Langsung ke konten

Hipotensi

Hipotensi Ortostatik

Orthostatic Hypotension / Postural Hypotension

Ditinjau secara medis olehdr. Debby C. Soemitha, Sp.PD, Spesialis Penyakit Dalam
Terakhir diperbarui7 Oktober 2026
Ilustrasi medis hipotensi ortostatik memperlihatkan seseorang bangkit dari kursi dengan jantung, aorta, dan vena tungkai terlihat, darah berkumpul di kaki, aliran darah ke otak berkurang, serta inset pengukur tekanan darah yang menurun dan otak dengan suplai darah lebih sedikit.
Ilustrasi Hipotensi Ortostatik

Jawaban singkat

Apa Itu Hipotensi Ortostatik?

Hipotensi ortostatik adalah turunnya tekanan darah saat Anda berdiri: tekanan atas turun 20 mmHg atau lebih, atau tekanan bawah turun 10 mmHg atau lebih, dalam tiga menit. Akibatnya kepala terasa ringan sampai pingsan.

Sumber informasi

Tanda yang Memerlukan Pertolongan Segera

  • Pingsan disertai nyeri dada, sesak napas, atau jantung berdebar
  • Pingsan yang menyebabkan cedera kepala atau tidak segera sadar
  • Bicara pelo, wajah mencong, atau lengan dan tungkai lemah sebelah
  • Tinja hitam, muntah darah, atau perdarahan lain
  • Muntah atau diare terus-menerus sehingga tidak bisa minum

Bila tanda ini muncul, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258.

Catatan kegawatan: Hipotensi ortostatik perlu diperiksa karena dapat menyebabkan jatuh dan pingsan, terutama pada lansia, dan kadang menjadi tanda awal gangguan saraf otonom atau efek obat. Penyebabnya umumnya dapat dikenali dan keluhannya dapat dikurangi.

Mengenal Hipotensi Ortostatik

Saat Anda berdiri, sekitar setengah sampai satu liter darah turun ke tungkai dan perut karena gravitasi. Pada orang sehat, saraf otonom segera menyempitkan pembuluh darah dan sedikit mempercepat denyut jantung, sehingga tekanan darah tetap terjaga dan otak tetap mendapat cukup darah. Pada hipotensi ortostatik, penyesuaian ini terlambat atau tidak cukup. Tekanan darah turun dan aliran darah ke otak berkurang sesaat.

Dokter menyebutnya hipotensi ortostatik bila dalam tiga menit setelah berdiri tekanan sistolik turun 20 mmHg atau lebih, atau tekanan diastolik turun 10 mmHg atau lebih. Pada sebagian orang penurunan baru muncul setelah lebih dari tiga menit. Pada orang lain, tekanan turun sangat cepat dalam detik-detik pertama setelah berdiri lalu pulih sendiri.

Dua Kelompok Penyebab

Kelompok pertama adalah hipotensi ortostatik non-neurogenik: saraf otonom masih sehat, tetapi tubuh kekurangan cairan, kehilangan darah, atau terpengaruh obat yang melebarkan pembuluh darah dan mengeluarkan cairan. Jenis ini sering membaik setelah penyebabnya diperbaiki. Kelompok kedua adalah hipotensi ortostatik neurogenik, yaitu saraf otonom sendiri rusak, misalnya pada diabetes lama, penyakit Parkinson, atrofi sistem multipel, atau amiloidosis. Pada jenis ini denyut jantung hampir tidak naik saat berdiri, dan sebagian penyandangnya justru memiliki tekanan darah tinggi saat berbaring.

Mengapa Perlu Diperhatikan

Hipotensi ortostatik banyak dialami lansia. Keluhannya cenderung lebih berat di pagi hari, setelah makan, saat cuaca panas, setelah mandi air hangat, dan setelah berbaring lama. Penelitian menunjukkan hipotensi ortostatik berkaitan dengan risiko jatuh, pingsan, serta penyakit jantung dan stroke di kemudian hari. Karena itu, pusing saat berdiri yang terjadi berulang layak diceritakan ke dokter, bukan dianggap hal biasa karena usia.

Keluhannya juga tidak selalu berupa pusing. Sebagian orang merasakan pegal di tengkuk dan bahu, lemas, pandangan kabur, atau sulit berpikir saat berdiri lama, lalu membaik setelah duduk. Pola keluhan yang muncul saat berdiri dan mereda saat duduk atau berbaring adalah petunjuk penting bagi dokter.

Penanganannya bertahap: mencari dan memperbaiki penyebab, meninjau obat, mengubah kebiasaan sehari-hari, dan bila masih perlu, obat dari dokter. Hipotensi ortostatik adalah salah satu jenis hipotensi, yang dibahas di halaman Hipotensi.

Gejala yang Perlu Dikenali.

Gejala Umum

  • Pusing atau kepala terasa ringan dalam beberapa detik sampai menit setelah berdiri
  • Pandangan kabur, gelap, atau berkunang-kunang saat bangun
  • Lemas, goyah, atau merasa akan jatuh
  • Keluhan mereda setelah duduk atau berbaring kembali
  • Nyeri atau pegal di tengkuk dan bahu saat berdiri
  • Sulit berkonsentrasi saat berdiri lama
  • Hampir pingsan atau pingsan sesaat

Gejala pada Lansia

Pada lansia, keluhan bisa samar dan sering dikira faktor usia.

  • Jatuh tanpa ingat sebabnya
  • Lemas atau bingung sesaat setelah bangun tidur
  • Keluhan lebih berat di pagi hari dan setelah makan
  • Kaki terasa lemah atau berat saat mulai berjalan
  • Pandangan kabur saat berdiri dari toilet atau kursi
Tidak semua orang mengalami gejala yang sama. Bila keluhan berulang atau memburuk, periksakan diri.

Apa yang Menyebabkan Kondisi Ini?

  • Kekurangan cairan karena diare, muntah, demam, keringat berlebih, atau kurang minum
  • Obat penurun tekanan darah, diuretik, nitrat, obat prostat golongan alfa-bloker, dan sebagian antidepresan
  • Kerusakan saraf otonom akibat diabetes lama (neuropati otonom)
  • Penyakit saraf seperti Parkinson, atrofi sistem multipel, dan demensia badan Lewy
  • Berbaring lama di tempat tidur sehingga refleks pengatur tekanan darah melemah
  • Anemia, perdarahan, atau gangguan hormon kelenjar adrenal
  • Penyakit jantung yang membatasi aliran darah, seperti penyempitan katup aorta berat

Siapa yang Lebih Berisiko?

Usia

Risiko meningkat setelah usia 65 tahun karena refleks baroreseptor, yaitu sensor tekanan di leher dan dada, melambat dan pembuluh darah lebih kaku.

Medis

Diabetes, penyakit Parkinson, hipertensi yang diobati, gagal jantung, penyakit ginjal kronis, dan anemia meningkatkan kemungkinan tekanan darah turun saat berdiri.

Gaya Hidup

Kurang minum, minum alkohol, berada lama di tempat panas, dan jarang bergerak membuat tubuh lebih sulit menyesuaikan tekanan darah saat berdiri.

Lainnya

Memakai beberapa obat sekaligus, terutama obat tekanan darah, diuretik, obat prostat, obat tidur, dan antidepresan tertentu.

Kelompok yang Lebih Berisiko

  • Lansia: Penurunan refleks pengatur tekanan darah dan penggunaan banyak obat membuat lansia lebih sering mengalaminya dan lebih mudah jatuh.
  • Penyandang Diabetes Lama: Gula darah tinggi bertahun-tahun dapat merusak saraf otonom yang menyempitkan pembuluh darah saat berdiri.
  • Penyandang Penyakit Parkinson: Penyakitnya dapat mengenai saraf otonom, dan obatnya juga dapat menurunkan tekanan darah.
  • Pengguna Obat Tekanan Darah: Kombinasi beberapa obat, terutama bersama diuretik, dapat membuat tekanan darah turun terlalu jauh saat berdiri.
  • Pasien yang Lama Berbaring: Setelah sakit berat, operasi, atau rawat inap lama, tubuh perlu waktu untuk kembali menyesuaikan tekanan darah saat berdiri.
Memiliki faktor risiko tidak berarti seseorang pasti mengalami kondisi ini.

Bagaimana Diagnosis Ditegakkan?

Langkah utama adalah pengukuran tekanan darah dan nadi saat berbaring lalu saat berdiri. Anda diminta berbaring sekitar lima menit, kemudian berdiri, dan tekanan darah diukur pada menit pertama dan ketiga. Dokter juga menanyakan keluhan, kapan keluhan muncul, dan semua obat yang Anda minum. Perubahan denyut nadi saat berdiri membantu membedakan jenis non-neurogenik, yang biasanya disertai nadi naik, dari jenis neurogenik, yang nadinya hampir tidak berubah.

Tes darah mencari anemia, kekurangan cairan, gangguan gula darah, dan gangguan elektrolit. EKG dan, bila perlu, ekokardiografi menilai jantung. Bila hasil pengukuran berdiri meragukan, uji meja miring dapat dilakukan. Pemantauan tekanan darah 24 jam membantu melihat penurunan di pagi hari dan setelah makan, serta tekanan darah tinggi saat tidur.

  1. Pemeriksaan Fisik

    Tekanan darah dan nadi diukur setelah berbaring sekitar lima menit, lalu pada menit pertama dan ketiga setelah berdiri.

  2. Uji meja miring (tilt test): Anda berbaring di meja yang dimiringkan ke posisi hampir tegak sambil tekanan darah dan nadi dipantau terus-menerus.

  3. Pemantauan Tekanan Darah Ambulatori

    Pemantauan 24 jam untuk melihat penurunan tekanan darah sepanjang hari dan tekanan darah tinggi saat berbaring di malam hari.

  4. Elektrokardiogram / EKG

    Rekaman irama jantung untuk mencari gangguan irama atau tanda penyakit jantung yang dapat ikut menurunkan tekanan darah.

  5. Pemeriksaan Laboratorium

    Tes darah untuk mencari anemia, kekurangan cairan, gangguan elektrolit, gula darah, dan fungsi ginjal.

  6. Ekokardiografi

    USG jantung bila dicurigai penyempitan katup aorta, pompa jantung yang melemah, atau penyakit otot jantung.

Pilihan Penanganan.

Penanganan ditentukan dokter setelah evaluasi. Kategori berikut membantu Anda memahami pembicaraan dengan dokter.

Memperbaiki Penyebab

Mengganti cairan yang hilang, menangani anemia atau perdarahan, dan mengobati penyakit yang mendasari. Pada jenis non-neurogenik, langkah ini sering sudah cukup.

Peninjauan Obat

Dokter menilai obat yang dapat menurunkan tekanan darah dan bila perlu mengganti, mengurangi, atau mengubah waktu minumnya. Jangan menghentikan obat sendiri.

Kebiasaan Sehari-hari dan Gerakan Penahan

Bangun bertahap, menyilangkan tungkai sambil mengencangkan otot paha dan bokong saat berdiri, serta menghindari berdiri diam lama dan mandi air terlalu panas.

Cairan, Garam, dan Alat Bantu

Minum cukup, menambah garam bila disetujui dokter, tidur dengan kepala tempat tidur sedikit ditinggikan, serta memakai stoking kompresi atau korset perut.

Obat dari Dokter

Bila keluhan tetap mengganggu, dokter dapat memberi obat golongan penyempit pembuluh darah atau penahan cairan, dengan pemantauan tekanan darah saat berbaring.

Kesesuaian dan ketersediaan pemeriksaan atau terapi perlu dikonfirmasi bersama tim perawatan.

Komplikasi yang Perlu Dipantau.

Jatuh dan Cedera

Pusing mendadak saat berdiri dapat menyebabkan jatuh, patah tulang panggul, atau cedera kepala, terutama pada lansia.

Pingsan

Aliran darah ke otak yang berkurang dapat membuat Anda kehilangan kesadaran sesaat, yang dibahas di halaman Sinkop.

Tekanan Darah Tinggi saat Berbaring

Sebagian penyandang jenis neurogenik memiliki tekanan darah tinggi saat berbaring, sehingga pengaturan obat dan posisi tidur perlu direncanakan bersama dokter.

Penyakit Jantung dan Stroke

Penelitian mengaitkan hipotensi ortostatik dengan risiko penyakit jantung koroner, gagal jantung, dan stroke di kemudian hari.

Apa yang Bisa Dilakukan?

  • Duduk dulu di tepi tempat tidur satu sampai dua menit sebelum berdiri.
  • Minum cukup air, terutama di pagi hari, saat cuaca panas, dan saat sakit.
  • Saat mulai pusing, segera duduk atau silangkan tungkai sambil mengencangkan otot.
  • Hindari berdiri diam lama, mandi air terlalu panas, dan minum alkohol.
  • Makan dalam porsi kecil, terutama bila keluhan juga muncul setelah makan.
  • Bawa daftar obat saat kontrol dan tanyakan obat mana yang dapat menurunkan tekanan darah.
  • Tetap aktif bergerak sesuai kemampuan supaya otot tungkai membantu darah kembali ke jantung.

Kapan Harus ke Dokter?

Pusing sesekali saat berdiri terlalu cepat bisa dialami siapa saja. Periksakan diri ke dokter bila keluhan sering terjadi atau mengganggu aktivitas, supaya penyebabnya dapat dicari.

  • Pusing atau pandangan gelap hampir setiap kali berdiri
  • Pernah jatuh atau pingsan setelah berdiri
  • Keluhan muncul setelah mulai minum obat baru atau setelah obat ditambah
  • Disertai sulit buang air kecil, sembelit berat, keringat berkurang, atau gangguan ereksi
  • Disertai gemetar, gerakan melambat, atau kaki kesemutan dan baal
  • Segera ke IGD bila pingsan disertai nyeri dada, sesak, atau jantung berdebar

Jangan Menunggu bila Kondisinya Darurat.

Bila keluhan terasa berat atau muncul mendadak, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258, bukan menunggu janji temu.

Hal yang Mungkin Anda Tanyakan.

Pertanyaan yang sering diajukan tentang hipotensi ortostatik.

Apa bedanya pusing biasa dengan hipotensi ortostatik?

Pusing bisa muncul dalam berbagai posisi dan karena berbagai sebab. Pada hipotensi ortostatik, keluhan khas muncul dalam beberapa detik sampai menit setelah berdiri dan mereda saat duduk atau berbaring lagi. Pusing berputar, seperti ruangan terasa berputar, biasanya berasal dari telinga bagian dalam. Pengukuran tekanan darah saat berbaring lalu berdiri membantu dokter membedakannya.

Bagaimana cara mengukur tekanan darah saat berdiri di rumah?

Berbaringlah sekitar lima menit, lalu ukur tekanan darah dan nadi. Setelah itu berdiri dan ukur lagi pada menit pertama dan ketiga. Lakukan dengan pendamping dan dekat kursi atau tempat tidur, karena Anda bisa pusing saat berdiri. Catat angka dan keluhan yang muncul, lalu tunjukkan catatan tersebut kepada dokter saat kontrol.

Apakah obat tekanan darah harus dihentikan bila saya mengalami hipotensi ortostatik?

Jangan dihentikan sendiri. Menghentikan obat secara mendadak dapat membuat tekanan darah melonjak atau memperburuk penyakit jantung. Dokter akan menilai obat mana yang berperan, lalu dapat mengganti jenisnya, mengurangi takaran, atau memindahkan waktu minum. Banyak penyandang hipertensi tetap dapat diobati dengan aman sambil menjaga tekanan darah saat berdiri.

Mengapa keluhan lebih berat di pagi hari?

Selama tidur malam, tubuh mengeluarkan cairan lewat urine dan tidak mendapat minum berjam-jam, sehingga cairan dalam pembuluh darah berkurang di pagi hari. Sebagian obat juga bekerja kuat di pagi hari. Minum segelas sampai dua gelas air sebelum bangun dari tempat tidur, lalu bangun bertahap, sering membantu, kecuali dokter membatasi cairan Anda.

Apa itu gerakan penahan tekanan?

Gerakan penahan tekanan adalah cara sederhana untuk menahan darah agar tidak menumpuk di tungkai. Contohnya menyilangkan tungkai sambil mengencangkan otot paha dan bokong, berjinjit berulang, atau berjongkok. Gerakan ini dilakukan saat mulai terasa pusing. Bila keluhan tidak mereda dalam beberapa detik, segera duduk atau berbaring agar tidak jatuh.

Apakah hipotensi ortostatik bisa sembuh?

Tergantung penyebabnya. Jenis yang disebabkan kekurangan cairan, obat, atau lama berbaring sering membaik setelah penyebabnya diperbaiki. Jenis neurogenik akibat kerusakan saraf otonom biasanya menetap, tetapi keluhannya dapat dikendalikan dengan kebiasaan sehari-hari, alat bantu seperti stoking kompresi, dan obat dari dokter, sehingga risiko jatuh berkurang.

Sumber dan Tinjauan Medis

Ditinjau secara medis oleh dr. Debby C. Soemitha, Sp.PD.

  1. Freeman R, Wieling W, Axelrod FB, Benditt DG, Benarroch E, Biaggioni I, et al. Consensus statement on the definition of orthostatic hypotension, neurally mediated syncope and the postural tachycardia syndrome. Clin Auton Res. 2011;21(2):69-72.
  2. Gibbons CH, Schmidt P, Biaggioni I, Frazier-Mills C, Freeman R, Isaacson S, et al. The recommendations of a consensus panel for the screening, diagnosis, and treatment of neurogenic orthostatic hypotension and associated supine hypertension. J Neurol. 2017;264(8):1567-1582.
  3. Brignole M, Moya A, de Lange FJ, Deharo JC, Elliott PM, Fanciulli A, et al. 2018 ESC Guidelines for the diagnosis and management of syncope. Eur Heart J. 2018;39(21):1883-1948.
  4. Ricci F, De Caterina R, Fedorowski A. Orthostatic hypotension: epidemiology, prognosis, and treatment. J Am Coll Cardiol. 2015;66(7):848-860.
  5. Wieling W, Kaufmann H, Claydon VE, van Wijnen VK, Harms MPM, Juraschek SP, et al. Diagnosis and treatment of orthostatic hypotension. Lancet Neurol. 2022;21(8):735-746.
  6. Fanciulli A, Jordan J, Biaggioni I, Calandra-Buonaura G, Cheshire WP, Cortelli P, et al. Consensus statement on the definition of neurogenic supine hypertension in cardiovascular autonomic failure by the American Autonomic Society (AAS) and the European Federation of Autonomic Societies (EFAS). Clin Auton Res. 2018;28(4):355-362.

Langkah berikutnya

Bahas Keluhan Anda bersama Dokter.

Mulai konsultasi untuk memahami kondisi dan pilihan penanganan yang sesuai.

Konteks kunjungan: Hipotensi Ortostatik

Informasi di halaman ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi, diagnosis, atau pengobatan medis. Untuk keluhan kesehatan Anda, konsultasikan langsung dengan dokter.

Kembali ke Semua Kondisi