Jawaban singkat
Apa Itu Sindrom Takikardia-Bradikardia?
Sindrom takikardia-bradikardia adalah bentuk gangguan simpul sinus ketika denyut jantung bergantian antara terlalu cepat dan terlalu lambat, sering dengan jeda panjang setelah serangan berdebar yang dapat menyebabkan pusing atau pingsan.
Sumber informasiTanda yang Memerlukan Pertolongan Segera
- Pingsan, terutama bila sampai jatuh atau cedera
- Wajah mencong, lengan lemah sesisi, atau bicara pelo
- Nyeri dada berat
- Sesak napas berat atau sesak saat berbaring
- Denyut sangat lambat disertai lemas berat, bingung, atau keringat dingin
- Berdebar sangat cepat yang tidak berhenti disertai pusing berat
Bila tanda ini muncul, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258.
01 / Memahami kondisi
Mengenal Sindrom Takikardia-Bradikardia
Sindrom takikardia-bradikardia adalah salah satu bentuk sindrom sinus sakit (sick sinus syndrome), yaitu gangguan pada simpul sinus, pemacu alami jantung di serambi kanan. Pada sindrom ini, denyut jantung bergantian antara terlalu lambat (bradikardia) dan terlalu cepat (takikardia). Fase cepatnya biasanya berupa fibrilasi atrium, kadang flutter atrium atau takikardia atrium.
Jeda Panjang setelah Serangan Berdebar
Ciri khas sindrom ini muncul saat serangan denyut cepat berhenti. Simpul sinus yang lemah lambat bekerja kembali, sehingga jantung berhenti berdetak sejenak, kadang beberapa detik. Selama jeda ini aliran darah ke otak berkurang, sehingga Anda dapat merasa pusing berat, pandangan gelap, atau pingsan. Di luar serangan, denyut jantung sering terlalu lambat dan tidak naik cukup saat beraktivitas, sehingga Anda cepat lelah.
Keluhan sindrom ini datang dan pergi, sehingga EKG yang direkam sekali sering tampak normal. Banyak orang baru terdiagnosis setelah pingsan, jatuh, atau setelah irama jantungnya direkam selama beberapa hari. Setelah penanganan berjalan, banyak penyandang dapat kembali beraktivitas sehari-hari.
Mengapa Terjadi
Penyebab utamanya adalah perubahan jaringan simpul sinus dan serambi seiring usia, berupa jaringan ikat yang menggantikan sel pemacu. Karena itu sindrom ini lebih sering ditemukan pada lansia. Fibrilasi atrium yang berlangsung lama juga dapat melemahkan simpul sinus, dan sebaliknya. Penyakit jantung, riwayat operasi jantung, tiroid yang kurang aktif, gangguan elektrolit, dan sleep apnea dapat ikut berperan. Obat yang memperlambat denyut dapat membuat jeda lebih panjang.
Penanganan yang Seimbang
Obat untuk memperlambat denyut saat serangan cepat dapat membuat denyut lambat dan jeda menjadi lebih berat. Karena itu banyak pasien membutuhkan pacemaker, alat pacu jantung yang menjaga denyut tidak terlalu lambat, sehingga obat pengendali denyut cepat dapat dipakai dengan aman. Pada sebagian pasien, ablasi fibrilasi atrium dapat mengurangi jeda sehingga pemasangan pacemaker dapat dihindari. Fibrilasi atrium yang menyertai juga meningkatkan risiko stroke, sehingga dokter menilai perlunya obat pencegah bekuan.
Gambaran denyut lambat dibahas di halaman Bradikardia, sedangkan fase cepatnya dibahas di halaman Fibrilasi Atrium.
02 / Memahami kondisi
Gejala yang Perlu Dikenali.
Gejala Umum
- Pusing berat atau pandangan gelap saat serangan berdebar berhenti
- Pingsan atau hampir pingsan
- Berdebar cepat yang bergantian dengan denyut terasa lambat
- Lemas dan cepat lelah, terutama saat beraktivitas
- Sesak napas saat beraktivitas ringan
- Bingung atau sulit berkonsentrasi sesaat
03 / Memahami kondisi
Apa yang Menyebabkan Kondisi Ini?
- Perubahan jaringan simpul sinus dan serambi seiring usia
- Fibrilasi atrium yang berlangsung lama dan mengubah jaringan serambi
- Penyakit jantung seperti hipertensi lama, penyakit koroner, kardiomiopati, atau amiloidosis
- Kerusakan simpul sinus setelah operasi jantung
- Obat yang memperlambat denyut, seperti golongan penghambat beta, penghambat kanal kalsium, atau digoksin
- Kelenjar tiroid yang kurang aktif, gangguan elektrolit, atau sleep apnea
04 / Memahami kondisi
Siapa yang Lebih Berisiko?
Usia
Sindrom ini terutama ditemukan pada lansia, karena jaringan simpul sinus dan serambi berubah seiring waktu.
Medis
Fibrilasi atrium, hipertensi, penyakit jantung koroner, gagal jantung, kardiomiopati, hipotiroid, dan sleep apnea berkaitan dengan gangguan simpul sinus.
Genetik
Pada sebagian kecil orang, terutama yang berusia muda, gangguan simpul sinus terkait kelainan gen kanal ion dan dapat ditemukan pada beberapa anggota keluarga.
Lainnya
Riwayat operasi jantung yang melibatkan serambi, termasuk operasi penyakit jantung bawaan, serta pemakaian obat yang memperlambat denyut dapat memperberat sindrom ini.
Kelompok yang Lebih Berisiko
- Lansia: Sindrom ini terutama ditemukan pada usia lanjut dan sering baru dikenali setelah pingsan atau jatuh.
- Penyandang Fibrilasi Atrium: Fibrilasi atrium dan gangguan simpul sinus saling memperberat, sehingga jeda panjang dapat muncul saat serangan berhenti.
- Pengguna Obat Pengendali Denyut: Obat yang memperlambat denyut dapat memunculkan gangguan simpul sinus yang sebelumnya tidak terasa; dokter perlu meninjau obat bila muncul pusing.
- Orang yang Pernah Operasi Jantung: Operasi yang melibatkan serambi dapat merusak simpul sinus atau jaringan di sekitarnya.
05 / Memahami kondisi
Bagaimana Diagnosis Ditegakkan?
Dokter menanyakan keluhan, terutama pusing atau pingsan yang muncul setelah berdebar, serta semua obat yang Anda pakai. EKG dapat menunjukkan denyut lambat, jeda sinus, atau fibrilasi atrium, tetapi sering normal bila diambil di luar serangan. Karena itu rekaman Holter 24 sampai 48 jam atau perekam jangka panjang dipakai untuk menangkap pergantian denyut cepat dan lambat, termasuk jeda setelah serangan berhenti. Bila keluhan jarang, perekam kecil yang ditanam di bawah kulit dapat merekam irama sampai beberapa tahun.
Ekokardiografi menilai ukuran serambi, katup, dan kekuatan pompa jantung. Tes darah memeriksa tiroid dan elektrolit. Tes treadmill dapat menunjukkan apakah denyut naik cukup saat beraktivitas. Dokter juga menilai apakah keluhan membaik bila obat tertentu disesuaikan, dan menghitung risiko stroke bila ada fibrilasi atrium.
Elektrokardiogram / EKG
Dapat menunjukkan denyut lambat, jeda sinus, atau fibrilasi atrium, meski sering normal bila diambil di luar serangan.
Pemantauan Holter
Merekam irama 24 sampai 48 jam untuk menangkap pergantian denyut cepat dan lambat serta jeda setelah serangan berhenti.
Implantable Loop Recorder (ILR)
Perekam kecil di bawah kulit yang merekam irama sampai beberapa tahun, bila pingsan atau pusing jarang muncul.
Ekokardiografi
Menilai ukuran serambi, katup, dan kekuatan pompa jantung sebagai dasar memilih penanganan.
Pemeriksaan Fungsi Tiroid
Mencari kelenjar tiroid yang kurang aktif, yang dapat memperlambat denyut.
Tes Treadmill
Menilai apakah denyut naik cukup saat beraktivitas dan apakah aktivitas memicu keluhan.
06 / Memahami kondisi
Pilihan Penanganan.
Penanganan ditentukan dokter setelah evaluasi. Kategori berikut membantu Anda memahami pembicaraan dengan dokter.
Meninjau Obat yang Memperlambat Denyut
Dokter menilai apakah ada obat yang memperberat denyut lambat dan menyesuaikannya. Jangan menghentikan obat jantung sendiri tanpa berbicara dengan dokter.
Pemasangan Pacemaker
Alat pacu jantung menjaga denyut tidak turun terlalu lambat dan mencegah jeda panjang. Pedoman menganjurkan pacemaker bila denyut lambat atau jeda menimbulkan gejala.
Obat Pengendali Denyut dan Irama
Setelah pacemaker terpasang, golongan penghambat beta, penghambat kanal kalsium, atau antiaritmia dapat dipakai lebih aman untuk mengendalikan fase cepat.
Obat Pencegah Bekuan Darah
Golongan antikoagulan oral diberikan sesuai skor risiko stroke bila ada fibrilasi atau flutter atrium. Dokter menentukan jenis dan takarannya.
Ablasi Fibrilasi Atrium
Pada sebagian pasien yang jedanya hanya muncul setelah serangan fibrilasi atrium berhenti, ablasi dapat mengurangi serangan dan jeda sehingga pacemaker mungkin tidak diperlukan.
07 / Memahami kondisi
Komplikasi yang Perlu Dipantau.
Pingsan dan Cedera Akibat Jatuh
Jeda panjang dapat menyebabkan pingsan mendadak. Pada lansia, jatuh dapat menimbulkan patah tulang atau cedera kepala.
Stroke
Fibrilasi atrium yang menyertai dapat membentuk bekuan di serambi. Risikonya dinilai dengan skor risiko stroke dan dicegah dengan obat bila perlu.
Gagal Jantung
Denyut yang terlalu lambat atau terlalu cepat dalam waktu lama dapat membuat jantung tidak memompa cukup darah, sehingga muncul sesak dan bengkak.
Fibrilasi Atrium Menetap
Seiring waktu, serangan fibrilasi atrium dapat menjadi lebih sering dan lebih lama sampai akhirnya menetap.
08 / Memahami kondisi
Apa yang Bisa Dilakukan?
- Bawa daftar semua obat Anda setiap kali kontrol ke dokter
- Jangan menambah atau menghentikan obat jantung tanpa berbicara dengan dokter
- Kendalikan tekanan darah, berat badan, dan kebiasaan minum alkohol
- Periksakan diri bila Anda mendengkur keras dan sering mengantuk di siang hari
- Segera duduk atau berbaring bila tiba-tiba merasa pusing berat
- Hindari menyetir atau bekerja di ketinggian sampai dokter menilai risiko pingsan Anda
- Kontrol pacemaker sesuai jadwal bila alat sudah terpasang
09 / Memahami kondisi
Kapan Harus ke Dokter?
Buat janji dengan dokter bila Anda sering pusing, hampir pingsan, atau cepat lelah, terutama bila keluhan muncul setelah berdebar atau saat denyut terasa lambat. Bawa catatan keluhan dan daftar obat Anda. Segera ke IGD bila muncul tanda bahaya.
- Pusing berat atau pandangan gelap setelah serangan berdebar berhenti
- Denyut nadi istirahat sering di bawah 50 kali per menit disertai lemas
- Berdebar cepat yang bergantian dengan denyut lambat
- Pusing setelah mulai atau menambah obat jantung
- Pingsan, nyeri dada, sesak berat, atau tanda stroke: segera ke IGD
Jangan Menunggu bila Kondisinya Darurat.
Bila keluhan terasa berat atau muncul mendadak, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258, bukan menunggu janji temu.
10 / Pertanyaan umum
Hal yang Mungkin Anda Tanyakan.
Pertanyaan yang sering diajukan tentang sindrom takikardia-bradikardia.
Apa bedanya sindrom takikardia-bradikardia dengan fibrilasi atrium biasa?
Pada fibrilasi atrium biasa, masalah utamanya adalah denyut cepat dan tidak teratur. Pada sindrom takikardia-bradikardia, simpul sinus juga lemah, sehingga di luar serangan denyut terlalu lambat dan setelah serangan berhenti dapat muncul jeda panjang. Karena itu penanganannya perlu menyeimbangkan keduanya, dan sering membutuhkan pacemaker agar obat pengendali denyut cepat aman dipakai.
Apakah saya pasti membutuhkan pacemaker?
Tidak selalu. Pacemaker dianjurkan bila denyut lambat atau jeda panjang menimbulkan gejala seperti pusing atau pingsan, atau bila obat yang dibutuhkan untuk fase cepat membuat denyut terlalu lambat. Pada sebagian pasien, ablasi fibrilasi atrium dapat mengurangi jeda sehingga pacemaker tidak diperlukan. Dokter akan menimbang pilihan ini bersama Anda berdasarkan hasil rekaman irama.
Apakah pacemaker juga mengatasi denyut cepat?
Pacemaker terutama mencegah denyut terlalu lambat dan jeda panjang. Alat ini tidak menghentikan fibrilasi atrium. Namun, dengan pacemaker terpasang, dokter dapat memberikan obat pengendali denyut cepat dengan lebih aman. Pacemaker juga merekam serangan fibrilasi atrium sehingga membantu dokter memantau kondisi Anda dan menilai perlunya obat pencegah bekuan.
Apakah sindrom ini meningkatkan risiko stroke?
Ya, terutama karena fibrilasi atrium yang menyertainya. Darah yang kurang terpompa di serambi dapat membentuk bekuan yang terbawa ke otak. Dokter menghitung risiko stroke Anda dengan skor yang sama seperti pada fibrilasi atrium, lalu menentukan perlu tidaknya obat pencegah bekuan. Pemasangan pacemaker tidak menggantikan obat pencegah bekuan.
Bolehkah saya menyetir bila punya sindrom ini?
Bila Anda pernah pingsan atau hampir pingsan, hindari menyetir sampai dokter menilai penyebabnya dan penanganannya berjalan. Setelah pacemaker terpasang dan keluhan terkendali, banyak orang dapat kembali menyetir setelah jangka waktu tertentu sesuai anjuran dokter. Aturan ini penting untuk keselamatan Anda dan orang lain di jalan.
Sumber dan Tinjauan Medis
Ditinjau secara medis oleh Dr. dr. Faris Basalamah, Sp.JP(K).
- Glikson M, Nielsen JC, Kronborg MB, et al. 2021 ESC Guidelines on cardiac pacing and cardiac resynchronization therapy. Eur Heart J. 2021;42(35):3427-3520.
- Kusumoto FM, Schoenfeld MH, Barrett C, et al. 2018 ACC/AHA/HRS Guideline on the Evaluation and Management of Patients With Bradycardia and Cardiac Conduction Delay: A Report of the American College of Cardiology/American Heart Association Task Force on Clinical Practice Guidelines and the Heart Rhythm Society. Circulation. 2019;140(8):e382-e482.
- Van Gelder IC, Rienstra M, Bunting KV, et al. 2024 ESC Guidelines for the management of atrial fibrillation developed in collaboration with the European Association for Cardio-Thoracic Surgery (EACTS). Eur Heart J. 2024;45(36):3314-3414.
- De Ponti R, Marazzato J, Bagliani G, Leonelli FM, Padeletti L. Sick Sinus Syndrome. Card Electrophysiol Clin. 2018;10(2):183-195.
- Jackson LR 2nd, Rathakrishnan B, Campbell K, et al. Sinus Node Dysfunction and Atrial Fibrillation: A Reversible Phenomenon? Pacing Clin Electrophysiol. 2017;40(4):442-450.




