Jawaban singkat
Apa Itu Emboli Paru?
Emboli paru adalah sumbatan pada arteri paru, umumnya oleh bekuan darah yang terlepas dari vena tungkai. Keadaan ini darurat: sesak napas mendadak, nyeri dada saat menarik napas, atau pingsan perlu langsung ditangani di IGD.
Sumber informasi01 / Memahami kondisi
Mengenal Emboli Paru
Emboli paru adalah sumbatan pada arteri paru, yaitu pembuluh yang membawa darah dari jantung kanan ke paru untuk mengambil oksigen. Pada sebagian besar kasus, sumbatan berasal dari bekuan darah yang terbentuk di vena dalam tungkai atau panggul, lalu terlepas dan terbawa aliran darah melewati jantung. Sumbatan juga dapat berasal dari lemak, udara, atau cairan ketuban, tetapi jauh lebih jarang. Karena berasal dari proses yang sama, dokter menyebut emboli paru dan trombosis vena dalam sebagai tromboemboli vena. Bekuan di tungkai dibahas di halaman Trombosis Vena Dalam.
Apa yang Terjadi pada Paru dan Jantung
Bagian paru di belakang sumbatan menerima lebih sedikit darah, sehingga kadar oksigen dalam darah dapat turun. Jantung kanan harus memompa lebih keras untuk mendorong darah melewati pembuluh yang tersumbat. Bekuan kecil dapat menimbulkan keluhan ringan, sedangkan bekuan besar dapat membuat bilik kanan kewalahan, tekanan darah turun, dan penderita pingsan. Bila sebagian jaringan paru kekurangan aliran darah, dapat timbul nyeri dada saat menarik napas dan batuk darah.
Tingkat Risiko Menentukan Penanganan
Pedoman ESC 2019 membagi emboli paru menurut risikonya. Risiko tinggi berarti tekanan darah turun atau terjadi syok, sehingga bekuan perlu segera dihancurkan. Risiko menengah berarti tekanan darah masih normal, tetapi jantung kanan tampak terbebani atau penanda kerusakan jantung meningkat; pasien ini dipantau ketat karena keadaannya dapat memburuk. Risiko rendah berarti keadaan stabil tanpa beban jantung kanan, dan sebagian pasien dapat pulang lebih awal dengan obat tablet.
Pengobatan dan Pemulihan
Obat antikoagulan (pengencer darah) dimulai sesegera mungkin, bahkan sebelum diagnosis dipastikan bila kecurigaan dokter tinggi, lalu dilanjutkan minimal tiga bulan. Obat pelarut bekuan, tindakan lewat kateter, atau operasi disiapkan untuk keadaan berat. Banyak orang pulih dengan baik, tetapi sebagian masih sesak atau mudah lelah setelah beberapa bulan. Karena itu, kontrol sekitar tiga sampai enam bulan setelah emboli paru dianjurkan untuk menilai keluhan yang tersisa dan menentukan lama pengobatan. Sumbatan yang menetap dibahas di halaman Hipertensi Pulmonal Tromboemboli Kronis.
02 / Memahami kondisi
Gejala yang Perlu Dikenali.
Gejala Umum
- Sesak napas yang muncul tiba-tiba atau memberat dalam beberapa hari
- Nyeri dada tajam yang bertambah saat menarik napas atau batuk
- Jantung berdebar atau denyut nadi cepat
- Batuk, kadang dengan dahak bercampur darah
- Pusing, terasa melayang, atau pingsan
- Bengkak dan nyeri di satu tungkai, tanda bekuan di vena tungkai
- Keringat dingin dan rasa cemas tanpa sebab jelas
Gejala pada Lansia
Pada usia lanjut, emboli paru dapat muncul tanpa nyeri dada yang khas, sehingga mudah dikira kelelahan atau penyakit paru lain.
- Sesak napas baru atau bertambah tanpa sebab jelas
- Pingsan atau jatuh tiba-tiba
- Bingung atau lemas yang muncul mendadak
- Napas cepat dan denyut nadi cepat saat istirahat
Gejala pada Perempuan Dewasa
Risiko bekuan meningkat saat hamil sampai sekitar enam minggu setelah melahirkan. Sesak ringan biasa saat hamil, tetapi sesak mendadak perlu diperiksa.
- Sesak napas yang muncul tiba-tiba saat hamil atau setelah melahirkan
- Nyeri dada saat menarik napas pada masa kehamilan atau nifas
- Bengkak dan nyeri di satu tungkai saat hamil atau setelah operasi caesar
- Jantung berdebar disertai pusing pada minggu-minggu setelah melahirkan
03 / Memahami kondisi
Apa yang Menyebabkan Kondisi Ini?
- Bekuan darah dari vena dalam tungkai atau panggul yang terlepas, yang dibahas di halaman Trombosis Vena Dalam
- Bekuan di vena lengan atau vena besar dada, sering berkaitan dengan kateter atau alat yang terpasang di dalam vena
- Butiran lemak yang masuk ke aliran darah setelah patah tulang panjang, misalnya tulang paha
- Gelembung udara yang masuk ke pembuluh darah, misalnya saat tindakan medis atau penyelaman
- Cairan ketuban yang masuk ke aliran darah saat persalinan; keadaan ini sangat jarang
- Pada sebagian orang, bekuan muncul tanpa pemicu yang jelas dan perlu ditelusuri dokter
04 / Memahami kondisi
Siapa yang Lebih Berisiko?
Medis
Operasi besar, rawat inap, patah tulang tungkai, kanker dan kemoterapi, gagal jantung, infeksi berat termasuk COVID-19, sindrom antifosfolipid, serta riwayat trombosis vena dalam atau emboli paru sebelumnya.
Gaya Hidup
Duduk lama tanpa bergerak, misalnya dalam perjalanan lebih dari empat jam, kurang aktif, berat badan berlebih, dan merokok.
Genetik
Kelainan pembekuan darah bawaan, seperti faktor V Leiden, mutasi gen protrombin, atau kekurangan protein C, protein S, dan antitrombin, serta riwayat bekuan darah pada keluarga dekat.
Usia
Risiko meningkat seiring bertambahnya usia, terutama pada usia lanjut yang disertai penyakit lain, operasi, atau berkurangnya gerak.
Lainnya
Kehamilan sampai sekitar enam minggu setelah melahirkan, pil KB atau terapi hormon yang mengandung estrogen, serta kateter atau alat yang terpasang di vena besar.
Kelompok yang Lebih Berisiko
- Pasien Pascaoperasi dan Rawat Inap: Operasi besar, terutama tulang pinggul dan lutut, serta tirah baring memperlambat aliran darah vena. Dokter menilai kebutuhan obat atau alat pencegah bekuan selama dan setelah perawatan.
- Orang dengan Bekuan di Vena Tungkai: Bekuan di vena paha dan panggul dapat terlepas ke paru, terutama sebelum pengobatan dimulai. Bengkak dan nyeri di satu tungkai perlu diperiksa pada hari yang sama.
- Penyandang Kanker: Kanker dan sebagian terapinya membuat darah lebih mudah membeku. Emboli paru kadang ditemukan pada CT pemantauan kanker walau tanpa keluhan.
- Perempuan Hamil dan Masa Nifas: Risiko bekuan meningkat selama kehamilan sampai sekitar enam minggu setelah melahirkan, terutama setelah operasi caesar.
- Lansia: Risiko bekuan naik seiring usia, sementara gejalanya sering samar, misalnya hanya lemas, bingung, atau pingsan.
05 / Memahami kondisi
Bagaimana Diagnosis Ditegakkan?
Gejala emboli paru mirip dengan serangan jantung, pneumonia, atau serangan panik, sehingga dokter memakai alur pemeriksaan yang bertahap. Langkah pertama adalah menilai apakah tekanan darah stabil. Bila tekanan darah sangat rendah, ekokardiografi di samping tempat tidur dapat memperlihatkan beban jantung kanan dan membantu keputusan pengobatan segera, lalu CT angiografi paru dikerjakan begitu keadaan memungkinkan.
Pada pasien yang stabil, dokter menghitung kemungkinan klinis dengan skor Wells atau Geneva. Bila kemungkinannya rendah atau sedang, tes D-dimer dikerjakan; hasil normal dapat menyingkirkan emboli paru. Bila kemungkinannya tinggi atau D-dimer meningkat, CT angiografi paru menjadi pemeriksaan utama untuk melihat bekuan secara langsung. Pemindaian ventilasi-perfusi menjadi pilihan saat hamil, pada gangguan ginjal, atau bila ada alergi kontras. Setelah diagnosis pasti, dokter menilai tingkat risiko dari ukuran bilik kanan pada ekokardiografi atau CT, tes troponin dan NT-proBNP, serta skor klinis, karena hasilnya menentukan tempat perawatan dan jenis pengobatan. Pada kehamilan, alur diagnosis disesuaikan agar paparan radiasi sekecil mungkin.
Pemeriksaan Fisik
Menilai tekanan darah, denyut nadi, kadar oksigen, dan tanda bekuan di tungkai, lalu menghitung kemungkinan klinis emboli paru dengan skor Wells atau Geneva.
Tes D-dimer
Pada kemungkinan klinis rendah atau sedang, hasil normal dapat menyingkirkan emboli paru. Batasnya disesuaikan usia di atas 50 tahun; hasil tinggi perlu dilanjutkan pencitraan.
CT angiografi paru: CT scan dada dengan zat kontras lewat infus untuk melihat bekuan di arteri paru secara langsung; pemeriksaan utama pada sebagian besar pasien.
Pemindaian Ventilasi-Perfusi
Pilihan tanpa kontras yodium, misalnya saat hamil, pada gangguan ginjal, atau alergi kontras. Juga dipakai untuk mencari sisa sumbatan bila sesak menetap.
Ekokardiografi
Menilai ukuran dan beban bilik kanan. Pada pasien dengan tekanan darah sangat rendah, dapat dikerjakan di samping tempat tidur sebelum CT.
Penanda Biomarker Jantung
Troponin dan NT-proBNP membantu menilai tekanan pada jantung kanan dan menentukan tingkat risiko emboli paru.
USG Dupleks
Mencari bekuan di vena tungkai. Bila ditemukan pada pasien dengan gejala emboli paru, hasil ini mendukung diagnosis, termasuk saat hamil.
06 / Memahami kondisi
Pilihan Penanganan.
Penanganan ditentukan dokter setelah evaluasi. Kategori berikut membantu Anda memahami pembicaraan dengan dokter.
Obat Antikoagulan
Suntikan heparin atau tablet antikoagulan oral langsung, kadang warfarin, minimal tiga bulan. Jenis dan lamanya ditentukan dokter. Dibahas di halaman Terapi Antikoagulan dan Pencegahan Stroke.
Trombolisis Sistemik
Obat pelarut bekuan lewat infus untuk emboli paru risiko tinggi dengan tekanan darah turun. Tidak dipakai rutin pada risiko menengah, kecuali keadaan memburuk.
Tindakan Kateter
Mengangkat atau melarutkan bekuan langsung di arteri paru lewat kateter, bila obat pelarut bekuan tidak dapat diberikan atau tidak berhasil. Dibahas di halaman Trombektomi.
Embolektomi Bedah
Operasi untuk mengangkat bekuan dari arteri paru pada keadaan berat tertentu, misalnya bila tindakan lain tidak memungkinkan.
Oksigen dan Penunjang Sirkulasi
Oksigen tambahan, pengaturan cairan yang hati-hati, obat penunjang tekanan darah, dan pada keadaan sangat berat alat bantu jantung-paru sementara.
Filter Vena Cava
Saringan di vena besar perut, hanya bila antikoagulan tidak dapat diberikan, dan diangkat kembali bila memungkinkan. Dibahas di halaman Penempatan Filter Vena Cava.
Rawat Jalan Lebih Awal pada Risiko Rendah
Pasien risiko rendah terpilih dapat pulang lebih cepat dengan obat tablet, bila keadaan rumah mendukung dan kontrol dapat dilakukan teratur.
07 / Memahami kondisi
Komplikasi yang Perlu Dipantau.
Gagal Jantung Kanan Akut
Bilik kanan tidak sanggup memompa melawan sumbatan besar, sehingga tekanan darah turun. Keadaan ini memerlukan perawatan intensif dan pengobatan untuk menghancurkan bekuan.
Henti Jantung
Pada emboli paru yang sangat luas, jantung dapat berhenti berdenyut. Pertolongan bantuan hidup dasar dan obat pelarut bekuan menjadi bagian dari penanganan darurat.
Infark Paru
Sebagian kecil jaringan paru rusak karena kekurangan aliran darah, menimbulkan nyeri saat menarik napas dan batuk darah. Umumnya membaik bersama pengobatan.
Emboli Paru Berulang
Bekuan dapat muncul lagi, terutama bila obat dihentikan terlalu cepat atau pemicunya menetap. Lama pengobatan ditentukan dokter untuk setiap orang.
Hipertensi Pulmonal Tromboemboli Kronis
Pada sebagian kecil orang, sisa bekuan menyumbat arteri paru secara menahun dan menaikkan tekanan paru. Dibahas di halaman Hipertensi Pulmonal Tromboemboli Kronis.
Sesak dan Lelah yang Menetap
Sebagian orang masih sesak atau mudah lelah berbulan-bulan setelah emboli paru. Kontrol tiga sampai enam bulan membantu mencari penyebab dan merencanakan latihan.
Perdarahan karena Pengobatan
Obat pengencer darah dan obat pelarut bekuan menaikkan risiko perdarahan. Dokter menimbang manfaat dan risikonya, dan Anda perlu melaporkan setiap tanda perdarahan.
08 / Memahami kondisi
Apa yang Bisa Dilakukan?
- Bergerak dan berjalan sesegera mungkin setelah operasi atau sakit, sesuai arahan tim medis.
- Bila akan operasi besar atau dirawat, tanyakan kepada dokter perlu tidaknya obat atau alat pencegah bekuan.
- Saat perjalanan lebih dari empat jam, berdiri dan berjalan berkala serta gerakkan pergelangan kaki.
- Periksakan bengkak dan nyeri di satu tungkai pada hari yang sama, agar bekuan diobati sebelum terlepas ke paru.
- Bila sedang diobati karena bekuan, minum antikoagulan sesuai jadwal dan jangan menghentikannya sendiri.
- Jaga berat badan sehat dan berhenti merokok.
- Diskusikan risiko bekuan dengan dokter sebelum memakai pil KB atau terapi hormon, terutama bila pernah ada bekuan.
09 / Memahami kondisi
Kapan Harus ke Dokter?
Emboli paru adalah keadaan darurat. Segera ke IGD atau hubungi layanan gawat darurat bila muncul sesak napas mendadak, nyeri dada saat menarik napas, batuk darah, atau pingsan, terutama bila Anda baru menjalani operasi, dirawat, menempuh perjalanan jauh, sedang hamil, atau baru melahirkan. Jangan menyetir sendiri ke rumah sakit.
- Sesak napas mendadak atau nyeri dada: langsung ke IGD
- Bengkak dan nyeri di satu tungkai: periksakan pada hari yang sama
- Sesak atau mudah lelah yang menetap tiga bulan setelah emboli paru
- Tanda perdarahan saat memakai antikoagulan, seperti tinja hitam, urine kemerahan, atau mimisan berulang
- Rencana operasi, kehamilan, atau perjalanan jauh setelah pernah mengalami emboli paru
10 / Pertanyaan umum
Hal yang Mungkin Anda Tanyakan.
Pertanyaan yang sering diajukan tentang emboli paru.
Apakah emboli paru bisa sembuh total?
Banyak orang pulih dengan baik setelah pengobatan. Obat pengencer darah mencegah bekuan membesar, sementara tubuh perlahan meluruhkan bekuan dalam beberapa minggu sampai bulan. Sebagian orang masih sesak atau mudah lelah setelah beberapa bulan, dan sebagian kecil mengalami sumbatan menetap yang menaikkan tekanan paru. Karena itu, dokter menganjurkan kontrol sekitar tiga sampai enam bulan setelah emboli paru untuk menilai keluhan dan, bila perlu, memeriksa ulang paru dan jantung.
Berapa lama saya perlu memakai obat pengencer darah?
Umumnya minimal tiga bulan. Bila emboli paru dipicu hal sementara yang jelas, seperti operasi besar atau patah tulang, obat sering dapat dihentikan setelah masa itu. Bila emboli muncul tanpa pemicu jelas, berulang, atau pemicunya menetap seperti kanker, dokter dapat menganjurkan pengobatan lebih lama dengan menimbang risiko perdarahan. Jangan menghentikan atau mengganti obat sendiri, dan beri tahu dokter lain atau dokter gigi bahwa Anda memakai antikoagulan.
Apa bedanya emboli paru dengan serangan jantung?
Serangan jantung terjadi karena arteri koroner yang memberi darah ke otot jantung tersumbat, sedangkan emboli paru terjadi karena arteri paru tersumbat bekuan. Keduanya dapat menimbulkan nyeri dada, sesak, dan pingsan, sehingga sulit dibedakan dari gejala saja. Nyeri emboli paru sering terasa tajam dan memberat saat menarik napas. Apa pun dugaannya, nyeri dada dan sesak mendadak perlu langsung diperiksa di IGD. Serangan jantung dibahas di halaman Infark Miokard / Serangan Jantung.
Mengapa saya masih sesak beberapa minggu setelah emboli paru?
Sesak dan mudah lelah biasanya berkurang bertahap dalam beberapa minggu sampai bulan, seiring bekuan meluruh dan kondisi fisik pulih. Namun, sesak yang menetap atau memberat setelah tiga bulan perlu diperiksakan. Penyebabnya dapat berupa sisa sumbatan di arteri paru, kebugaran yang menurun, atau penyakit lain seperti gangguan jantung. Dokter dapat melakukan ekokardiografi dan pemindaian ventilasi-perfusi untuk mencari sisa sumbatan. Latihan fisik bertahap sesuai arahan dokter membantu pemulihan.
Apakah pemeriksaan emboli paru aman saat hamil?
Pemeriksaan tetap diperlukan dan dapat dilakukan dengan aman, karena emboli paru yang tidak dikenali dapat membahayakan Anda dan janin. Dokter memakai alur yang disesuaikan untuk kehamilan, misalnya USG tungkai lebih dulu bila ada keluhan di tungkai. Bila pencitraan paru diperlukan, CT angiografi paru atau pemindaian ventilasi-perfusi memberi paparan radiasi yang rendah bagi janin. Selama hamil, antikoagulan yang dipakai umumnya suntikan heparin karena tidak melewati plasenta.
Kapan saya boleh kembali beraktivitas dan bepergian?
Aktivitas ringan seperti berjalan umumnya dapat dimulai segera setelah keadaan stabil dan obat pengencer darah dipakai teratur. Tingkatkan aktivitas bertahap sesuai kemampuan dan arahan dokter. Untuk perjalanan jauh atau naik pesawat, tanyakan dulu kepada dokter, terutama pada minggu-minggu pertama. Selama perjalanan, berdiri dan berjalan berkala, gerakkan pergelangan kaki, dan cukup minum. Segera cari pertolongan bila sesak atau nyeri dada muncul lagi.
Sumber dan Tinjauan Medis
Ditinjau secara medis oleh dr. Santi R. Dewayanti, Sp.P.
- Konstantinides SV, Meyer G, Becattini C, Bueno H, Geersing GJ, Harjola VP, et al. 2019 ESC Guidelines for the diagnosis and management of acute pulmonary embolism developed in collaboration with the European Respiratory Society (ERS). Eur Heart J. 2020;41(4):543-603.
- Creager MA, Barnes GD, Giri J, Mukherjee D, Jones WS, Burnett AE, et al. 2026 AHA/ACC/ACCP/ACEP/CHEST/SCAI/SHM/SIR/SVM/SVN Guideline for the Evaluation and Management of Acute Pulmonary Embolism in Adults. J Am Coll Cardiol. 2026;87(13):1626-710.
- Lim W, Le Gal G, Bates SM, Righini M, Haramati LB, Lang E, et al. American Society of Hematology 2018 guidelines for management of venous thromboembolism: diagnosis of venous thromboembolism. Blood Adv. 2018;2(22):3226-56.
- Ortel TL, Neumann I, Ageno W, Beyth R, Clark NP, Cuker A, et al. American Society of Hematology 2020 guidelines for management of venous thromboembolism: treatment of deep vein thrombosis and pulmonary embolism. Blood Adv. 2020;4(19):4693-738.
- Klok FA, Ageno W, Ay C, Bäck M, Barco S, Bertoletti L, et al. Optimal follow-up after acute pulmonary embolism: a position paper of the European Society of Cardiology Working Group on Pulmonary Circulation and Right Ventricular Function, in collaboration with the European Society of Cardiology Working Group on Atherosclerosis and Vascular Biology, endorsed by the European Respiratory Society. Eur Heart J. 2022;43(3):183-9.
- van der Pol LM, Tromeur C, Bistervels IM, Ni Ainle F, van Bemmel T, Bertoletti L, et al. Pregnancy-Adapted YEARS Algorithm for Diagnosis of Suspected Pulmonary Embolism. N Engl J Med. 2019;380(12):1139-49.
- Kahn SR, de Wit K. Pulmonary Embolism. N Engl J Med. 2022;387(1):45-57.




