Langsung ke konten

Perikarditis

Perikarditis Kronis

Chronic Pericarditis

Ditinjau secara medis olehdr. Radityo Prakoso, Sp.JP(K), Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah
Terakhir diperbarui7 Oktober 2026
Ilustrasi medis perikarditis kronis dengan jantung dikelilingi perikardium yang menebal, cairan perikardial, dan serabut adhesi, disertai inset lapisan perikardium fibrotik serta jaringan paru dengan nodul yang mengarah pada tuberkulosis.
Ilustrasi Perikarditis Kronis

Jawaban singkat

Apa Itu Perikarditis Kronis?

Perikarditis kronis adalah peradangan selaput pembungkus jantung yang berlangsung lebih dari tiga bulan. Kondisi ini sering disertai cairan di sekitar jantung dan perlu dicari penyebabnya, seperti TB, penyakit autoimun, atau gagal ginjal.

Sumber informasi

Tanda yang Memerlukan Pertolongan Segera

  • Sesak napas berat atau makin sesak dalam waktu singkat
  • Pingsan atau hampir pingsan
  • Kulit pucat, dingin, dan berkeringat dengan denyut jantung sangat cepat
  • Nyeri dada berat yang tidak berkurang dengan istirahat atau perubahan posisi
  • Bengkak dan perut membesar dengan cepat

Bila tanda ini muncul, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258.

Catatan kegawatan: Perikarditis kronis jarang mengancam nyawa dalam waktu dekat. Namun peradangan yang berlangsung berbulan-bulan perlu dicari penyebabnya dan dipantau, karena cairan dapat bertambah atau selaput menebal sampai menghambat pengisian jantung.

Mengenal Perikarditis Kronis

Sebagian besar perikarditis akut mereda dalam beberapa minggu. Bila peradangan selaput jantung berlangsung lebih dari tiga bulan, dokter menyebutnya perikarditis kronis. Istilah ini berbeda dari perikarditis menetap, yaitu peradangan yang berlangsung terus lebih dari 4 sampai 6 minggu tetapi kurang dari tiga bulan, dan dari perikarditis rekuren, yaitu peradangan yang kambuh setelah sempat bebas keluhan, yang dibahas di halaman Perikarditis Rekuren.

Keluhan perikarditis kronis sering lebih samar dibanding episode akut. Sebagian orang merasakan nyeri dada ringan yang hilang timbul, cepat lelah, atau sesak saat beraktivitas. Sebagian lain tidak merasakan apa pun dan baru mengetahuinya dari ekokardiografi yang memperlihatkan cairan di kantong jantung.

Bentuk Perikarditis Kronis

Peradangan yang lama dapat tampil dalam beberapa bentuk. Bentuk efusif ditandai cairan yang menetap di kantong jantung, yang dibahas di halaman Efusi Perikardium. Bentuk adhesif ditandai perlekatan dan penebalan selaput tanpa banyak cairan. Bila selaput menebal dan kaku sampai menghambat pengisian jantung, kondisinya berkembang menjadi konstriksi, yang dibahas di halaman Perikarditis Konstriktif.

Mengapa Penyebabnya Perlu Dicari

Berbeda dengan episode akut yang sering tidak ditemukan penyebabnya, peradangan yang berlangsung berbulan-bulan lebih mungkin memiliki penyebab khusus. Di Indonesia, TB perlu selalu dipertimbangkan. Penyebab lain antara lain penyakit autoimun seperti lupus dan artritis reumatoid, gagal ginjal berat, kelenjar tiroid yang kurang aktif, kanker, dan riwayat radiasi di dada. Pengobatan yang diarahkan ke penyebab ini sering menjadi kunci agar peradangan dan cairan mereda.

Perikarditis akibat TB biasanya disertai demam, berkeringat malam, berat badan turun, dan cairan yang cukup banyak. Bila tidak diobati tuntas, peradangan ini dapat meninggalkan jaringan parut yang mengikat jantung. Karena itu, pemeriksaan cairan perikardium kadang diperlukan untuk memastikan penyebabnya.

Hidup dengan Perikarditis Kronis

Dengan penyebab yang ditangani dan pemantauan teratur, banyak penyandang perikarditis kronis dapat beraktivitas seperti biasa. Olahraga berat ditunda selama peradangan masih aktif. Kontrol berkala tetap diperlukan untuk mengenali cairan yang bertambah atau tanda konstriksi sejak dini, sehingga penanganan dapat disesuaikan sebelum keluhan memberat.

Gejala yang Perlu Dikenali.

Gejala Umum

  • Nyeri atau rasa tidak nyaman di dada yang hilang timbul
  • Cepat lelah dan daya tahan beraktivitas menurun
  • Sesak napas saat beraktivitas atau berbaring
  • Demam ringan atau berkeringat malam, terutama bila penyebabnya TB
  • Berat badan turun tanpa sebab jelas
  • Bengkak di tungkai atau perut terasa begah
  • Tanpa keluhan, ditemukan dari ekokardiografi atau rontgen dada
Tidak semua orang mengalami gejala yang sama. Bila keluhan berulang atau memburuk, periksakan diri.

Apa yang Menyebabkan Kondisi Ini?

  • Tuberkulosis (TB) yang menyerang selaput jantung
  • Penyakit autoimun, seperti lupus, artritis reumatoid, atau skleroderma
  • Gagal ginjal berat dengan penumpukan sisa metabolisme, termasuk pada pasien cuci darah
  • Kelenjar tiroid yang kurang aktif (hipotiroidisme) yang menimbulkan cairan di kantong jantung
  • Kanker yang menyebar ke perikardium atau riwayat terapi radiasi di dada
  • Perikarditis akut yang tidak tuntas diobati atau peradangan setelah operasi jantung
  • Idiopatik, yaitu penyebab tidak ditemukan walaupun sudah diperiksa lengkap

Siapa yang Lebih Berisiko?

Medis

Penyakit autoimun, gagal ginjal berat, hipotiroidisme, kanker, riwayat operasi jantung atau radiasi dada, dan perikarditis sebelumnya yang belum tuntas diobati.

Lainnya

Kontak erat dengan penderita TB, tinggal di daerah dengan banyak kasus TB, HIV, dan pemakaian obat penekan daya tahan tubuh.

Kelompok yang Lebih Berisiko

  • Orang dengan Riwayat atau Kontak TB: TB perikardium dapat berjalan perlahan dengan demam, berkeringat malam, dan cairan menetap di kantong jantung.
  • Penyandang Penyakit Autoimun: Lupus, artritis reumatoid, dan penyakit jaringan ikat lain dapat menimbulkan peradangan selaput jantung yang berlangsung lama.
  • Pasien Gagal Ginjal dan Cuci Darah: Sisa metabolisme yang menumpuk atau cuci darah yang kurang memadai dapat memicu peradangan dan cairan di perikardium.
  • Penyintas Kanker: Kanker yang menyebar ke perikardium atau radiasi di dada dapat menimbulkan peradangan dan cairan yang menetap.
Memiliki faktor risiko tidak berarti seseorang pasti mengalami kondisi ini.

Bagaimana Diagnosis Ditegakkan?

Diagnosis perikarditis kronis bertumpu pada lamanya peradangan dan bukti bahwa peradangan masih ada, misalnya nyeri, CRP yang tinggi, cairan yang menetap, atau tanda radang pada MRI. Ekokardiografi menjadi pemeriksaan dasar untuk menilai cairan dan ketebalan selaput, lalu diulang berkala.

Langkah berikutnya adalah mencari penyebab. Dokter memilih pemeriksaan sesuai riwayat dan gejala Anda, misalnya rontgen dada dan pemeriksaan TB, tes ANA untuk penyakit autoimun, fungsi ginjal, dan fungsi tiroid. CT atau MRI jantung menilai penebalan, pengapuran, dan peradangan aktif. Bila penyebab belum jelas, cairan yang banyak, atau dicurigai TB, infeksi bakteri, maupun kanker, cairan perikardium dapat diambil dengan jarum untuk diperiksa. Biopsi perikardium kadang diperlukan.

  1. Ekokardiografi

    Menilai jumlah cairan, ketebalan selaput, dan tanda tekanan atau konstriksi; diulang berkala untuk memantau perubahan.

  2. Pemeriksaan C-Reactive Protein

    Menunjukkan apakah peradangan masih aktif, sebagai dasar memilih obat antiradang dan memantau responsnya.

  3. MRI Jantung

    Memperlihatkan peradangan aktif dan penebalan perikardium, membantu membedakan peradangan yang masih dapat diobati dari jaringan parut.

  4. CT-Scan Jantung

    Menilai penebalan dan pengapuran perikardium, serta kelainan di paru dan kelenjar getah bening yang mengarah ke TB atau kanker.

  5. Tes Antibodi Anti-Nuklear / Tes ANA

    Penyaring penyakit autoimun seperti lupus, salah satu penyebab peradangan selaput jantung yang berlangsung lama.

  6. Pemeriksaan Fungsi Tiroid

    Mencari hipotiroidisme, penyebab cairan di kantong jantung yang dapat membaik dengan pengobatan tiroid.

  7. Analisis cairan perikardium yang diambil dengan jarum (perikardiosentesis) atau biopsi perikardium untuk mencari TB, infeksi, atau sel kanker bila penyebab belum jelas.

Pilihan Penanganan.

Penanganan ditentukan dokter setelah evaluasi. Kategori berikut membantu Anda memahami pembicaraan dengan dokter.

Pengobatan Sesuai Penyebab

Obat anti-TB, pengendalian penyakit autoimun, cuci darah yang lebih memadai, atau terapi hormon tiroid, sesuai penyebab yang ditemukan.

Obat Antiradang dan Kolkisin

Dipakai bila peradangan masih aktif, ditandai nyeri atau CRP tinggi. Jenis, lama pemakaian, dan cara menurunkannya ditentukan dokter.

Kortikosteroid atau Obat Penekan Imun

Dipertimbangkan pada penyebab autoimun atau peradangan yang tidak membaik, setelah infeksi seperti TB disingkirkan.

Pengeluaran Cairan Perikardium

Cairan banyak, yang menimbulkan keluhan, atau yang perlu diperiksa dikeluarkan dengan jarum. Bila terus berulang, dapat dibuat jendela perikardium lewat operasi.

Perikardiektomi

Operasi pengangkatan perikardium dipertimbangkan bila timbul konstriksi menetap atau peradangan terus kambuh walaupun sudah mendapat obat yang memadai.

Pemantauan Berkala

Ekokardiografi dan pemeriksaan darah berkala untuk menilai jumlah cairan, aktivitas radang, dan tanda konstriksi.

Kesesuaian dan ketersediaan pemeriksaan atau terapi perlu dikonfirmasi bersama tim perawatan.

Komplikasi yang Perlu Dipantau.

Efusi Perikardium Menetap

Cairan yang menetap dapat bertambah perlahan dan menimbulkan sesak. Cairan banyak yang menimbulkan keluhan perlu dikeluarkan.

Tamponade Jantung

Bila cairan bertambah cepat, jantung tertekan dan pompa terganggu. Keadaan darurat ini dibahas di halaman Tamponade Jantung.

Perikarditis Konstriktif

Peradangan lama, terutama karena TB, dapat membuat selaput menebal dan kaku sehingga jantung sulit terisi darah.

Serangan Nyeri Akut Berulang

Nyeri dada tajam dapat muncul kembali saat peradangan memburuk, terutama bila obat dikurangi terlalu cepat.

Apa yang Bisa Dilakukan?

  • Selesaikan pengobatan TB sampai tuntas sesuai jadwal
  • Minum obat perikarditis sesuai anjuran dan jangan menghentikannya sendiri
  • Kendalikan penyakit autoimun, ginjal, atau tiroid dengan kontrol teratur
  • Datang untuk ekokardiografi ulang sesuai jadwal walaupun merasa sehat
  • Catat keluhan seperti sesak, bengkak, atau nyeri dada untuk dibawa saat kontrol

Kapan Harus ke Dokter?

Periksakan diri bila nyeri dada ringan, cepat lelah, atau sesak tidak kunjung hilang berbulan-bulan, terutama bila disertai demam, berkeringat malam, atau berat badan turun. Bila Anda sudah terdiagnosis perikarditis kronis, hubungi dokter bila sesak atau bengkak bertambah, nyeri kembali tajam, atau muncul efek samping obat. Jangan menunda kontrol hanya karena keluhan terasa ringan, karena cairan dapat bertambah tanpa banyak gejala.

Segera ke IGD bila:

  • Sesak napas berat atau makin sesak dalam waktu singkat
  • Pingsan atau hampir pingsan
  • Kulit pucat, dingin, dan berkeringat dengan denyut jantung sangat cepat
  • Bengkak dan perut membesar dengan cepat

Jangan Menunggu bila Kondisinya Darurat.

Bila keluhan terasa berat atau muncul mendadak, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258, bukan menunggu janji temu.

Hal yang Mungkin Anda Tanyakan.

Pertanyaan yang sering diajukan tentang perikarditis kronis.

Apa beda perikarditis kronis, menetap, dan rekuren?

Ketiganya dibedakan dari lama dan pola peradangan. Perikarditis menetap berlangsung terus lebih dari 4 sampai 6 minggu tanpa jeda, tetapi kurang dari tiga bulan. Perikarditis kronis berlangsung lebih dari tiga bulan. Perikarditis rekuren berarti peradangan kambuh setelah sempat bebas keluhan sedikitnya 4 sampai 6 minggu. Pembagian ini membantu dokter menentukan pemeriksaan penyebab dan lama pengobatan.

Apakah perikarditis kronis selalu disebabkan TB?

Tidak. TB memang penyebab penting di Indonesia sehingga perlu dipertimbangkan, tetapi perikarditis kronis juga dapat disebabkan penyakit autoimun, gagal ginjal, hipotiroidisme, kanker, radiasi dada, atau tidak diketahui penyebabnya. Dokter memilih pemeriksaan sesuai gejala dan riwayat Anda. Bila TB terbukti atau sangat dicurigai, obat anti-TB diberikan selama beberapa bulan dan perlu diminum sampai tuntas.

Apakah cairan di sekitar jantung harus selalu dikeluarkan?

Tidak selalu. Cairan sedikit sampai sedang yang tidak menimbulkan keluhan sering cukup dipantau sambil mengobati penyebabnya. Cairan dikeluarkan bila menekan jantung, menimbulkan sesak, berjumlah besar dan tidak berkurang, atau perlu diperiksa untuk mencari TB, infeksi, atau sel kanker. Keputusan ini dibuat dokter berdasarkan hasil ekokardiografi dan kondisi Anda.

Apakah perikarditis kronis bisa sembuh?

Bisa membaik, terutama bila penyebabnya ditemukan dan diobati, misalnya TB yang diobati tuntas, penyakit autoimun yang terkendali, atau hipotiroidisme yang diterapi. Pada sebagian orang tanpa penyebab jelas, peradangan dan cairan mereda perlahan dalam beberapa bulan. Pemantauan tetap diperlukan karena sebagian kecil dapat berkembang menjadi konstriksi yang memerlukan operasi.

Bolehkah saya tetap bekerja dan berolahraga?

Banyak penyandang perikarditis kronis dapat bekerja seperti biasa bila keluhannya ringan. Olahraga berat sebaiknya ditunda selama peradangan masih aktif, yaitu saat masih ada nyeri atau CRP tinggi. Setelah peradangan reda, aktivitas dinaikkan bertahap sesuai anjuran dokter. Sampaikan bila sesak atau lelah makin berat, karena dapat menandakan cairan bertambah atau mulai terjadi konstriksi.

Sumber dan Tinjauan Medis

Ditinjau secara medis oleh dr. Radityo Prakoso, Sp.JP(K).

  1. Schulz-Menger J, Collini V, Gröschel J, Adler Y, Brucato A, Christian V, et al. 2025 ESC Guidelines for the management of myocarditis and pericarditis. Eur Heart J. 2025;46(40):3952-4041.
  2. Adler Y, Charron P, Imazio M, Badano L, Barón-Esquivias G, Bogaert J, et al. 2015 ESC Guidelines for the diagnosis and management of pericardial diseases: The Task Force for the Diagnosis and Management of Pericardial Diseases of the European Society of Cardiology (ESC). Eur Heart J. 2015;36(42):2921-2964.
  3. Imazio M, Adler Y. Management of pericardial effusion. Eur Heart J. 2013;34(16):1186-1197.
  4. Mayosi BM, Burgess LJ, Doubell AF. Tuberculous Pericarditis. Circulation. 2005;112(23):3608-3616.
  5. Mayosi BM, Ntsekhe M, Bosch J, Pandie S, Jung H, Gumedze F, et al. Prednisolone and Mycobacterium indicus pranii in Tuberculous Pericarditis. N Engl J Med. 2014;371(12):1121-1130.
  6. Cremer PC, Kumar A, Kontzias A, Tan CD, Rodriguez ER, Imazio M, et al. Complicated Pericarditis: Understanding Risk Factors and Pathophysiology to Inform Imaging and Treatment. J Am Coll Cardiol. 2016;68(21):2311-2328.
  7. Imazio M, Brucato A, Maestroni S, Cumetti D, Belli R, Trinchero R, et al. Risk of Constrictive Pericarditis After Acute Pericarditis. Circulation. 2011;124(11):1270-1275.

Langkah berikutnya

Bahas Keluhan Anda bersama Dokter.

Mulai konsultasi untuk memahami kondisi dan pilihan penanganan yang sesuai.

Konteks kunjungan: Perikarditis Kronis

Informasi di halaman ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi, diagnosis, atau pengobatan medis. Untuk keluhan kesehatan Anda, konsultasikan langsung dengan dokter.

Kembali ke Semua Kondisi