Langsung ke konten

Kondisi Genetik, Langka, dan Infiltratif

Penyakit Kawasaki

Kawasaki Disease / Mucocutaneous Lymph Node Syndrome

Ditinjau secara medis olehdr. Tartila, Sp.A, Subsp.ETIA(K), Spesialis Anak
Terakhir diperbarui7 Oktober 2026
Ilustrasi medis penyakit Kawasaki pada anak dengan jantung dan arteri koroner terlihat melalui dada semi-transparan, disertai pelebaran berbentuk aneurisma pada arteri koroner, telapak tangan kemerahan, serta bibir merah dan lidah stroberi.
Ilustrasi Penyakit Kawasaki

Jawaban singkat

Apa Itu Penyakit Kawasaki?

Penyakit Kawasaki adalah peradangan pembuluh darah pada anak, terutama balita, yang ditandai demam tinggi beberapa hari, mata dan bibir merah, ruam, serta bengkak di tangan dan kaki. Pengobatan dini melindungi arteri koroner jantung.

Sumber informasi

Tanda yang Memerlukan Pertolongan Segera

  • Anak tampak sangat lemas, pucat, atau sulit dibangunkan
  • Tangan dan kaki dingin dengan buang air kecil sangat sedikit
  • Napas cepat atau sesak
  • Denyut jantung sangat cepat atau tidak teratur
  • Nyeri dada, keringat dingin, atau muntah pada anak dengan riwayat aneurisma koroner

Bila tanda ini muncul, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258.

Catatan kegawatan: Penyakit Kawasaki perlu dikenali dan diobati di rumah sakit, idealnya dalam 10 hari pertama demam, karena pengobatan menurunkan risiko pelebaran arteri koroner. Sebagian besar anak pulih tanpa kelainan jantung bila diobati tepat waktu.

Mengenal Penyakit Kawasaki

Penyakit Kawasaki adalah peradangan pembuluh darah (vaskulitis) yang muncul mendadak pada anak, terutama di bawah usia 5 tahun. Penyakit ini pertama kali dijelaskan oleh dokter Tomisaku Kawasaki di Jepang pada 1967. Peradangan mengenai pembuluh darah berukuran sedang di seluruh tubuh, terutama arteri koroner yang mengalirkan darah ke otot jantung. Di negara maju, penyakit Kawasaki menjadi penyebab utama penyakit jantung didapat pada anak, yaitu penyakit jantung yang bukan bawaan lahir.

Bagaimana Penyakit Ini Berjalan

Penyakit Kawasaki diawali demam tinggi yang berlangsung beberapa hari, disertai mata merah, bibir dan lidah merah, ruam, bengkak di tangan dan kaki, serta benjolan kelenjar di leher. Tanda ini tidak selalu muncul bersamaan dan dapat datang silih berganti, sehingga orang tua kadang hanya melihat sebagian. Pada sebagian anak, terutama bayi, hanya dua atau tiga tanda yang muncul. Keadaan ini disebut penyakit Kawasaki tidak lengkap dan tetap dapat mengenai arteri koroner. Tanpa pengobatan, demam dapat berlangsung sekitar 1 sampai 2 minggu. Pada minggu kedua sampai ketiga, kulit ujung jari dapat mengelupas. Pelebaran arteri koroner dapat mulai terbentuk pada masa ini, sering tanpa keluhan.

Mengapa Pengobatan Dini Penting

Tanpa pengobatan, sekitar 1 dari 4 anak mengalami pelebaran arteri koroner yang disebut aneurisma koroner. Pernyataan ilmiah American Heart Association (AHA) 2017 menjelaskan bahwa pemberian imunoglobulin intravena (IVIG) bersama aspirin, idealnya dalam 10 hari pertama demam, menurunkan angka itu menjadi sekitar 4 dari 100 anak. Karena itu, anak dengan demam lama yang disertai tanda di atas perlu segera diperiksa dokter, walau belum semua tanda muncul.

Setelah Masa Akut

Sebagian besar anak pulih tanpa kelainan jantung. Ekokardiografi diulang dalam beberapa minggu untuk memastikan arteri koroner normal, dan anak dengan hasil normal dapat kembali bersekolah dan bermain seperti biasa. Anak dengan aneurisma koroner memerlukan obat pencegah bekuan dan pemantauan jantung jangka panjang, karena aneurisma dapat menimbulkan bekuan atau penyempitan bertahun-tahun kemudian, termasuk saat dewasa. Penyakit Kawasaki tidak menular dan bukan akibat kesalahan pola asuh, makanan, atau kebersihan.

Gejala yang Perlu Dikenali.

Gejala Umum

Tanda dapat muncul bergantian dan tidak selalu bersamaan. Foto tanda yang terlihat agar dapat ditunjukkan kepada dokter.

  • Demam tinggi 5 hari atau lebih yang sulit turun dengan obat penurun panas
  • Mata merah di kedua sisi tanpa kotoran mata
  • Bibir merah, kering, dan pecah-pecah, serta lidah merah seperti stroberi
  • Ruam merah di badan, tungkai, atau daerah popok
  • Telapak tangan dan kaki merah dan bengkak
  • Benjolan kelenjar getah bening di satu sisi leher
  • Kulit ujung jari tangan dan kaki mengelupas pada minggu kedua sampai ketiga
  • Anak sangat rewel dan sulit ditenangkan

Gejala pada Bayi

Bayi di bawah 6 bulan sering hanya menunjukkan sebagian tanda (Kawasaki tidak lengkap), padahal risikonya terhadap arteri koroner lebih tinggi.

  • Demam 7 hari atau lebih tanpa penyebab yang jelas
  • Hanya satu atau dua tanda khas, misalnya mata merah atau ruam
  • Bekas suntikan vaksin BCG kembali merah, bengkak, atau berkerak
  • Sangat rewel, sulit menyusu, atau tampak lemas
  • Diare, muntah, atau perut kembung
Tidak semua orang mengalami gejala yang sama. Bila keluhan berulang atau memburuk, periksakan diri.

Apa yang Menyebabkan Kondisi Ini?

  • Penyebab pastinya belum diketahui
  • Diduga reaksi kekebalan tubuh yang berlebihan terhadap suatu pemicu, kemungkinan infeksi, pada anak dengan kecenderungan genetik tertentu
  • Peradangan menyerang dinding pembuluh darah berukuran sedang, terutama arteri koroner
  • Kasus kadang muncul berkelompok pada musim tertentu, yang mendukung dugaan adanya pemicu dari lingkungan
  • Tidak menular dari anak ke anak dan bukan akibat makanan, kebersihan, atau pola asuh

Siapa yang Lebih Berisiko?

Usia

Sebagian besar kasus terjadi pada anak di bawah 5 tahun. Bayi di bawah 6 bulan dan anak yang lebih besar lebih jarang terkena, tetapi lebih sering terlambat dikenali dan lebih berisiko mengalami aneurisma koroner.

Genetik

Penyakit ini lebih sering pada anak keturunan Asia, terutama Jepang dan Korea. Saudara kandung penyandang memiliki risiko lebih tinggi, dan beberapa varian gen pengatur kekebalan tubuh dikaitkan dengan penyakit ini.

Lainnya

Anak laki-laki sedikit lebih sering terkena dibanding anak perempuan. Anak yang pernah menderita penyakit Kawasaki juga dapat mengalaminya lagi, walau jarang.

Kelompok yang Lebih Berisiko

  • Anak Balita: Sebagian besar kasus terjadi pada anak di bawah 5 tahun, sehingga demam lama pada balita perlu diwaspadai.
  • Bayi di Bawah 6 Bulan: Sering hanya menunjukkan sebagian tanda, padahal risikonya mengalami aneurisma koroner lebih tinggi.
  • Saudara Kandung Penyandang: Memiliki risiko lebih tinggi dibanding anak lain, sehingga orang tua perlu mengenali tanda-tandanya.
  • Dewasa dengan Riwayat Kawasaki dan Aneurisma: Tetap memerlukan pemantauan jantung karena aneurisma dapat menimbulkan bekuan atau penyempitan bertahun-tahun kemudian.
Memiliki faktor risiko tidak berarti seseorang pasti mengalami kondisi ini.

Bagaimana Diagnosis Ditegakkan?

Tidak ada satu tes pun yang dapat memastikan penyakit Kawasaki. Dokter menegakkan diagnosis dari pemeriksaan fisik: demam 5 hari atau lebih disertai setidaknya 4 dari 5 tanda utama, yaitu mata merah, perubahan bibir dan mulut, ruam, perubahan tangan dan kaki, serta benjolan kelenjar leher. Bila tanda yang muncul kurang lengkap, dokter memakai alur penyakit Kawasaki tidak lengkap dari AHA, yang menggabungkan penanda peradangan (CRP dan LED), hitung darah, albumin, enzim hati, tes urine, dan ekokardiografi.

Ekokardiografi mengukur arteri koroner dan membandingkannya dengan ukuran tubuh anak (skor Z). Pemeriksaan ini dilakukan saat diagnosis, lalu diulang 1 sampai 2 minggu dan 4 sampai 6 minggu setelah pengobatan. Dokter juga menyingkirkan penyakit lain yang mirip, seperti campak, demam skarlet, infeksi virus, reaksi obat, dan sindrom peradangan multisistem pada anak (MIS-C) setelah COVID-19.

  1. Pemeriksaan Fisik

    Dokter menghitung lama demam dan memeriksa lima tanda utama: mata, bibir dan mulut, ruam, tangan dan kaki, serta kelenjar leher.

  2. Ekokardiografi

    Mengukur arteri koroner dan membandingkannya dengan ukuran tubuh anak (skor Z), menilai otot jantung dan katup, lalu diulang setelah pengobatan.

  3. Pemeriksaan Darah Lengkap

    Mencari anemia, sel darah putih yang tinggi, dan trombosit yang meningkat setelah hari ketujuh, yang mendukung diagnosis Kawasaki tidak lengkap.

  4. Pemeriksaan C-Reactive Protein

    CRP bersama laju endap darah (LED) menilai beratnya peradangan dan menjadi langkah awal pada dugaan Kawasaki tidak lengkap.

  5. Pemeriksaan Urine Lengkap

    Mencari sel darah putih dalam urine tanpa infeksi saluran kemih, salah satu temuan penunjang penyakit Kawasaki.

  6. Elektrokardiogram / EKG

    Menilai irama jantung dan tanda peradangan otot jantung pada fase akut, serta tanda kekurangan aliran darah saat pemantauan.

  7. Angiografi Koroner CT

    Pada anak yang lebih besar atau dewasa dengan aneurisma, CT memetakan arteri koroner yang sulit dilihat dengan ekokardiografi.

Pilihan Penanganan.

Penanganan ditentukan dokter setelah evaluasi. Kategori berikut membantu Anda memahami pembicaraan dengan dokter.

Imunoglobulin Intravena (IVIG)

Antibodi yang diberikan lewat infus di rumah sakit untuk meredam peradangan. Idealnya diberikan dalam 10 hari pertama demam, dan tetap dipertimbangkan setelahnya bila peradangan masih aktif.

Aspirin dengan Pengawasan Dokter

Diberikan bersama IVIG pada fase akut, lalu dengan dosis rendah selama beberapa minggu. Dokter menentukan dosis dan lamanya; jangan memberikan aspirin kepada anak tanpa petunjuk dokter.

Kortikosteroid dan Obat Penekan Peradangan Lain

Dipertimbangkan untuk anak yang berisiko tinggi mengalami aneurisma atau bila demam tidak turun setelah IVIG, termasuk obat biologis tertentu.

Obat Pencegah Bekuan Jangka Panjang

Untuk anak dengan aneurisma koroner, berupa obat antiplatelet, dan pada aneurisma besar ditambah obat antikoagulan.

Pemantauan Jantung Jangka Panjang

Ekokardiografi, EKG, uji beban, dan pencitraan arteri koroner sesuai ukuran aneurisma, berlanjut sampai dewasa bila diperlukan.

Tindakan pada Penyempitan Koroner

Bila penyempitan berat muncul di kemudian hari, pilihannya berupa tindakan kateter atau operasi bypass koroner.

Kesesuaian dan ketersediaan pemeriksaan atau terapi perlu dikonfirmasi bersama tim perawatan.

Komplikasi yang Perlu Dipantau.

Aneurisma Arteri Koroner

Pelebaran arteri koroner terjadi pada sekitar 1 dari 4 anak yang tidak diobati dan sekitar 4 dari 100 anak yang diobati tepat waktu. Aneurisma kecil sering kembali normal.

Bekuan dan Penyempitan Arteri Koroner

Aneurisma besar dapat membentuk bekuan atau menyempit bertahun-tahun kemudian dan memicu serangan jantung, yang dibahas di halaman Infark Miokard / Serangan Jantung.

Peradangan Otot Jantung

Pada fase akut, peradangan dapat mengenai otot jantung sehingga pompa melemah sementara. Peradangan otot jantung dibahas di halaman Miokarditis.

Syok Kawasaki

Sebagian kecil anak mengalami tekanan darah sangat rendah pada fase akut dan memerlukan perawatan intensif.

Kebocoran Katup Jantung

Katup mitral dapat bocor pada fase akut, dan pangkal aorta dapat sedikit melebar. Umumnya membaik setelah peradangan mereda.

Apa yang Bisa Dilakukan?

  • Periksakan anak yang demam lebih dari 4 sampai 5 hari, terutama bila disertai mata merah, ruam, atau bibir merah
  • Catat hari pertama demam dan foto tanda yang terlihat agar dapat ditunjukkan kepada dokter
  • Jangan memberikan aspirin kepada anak tanpa petunjuk dokter
  • Jalani ekokardiografi ulang sesuai jadwal setelah anak pulang dari rumah sakit
  • Tanyakan kepada dokter tentang penundaan vaksin hidup, seperti campak dan cacar air, setelah IVIG
  • Bila anak minum aspirin jangka panjang, tanyakan tentang vaksin influenza dan hindari ibuprofen tanpa petunjuk dokter
  • Bagi anak dengan aneurisma koroner, biasakan pola makan sehat, aktif bergerak, dan tidak merokok saat dewasa

Kapan Harus ke Dokter?

Bawa anak ke dokter bila demam berlangsung lebih dari 4 sampai 5 hari, terutama bila disertai salah satu tanda berikut. Jangan menunggu semua tanda muncul. Bila anak tampak sangat lemas, pucat, sesak, atau tangan dan kakinya dingin, segera bawa ke IGD.

  • Mata merah di kedua sisi tanpa kotoran mata
  • Bibir merah dan pecah-pecah atau lidah merah seperti stroberi
  • Ruam merah di badan atau daerah popok
  • Telapak tangan dan kaki merah atau bengkak
  • Benjolan kelenjar di leher
  • Bayi dengan demam 7 hari atau lebih tanpa penyebab yang jelas
  • Bekas suntikan BCG kembali merah dan bengkak saat demam

Jangan Menunggu bila Kondisinya Darurat.

Bila keluhan terasa berat atau muncul mendadak, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258, bukan menunggu janji temu.

Hal yang Mungkin Anda Tanyakan.

Pertanyaan yang sering diajukan orang tua tentang penyakit Kawasaki.

Apakah penyakit Kawasaki menular?

Tidak. Penyakit Kawasaki tidak menular dari anak ke anak, sehingga saudara dan teman anak Anda tidak perlu dijauhkan. Penyebab pastinya belum diketahui. Para ahli menduga penyakit ini merupakan reaksi kekebalan tubuh yang berlebihan terhadap suatu pemicu, kemungkinan infeksi, pada anak dengan kecenderungan genetik tertentu. Penyakit ini juga bukan akibat makanan, kebersihan, atau pola asuh.

Apakah anak saya bisa pulih sepenuhnya?

Sebagian besar anak pulih sepenuhnya, terutama bila diobati dalam 10 hari pertama demam. Anak yang ekokardiografinya tetap normal setelah 4 sampai 6 minggu umumnya dapat beraktivitas seperti biasa dan tidak memerlukan obat jangka panjang. Anak dengan aneurisma koroner memerlukan pemantauan lebih lama. Aneurisma kecil sering kembali ke ukuran normal dalam 1 sampai 2 tahun, sedangkan aneurisma besar memerlukan pengawasan seumur hidup.

Mengapa anak saya perlu dirawat dan diinfus IVIG?

IVIG adalah larutan antibodi dari donor darah yang diberikan lewat infus selama beberapa jam. Obat ini meredam peradangan pada pembuluh darah dan menurunkan risiko aneurisma koroner. Perawatan di rumah sakit diperlukan untuk memantau reaksi infus, demam, dan kondisi jantung. Bila demam belum turun sekitar 36 jam setelah infus selesai, dokter dapat memberikan IVIG ulang atau obat penekan peradangan lain.

Mengapa anak saya diberi aspirin, padahal aspirin biasanya tidak dianjurkan untuk anak?

Aspirin memang umumnya tidak diberikan kepada anak, tetapi penyakit Kawasaki merupakan pengecualian yang diawasi dokter. Pada fase akut, aspirin membantu meredam peradangan, lalu dengan dosis rendah mencegah penggumpalan trombosit di arteri koroner. Selama anak minum aspirin, beri tahu dokter bila anak terpapar flu atau cacar air, dan jangan memberikan ibuprofen tanpa petunjuk dokter karena dapat mengganggu kerja aspirin.

Apakah jadwal imunisasi anak berubah setelah pengobatan?

Ya, sebagian. Antibodi dalam IVIG dapat membuat vaksin hidup, seperti vaksin campak dan cacar air, kurang bekerja. Karena itu, AHA menganjurkan vaksin tersebut ditunda sekitar 11 bulan setelah IVIG. Vaksin lain umumnya tetap dapat diberikan sesuai jadwal. Anak yang minum aspirin jangka panjang dianjurkan mendapat vaksin influenza. Diskusikan jadwal imunisasi dengan dokter anak Anda.

Apakah penyakit Kawasaki bisa kambuh?

Bisa, tetapi jarang. Kekambuhan terjadi pada sekitar 1 sampai 3 dari 100 anak, umumnya dalam beberapa tahun setelah episode sebelumnya. Bila anak yang pernah menderita penyakit Kawasaki kembali mengalami demam lama disertai tanda serupa, segera bawa ke dokter dan sampaikan riwayatnya. Anak dengan riwayat Kawasaki tidak perlu dibatasi aktivitasnya bila arteri koronernya normal.

Sumber dan Tinjauan Medis

Ditinjau secara medis oleh dr. Tartila, Sp.A, Subsp.ETIA(K).

  1. McCrindle BW, Rowley AH, Newburger JW, Burns JC, Bolger AF, Gewitz M, et al. Diagnosis, Treatment, and Long-Term Management of Kawasaki Disease: A Scientific Statement for Health Professionals From the American Heart Association. Circulation. 2017;135(17):e927-99.
  2. Jone PN, Tremoulet A, Choueiter N, Dominguez SR, Harahsheh AS, Mitani Y, et al. Update on Diagnosis and Management of Kawasaki Disease: A Scientific Statement From the American Heart Association. Circulation. 2024;150(23):e481-500.
  3. Fukazawa R, Kobayashi J, Ayusawa M, Hamada H, Miura M, Mitani Y, et al. JCS/JSCS 2020 Guideline on Diagnosis and Management of Cardiovascular Sequelae in Kawasaki Disease. Circ J. 2020;84(8):1348-407.
  4. de Graeff N, Groot N, Ozen S, Eleftheriou D, Avcin T, Bader-Meunier B, et al. European consensus-based recommendations for the diagnosis and treatment of Kawasaki disease: the SHARE initiative. Rheumatology (Oxford). 2019;58(4):672-82.
  5. Newburger JW, Takahashi M, Burns JC. Kawasaki Disease. J Am Coll Cardiol. 2016;67(14):1738-49.
  6. Kobayashi T, Saji T, Otani T, Takeuchi K, Nakamura T, Arakawa H, et al. Efficacy of immunoglobulin plus prednisolone for prevention of coronary artery abnormalities in severe Kawasaki disease (RAISE study): a randomised, open-label, blinded-endpoints trial. Lancet. 2012;379(9826):1613-20.

Langkah berikutnya

Bahas Keluhan Anda bersama Dokter.

Mulai konsultasi untuk memahami kondisi dan pilihan penanganan yang sesuai.

Konteks kunjungan: Penyakit Kawasaki

Informasi di halaman ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi, diagnosis, atau pengobatan medis. Untuk keluhan kesehatan Anda, konsultasikan langsung dengan dokter.

Kembali ke Semua Kondisi