Jawaban singkat
Apa Itu Sinkop?
Sinkop atau pingsan adalah hilang kesadaran sesaat karena aliran darah ke otak berkurang, lalu pulih sendiri dengan cepat. Kebanyakan disebabkan refleks yang tidak berbahaya, tetapi sebagian berasal dari gangguan jantung yang perlu diperiksa.
Sumber informasiTanda yang Memerlukan Pertolongan Segera
- Pingsan saat olahraga atau saat berbaring
- Pingsan mendadak tanpa tanda peringatan
- Berdebar kencang, nyeri dada, atau sesak sebelum atau setelah pingsan
- Tidak segera sadar, atau tidak bernapas normal
- Bicara pelo, lemah sebelah tubuh, atau sakit kepala hebat setelah sadar
- Cedera kepala atau perdarahan setelah jatuh
- Pingsan pada orang dengan penyakit jantung atau alat pacu jantung
- Ada keluarga yang meninggal mendadak di usia muda
Bila tanda ini muncul, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258.
01 / Memahami kondisi
Mengenal Sinkop
Sinkop adalah hilang kesadaran sesaat akibat aliran darah ke otak berkurang. Kejadiannya cepat, berlangsung singkat, biasanya kurang dari satu menit, dan kesadaran pulih sendiri secara utuh. Karena otot kehilangan kekuatan, tubuh jatuh atau terkulai. Pingsan berbeda dengan kejang, stroke, gula darah rendah, atau cedera kepala, yang juga dapat membuat orang tidak sadar tetapi dengan sebab dan penanganan yang lain. Halaman ini membantu Anda mengenali kemungkinan penyebab dan tanda bahaya, bukan untuk memastikan penyebabnya sendiri.
Tiga Kelompok Penyebab
Pedoman ESC 2018 membagi sinkop menjadi tiga kelompok. Pertama, sinkop refleks, yang banyak dialami: refleks saraf membuat pembuluh darah melebar dan denyut jantung melambat, misalnya saat berdiri lama, melihat darah, merasa nyeri, atau setelah batuk dan buang air kecil. Jenis yang dipicu berdiri lama dan emosi dibahas di halaman Hipotensi Vasovagal. Kedua, sinkop akibat tekanan darah turun saat berdiri karena kurang cairan, obat penurun tekanan darah, atau gangguan saraf otonom pada diabetes dan penyakit Parkinson, yang dibahas di halaman Hipotensi Ortostatik. Ketiga, sinkop kardiak, yaitu pingsan karena gangguan jantung, seperti denyut terlalu lambat atau terlalu cepat, penyempitan katup aorta, kardiomiopati hipertrofik, atau bekuan darah di paru.
Mengapa Sinkop Kardiak Perlu Dikenali
Sinkop refleks dan ortostatik umumnya tidak mengancam nyawa, walaupun dapat menyebabkan cedera saat jatuh. Sinkop kardiak berbeda: pingsan dapat menjadi peringatan sebelum gangguan irama yang lebih berbahaya. Tanda yang mengarah ke jantung antara lain pingsan saat olahraga atau saat berbaring, pingsan tanpa tanda peringatan, berdebar sebelum pingsan, adanya penyakit jantung, dan keluarga yang meninggal mendadak di usia muda.
Pada setiap orang yang pingsan, dokter berusaha menjawab dua hal: apakah kejadian itu benar sinkop, dan apakah ada tanda risiko tinggi. Cerita dari orang yang melihat kejadian sangat membantu, dan EKG dilakukan pada semua orang yang pingsan. Orang dengan risiko rendah umumnya dapat dievaluasi lanjut secara rawat jalan, sedangkan yang berisiko tinggi memerlukan pemeriksaan segera di rumah sakit.
02 / Memahami kondisi
Gejala yang Perlu Dikenali.
Gejala Umum
- Kepala terasa ringan, mual, atau berkeringat sebelum pingsan
- Pandangan menyempit, kabur, atau gelap
- Wajah pucat, tubuh lemas, lalu jatuh
- Hilang kesadaran singkat, biasanya kurang dari satu menit
- Kesadaran pulih cepat dan langsung mengenali keadaan sekitar
- Sentakan otot singkat saat pingsan
- Lelah atau lemas beberapa saat setelah sadar
Gejala pada Lansia
Pada lansia, pingsan sering tidak diingat dan tampak seperti jatuh biasa, sehingga penyebabnya mudah terlewat.
- Jatuh tiba-tiba tanpa ingat bagaimana terjadinya
- Pingsan setelah makan, buang air kecil, atau bangun dari duduk
- Tanda peringatan sangat singkat atau tidak ada
- Cedera akibat jatuh lebih sering terjadi
03 / Memahami kondisi
Apa yang Menyebabkan Kondisi Ini?
- Refleks vasovagal akibat berdiri lama, panas, nyeri, rasa takut, atau melihat darah
- Refleks situasional setelah batuk, mengejan, buang air kecil, atau menelan
- Tekanan darah turun saat berdiri akibat kurang cairan, obat, atau gangguan saraf otonom
- Denyut jantung terlalu lambat, misalnya blok jantung atau gangguan simpul sinus
- Denyut jantung terlalu cepat, misalnya takikardia ventrikular atau takikardia supraventrikular
- Penyempitan katup aorta, kardiomiopati hipertrofik, atau sumbatan aliran keluar jantung lainnya
- Bekuan darah di paru, serangan jantung, atau robekan aorta
- Gangguan irama bawaan, seperti sindrom QT panjang atau sindrom Brugada
04 / Memahami kondisi
Siapa yang Lebih Berisiko?
Gaya Hidup
Kurang minum, melewatkan makan, kurang tidur, alkohol, dan berdiri lama tanpa bergerak memudahkan pingsan refleks.
Medis
Penyakit jantung struktural, gagal jantung, gangguan irama, diabetes, penyakit Parkinson, dan penyakit ginjal meningkatkan kemungkinan penyebab yang lebih serius.
Genetik
Riwayat keluarga meninggal mendadak di usia muda, kardiomiopati, atau gangguan irama bawaan.
Usia
Sinkop refleks sering muncul pertama kali pada remaja dan dewasa muda; pada lansia, penyebab ortostatik dan jantung lebih sering ditemukan.
Lainnya
Obat penurun tekanan darah, diuretik, obat yang memperpanjang QT, kehamilan, serta pemulihan setelah sakit atau perdarahan.
Kelompok yang Lebih Berisiko
- Lansia: Lebih sering pingsan akibat gangguan jantung atau tekanan darah turun saat berdiri, dan jatuh lebih mudah menyebabkan patah tulang.
- Penyandang Penyakit Jantung: Pingsan pada orang dengan kardiomiopati, kelainan katup, atau riwayat serangan jantung perlu dianggap berisiko tinggi sampai terbukti bukan.
- Atlet dan Remaja Aktif: Pingsan saat berolahraga perlu diperiksa untuk menyingkirkan kelainan jantung bawaan atau gangguan irama.
- Pengemudi dan Pekerja Berisiko: Pingsan saat mengemudi, bekerja di ketinggian, atau dengan mesin dapat membahayakan diri dan orang lain; dokter akan membahas keamanannya.
- Pengguna Obat Penurun Tekanan Darah: Obat ini, terutama dalam kombinasi atau setelah dosisnya dinaikkan, dapat memicu pingsan saat berdiri.
05 / Memahami kondisi
Bagaimana Diagnosis Ditegakkan?
Evaluasi awal menurut pedoman ESC 2018 terdiri atas cerita kejadian, pemeriksaan fisik, pengukuran tekanan darah berbaring dan berdiri, serta EKG. Dokter menanyakan posisi dan aktivitas saat pingsan, tanda peringatan, lama tidak sadar, keadaan setelah sadar, obat, penyakit jantung, dan riwayat keluarga. Kesaksian orang yang melihat kejadian sangat membantu. Dari langkah ini, penyebab sering sudah dapat dikenali, dan dokter menilai apakah risikonya rendah atau tinggi.
Bila dicurigai penyebab jantung, pemeriksaan dipilih sesuai dugaan: pemantauan irama di rumah sakit, Holter atau perekam irama beberapa hari, ekokardiografi untuk menilai katup dan otot jantung, uji latih bila pingsan terjadi saat olahraga, dan studi elektrofisiologi pada keadaan tertentu. Untuk pingsan yang jarang tetapi berulang, perekam di bawah kulit dapat merekam irama selama dua sampai tiga tahun. Uji meja miring membantu memastikan sinkop refleks atau hipotensi ortostatik bila ceritanya belum jelas.
Elektrokardiogram / EKG
Dilakukan pada setiap orang yang pingsan untuk mencari denyut lambat, gangguan hantaran, irama cepat, atau tanda gangguan irama bawaan.
Pemeriksaan Fisik
Termasuk tekanan darah berbaring lalu berdiri sampai tiga menit untuk mengenali hipotensi ortostatik, serta pemeriksaan bising jantung.
Ekokardiografi
USG jantung bila dicurigai penyakit jantung struktural, seperti penyempitan katup aorta atau kardiomiopati.
Pemantauan Holter
Rekaman irama 24 sampai 48 jam bila pingsan atau gejala mirip pingsan terjadi cukup sering.
Implantable Loop Recorder (ILR)
Perekam di bawah kulit untuk pingsan berulang yang jarang dan belum jelas penyebabnya.
Tes Treadmill
Uji latih bila pingsan terjadi saat atau segera setelah olahraga.
Studi Elektrofisiologi
Pemeriksaan listrik jantung dari dalam pada orang dengan bekas serangan jantung atau gangguan hantaran tertentu, bila pemeriksaan lain belum memastikan penyebab.
06 / Memahami kondisi
Pilihan Penanganan.
Penanganan ditentukan dokter setelah evaluasi. Kategori berikut membantu Anda memahami pembicaraan dengan dokter.
Edukasi dan Mengenali Pemicu
Pada sinkop refleks, langkah utama adalah memahami bahwa keadaan ini umumnya tidak berbahaya, mengenali tanda peringatan, menghindari pemicu, dan cukup minum.
Gerakan Penahan Tekanan
Saat tanda peringatan muncul, silangkan tungkai sambil mengencangkan otot, kepalkan kedua tangan, atau segera jongkok dan berbaring.
Peninjauan Obat
Obat penurun tekanan darah atau obat lain yang memicu pingsan dapat dikurangi atau diganti oleh dokter. Jangan menghentikan obat sendiri.
Alat Pacu Jantung
Bila pingsan terbukti disebabkan denyut jantung yang terlalu lambat atau jeda denyut yang terekam, dokter dapat memasang alat pacu jantung.
Ablasi atau ICD
Bila pingsan disebabkan irama yang terlalu cepat, dokter dapat melakukan ablasi atau memasang ICD sesuai jenis gangguan irama dan keadaan jantung.
Penanganan Penyakit Jantung Struktural
Penyempitan katup aorta yang menyebabkan pingsan ditangani dengan penggantian katup lewat operasi atau kateter; penyebab lain ditangani sesuai jenisnya.
07 / Memahami kondisi
Komplikasi yang Perlu Dipantau.
Cedera Akibat Jatuh
Pingsan mendadak dapat menyebabkan luka, patah tulang, atau cedera kepala, terutama pada lansia dan bila tidak ada tanda peringatan.
Kecelakaan saat Mengemudi atau Bekerja
Pingsan saat mengemudi, bekerja di ketinggian, atau mengoperasikan mesin dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain.
Henti Jantung pada Sinkop Kardiak
Pingsan akibat gangguan irama atau penyakit jantung struktural dapat menjadi peringatan sebelum henti jantung bila penyebabnya tidak ditangani.
Kecemasan dan Pembatasan Aktivitas
Pingsan berulang dapat membuat seseorang takut beraktivitas, berdiri lama, atau keluar rumah, sehingga kualitas hidup menurun.
08 / Memahami kondisi
Apa yang Bisa Dilakukan?
- Kenali tanda peringatan dan segera duduk atau berbaring saat merasakannya.
- Minum cukup air, terutama saat cuaca panas, berolahraga, atau sedang sakit.
- Bangun perlahan dari berbaring atau duduk, terutama di pagi hari dan setelah makan.
- Saat berdiri lama, gerakkan otot betis atau ganti posisi secara berkala.
- Jangan mengubah obat tekanan darah sendiri; diskusikan dengan dokter bila sering pusing saat berdiri.
- Hindari alkohol berlebihan, terutama di tempat panas.
- Bila pernah pingsan tanpa sebab yang jelas, jangan mengemudi sampai diperiksa dokter.
09 / Memahami kondisi
Kapan Harus ke Dokter?
Setiap pingsan yang terjadi pertama kali sebaiknya diperiksa dokter. Hubungi ambulans (119) atau segera ke IGD bila pingsan terjadi saat olahraga atau saat berbaring, didahului berdebar atau nyeri dada, atau bila orang tersebut tidak segera sadar. Buat janji dengan dokter bila mengalami keadaan berikut.
- Pingsan berulang atau makin sering
- Sering hampir pingsan saat berdiri
- Pingsan yang menyebabkan cedera
- Pingsan setelah mulai minum obat baru
- Anda memiliki penyakit jantung, diabetes, atau penyakit Parkinson
- Pekerjaan Anda sebagai pengemudi atau di tempat yang berisiko bila pingsan
Jangan Menunggu bila Kondisinya Darurat.
Bila keluhan terasa berat atau muncul mendadak, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258, bukan menunggu janji temu.
10 / Pertanyaan umum
Hal yang Mungkin Anda Tanyakan.
Pertanyaan yang sering diajukan tentang sinkop atau pingsan.
Apa yang harus dilakukan bila melihat orang pingsan?
Bila tidak ada cedera, baringkan ia telentang dan angkat kedua tungkainya agar darah lebih mudah kembali ke otak. Longgarkan pakaian yang ketat, periksa apakah ia bernapas, dan jangan memaksanya segera berdiri. Bila ia tidak sadar dalam satu sampai dua menit, tidak bernapas normal, atau pingsan saat olahraga, hubungi ambulans (119). Bila tidak bernapas normal, mulai pijat jantung di tengah dada.
Apakah pingsan berarti ada masalah jantung?
Tidak selalu. Sebagian besar pingsan disebabkan refleks saraf atau tekanan darah turun saat berdiri, yang umumnya tidak berbahaya. Namun, sebagian pingsan berasal dari gangguan irama atau penyakit jantung struktural. Pingsan saat olahraga, saat berbaring, tanpa tanda peringatan, atau pada orang dengan penyakit jantung perlu diperiksa lebih teliti untuk mencari penyebab dari jantung.
Apa bedanya pingsan dengan kejang?
Pingsan sering didahului rasa melayang, mual, keringat, dan pandangan gelap, lalu orang sadar penuh dalam waktu singkat. Sentakan otot dapat terjadi, tetapi hanya beberapa detik. Pada kejang epilepsi, sentakan biasanya lebih lama, lidah dapat tergigit di bagian samping, dan setelahnya orang bingung cukup lama. Rekaman video atau cerita saksi membantu dokter membedakan keduanya.
Apakah saya boleh mengemudi setelah pingsan?
Jangan mengemudi sampai diperiksa dokter. Keputusan bergantung pada penyebab pingsan, ada atau tidaknya tanda peringatan, dan apakah penyebabnya sudah ditangani. Pada pingsan refleks yang jarang, mengemudi kendaraan pribadi umumnya masih dimungkinkan, sedangkan pada pingsan akibat gangguan irama dokter biasanya meminta menunggu sampai penanganan berhasil. Pengemudi profesional memerlukan pertimbangan yang lebih ketat.
Mengapa dokter perlu memasang perekam irama?
Penyebab pingsan sering baru terlihat bila irama jantung terekam tepat saat kejadian. Karena pingsan bisa jarang terjadi, rekaman singkat di klinik sering normal. Holter merekam satu sampai dua hari, perekam tempel beberapa minggu, dan perekam di bawah kulit dapat bekerja dua sampai tiga tahun. Pilihan alat disesuaikan dengan seberapa sering keluhan muncul dan seberapa besar dugaan penyebab dari jantung.
Apakah anak atau remaja yang pingsan perlu diperiksa ke dokter jantung?
Sebagian besar pingsan pada anak dan remaja adalah pingsan refleks, misalnya saat upacara atau melihat darah. Namun, pemeriksaan jantung perlu dilakukan bila anak pingsan saat olahraga atau berenang, saat terkejut, saat berbaring, didahului berdebar, atau ada keluarga yang meninggal mendadak di usia muda, karena tanda ini dapat mengarah ke kelainan jantung bawaan atau gangguan irama.
Sumber dan Tinjauan Medis
Ditinjau secara medis oleh Dr. dr. Dicky A. Hanafy, Sp.JP(K).
- Brignole M, Moya A, de Lange FJ, Deharo JC, Elliott PM, Fanciulli A, et al. 2018 ESC Guidelines for the diagnosis and management of syncope. Eur Heart J. 2018;39(21):1883-1948.
- Brignole M, Moya A, de Lange FJ, Deharo JC, Elliott PM, Fanciulli A, et al. Practical Instructions for the 2018 ESC Guidelines for the diagnosis and management of syncope. Eur Heart J. 2018;39(21):e43-e80.
- Shen WK, Sheldon RS, Benditt DG, Cohen MI, Forman DE, Goldberger ZD, et al. 2017 ACC/AHA/HRS guideline for the evaluation and management of patients with syncope: a report of the American College of Cardiology/American Heart Association Task Force on Clinical Practice Guidelines and the Heart Rhythm Society. Circulation. 2017;136(5):e60-e122.
- Zeppenfeld K, Tfelt-Hansen J, de Riva M, Winkel BG, Behr ER, Blom NA, et al. 2022 ESC Guidelines for the management of patients with ventricular arrhythmias and the prevention of sudden cardiac death. Eur Heart J. 2022;43(40):3997-4126.
- Freeman R, Wieling W, Axelrod FB, Benditt DG, Benarroch E, Biaggioni I, et al. Consensus statement on the definition of orthostatic hypotension, neurally mediated syncope and the postural tachycardia syndrome. Clin Auton Res. 2011;21(2):69-72.
- Thiruganasambandamoorthy V, Kwong K, Wells GA, Sivilotti MLA, Mukarram M, Rowe BH, et al. Development of the Canadian Syncope Risk Score to predict serious adverse events after emergency department assessment of syncope. CMAJ. 2016;188(12):E289-E298.




