko kejadian jantung dan perburukan ginjal.

Pengendalian Tekanan Darah dan Kolesterol

Obat penurun tekanan darah dan statin sering diperlukan untuk menurunkan risiko serangan jantung dan stroke. Targetnya ditentukan dokter sesuai tingkat risiko Anda.

Pemantauan Gula Darah

HbA1c berkala, pengukuran gula darah mandiri dengan alat tusuk jari, atau sensor glukosa berkelanjutan (CGM) membantu menilai apakah rencana pengobatan sudah sesuai.

Kesesuaian dan ketersediaan pemeriksaan atau terapi perlu dikonfirmasi bersama tim perawatan.

Komplikasi yang Perlu Dipantau.

Penyakit Jantung Koroner dan Serangan Jantung

Plak di arteri koroner mempersempit aliran darah ke otot jantung. Pada diabetes, serangan jantung kadang muncul tanpa nyeri dada yang khas. Dibahas di halaman Penyakit Jantung Koroner.

Gagal Jantung

Diabetes dapat membuat otot jantung kaku atau lemah, sehingga muncul sesak saat beraktivitas, mudah lelah, dan bengkak di tungkai. Dibahas di halaman Gagal Jantung.

Stroke

Kerusakan pembuluh darah otak meningkatkan risiko stroke akibat sumbatan. Dibahas di halaman Stroke.

Penyakit Arteri Perifer dan Kaki Diabetik

Arteri tungkai menyempit dan saraf kaki kurang peka, sehingga luka kecil mudah terinfeksi dan sulit sembuh. Dibahas di halaman Penyakit Arteri Perifer.

Penyakit Ginjal Diabetik

Pembuluh darah kecil di ginjal rusak, albumin bocor ke urine, dan fungsi ginjal menurun bertahap. Dibahas di halaman Penyakit Ginjal Kronis.

Retinopati dan Neuropati Diabetik

Kerusakan pembuluh darah retina dapat mengganggu penglihatan, sedangkan kerusakan saraf menimbulkan kesemutan, baal, atau nyeri di kaki dan tangan.

Krisis Hiperglikemia dan Hipoglikemia

Ketoasidosis diabetik dan keadaan hiperosmolar adalah lonjakan gula darah berat, sedangkan hipoglikemia adalah gula darah terlalu rendah akibat obat. Keduanya perlu pertolongan segera.

Apa yang Bisa Dilakukan?

  • Jaga berat badan sehat; bila berlebih, turunkan sekitar 5 sampai 7 persen secara bertahap
  • Bergerak aktif sekitar 150 menit per minggu, misalnya jalan cepat, dan kurangi duduk terlalu lama
  • Batasi minuman manis dan tepung olahan; perbanyak sayur, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh
  • Berhenti merokok dan hindari asap rokok
  • Periksa gula darah berkala mulai usia 35 tahun, atau lebih awal bila memiliki faktor risiko
  • Bila sudah prediabetes, ikuti program perubahan gaya hidup bersama dokter
  • Bagi penyandang diabetes, kontrol rutin dan periksa mata, ginjal, kaki, serta jantung setiap tahun

Kapan Harus ke Dokter?

Periksakan gula darah bila Anda mengalami keluhan khas diabetes, atau bila Anda memiliki faktor risiko walaupun merasa sehat. Penyandang diabetes perlu menemui dokter secara terjadwal, dan lebih cepat bila gula darah sulit dikendalikan. Bila muncul nyeri dada, tanda stroke, napas cepat dan dalam, atau penurunan kesadaran, segera ke IGD.

  • Sering haus, sering berkemih, berat badan turun, atau penglihatan kabur
  • Berusia 35 tahun ke atas, berat badan berlebih, atau ada keluarga penyandang diabetes
  • Memiliki penyakit jantung, hipertensi, atau kolesterol tinggi
  • Gula darah sering di atas target atau sering turun terlalu rendah
  • Luka di kaki, kesemutan, atau baal yang baru muncul
  • Sesak saat beraktivitas, mudah lelah, atau bengkak di tungkai

Jangan Menunggu bila Kondisinya Darurat.

Bila keluhan terasa berat atau muncul mendadak, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258, bukan menunggu janji temu.

Hal yang Mungkin Anda Tanyakan.

Pertanyaan yang sering diajukan tentang diabetes melitus dan kesehatan jantung.

Apa beda diabetes tipe 1 dan tipe 2?

Pada diabetes tipe 1, sistem kekebalan merusak sel penghasil insulin, sehingga tubuh hampir tidak membuat insulin dan penyandangnya memerlukan insulin setiap hari sejak awal. Tipe ini sering muncul pada anak dan dewasa muda. Pada diabetes tipe 2, tubuh masih membuat insulin tetapi kurang peka terhadapnya. Tipe 2 berkembang perlahan, sering berkaitan dengan berat badan berlebih, dan umumnya diawali dengan perubahan gaya hidup serta obat minum.

Mengapa penyandang diabetes perlu memeriksakan jantung?

Gula darah yang tinggi dalam waktu lama merusak pembuluh darah dan mempercepat penumpukan plak di arteri. Risiko serangan jantung, stroke, dan gagal jantung pada penyandang diabetes sekitar dua kali lipat dibanding orang tanpa diabetes. Gejalanya kadang samar, misalnya hanya sesak atau lemas. Pemeriksaan tekanan darah, kolesterol, ginjal, dan EKG membantu dokter menilai risiko dan memilih obat yang juga melindungi jantung.

Apakah diabetes bisa disembuhkan?

Saat ini diabetes umumnya merupakan kondisi seumur hidup, tetapi dapat dikendalikan dengan baik. Pada sebagian penyandang diabetes tipe 2, penurunan berat badan yang cukup besar dapat membuat gula darah kembali normal tanpa obat untuk beberapa waktu, yang disebut remisi. Pemeriksaan rutin tetap diperlukan. Pada diabetes tipe 1, insulin tetap dibutuhkan setiap hari. Tujuan pengobatan adalah hidup aktif dan mencegah komplikasi.

Berapa target gula darah yang perlu dicapai?

Target ditentukan bersama dokter sesuai usia, penyakit lain, dan risiko gula darah rendah. Bagi banyak orang dewasa, HbA1c di bawah 7 persen menjadi acuan umum. Target dapat lebih longgar pada lansia atau orang yang sering mengalami gula darah rendah, dan lebih ketat pada sebagian orang lain. Selain gula darah, tekanan darah dan kolesterol juga punya target sendiri untuk melindungi jantung.

Apakah prediabetes pasti berlanjut menjadi diabetes?

Tidak selalu. Prediabetes berarti gula darah di atas normal tetapi belum mencapai batas diabetes. Penelitian menunjukkan penurunan berat badan sekitar 5 sampai 7 persen dan aktivitas fisik teratur dapat menunda atau mencegah diabetes tipe 2 pada banyak orang. Prediabetes juga sudah berkaitan dengan risiko penyakit jantung, sehingga ini saat yang baik untuk mulai memperbaiki gaya hidup dan memeriksa gula darah setiap tahun.

Apakah penyandang diabetes boleh makan nasi dan buah?

Boleh, dengan porsi yang terukur. Kuncinya adalah jumlah dan jenis karbohidrat. Nasi dapat dimakan dalam porsi lebih kecil dan diimbangi banyak sayur serta lauk berprotein. Buah utuh lebih baik daripada jus karena seratnya membantu gula darah naik lebih perlahan. Ahli gizi dapat membantu menyusun pola makan yang sesuai dengan kebiasaan, obat, dan target gula darah Anda.

Sumber dan Tinjauan Medis

Ditinjau secara medis oleh dr. Debby C. Soemitha, Sp.PD.

  1. American Diabetes Association Professional Practice Committee for Diabetes. 2. Diagnosis and Classification of Diabetes: Standards of Care in Diabetes, 2026. Diabetes Care. 2026;49(Suppl 1):S27-S49.
  2. American Diabetes Association Professional Practice Committee for Diabetes. 3. Prevention or Delay of Diabetes and Associated Comorbidities: Standards of Care in Diabetes, 2026. Diabetes Care. 2026;49(Suppl 1):S50-S60.
  3. American Diabetes Association Professional Practice Committee for Diabetes. 6. Glycemic Goals, Hypoglycemia, and Hyperglycemic Crises: Standards of Care in Diabetes, 2026. Diabetes Care. 2026;49(Suppl 1):S132-S149.
  4. Marx N, Federici M, Schütt K, Müller-Wieland D, Ajjan RA, Antunes MJ, et al. 2023 ESC Guidelines for the management of cardiovascular disease in patients with diabetes. Eur Heart J. 2023;44(39):4043-4140.
  5. Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO) Diabetes Work Group. KDIGO 2022 Clinical Practice Guideline for Diabetes Management in Chronic Kidney Disease. Kidney Int. 2022;102(5S):S1-S127.
  6. Sun H, Saeedi P, Karuranga S, Pinkepank M, Ogurtsova K, Duncan BB, et al. IDF Diabetes Atlas: Global, regional and country-level diabetes prevalence estimates for 2021 and projections for 2045. Diabetes Res Clin Pract. 2022;183:109119.

Langkah berikutnya

Bahas Keluhan Anda bersama Dokter.

Mulai konsultasi untuk memahami kondisi dan pilihan penanganan yang sesuai.

Konteks kunjungan: Diabetes Melitus

Informasi di halaman ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi, diagnosis, atau pengobatan medis. Untuk keluhan kesehatan Anda, konsultasikan langsung dengan dokter.

Kembali ke Semua Kondisi