Langsung ke konten

Hipertensi & Penyakit Metabolik Kardiovaskular

Dislipidemia

Dyslipidemia

Ditinjau secara medis olehDr. med. dr. Denio A. Ridjab, Sp.JP(K), Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah
Terakhir diperbarui7 Oktober 2026
Ilustrasi medis arteri koroner di permukaan jantung yang menyempit akibat plak lemak kuning, dengan inset partikel LDL yang masuk ke dinding arteri, perbandingan arteri normal dan arteri menyempit, serta tabung darah dengan lapisan trigliserida berlebih.
Ilustrasi Dislipidemia

Jawaban singkat

Apa Itu Dislipidemia?

Dislipidemia adalah keadaan ketika kadar lemak dalam darah tidak normal, misalnya kolesterol LDL atau trigliserida terlalu tinggi, atau kolesterol HDL terlalu rendah. Umumnya tanpa keluhan, tetapi mempercepat penyempitan pembuluh darah yang memicu serangan jantung dan stroke.

Sumber informasi

Tanda yang Memerlukan Pertolongan Segera

  • Nyeri atau rasa tertekan di dada yang dapat menjalar ke lengan, leher, atau rahang
  • Sesak napas, keringat dingin, atau lemas yang muncul mendadak
  • Wajah mencong, lengan atau tungkai lemah, atau bicara pelo secara mendadak
  • Nyeri perut hebat di ulu hati yang tembus ke punggung, disertai mual dan muntah
  • Tungkai mendadak nyeri, pucat, dan dingin

Bila tanda ini muncul, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258.

Catatan kegawatan: Dislipidemia dikelola lewat pemeriksaan dan kontrol rutin, bukan di IGD. Namun nyeri dada, tanda stroke, atau nyeri perut hebat saat trigliserida sangat tinggi perlu pertolongan segera.

Mengenal Dislipidemia

Dislipidemia adalah keadaan ketika kadar lemak (lipid) dalam darah tidak normal. Lemak darah yang diperiksa meliputi kolesterol LDL, yang sering disebut kolesterol jahat, kolesterol HDL atau kolesterol baik, dan trigliserida. Dislipidemia dapat berupa LDL yang tinggi, trigliserida yang tinggi, HDL yang rendah, atau gabungan ketiganya. Kolesterol sebenarnya diperlukan tubuh untuk membentuk dinding sel dan hormon, tetapi jumlah yang berlebih di dalam darah menimbulkan masalah.

Mengapa Kolesterol Berpengaruh pada Jantung

Partikel LDL dapat masuk ke dinding arteri dan menumpuk menjadi plak, yaitu timbunan lemak, sel radang, dan jaringan ikat. Proses yang disebut aterosklerosis ini berjalan diam-diam selama bertahun-tahun. Makin tinggi kadar LDL dan makin lama berlangsung, makin besar plak yang terbentuk. Plak dapat mempersempit arteri koroner yang memberi darah ke otot jantung, arteri menuju otak, dan arteri tungkai. Bila plak pecah, terbentuk bekuan darah yang dapat menyumbat pembuluh secara mendadak dan menimbulkan serangan jantung atau stroke. Trigliserida yang tinggi ikut menambah risiko, dan bila sangat tinggi dapat memicu radang pankreas.

Primer dan Sekunder

Dislipidemia primer berasal dari faktor keturunan. Salah satu yang perlu dikenali adalah hiperkolesterolemia familial, kelainan gen yang membuat LDL sangat tinggi sejak lahir dan dialami sekitar 1 dari 200 sampai 300 orang. Lipoprotein(a), jenis partikel lemak yang kadarnya hampir sepenuhnya ditentukan gen, juga dapat menambah risiko. Dislipidemia sekunder dipicu pola makan tinggi lemak jenuh, berat badan berlebih, kurang bergerak, alkohol, diabetes, hipotiroidisme, penyakit ginjal, atau obat tertentu.

Dapat Dikendalikan

Karena hampir tidak menimbulkan gejala, dislipidemia umumnya baru ketahuan dari tes darah. Pedoman ESC/EAS 2019 dan pembaruannya pada 2025 menekankan bahwa makin rendah LDL, makin rendah risiko serangan jantung dan stroke. Target LDL ditentukan dari tingkat risiko Anda secara keseluruhan, bukan dari angka kolesterol saja. Perubahan pola makan, aktivitas fisik, berhenti merokok, dan obat penurun kolesterol bila diperlukan terbukti menurunkan risiko kejadian jantung. Pemeriksaan berkala membantu memastikan target tetap terjaga dari tahun ke tahun.

Gejala yang Perlu Dikenali.

Gejala Umum

Sebagian besar penyandang dislipidemia tidak merasakan keluhan apa pun, sehingga kondisi ini umumnya ditemukan lewat tes darah.

  • Umumnya tanpa keluhan sama sekali
  • Bercak kekuningan datar di kelopak mata (xantelasma)
  • Benjolan kekuningan di tendon tumit, punggung tangan, atau siku (xantoma)
  • Lingkaran putih keabuan di tepi kornea mata sebelum usia 45 tahun
  • Bintil kecil kekuningan yang muncul berkelompok di kulit saat trigliserida sangat tinggi
Tidak semua orang mengalami gejala yang sama. Bila keluhan berulang atau memburuk, periksakan diri.

Apa yang Menyebabkan Kondisi Ini?

  • Kelainan gen yang diturunkan, seperti hiperkolesterolemia familial, yang membuat LDL tinggi sejak lahir
  • Kadar lipoprotein(a) yang tinggi karena faktor keturunan
  • Pola makan tinggi lemak jenuh dan lemak trans, seperti gorengan, lemak hewani, dan makanan olahan
  • Asupan gula, tepung olahan, dan alkohol berlebih yang menaikkan trigliserida
  • Berat badan berlebih, terutama lemak perut, disertai resistensi insulin
  • Penyakit lain seperti diabetes, hipotiroidisme, penyakit ginjal kronis, atau penyakit hati
  • Obat tertentu, misalnya kortikosteroid, retinoid, dan sebagian obat imunosupresan atau antiretroviral

Siapa yang Lebih Berisiko?

Gaya Hidup

Pola makan tinggi lemak jenuh, gula, dan makanan olahan, kurang bergerak, merokok, serta minum alkohol. Merokok juga menurunkan kolesterol HDL.

Medis

Diabetes, obesitas, sindrom metabolik, hipotiroidisme, penyakit ginjal kronis, dan sindrom ovarium polikistik. Kehamilan juga menaikkan kadar lemak darah untuk sementara.

Genetik

Orang tua atau saudara kandung dengan kolesterol sangat tinggi, atau dengan penyakit jantung dini, yaitu sebelum usia 55 tahun pada laki-laki dan 60 tahun pada perempuan.

Usia

Kadar kolesterol cenderung naik seiring bertambahnya usia. Pada perempuan, LDL biasanya meningkat setelah menopause.

Kelompok yang Lebih Berisiko

  • Penyandang Diabetes: Diabetes sering disertai trigliserida tinggi dan HDL rendah, dan risiko penyakit jantungnya lebih tinggi, sehingga target LDL biasanya lebih ketat.
  • Keluarga dengan Kolesterol Sangat Tinggi: Bila ada keluarga dekat dengan LDL sangat tinggi atau serangan jantung dini, pemeriksaan lemak darah dianjurkan, termasuk pada anak.
  • Penyandang Penyakit Jantung atau Stroke: Orang yang pernah mengalami serangan jantung, pasang ring, atau stroke termasuk risiko sangat tinggi dengan target LDL di bawah 55 mg/dL.
  • Orang dengan Berat Badan Berlebih: Lemak perut berlebih dan kurang bergerak berkaitan dengan trigliserida tinggi dan HDL rendah.
  • Perempuan Pascamenopause: Turunnya hormon estrogen setelah menopause membuat kolesterol LDL cenderung naik, sehingga pemeriksaan berkala tetap perlu.
Memiliki faktor risiko tidak berarti seseorang pasti mengalami kondisi ini.

Bagaimana Diagnosis Ditegakkan?

Dislipidemia ditegakkan dari tes darah profil lipid. Karena hampir tidak bergejala, pemeriksaan ini dianjurkan bagi orang dewasa secara berkala, dan lebih awal bila ada faktor risiko atau keluarga dengan kolesterol sangat tinggi. Hasil yang tidak normal biasanya dipastikan dengan pemeriksaan ulang.

Setelah itu dokter mencari penyebab sekunder, seperti diabetes, hipotiroidisme, penyakit ginjal, penyakit hati, atau obat tertentu. Dokter juga menanyakan riwayat keluarga dan mencari tanda fisik seperti xantoma. Bila LDL sangat tinggi, misalnya di atas 190 mg/dL, dokter dapat menduga hiperkolesterolemia familial dan menyarankan pemeriksaan anggota keluarga lain.

Langkah berikutnya adalah menilai risiko kardiovaskular secara keseluruhan. Pada orang yang sudah memiliki penyakit jantung koroner, stroke, diabetes dengan kerusakan organ, atau penyakit ginjal kronis, risikonya sudah tinggi tanpa perlu dihitung. Pada orang lain, dokter memakai kalkulator risiko seperti SCORE2, dan bila perlu pemeriksaan tambahan seperti skor kalsium koroner, untuk menentukan target LDL dan perlu tidaknya obat.

  1. Skrining Kolesterol & Profil Lipid

    Mengukur kolesterol total, LDL, HDL, dan trigliserida. Umumnya tidak wajib puasa, kecuali trigliserida sangat tinggi atau dokter memintanya. Lipoprotein(a) dianjurkan diperiksa setidaknya sekali seumur hidup.

  2. Skrining Risiko Jantung Individu

    Menggabungkan usia, tekanan darah, kolesterol, merokok, dan diabetes untuk memperkirakan risiko serangan jantung dan stroke 10 tahun, misalnya dengan SCORE2, sebagai dasar target LDL.

  3. Pemeriksaan HbA1c

    Mencari diabetes atau prediabetes yang sering menyertai trigliserida tinggi dan HDL rendah.

  4. Pemeriksaan Fungsi Tiroid

    Mencari hipotiroidisme, salah satu penyebab kolesterol tinggi yang dapat diobati.

  5. Pemeriksaan Fungsi Ginjal

    Menilai fungsi ginjal, karena penyakit ginjal dapat menaikkan lemak darah dan memengaruhi pilihan obat.

  6. Tes Fungsi Hati

    Menilai kesehatan hati sebagai kemungkinan penyebab gangguan lemak darah dan sebagai data awal sebelum obat penurun kolesterol.

  7. CT-Scan Jantung

    Skor kalsium koroner dari CT tanpa kontras dapat dipertimbangkan bila risiko berada di batas, untuk melihat apakah sudah ada plak di arteri koroner.

Pilihan Penanganan.

Penanganan ditentukan dokter setelah evaluasi. Kategori berikut membantu Anda memahami pembicaraan dengan dokter.

Pola Makan Sehat Jantung

Kurangi lemak jenuh dan lemak trans, perbanyak sayur, buah, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, dan ikan. Batasi gula dan alkohol bila trigliserida tinggi.

Aktivitas Fisik dan Berat Badan Sehat

Aktivitas aerobik sekitar 150 sampai 300 menit per minggu dan penurunan berat badan bila berlebih membantu menurunkan trigliserida dan memperbaiki HDL.

Berhenti Merokok

Menghentikan rokok menaikkan HDL dan menurunkan risiko serangan jantung, berapa pun kadar kolesterol Anda.

Statin

Golongan obat utama penurun LDL yang terbukti menurunkan risiko serangan jantung dan stroke. Jenis dan takarannya ditentukan dokter sesuai target LDL Anda.

Obat Tambahan Penurun LDL

Bila target belum tercapai atau statin tidak dapat dipakai, dokter dapat menambahkan ezetimib, penghambat PCSK9, inklisiran, atau asam bempedoat.

Obat Penurun Trigliserida

Pada trigliserida tinggi yang menetap, dokter dapat mempertimbangkan fibrat atau asam lemak omega-3 jenis tertentu setelah gaya hidup dan LDL ditangani.

Kesesuaian dan ketersediaan pemeriksaan atau terapi perlu dikonfirmasi bersama tim perawatan.

Komplikasi yang Perlu Dipantau.

Penyakit Jantung Koroner

Plak di arteri koroner mengurangi aliran darah ke otot jantung dan menimbulkan nyeri dada saat beraktivitas. Dibahas di halaman Penyakit Jantung Koroner.

Serangan Jantung

Plak yang pecah memicu bekuan yang menyumbat arteri koroner secara mendadak. Dibahas di halaman Infark Miokard / Serangan Jantung.

Stroke Iskemik

Penyempitan atau sumbatan arteri leher dan otak dapat menghentikan aliran darah ke sebagian otak. Dibahas di halaman Stroke Iskemik.

Penyakit Arteri Perifer

Plak di arteri tungkai menimbulkan nyeri betis saat berjalan dan luka kaki yang sulit sembuh. Dibahas di halaman Penyakit Arteri Perifer.

Pankreatitis Akut

Trigliserida yang sangat tinggi, umumnya di atas sekitar 880 mg/dL, dapat memicu radang pankreas dengan nyeri perut hebat yang memerlukan perawatan di rumah sakit.

Apa yang Bisa Dilakukan?

  • Periksa profil lipid sejak dewasa muda dan ulangi sesuai anjuran dokter
  • Ganti gorengan dan lemak hewani dengan lauk yang dipanggang, direbus, atau dikukus
  • Perbanyak sayur, buah, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh setiap hari
  • Bergerak aktif sekitar 150 menit per minggu, misalnya jalan cepat atau bersepeda
  • Berhenti merokok dan batasi minuman beralkohol
  • Jaga berat badan dan lingkar perut dalam batas sehat
  • Bila keluarga dekat memiliki kolesterol sangat tinggi, periksakan juga anggota keluarga lain, termasuk anak

Kapan Harus ke Dokter?

Karena dislipidemia jarang menimbulkan keluhan, periksakan profil lipid walaupun Anda merasa sehat. Bila sudah memakai obat, kontrol sesuai jadwal untuk menilai apakah target LDL tercapai. Segera ke IGD bila muncul nyeri dada, tanda stroke, atau nyeri perut hebat.

  • Belum pernah memeriksa kolesterol, atau pemeriksaan terakhir sudah lama
  • Memiliki diabetes, hipertensi, obesitas, atau penyakit ginjal
  • Ada keluarga dekat dengan kolesterol sangat tinggi atau serangan jantung dini
  • Muncul bercak atau benjolan kekuningan di kelopak mata atau tendon
  • Nyeri otot, lemas, atau urine berwarna gelap saat minum obat kolesterol
  • Pernah mengalami serangan jantung, pasang ring, atau stroke

Jangan Menunggu bila Kondisinya Darurat.

Bila keluhan terasa berat atau muncul mendadak, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258, bukan menunggu janji temu.

Hal yang Mungkin Anda Tanyakan.

Pertanyaan yang sering diajukan tentang dislipidemia dan kolesterol tinggi.

Berapa kadar kolesterol LDL yang dianggap normal?

Tidak ada satu angka yang berlaku untuk semua orang. Pedoman ESC/EAS memakai target sesuai tingkat risiko: di bawah 116 mg/dL untuk risiko rendah, di bawah 100 mg/dL untuk risiko sedang, di bawah 70 mg/dL untuk risiko tinggi, dan di bawah 55 mg/dL untuk risiko sangat tinggi, misalnya setelah serangan jantung. Dokter menentukan kelompok risiko Anda dari kondisi kesehatan secara keseluruhan.

Apakah harus puasa sebelum tes kolesterol?

Umumnya tidak wajib. Pedoman ESC/EAS menyatakan sampel darah tanpa puasa dapat dipakai untuk pemeriksaan rutin, karena kadar LDL dan HDL hampir tidak berubah setelah makan. Trigliserida memang naik sedikit setelah makan. Bila trigliserida Anda tinggi atau dokter memerlukan hasil yang lebih teliti, Anda dapat diminta berpuasa semalam sebelum pengambilan darah. Ikuti petunjuk dari dokter atau laboratorium.

Apakah obat kolesterol harus diminum seumur hidup?

Pada banyak orang, ya. Statin dan obat penurun LDL lain bekerja selama diminum; bila dihentikan, kadar LDL biasanya kembali naik dalam beberapa minggu. Perlindungan terhadap serangan jantung dan stroke bertambah seiring lamanya LDL terjaga rendah. Jangan menghentikan atau mengurangi obat sendiri. Bila ada keluhan efek samping, diskusikan dengan dokter agar dapat dicari jenis atau kombinasi obat yang lebih sesuai.

Apakah statin merusak hati atau ginjal?

Statin umumnya aman untuk jangka panjang. Kenaikan ringan enzim hati dapat terjadi, tetapi kerusakan hati yang berat sangat jarang. Statin tidak merusak ginjal. Keluhan yang lebih sering adalah nyeri otot, dan banyak di antaranya ternyata tidak disebabkan statin. Bila perlu, dokter memeriksa enzim hati dan kreatin kinase, lalu menyesuaikan jenis atau takaran obat.

Apakah orang bertubuh kurus bisa memiliki kolesterol tinggi?

Bisa. Kadar kolesterol dipengaruhi faktor keturunan, bukan hanya berat badan dan pola makan. Pada hiperkolesterolemia familial, LDL sudah tinggi sejak anak-anak walaupun tubuh langsing dan pola makan baik. Karena itu, setiap orang dewasa dianjurkan memeriksa profil lipid, terutama bila ada keluarga dekat dengan kolesterol sangat tinggi atau serangan jantung pada usia muda.

Apakah suplemen atau obat herbal dapat menggantikan obat kolesterol?

Tidak. Pembaruan pedoman ESC/EAS 2025 tidak menganjurkan suplemen atau vitamin yang belum terbukti aman dan belum terbukti menurunkan LDL untuk mengurangi risiko penyakit jantung. Sebagian produk juga dapat berinteraksi dengan obat. Pola makan sehat tetap menjadi dasar perawatan. Bila ingin memakai suplemen, diskusikan dulu dengan dokter dan jangan menghentikan obat yang sudah diresepkan.

Sumber dan Tinjauan Medis

Ditinjau secara medis oleh Dr. med. dr. Denio A. Ridjab, Sp.JP(K).

  1. Mach F, Baigent C, Catapano AL, Koskinas KC, Casula M, Badimon L, et al. 2019 ESC/EAS Guidelines for the management of dyslipidaemias: lipid modification to reduce cardiovascular risk. Eur Heart J. 2020;41(1):111-188.
  2. Mach F, Koskinas KC, Roeters van Lennep JE, Tokgözoğlu L, Badimon L, Baigent C, et al. 2025 Focused Update of the 2019 ESC/EAS Guidelines for the management of dyslipidaemias. Eur Heart J. 2025.
  3. Visseren FLJ, Mach F, Smulders YM, Carballo D, Koskinas KC, Bäck M, et al. 2021 ESC Guidelines on cardiovascular disease prevention in clinical practice. Eur Heart J. 2021;42(34):3227-3337.
  4. Grundy SM, Stone NJ, Bailey AL, Beam C, Birtcher KK, Blumenthal RS, et al. 2018 AHA/ACC/AACVPR/AAPA/ABC/ACPM/ADA/AGS/APhA/ASPC/NLA/PCNA Guideline on the Management of Blood Cholesterol: A Report of the American College of Cardiology/American Heart Association Task Force on Clinical Practice Guidelines. Circulation. 2019;139(25):e1082-e1143.
  5. Kronenberg F, Mora S, Stroes ESG, Ference BA, Arsenault BJ, Berglund L, et al. Lipoprotein(a) in atherosclerotic cardiovascular disease and aortic stenosis: a European Atherosclerosis Society consensus statement. Eur Heart J. 2022;43(39):3925-3946.

Langkah berikutnya

Bahas Keluhan Anda bersama Dokter.

Mulai konsultasi untuk memahami kondisi dan pilihan penanganan yang sesuai.

Konteks kunjungan: Dislipidemia

Informasi di halaman ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi, diagnosis, atau pengobatan medis. Untuk keluhan kesehatan Anda, konsultasikan langsung dengan dokter.

Kembali ke Semua Kondisi