Jawaban singkat
Apa Itu Kardiomiopati Dilatasi?
Kardiomiopati dilatasi adalah penyakit otot jantung yang membuat bilik kiri melebar dan pompanya melemah, tanpa cukup dijelaskan oleh penyakit koroner atau beban berlebih, sehingga dapat menimbulkan gagal jantung dan gangguan irama.
Sumber informasiTanda yang Memerlukan Pertolongan Segera
- Sesak napas berat saat istirahat atau harus tidur sambil duduk
- Batuk dengan dahak berbusa atau berwarna merah muda
- Pingsan atau hampir pingsan
- Berdebar sangat cepat disertai lemas atau keringat dingin
- Nyeri dada yang tidak hilang setelah beberapa menit
- Kulit dingin dan pucat, bingung, atau sangat jarang buang air kecil
Bila tanda ini muncul, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258.
01 / Memahami kondisi
Mengenal Kardiomiopati Dilatasi
Kardiomiopati dilatasi (dilated cardiomyopathy, DCM) adalah keadaan ketika bilik kiri, ruang pompa utama jantung, melebar dan kekuatan kontraksinya menurun. Menurut pedoman European Society of Cardiology (ESC) 2023, diagnosis ini dipakai bila pelebaran dan pelemahan tersebut tidak cukup dijelaskan oleh penyakit jantung koroner atau beban berlebih seperti hipertensi dan penyakit katup. Bilik kanan dapat ikut melebar. Akibatnya, darah yang dipompa ke seluruh tubuh berkurang dan cairan mudah menumpuk di paru dan tungkai. Kondisi ini dapat dialami anak maupun orang dewasa, dan lebih banyak ditemukan pada laki-laki.
Penyebab yang Beragam
Pada cukup banyak pasien, kardiomiopati dilatasi berkaitan dengan perubahan gen, misalnya pada gen titin (TTN), lamin (LMNA), atau filamin C (FLNC), dan dapat ditemukan pada lebih dari satu anggota keluarga. Penyebab didapat meliputi peradangan otot jantung (miokarditis), alkohol berlebihan, obat kemoterapi seperti golongan antrasiklin, gangguan irama yang terlalu cepat dalam waktu lama, kehamilan, gangguan tiroid, dan kekurangan zat gizi tertentu. Pada sebagian orang, gen dan pencetus dari luar berperan bersama, sedangkan pada sebagian lain penyebabnya tidak ditemukan.
Bagaimana Perjalanannya
Pada tahap awal, banyak penyandang belum merasakan keluhan. Keluhan sering muncul perlahan: sesak saat naik tangga, cepat lelah, lalu bengkak di kaki. Gangguan irama dapat muncul lebih dulu, terutama pada perubahan gen tertentu seperti LMNA, sehingga penilaian risiko irama menjadi bagian dari penanganan. Dengan obat gagal jantung yang sesuai, cukup banyak pasien mengalami perbaikan ukuran bilik dan kekuatan pompa dalam beberapa bulan. Ekokardiografi ulang membantu dokter menilai perbaikan ini. Meski begitu, obat tetap perlu dilanjutkan karena penghentian dapat membuat kondisi kembali memburuk.
Hubungan dengan Jenis Lain
Kardiomiopati dilatasi adalah salah satu jenis dalam keluarga kardiomiopati, yang dibahas di halaman Kardiomiopati. Istilah kardiomiopati non-iskemik yang sering dipakai dokter mencakup kardiomiopati dilatasi dan pelemahan pompa lain yang bukan akibat penyakit koroner, yang dibahas di halaman Kardiomiopati Non-Iskemik. Bila penyebabnya alkohol atau obat, dibahas di halaman Kardiomiopati Toksik, sedangkan yang muncul di sekitar masa melahirkan dibahas di halaman Kardiomiopati Peripartum.
02 / Memahami kondisi
Gejala yang Perlu Dikenali.
Gejala Umum
- Sesak napas saat beraktivitas, lalu juga saat berbaring datar
- Terbangun malam hari karena sesak atau batuk
- Mudah lelah dan kemampuan beraktivitas menurun
- Bengkak di pergelangan kaki, tungkai, atau perut
- Berat badan naik cepat karena penumpukan cairan
- Berdebar atau denyut terasa tidak teratur
- Pusing atau terasa hampir pingsan
Gejala pada Anak-Anak
Kardiomiopati dilatasi adalah jenis kardiomiopati yang sering ditemukan pada anak. Keluhannya kerap mirip infeksi saluran napas atau gangguan pencernaan.
- Napas cepat atau berkeringat saat menyusu atau makan
- Berat badan sulit naik sesuai usia
- Mudah lelah, lemas, atau rewel
- Batuk atau napas berbunyi yang tidak kunjung membaik
- Mual, muntah, atau nyeri perut tanpa sebab jelas
03 / Memahami kondisi
Apa yang Menyebabkan Kondisi Ini?
- Perubahan gen otot jantung, misalnya pada gen TTN, LMNA, atau FLNC, yang dapat diturunkan
- Miokarditis atau peradangan otot jantung, misalnya setelah infeksi virus
- Konsumsi alkohol berlebihan dalam waktu lama
- Obat kemoterapi tertentu, seperti golongan antrasiklin, atau radiasi di daerah dada
- Gangguan irama yang terlalu cepat dalam waktu lama
- Perubahan di sekitar masa kehamilan dan setelah melahirkan (kardiomiopati peripartum)
- Gangguan hormon seperti penyakit tiroid, atau kekurangan zat gizi tertentu
- Penyakit autoimun atau penyakit otot keturunan yang juga menyerang otot jantung
04 / Memahami kondisi
Siapa yang Lebih Berisiko?
Genetik
Riwayat keluarga dengan kardiomiopati dilatasi, gagal jantung di usia muda, pemasangan alat pacu atau ICD di usia muda, atau henti jantung mendadak.
Gaya Hidup
Minum alkohol berlebihan selama bertahun-tahun dan memakai zat seperti kokain atau metamfetamin dapat merusak otot jantung.
Medis
Riwayat miokarditis, kemoterapi atau radiasi dada, gangguan tiroid, penyakit autoimun, dan gangguan irama cepat yang tidak terkendali.
Lainnya
Kehamilan dan masa nifas, serta penyakit otot keturunan seperti distrofi otot Duchenne atau Becker yang juga dapat menyerang jantung.
Kelompok yang Lebih Berisiko
- Keluarga Penyandang Kardiomiopati Dilatasi: Kardiomiopati dilatasi dapat ditemukan pada lebih dari satu anggota keluarga, sehingga keluarga dekat dianjurkan menjalani pemeriksaan walau tanpa keluhan.
- Peminum Alkohol Berat: Konsumsi alkohol berlebihan selama bertahun-tahun dapat melemahkan otot jantung. Fungsi pompa sering membaik bila alkohol dihentikan.
- Penyintas Kanker: Antrasiklin, trastuzumab, dan radiasi dada dapat menurunkan fungsi pompa, sehingga pemantauan jantung dianjurkan selama dan setelah terapi.
- Perempuan Hamil dan Pascamelahirkan: Kardiomiopati peripartum memiliki gambaran yang mirip dan dapat muncul sampai beberapa bulan setelah persalinan.
- Penyandang Distrofi Otot: Distrofi otot Duchenne dan Becker sering disertai kardiomiopati dilatasi, sehingga jantung perlu diperiksa secara berkala.
05 / Memahami kondisi
Bagaimana Diagnosis Ditegakkan?
Dokter menanyakan keluhan, kebiasaan minum alkohol, obat yang pernah dipakai termasuk kemoterapi, riwayat infeksi atau kehamilan, serta riwayat keluarga. Ekokardiografi biasanya menjadi pemeriksaan pertama untuk melihat pelebaran bilik kiri dan mengukur fraksi ejeksi. Langkah berikutnya adalah memastikan bahwa pelemahan pompa tidak disebabkan penyakit jantung koroner, misalnya dengan CT koroner atau angiografi koroner. MRI jantung dengan kontras membantu mencari jaringan parut, peradangan, atau pola kerusakan yang khas pada penyebab tertentu. Tes darah dipakai untuk menilai beban jantung, fungsi ginjal dan tiroid, serta mencari penyebab yang dapat diobati. Pedoman ESC 2023 menganjurkan tes genetik pada kardiomiopati dilatasi, terutama bila ada riwayat keluarga atau gangguan hantaran listrik, lalu pemeriksaan keluarga dekat. Biopsi otot jantung hanya dipertimbangkan pada keadaan tertentu, misalnya dugaan miokarditis yang tidak membaik.
Ekokardiografi
Mengukur ukuran bilik kiri dan fraksi ejeksi, yaitu persentase darah yang dipompa setiap denyut, serta menilai kebocoran katup mitral.
MRI Jantung
Memastikan ukuran dan fungsi bilik serta mencari jaringan parut atau peradangan yang membantu menentukan penyebab dan risiko gangguan irama.
Elektrokardiogram / EKG
Mencari gangguan irama, blok cabang berkas, dan gangguan hantaran yang dapat mengarah pada penyebab genetik tertentu.
Tes NT-proBNP / BNP
Tes darah yang menggambarkan beban pada jantung, untuk mendukung diagnosis gagal jantung dan memantau respons pengobatan.
Angiografi Koroner
Menyingkirkan penyakit jantung koroner sebagai penyebab pompa yang melemah. Pada pasien tertentu, pembuluh koroner dapat dinilai dengan CT koroner.
Pemantauan Holter
Merekam irama selama 24 sampai 48 jam untuk menemukan gangguan irama yang tidak terlihat pada EKG biasa.
Tes genetik dari sampel darah yang dianjurkan pada kardiomiopati dilatasi, karena hasilnya dapat memengaruhi penilaian risiko dan pemeriksaan keluarga.
06 / Memahami kondisi
Pilihan Penanganan.
Penanganan ditentukan dokter setelah evaluasi. Kategori berikut membantu Anda memahami pembicaraan dengan dokter.
Obat Utama Gagal Jantung
Empat golongan obat menjadi dasar pengobatan: ARNI atau penghambat ACE, penyekat beta, antagonis mineralokortikoid, dan penghambat SGLT2. Dokter menentukan jenisnya dan menaikkan dosis secara bertahap.
Obat Peluruh Cairan
Diuretik dipakai untuk mengurangi sesak dan bengkak akibat penumpukan cairan, dengan takaran yang disesuaikan dokter.
ICD untuk Mencegah Henti Jantung
Dipertimbangkan bila fraksi ejeksi tetap rendah setelah pengobatan beberapa bulan, atau lebih awal pada perubahan gen berisiko tinggi seperti LMNA.
Terapi Resinkronisasi Jantung
Alat pacu khusus yang membuat kedua bilik berkontraksi serempak, bagi pasien dengan fraksi ejeksi rendah dan gangguan hantaran tertentu.
Penanganan Penyebab
Menghentikan alkohol, mengendalikan irama yang terlalu cepat, atau mengobati gangguan tiroid dan peradangan dapat memperbaiki fungsi pompa.
Rehabilitasi Jantung
Latihan terpantau dan edukasi untuk meningkatkan kebugaran serta kemampuan merawat diri di rumah.
Terapi Gagal Jantung Tahap Lanjut
Alat bantu pompa bilik kiri (LVAD) atau transplantasi jantung dipertimbangkan bila gagal jantung tidak lagi terkendali dengan terapi lain.
07 / Memahami kondisi
Komplikasi yang Perlu Dipantau.
Gagal Jantung
Pompa yang melemah membuat cairan menumpuk di paru dan tungkai, dan keadaan ini dapat memburuk sewaktu-waktu sehingga perlu rawat inap. Dibahas di halaman Gagal Jantung Fraksi Ejeksi Menurun.
Gangguan Irama Ventrikel
Jaringan parut di otot jantung dapat memicu takikardia ventrikel yang berisiko menimbulkan henti jantung mendadak, sehingga risiko ini dinilai secara berkala.
Fibrilasi Atrium
Serambi yang ikut melebar memudahkan fibrilasi atrium, yang dapat memperberat sesak dan meningkatkan risiko stroke.
Bekuan Darah dan Stroke
Aliran darah yang lambat di bilik yang melebar dapat membentuk bekuan yang terbawa ke otak atau organ lain.
Kebocoran Katup Mitral
Pelebaran bilik kiri menarik daun katup mitral sehingga katup tidak menutup rapat dan beban jantung bertambah.
08 / Memahami kondisi
Apa yang Bisa Dilakukan?
- Hindari alkohol, dan hentikan sepenuhnya bila fungsi pompa jantung sudah menurun
- Minum obat sesuai resep, termasuk saat Anda merasa sudah membaik
- Batasi garam sesuai anjuran dokter
- Timbang berat badan setiap pagi dan hubungi dokter bila naik lebih dari 2 kg dalam 3 hari
- Ajak keluarga dekat menjalani pemeriksaan jantung bila penyebabnya genetik
- Minta pemantauan fungsi jantung sebelum dan selama kemoterapi tertentu
- Dapatkan vaksinasi influenza dan pneumokokus sesuai anjuran dokter
09 / Memahami kondisi
Kapan Harus ke Dokter?
Konsultasikan ke dokter jantung bila keluhan berikut muncul atau makin sering. Bila Anda sudah terdiagnosis, hubungi tim yang merawat Anda saat keluhan berubah dari biasanya. Bila sesak berat saat istirahat atau pingsan, segera ke IGD.
- Sesak napas saat aktivitas ringan atau saat berbaring
- Bengkak kaki atau berat badan naik cepat dalam beberapa hari
- Berdebar, pusing, atau hampir pingsan
- Kelelahan yang makin membatasi aktivitas harian
- Ada keluarga dekat dengan kardiomiopati dilatasi atau henti jantung mendadak di usia muda
Jangan Menunggu bila Kondisinya Darurat.
Bila keluhan terasa berat atau muncul mendadak, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258, bukan menunggu janji temu.
10 / Pertanyaan umum
Hal yang Mungkin Anda Tanyakan.
Pertanyaan yang sering diajukan tentang kardiomiopati dilatasi.
Apakah jantung yang melebar bisa kembali normal?
Bisa, pada sebagian pasien. Dengan obat gagal jantung yang sesuai dan penanganan penyebab, misalnya berhenti minum alkohol atau mengendalikan irama yang terlalu cepat, ukuran bilik kiri dapat mengecil dan fraksi ejeksi membaik dalam beberapa bulan. Meski begitu, penelitian TRED-HF menunjukkan bahwa penghentian obat dapat membuat penyakit kambuh, sehingga obat biasanya tetap dilanjutkan dan setiap perubahan diputuskan bersama dokter.
Apa arti fraksi ejeksi?
Fraksi ejeksi adalah persentase darah di bilik kiri yang dipompa keluar pada setiap denyut. Pada jantung normal, nilainya sekitar 50 persen atau lebih. Pada kardiomiopati dilatasi, nilainya sering di bawah 40 persen. Angka ini membantu dokter menentukan jenis obat, menilai perlu tidaknya alat seperti ICD atau terapi resinkronisasi, dan memantau perbaikan setelah pengobatan.
Apakah kardiomiopati dilatasi diturunkan?
Sebagian kasus bersifat genetik dan dapat diturunkan. Pedoman ESC 2023 menganjurkan tes genetik bagi pasien kardiomiopati dilatasi, karena beberapa perubahan gen seperti LMNA dan FLNC berkaitan dengan risiko gangguan irama yang lebih tinggi. Bila perubahan gen ditemukan, keluarga dekat dapat menjalani tes genetik terarah. Bila tidak ditemukan, keluarga dekat tetap dianjurkan menjalani EKG dan ekokardiografi berkala.
Apakah saya pasti perlu ICD?
Tidak selalu. ICD dipertimbangkan bila fraksi ejeksi tetap 35 persen atau kurang setelah sedikitnya tiga bulan pengobatan sesuai pedoman, atau bila ada faktor risiko lain seperti perubahan gen tertentu atau jaringan parut luas pada MRI. Karena fungsi pompa sering membaik dengan obat, dokter biasanya menunggu respons pengobatan sebelum memutuskan. Keputusan diambil bersama Anda dengan menimbang manfaat dan risikonya.
Bolehkah saya tetap bekerja dan berolahraga?
Sebagian besar penyandang kardiomiopati dilatasi yang kondisinya stabil dapat tetap bekerja dan dianjurkan berolahraga ringan sampai sedang, seperti jalan kaki atau bersepeda santai. Program rehabilitasi jantung membantu menentukan intensitas yang aman. Olahraga berat atau kompetitif perlu dinilai lebih dahulu, terutama bila ada gangguan irama atau perubahan gen tertentu. Hentikan latihan bila muncul pusing, nyeri dada, atau sesak yang tidak biasa.
Mengapa saya dianjurkan berhenti minum alkohol?
Alkohol bersifat racun bagi otot jantung dan dapat memperburuk kardiomiopati dilatasi apa pun penyebabnya. Pada kardiomiopati akibat alkohol, menghentikan alkohol sepenuhnya sering memperbaiki fungsi pompa. Alkohol juga dapat memicu fibrilasi atrium dan berinteraksi dengan obat jantung. Bila Anda kesulitan berhenti, sampaikan kepada dokter agar Anda mendapat bantuan yang sesuai.
Sumber dan Tinjauan Medis
Ditinjau secara medis oleh dr. Sri Diniharini, Sp.JP(K).
- Arbelo E, Protonotarios A, Gimeno JR, Arbustini E, Barriales-Villa R, Basso C, et al. 2023 ESC Guidelines for the management of cardiomyopathies. Eur Heart J. 2023;44(37):3503-626.
- Heymans S, Lakdawala NK, Tschöpe C, Klingel K. Dilated cardiomyopathy: causes, mechanisms, and current and future treatment approaches. Lancet. 2023;402(10406):998-1011.
- Schultheiss HP, Fairweather D, Caforio ALP, Escher F, Hershberger RE, Lipshultz SE, et al. Dilated cardiomyopathy. Nat Rev Dis Primers. 2019;5(1):32.
- McDonagh TA, Metra M, Adamo M, Gardner RS, Baumbach A, Böhm M, et al. 2021 ESC Guidelines for the diagnosis and treatment of acute and chronic heart failure. Eur Heart J. 2021;42(36):3599-726.
- McDonagh TA, Metra M, Adamo M, Gardner RS, Baumbach A, Böhm M, et al. 2023 Focused Update of the 2021 ESC Guidelines for the diagnosis and treatment of acute and chronic heart failure. Eur Heart J. 2023;44(37):3627-39.
- Halliday BP, Wassall R, Lota AS, Khalique Z, Gregson J, Newsome S, et al. Withdrawal of pharmacological treatment for heart failure in patients with recovered dilated cardiomyopathy (TRED-HF): an open-label, pilot, randomised trial. Lancet. 2019;393(10166):61-73.
- Zeppenfeld K, Tfelt-Hansen J, de Riva M, Winkel BG, Behr ER, Blom NA, et al. 2022 ESC Guidelines for the management of patients with ventricular arrhythmias and the prevention of sudden cardiac death. Eur Heart J. 2022;43(40):3997-4126.




