Langsung ke konten

Hipotensi

Hipotensi Terinduksi Obat

Drug-Induced Hypotension

Ditinjau secara medis olehdr. Debby C. Soemitha, Sp.PD, Spesialis Penyakit Dalam
Terakhir diperbarui7 Oktober 2026
Ilustrasi medis lansia berdiri di samping obat-obatan dengan jantung dan pembuluh darah terlihat, disertai inset arteri yang melebar dengan aliran darah lebih lambat serta alat pengukur tekanan darah dengan indikator menurun.
Ilustrasi Hipotensi Terinduksi Obat

Jawaban singkat

Apa Itu Hipotensi Terinduksi Obat?

Hipotensi terinduksi obat adalah tekanan darah yang turun terlalu rendah akibat efek obat, baik obat tekanan darah maupun obat lain. Keluhannya pusing, lemas, atau jatuh, dan umumnya dapat diatasi dengan penyesuaian obat oleh dokter.

Sumber informasi

Tanda yang Memerlukan Pertolongan Segera

  • Pingsan disertai nyeri dada, sesak, atau jantung berdebar
  • Tekanan darah sangat rendah dengan kulit dingin, pucat, dan bingung
  • Pusing berat setelah memakai obat disfungsi ereksi bersama obat nitrat
  • Terminum obat melebihi takaran atau terminum obat milik orang lain
  • Denyut jantung sangat lambat disertai lemas berat

Bila tanda ini muncul, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258.

Catatan kegawatan: Penurunan tekanan darah karena obat perlu dinilai dokter karena dapat menyebabkan jatuh, pingsan, dan gangguan ginjal, terutama pada lansia. Obat jangan dihentikan sendiri; penyesuaian oleh dokter biasanya mengatasi keluhan.

Mengenal Hipotensi Terinduksi Obat

Banyak obat dapat menurunkan tekanan darah, baik sebagai efek yang diharapkan maupun sebagai efek samping. Hipotensi terinduksi obat terjadi bila penurunan itu terlalu jauh sehingga menimbulkan keluhan, seperti pusing saat berdiri, lemas, atau pingsan. Penurunan bisa terjadi terus-menerus, hanya saat berdiri, atau hanya beberapa jam setelah obat diminum.

Obat yang Sering Berperan

Kelompok pertama adalah obat penurun tekanan darah, seperti diuretik, penghambat ACE, ARB, penghambat kanal kalsium, beta-bloker, dan alfa-bloker. Obat-obat ini penting untuk melindungi jantung, otak, dan ginjal, tetapi kombinasi beberapa obat, takaran yang dinaikkan, atau keadaan tertentu dapat membuat tekanan turun berlebihan. Kelompok kedua adalah obat jantung lain, seperti nitrat untuk nyeri dada dan obat gagal jantung. Kelompok ketiga adalah obat di luar jantung yang efeknya sering tidak disadari, misalnya obat prostat golongan alfa-bloker, obat disfungsi ereksi, obat Parkinson, sebagian antidepresan, antipsikotik, obat penenang, opioid, dan obat diabetes tertentu yang mengeluarkan gula dan cairan lewat urine.

Keadaan yang Memicu

Obat yang selama ini aman dapat tiba-tiba menurunkan tekanan darah berlebihan saat tubuh kekurangan cairan, misalnya karena diare, muntah, demam, puasa, atau cuaca panas. Penurunan juga lebih mudah terjadi pada lansia, setelah berat badan turun, saat fungsi ginjal menurun, saat obat baru ditambahkan, atau bila obat diminum bersama alkohol. Pada sebagian orang, penurunan baru terjadi saat berdiri, sehingga berbentuk hipotensi ortostatik, yang dibahas di halaman Hipotensi Ortostatik.

Penyesuaian Obat Bersama Dokter

Kabar baiknya, keadaan ini umumnya membaik setelah dokter meninjau obat. Dokter akan menimbang manfaat setiap obat dengan risikonya, lalu dapat mengganti jenis, mengurangi takaran, atau mengubah waktu minumnya. Menghentikan obat sendiri tidak dianjurkan, karena sebagian obat, seperti beta-bloker dan obat gagal jantung, dapat memicu masalah baru bila dihentikan mendadak.

Pada lansia yang rentan, target tekanan darah juga dapat disesuaikan dengan kondisi tubuh, risiko jatuh, dan penyakit lain. Tujuannya bukan angka serendah mungkin, melainkan tekanan darah yang melindungi organ tanpa membuat Anda pusing atau jatuh. Hipotensi terinduksi obat adalah salah satu jenis hipotensi, yang dibahas di halaman Hipotensi.

Gejala yang Perlu Dikenali.

Gejala Umum

  • Pusing atau kepala terasa ringan, terutama saat berdiri
  • Lemas atau cepat lelah beberapa jam setelah minum obat
  • Pandangan kabur atau gelap sesaat
  • Mual atau berkeringat dingin
  • Sulit berkonsentrasi
  • Hampir pingsan atau pingsan
  • Keluhan muncul setelah obat baru dimulai atau takaran ditambah

Gejala pada Lansia

Pada lansia, efek obat sering tampak sebagai keluhan yang tidak khas.

  • Jatuh tanpa sebab yang jelas
  • Bingung atau mengantuk berlebihan
  • Lemas sampai sulit berjalan
  • Buang air kecil berkurang
Tidak semua orang mengalami gejala yang sama. Bila keluhan berulang atau memburuk, periksakan diri.

Apa yang Menyebabkan Kondisi Ini?

  • Kombinasi beberapa obat penurun tekanan darah atau takaran yang dinaikkan
  • Diuretik yang mengeluarkan banyak cairan, terutama saat kurang minum
  • Obat prostat golongan alfa-bloker, khususnya pada awal pemakaian
  • Nitrat, apalagi bila dipakai bersama obat disfungsi ereksi
  • Obat Parkinson, antidepresan, antipsikotik, opioid, dan obat penenang
  • Kekurangan cairan karena diare, muntah, demam, atau cuaca panas saat obat tetap diminum
  • Fungsi ginjal atau hati yang menurun sehingga obat menumpuk dalam tubuh

Siapa yang Lebih Berisiko?

Usia

Lansia lebih peka terhadap obat karena refleks pengatur tekanan darah melambat dan ginjal membuang obat lebih lambat.

Medis

Penyakit ginjal kronis, gagal jantung, diabetes dengan gangguan saraf, penyakit Parkinson, dan hipotensi ortostatik yang sudah ada sebelumnya.

Gaya Hidup

Kurang minum, minum alkohol, dan berada lama di tempat panas saat sedang memakai obat yang menurunkan tekanan darah.

Lainnya

Memakai lima obat atau lebih sekaligus, obat dari beberapa dokter tanpa daftar bersama, serta membeli obat tanpa resep.

Kelompok yang Lebih Berisiko

  • Lansia: Lebih sering memakai banyak obat sekaligus dan lebih mudah jatuh saat tekanan darah turun.
  • Penyandang Hipertensi dengan Beberapa Obat: Kombinasi obat diperlukan oleh banyak orang, tetapi takarannya perlu disesuaikan saat sakit atau berat badan turun.
  • Penyandang Gagal Jantung: Obat gagal jantung menurunkan tekanan darah sebagai bagian dari cara kerjanya, sehingga dinaikkan bertahap dan dipantau.
  • Laki-Laki Pengguna Obat Prostat: Obat prostat golongan alfa-bloker dapat menurunkan tekanan darah saat berdiri, terutama pada awal pemakaian.
  • Penyandang Penyakit Parkinson: Penyakitnya sendiri dan obatnya dapat sama-sama menurunkan tekanan darah.
Memiliki faktor risiko tidak berarti seseorang pasti mengalami kondisi ini.

Bagaimana Diagnosis Ditegakkan?

Langkah pertama adalah meninjau semua obat yang Anda pakai. Bawalah obat dalam kemasannya, termasuk obat bebas, jamu, dan suplemen, atau daftar lengkapnya saat kontrol. Dokter menanyakan kapan keluhan dimulai dan apakah berkaitan dengan obat baru, takaran baru, atau waktu minum. Tekanan darah dan nadi diukur saat berbaring dan berdiri.

Pemantauan tekanan darah 24 jam atau pengukuran di rumah membantu melihat apakah tekanan turun beberapa jam setelah obat diminum. Tes darah menilai fungsi ginjal, elektrolit seperti natrium dan kalium, dan gula darah, karena gangguan ini dapat memperberat efek obat. EKG mencari denyut yang terlalu lambat akibat obat.

  1. Pemeriksaan Fisik

    Tekanan darah dan nadi diukur saat berbaring dan berdiri, disertai peninjauan seluruh obat yang dipakai.

  2. Pemantauan Tekanan Darah Ambulatori

    Rekaman 24 jam untuk melihat penurunan tekanan darah pada jam-jam setelah obat diminum.

  3. Pemantauan Tekanan Darah di Rumah

    Pengukuran pagi dan malam di rumah membantu menilai efek obat dan hasil penyesuaiannya.

  4. Pemeriksaan Fungsi Ginjal

    Tes kreatinin dan eGFR, karena ginjal yang melemah membuat obat menumpuk dan tekanan darah turun lebih jauh.

  5. Pemeriksaan Elektrolit Darah

    Tes natrium dan kalium untuk mencari efek diuretik dan obat tekanan darah lain.

  6. Elektrokardiogram / EKG

    Rekaman jantung untuk mencari denyut yang terlalu lambat atau gangguan hantaran listrik akibat obat.

Pilihan Penanganan.

Penanganan ditentukan dokter setelah evaluasi. Kategori berikut membantu Anda memahami pembicaraan dengan dokter.

Peninjauan Obat oleh Dokter

Dokter menimbang manfaat dan risiko setiap obat, lalu dapat mengganti jenis, mengurangi takaran, atau menghentikan secara bertahap obat yang tidak lagi diperlukan.

Pengaturan Waktu Minum

Memindahkan waktu minum sebagian obat, misalnya agar tidak bersamaan atau tidak tepat sebelum makan, dapat mengurangi penurunan tekanan darah.

Rencana saat Sakit

Dokter dapat memberi petunjuk tertulis obat mana yang sementara ditunda saat diare, muntah, atau tidak bisa makan dan minum.

Cairan dan Kebiasaan Sehari-hari

Cukup minum, bangun bertahap, dan menghindari alkohol membantu mengurangi keluhan selama obat disesuaikan.

Kesesuaian dan ketersediaan pemeriksaan atau terapi perlu dikonfirmasi bersama tim perawatan.

Komplikasi yang Perlu Dipantau.

Jatuh dan Patah Tulang

Pusing mendadak akibat obat dapat menyebabkan jatuh, patah tulang panggul, atau cedera kepala pada lansia.

Pingsan

Penurunan tekanan darah yang cukup jauh dapat menyebabkan kehilangan kesadaran sesaat, yang dibahas di halaman Sinkop.

Gangguan Fungsi Ginjal

Tekanan darah yang terlalu rendah, terutama saat kekurangan cairan, mengurangi aliran darah ke ginjal.

Berhenti Minum Obat yang Dibutuhkan

Keluhan efek samping sering membuat orang berhenti minum obat sendiri, sehingga tekanan darah atau penyakit jantung tidak terkendali.

Apa yang Bisa Dilakukan?

  • Simpan daftar semua obat, termasuk obat bebas, jamu, dan suplemen, lalu tunjukkan ke setiap dokter.
  • Minum obat sesuai petunjuk dan jangan menambah takaran sendiri.
  • Ukur tekanan darah di rumah, terutama setelah obat baru dimulai atau takaran diubah.
  • Tanyakan kepada dokter obat mana yang perlu ditunda saat diare, muntah, atau tidak bisa minum.
  • Hindari alkohol dan bangun bertahap bila sedang memakai obat penurun tekanan darah.
  • Jangan memakai obat disfungsi ereksi bila Anda memakai obat nitrat untuk nyeri dada.

Kapan Harus ke Dokter?

Hubungi dokter yang meresepkan obat bila Anda merasakan keluhan tekanan darah rendah setelah mulai atau mengubah obat. Jangan menghentikan obat sebelum berkonsultasi.

  • Pusing, pandangan gelap, atau hampir pingsan setelah minum obat
  • Tekanan darah di rumah berulang kali jauh lebih rendah dari biasanya disertai keluhan
  • Pernah jatuh atau pingsan sejak obat baru dimulai
  • Diare, muntah, atau tidak bisa minum saat sedang memakai obat tekanan darah atau diuretik
  • Lansia dalam keluarga menjadi bingung atau lemas sejak obatnya diubah
  • Segera ke IGD bila pingsan disertai nyeri dada, sesak, atau denyut jantung sangat lambat

Jangan Menunggu bila Kondisinya Darurat.

Bila keluhan terasa berat atau muncul mendadak, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258, bukan menunggu janji temu.

Hal yang Mungkin Anda Tanyakan.

Pertanyaan yang sering diajukan tentang tekanan darah rendah akibat obat.

Bolehkah saya berhenti minum obat bila tekanan darah rendah?

Jangan berhenti sendiri. Sebagian obat, seperti beta-bloker, obat gagal jantung, dan obat untuk mencegah stroke, dapat menimbulkan masalah baru bila dihentikan mendadak. Catat tekanan darah dan keluhan Anda, lalu hubungi dokter yang meresepkan. Dokter dapat mengurangi takaran, mengganti jenis, atau mengubah waktu minum supaya manfaat obat tetap didapat.

Mengapa obat yang dulu aman sekarang membuat tekanan darah rendah?

Kebutuhan tubuh terhadap obat dapat berubah. Penurunan berat badan, bertambahnya usia, fungsi ginjal yang menurun, cuaca panas, kurang minum, diare, atau obat baru yang ditambahkan dapat membuat obat lama bekerja lebih kuat. Karena itu, daftar obat perlu ditinjau berkala, terutama setelah sakit atau setelah dirawat di rumah sakit.

Mengapa obat disfungsi ereksi tidak boleh dipakai bersama nitrat?

Obat disfungsi ereksi golongan penghambat PDE5 dan obat nitrat untuk nyeri dada sama-sama melebarkan pembuluh darah. Bila dipakai bersamaan, tekanan darah dapat turun sangat jauh dan berbahaya. Beri tahu dokter semua obat yang Anda pakai, dan jangan membeli obat disfungsi ereksi tanpa resep bila Anda memiliki penyakit jantung.

Apakah jamu atau suplemen dapat menurunkan tekanan darah?

Bisa. Sebagian jamu dan suplemen memiliki efek menurunkan tekanan darah atau mengeluarkan cairan, sehingga dapat menambah efek obat dari dokter. Kandungan dan kadarnya juga sering tidak pasti. Selalu ceritakan jamu dan suplemen yang Anda pakai kepada dokter, termasuk yang dianggap alami, supaya penyebab tekanan darah rendah dapat dinilai dengan lengkap.

Kapan sebaiknya obat tekanan darah diminum?

Waktu minum obat ditentukan dokter sesuai jenis obat dan pola tekanan darah Anda. Bila Anda sering pusing pada jam tertentu, misalnya pagi hari atau setelah makan, catat waktunya dan tunjukkan kepada dokter. Dokter dapat memindahkan waktu minum atau membagi obat agar tidak bekerja bersamaan. Jangan mengubah jadwal sendiri tanpa saran dokter.

Apa yang perlu disiapkan saat kontrol?

Bawalah semua obat dalam kemasannya atau daftar lengkapnya, termasuk obat bebas, jamu, dan suplemen. Sertakan catatan tekanan darah di rumah, saat duduk dan berdiri bila memungkinkan, beserta jam minum obat dan keluhan yang muncul. Ceritakan juga bila Anda pernah jatuh, diare, atau berat badan turun. Informasi ini membantu dokter menyusun ulang obat dengan aman.

Sumber dan Tinjauan Medis

Ditinjau secara medis oleh dr. Debby C. Soemitha, Sp.PD.

  1. Bhanu C, Nimmons D, Petersen I, Orlu M, Davis D, Hussain H, et al. Drug-induced orthostatic hypotension: a systematic review and meta-analysis of randomised controlled trials. PLoS Med. 2021;18(11):e1003821.
  2. Rivasi G, Rafanelli M, Mossello E, Brignole M, Ungar A. Drug-related orthostatic hypotension: beyond anti-hypertensive medications. Drugs Aging. 2020;37(10):725-738.
  3. Juraschek SP, Hu JR, Cluett JL, Ishak A, Mita C, Lipsitz LA, et al. Effects of intensive blood pressure treatment on orthostatic hypotension: a systematic review and individual participant-based meta-analysis. Ann Intern Med. 2021;174(1):58-68.
  4. By the 2023 American Geriatrics Society Beers Criteria Update Expert Panel. American Geriatrics Society 2023 updated AGS Beers Criteria for potentially inappropriate medication use in older adults. J Am Geriatr Soc. 2023;71(7):2052-2081.
  5. McEvoy JW, McCarthy CP, Bruno RM, Brouwers S, Canavan MD, Ceconi C, et al. 2024 ESC Guidelines for the management of elevated blood pressure and hypertension. Eur Heart J. 2024;45(38):3912-4018.
  6. Brignole M, Moya A, de Lange FJ, Deharo JC, Elliott PM, Fanciulli A, et al. 2018 ESC Guidelines for the diagnosis and management of syncope. Eur Heart J. 2018;39(21):1883-1948.

Langkah berikutnya

Bahas Keluhan Anda bersama Dokter.

Mulai konsultasi untuk memahami kondisi dan pilihan penanganan yang sesuai.

Konteks kunjungan: Hipotensi Terinduksi Obat

Informasi di halaman ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi, diagnosis, atau pengobatan medis. Untuk keluhan kesehatan Anda, konsultasikan langsung dengan dokter.

Kembali ke Semua Kondisi