Jawaban singkat
Apa Itu Kardiomiopati Iskemik?
Kardiomiopati iskemik adalah melemahnya otot dan pompa jantung akibat penyakit jantung koroner, umumnya setelah serangan jantung atau karena penyempitan beberapa pembuluh koroner dalam waktu lama, sehingga dapat menimbulkan gagal jantung.
Sumber informasiTanda yang Memerlukan Pertolongan Segera
- Nyeri dada berat yang tidak hilang dengan istirahat dalam beberapa menit
- Sesak napas berat saat istirahat atau tidak bisa berbaring
- Batuk dengan dahak berbusa atau berwarna merah muda
- Pingsan atau hampir pingsan
- Berdebar sangat cepat disertai pusing berat atau lemas
- Kulit dingin, pucat, dan sangat lemas
Bila tanda ini muncul, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258.
01 / Memahami kondisi
Mengenal Kardiomiopati Iskemik
Kardiomiopati iskemik adalah keadaan ketika otot jantung melemah karena kekurangan aliran darah akibat penyakit jantung koroner. Istilah ini umumnya dipakai bila fraksi ejeksi, yaitu persentase darah yang dipompa bilik kiri pada setiap denyut, turun menjadi 40 persen atau kurang, dan penyebabnya adalah serangan jantung sebelumnya atau penyempitan berat pada pembuluh koroner. Kardiomiopati iskemik merupakan penyebab yang sering dari gagal jantung dengan fraksi ejeksi menurun, yang dibahas di halaman Gagal Jantung Fraksi Ejeksi Menurun.
Bagaimana Otot Jantung Melemah
Saat serangan jantung, sebagian otot jantung mati dan digantikan jaringan parut yang tidak dapat berkontraksi. Bila area yang rusak luas, bilik kiri dapat melebar dan berubah bentuk untuk mengimbangi, proses yang disebut remodeling. Selain itu, otot yang terus kekurangan aliran darah karena penyempitan menahun dapat melemah tanpa mati. Otot seperti ini disebut otot yang masih hidup (viabel), dan sebagian fungsinya dapat membaik bila aliran darah dipulihkan.
Perbedaannya dengan Jenis Lain
Dalam pedoman European Society of Cardiology (ESC) tentang kardiomiopati tahun 2023, pelemahan otot jantung yang sepenuhnya dijelaskan oleh penyakit koroner tidak digolongkan sebagai kardiomiopati, tetapi istilah kardiomiopati iskemik tetap lazim dipakai dokter dan penelitian. Pembedaan ini penting karena penanganannya juga mencakup penyakit koronernya. Pelemahan pompa yang bukan akibat penyakit koroner dibahas di halaman Kardiomiopati Non-Iskemik, sedangkan gambaran umum seluruh jenis dibahas di halaman Kardiomiopati.
Prinsip Penanganan
Penanganan terdiri atas tiga bagian. Pertama, obat gagal jantung yang dalam penelitian terbukti mengurangi rawat inap dan kematian. Kedua, pengendalian penyakit koroner dengan obat pelindung pembuluh darah, pengendalian kolesterol, tekanan darah, dan gula darah, serta berhenti merokok. Ketiga, pada pasien tertentu, revaskularisasi, yaitu operasi bypass koroner atau pemasangan stent, yang diputuskan oleh tim jantung. Penelitian STICH menunjukkan bahwa operasi bypass menurunkan risiko kematian jangka panjang pada pasien yang sesuai, sedangkan penelitian REVIVED tidak menemukan manfaat tambahan pemasangan stent dibanding obat saja pada kelompok yang diteliti. Pasien yang fraksi ejeksinya tetap rendah juga dinilai untuk ICD.
02 / Memahami kondisi
Gejala yang Perlu Dikenali.
Gejala Umum
- Sesak napas saat beraktivitas, kemudian juga saat berbaring
- Mudah lelah dan cepat kehabisan tenaga
- Bengkak di pergelangan kaki dan tungkai
- Nyeri atau rasa tertekan di dada saat beraktivitas atau stres
- Berdebar atau denyut terasa tidak teratur
- Terbangun malam hari karena sesak
Gejala pada Lansia
Pada lansia, terutama yang menyandang diabetes, keluhan sering tidak khas dan nyeri dada bisa tidak dirasakan.
- Lemas dan aktivitas harian menurun tanpa sebab jelas
- Nafsu makan turun atau perut terasa penuh
- Bingung atau mengantuk yang tidak biasa
- Sering terbangun malam untuk buang air kecil
- Sesak saat berjalan dekat tanpa disertai nyeri dada
- Mudah jatuh atau limbung
03 / Memahami kondisi
Apa yang Menyebabkan Kondisi Ini?
- Serangan jantung (infark miokard) yang meninggalkan jaringan parut pada otot jantung
- Serangan jantung berulang yang menambah luas otot jantung yang rusak
- Penyempitan berat di beberapa pembuluh koroner sehingga otot jantung kekurangan darah dalam waktu lama
- Penyempitan di pangkal pembuluh koroner utama yang memasok sebagian besar bilik kiri
- Aterosklerosis, yaitu penumpukan plak lemak di dinding pembuluh koroner
04 / Memahami kondisi
Siapa yang Lebih Berisiko?
Gaya Hidup
Merokok, pola makan tinggi lemak jenuh dan garam, kurang bergerak, dan berat badan berlebih mempercepat penyempitan pembuluh koroner.
Medis
Hipertensi, diabetes, kolesterol LDL tinggi, dan penyakit ginjal kronis. Serangan jantung yang luas atau penanganannya terlambat meningkatkan risiko pelemahan otot jantung.
Genetik
Riwayat penyakit jantung koroner dini di keluarga, yaitu sebelum usia 55 tahun pada laki-laki atau 65 tahun pada perempuan, serta kadar lipoprotein(a) yang tinggi.
Usia
Risiko meningkat dengan bertambahnya usia, terutama setelah 45 tahun pada laki-laki dan setelah menopause pada perempuan.
Kelompok yang Lebih Berisiko
- Penyintas Serangan Jantung: Terutama bila serangan jantungnya luas, mengenai dinding depan jantung, atau penanganannya terlambat.
- Penyandang Diabetes: Diabetes mempercepat penyempitan koroner dan dapat membuat serangan jantung tidak terasa, sehingga kerusakan otot terlambat diketahui.
- Penyandang Penyempitan Beberapa Pembuluh Koroner: Penyempitan di beberapa pembuluh koroner dapat mengurangi pasokan darah ke area otot jantung yang luas.
- Perokok Aktif: Merokok merusak dinding pembuluh, mempercepat aterosklerosis, dan meningkatkan risiko serangan jantung berulang.
05 / Memahami kondisi
Bagaimana Diagnosis Ditegakkan?
Dokter menanyakan riwayat serangan jantung, nyeri dada, dan faktor risiko, lalu memeriksa tanda gagal jantung. Ekokardiografi mengukur fraksi ejeksi dan memperlihatkan bagian dinding yang tidak bergerak normal. Untuk memastikan penyakit koroner sebagai penyebab, dokter menilai pembuluh koroner dengan angiografi koroner atau, pada pasien tertentu, CT koroner. Pemeriksaan pencitraan seperti MRI jantung, ekokardiografi stres, atau pencitraan kedokteran nuklir dapat menunjukkan luas jaringan parut dan bagian otot yang masih hidup. Informasi ini dipadukan oleh tim jantung, yang terdiri atas dokter jantung dan dokter bedah jantung, untuk memilih penanganan. Penelitian menunjukkan bahwa hasil uji otot yang masih hidup tidak selalu menentukan siapa yang mendapat manfaat dari operasi bypass, sehingga keputusan juga mempertimbangkan bentuk penyempitan, keluhan, dan keadaan umum Anda.
Ekokardiografi
Mengukur fraksi ejeksi dan menunjukkan bagian dinding jantung yang tidak bergerak normal sesuai wilayah pembuluh koroner yang terganggu.
Angiografi Koroner
Memperlihatkan letak dan beratnya penyempitan pembuluh koroner, sebagai dasar memilih obat saja, pemasangan stent, atau operasi bypass.
Angiografi Koroner CT
Pilihan tanpa kateter untuk melihat penyempitan koroner pada pasien tertentu, misalnya bila kemungkinan penyakit koroner belum jelas.
MRI Jantung
Menunjukkan luas jaringan parut akibat serangan jantung dan menilai otot yang masih hidup, sekaligus membantu penilaian risiko gangguan irama.
Pencitraan Perfusi Miokard
Membandingkan aliran darah otot jantung saat istirahat dan saat dibebani untuk menilai area yang kekurangan aliran dan otot yang masih hidup.
Elektrokardiogram / EKG
Mencari tanda serangan jantung lama, gangguan hantaran seperti blok cabang berkas kiri, dan gangguan irama.
Tes NT-proBNP / BNP
Tes darah yang menggambarkan beban jantung untuk mendukung diagnosis dan pemantauan gagal jantung.
06 / Memahami kondisi
Pilihan Penanganan.
Penanganan ditentukan dokter setelah evaluasi. Kategori berikut membantu Anda memahami pembicaraan dengan dokter.
Obat Utama Gagal Jantung
ARNI atau penghambat ACE, penyekat beta, antagonis mineralokortikoid, dan penghambat SGLT2 dipilih dan dinaikkan takarannya secara bertahap oleh dokter.
Obat Pencegahan Penyakit Koroner
Obat antiplatelet dan obat penurun kolesterol seperti statin untuk mencegah serangan jantung berulang, dengan target kolesterol LDL sesuai tingkat risiko.
Operasi Bypass Koroner
Dipertimbangkan pada pasien dengan penyempitan di beberapa pembuluh dan fraksi ejeksi rendah yang cocok untuk operasi, karena terbukti menurunkan risiko kematian jangka panjang.
Intervensi Koroner Perkutan
Pemasangan stent dipilih pada pasien tertentu setelah diskusi tim jantung, misalnya untuk meredakan nyeri dada atau bila risiko operasi tinggi.
ICD dan Terapi Resinkronisasi Jantung
ICD dipertimbangkan bila fraksi ejeksi tetap 35 persen atau kurang setelah pengobatan sedikitnya tiga bulan dan lebih dari 6 minggu setelah serangan jantung; CRT bagi pasien dengan gangguan hantaran tertentu.
Rehabilitasi Jantung
Latihan terpantau, edukasi, dan pendampingan untuk meningkatkan kebugaran serta mengendalikan faktor risiko.
Terapi Gagal Jantung Tahap Lanjut
Alat bantu pompa bilik kiri (LVAD) atau transplantasi jantung dipertimbangkan bagi pasien terpilih.
07 / Memahami kondisi
Komplikasi yang Perlu Dipantau.
Gagal Jantung
Pompa yang lemah membuat cairan menumpuk di paru dan tungkai, dan keadaan ini dapat memburuk sewaktu-waktu sehingga perlu rawat inap.
Takikardia Ventrikel dan Henti Jantung Mendadak
Jaringan parut dapat menjadi sumber irama bilik yang sangat cepat. Risiko ini menjadi dasar pertimbangan ICD bila fraksi ejeksi tetap rendah.
Bekuan Darah di Bilik Kiri
Bagian dinding yang tidak bergerak, terutama di ujung jantung, dapat membentuk bekuan yang berisiko terbawa ke otak dan menyebabkan stroke.
Kebocoran Katup Mitral
Perubahan bentuk bilik kiri setelah serangan jantung dapat menarik katup mitral sehingga katup tidak menutup rapat.
Serangan Jantung Berulang
Penyakit koroner yang mendasari tetap dapat menimbulkan serangan baru bila faktor risikonya tidak dikendalikan.
08 / Memahami kondisi
Apa yang Bisa Dilakukan?
- Berhenti merokok dan hindari asap rokok orang lain
- Kendalikan tekanan darah, gula darah, dan kolesterol LDL sesuai target dari dokter
- Segera ke IGD bila nyeri dada berat, karena penanganan serangan jantung yang cepat membatasi kerusakan otot
- Minum obat pencegahan penyakit koroner dan obat gagal jantung secara teratur
- Ikuti program rehabilitasi jantung setelah serangan jantung atau operasi
- Batasi garam dan timbang berat badan setiap pagi
- Bergerak aktif sesuai anjuran dokter, misalnya berjalan kaki hampir setiap hari
09 / Memahami kondisi
Kapan Harus ke Dokter?
Bila Anda pernah mengalami serangan jantung atau menyandang penyakit jantung koroner, konsultasikan ke dokter jantung bila muncul keluhan berikut. Nyeri dada berat yang tidak hilang dengan istirahat memerlukan pertolongan IGD segera.
- Sesak napas atau mudah lelah saat aktivitas yang dulu terasa ringan
- Bengkak kaki atau berat badan naik cepat dalam beberapa hari
- Nyeri dada yang lebih sering atau muncul dengan aktivitas lebih ringan
- Berdebar, pusing, atau hampir pingsan
- Belum pernah memeriksakan fungsi pompa jantung setelah serangan jantung
Jangan Menunggu bila Kondisinya Darurat.
Bila keluhan terasa berat atau muncul mendadak, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258, bukan menunggu janji temu.
10 / Pertanyaan umum
Hal yang Mungkin Anda Tanyakan.
Pertanyaan yang sering diajukan tentang kardiomiopati iskemik.
Apakah otot jantung yang rusak bisa pulih?
Jaringan parut akibat serangan jantung tidak dapat kembali menjadi otot yang berkontraksi. Namun, otot yang hanya kekurangan aliran darah tanpa mati dapat membaik bila aliran darahnya dipulihkan. Obat gagal jantung juga dapat memperbaiki kerja dan bentuk bilik kiri pada sebagian pasien. Seberapa besar perbaikan yang mungkin dicapai dinilai dokter dari hasil pencitraan dan perjalanan penyakit Anda.
Apa beda kardiomiopati iskemik dengan penyakit jantung koroner?
Penyakit jantung koroner adalah penyempitan pembuluh darah yang memasok otot jantung, yang dibahas di halaman Penyakit Jantung Koroner. Kardiomiopati iskemik adalah akibatnya pada otot jantung, yaitu pompa yang melemah karena kerusakan atau kekurangan aliran darah dalam waktu lama. Tidak semua penyandang penyakit jantung koroner mengalami kardiomiopati iskemik. Pengendalian penyakit koroner dan penanganan cepat saat serangan jantung membantu mencegahnya.
Apakah saya perlu operasi bypass?
Tidak semua pasien. Operasi bypass dipertimbangkan bila ada penyempitan di beberapa pembuluh atau di pembuluh utama, otot jantung masih dapat diselamatkan, dan risiko operasi dapat diterima. Penelitian STICH menunjukkan manfaat bypass terhadap harapan hidup jangka panjang pada pasien yang sesuai. Keputusan diambil tim jantung bersama Anda dengan menimbang keluhan, bentuk penyempitan, fungsi organ lain, dan pilihan pribadi.
Mengapa pemasangan stent tidak selalu dianjurkan?
Pemasangan stent membuka penyempitan dan bermanfaat saat serangan jantung atau untuk meredakan nyeri dada. Namun, penelitian REVIVED pada pasien dengan fraksi ejeksi rendah dan penyakit koroner stabil tidak menemukan penurunan kematian atau rawat inap karena gagal jantung dibanding obat saja. Karena itu, stent dipilih sesuai tujuan yang jelas, misalnya meredakan keluhan, dan diputuskan bersama tim jantung.
Kapan ICD diperlukan?
ICD dipertimbangkan bila fraksi ejeksi tetap 35 persen atau kurang meski sudah menjalani pengobatan gagal jantung sedikitnya tiga bulan, dan serangan jantung terakhir sudah lewat lebih dari 6 minggu. Alat ini mendeteksi dan menghentikan irama bilik yang berbahaya. Fraksi ejeksi biasanya diukur ulang setelah pengobatan dan revaskularisasi, karena sebagian pasien membaik sehingga tidak lagi memerlukan ICD.
Bolehkah saya berolahraga?
Boleh, dan olahraga teratur dianjurkan. Program rehabilitasi jantung membantu Anda memulai latihan dengan aman, terpantau, dan bertahap, sekaligus belajar mengenali tanda bahaya. Latihan seperti jalan kaki atau bersepeda statis dengan intensitas sedang umumnya dianjurkan. Hindari mengangkat beban sangat berat secara mendadak, dan hentikan latihan bila muncul nyeri dada, sesak berat, atau pusing.
Sumber dan Tinjauan Medis
Ditinjau secara medis oleh dr. Siska S. Danny, Sp.JP(K).
- McDonagh TA, Metra M, Adamo M, Gardner RS, Baumbach A, Böhm M, et al. 2021 ESC Guidelines for the diagnosis and treatment of acute and chronic heart failure. Eur Heart J. 2021;42(36):3599-726.
- Vrints C, Andreotti F, Koskinas KC, Rossello X, Adamo M, Ainslie J, et al. 2024 ESC Guidelines for the management of chronic coronary syndromes. Eur Heart J. 2024;45(36):3415-537.
- Velazquez EJ, Lee KL, Jones RH, Al-Khalidi HR, Hill JA, Panza JA, et al. Coronary-Artery Bypass Surgery in Patients with Ischemic Cardiomyopathy. N Engl J Med. 2016;374(16):1511-20.
- Perera D, Clayton T, O'Kane PD, Greenwood JP, Weerackody R, Ryan M, et al. Percutaneous Revascularization for Ischemic Left Ventricular Dysfunction. N Engl J Med. 2022;387(15):1351-60.
- Panza JA, Ellis AM, Al-Khalidi HR, Holly TA, Berman DS, Oh JK, et al. Myocardial Viability and Long-Term Outcomes in Ischemic Cardiomyopathy. N Engl J Med. 2019;381(8):739-48.
- Zeppenfeld K, Tfelt-Hansen J, de Riva M, Winkel BG, Behr ER, Blom NA, et al. 2022 ESC Guidelines for the management of patients with ventricular arrhythmias and the prevention of sudden cardiac death. Eur Heart J. 2022;43(40):3997-4126.
- Arbelo E, Protonotarios A, Gimeno JR, Arbustini E, Barriales-Villa R, Basso C, et al. 2023 ESC Guidelines for the management of cardiomyopathies. Eur Heart J. 2023;44(37):3503-626.




