Jawaban singkat
Apa Itu Trombosis Stent?
Trombosis stent adalah tersumbatnya stent (ring jantung) di arteri koroner secara mendadak oleh bekuan darah. Keadaan ini umumnya menimbulkan serangan jantung dan memerlukan pertolongan darurat di IGD.
Sumber informasi01 / Memahami kondisi
Mengenal Trombosis Stent
Trombosis stent adalah keadaan ketika bekuan darah terbentuk di dalam stent koroner yang sudah terpasang, sehingga arteri tersumbat mendadak. Stent adalah penyangga jaring logam kecil yang dipasang saat angioplasti untuk menjaga arteri tetap terbuka. Karena aliran ke otot jantung terhenti tiba-tiba, trombosis stent umumnya muncul sebagai serangan jantung, sering berupa infark miokard dengan elevasi segmen ST. Keadaan ini berbeda dengan penyempitan ulang yang terjadi perlahan, yang dibahas di halaman Restenosis.
Kapan Dapat Terjadi
Dokter membagi waktunya menjadi akut (dalam 24 jam pertama), subakut (sampai 30 hari), lambat (sampai satu tahun), dan sangat lambat (lebih dari satu tahun). Sebagian besar kasus terjadi dalam bulan pertama setelah pemasangan. Trombosis yang terjadi setelah satu tahun biasanya berkaitan dengan plak baru di dalam stent atau kerangka stent yang tidak menempel rapat ke dinding arteri. Dengan stent berlapis obat generasi kini dan obat antiplatelet yang diminum teratur, trombosis stent jarang terjadi, yaitu sekitar 1 dari 100 pasien atau kurang dalam tahun pertama.
Mengapa Bekuan Terbentuk
Pemicu yang menonjol adalah berhentinya obat antiplatelet terlalu dini, terutama dalam beberapa minggu pertama. Antiplatelet ganda, yaitu aspirin bersama obat penghambat P2Y12 seperti klopidogrel, tikagrelor, atau prasugrel, menjaga trombosit agar tidak menggumpal di permukaan stent sampai dinding arteri menutupi kerangka logam. Faktor dari tindakan juga berperan, misalnya stent yang kurang mengembang, ukuran yang kurang sesuai, robekan di tepi stent, atau aliran darah yang lambat. Faktor pasien meliputi pemasangan stent saat serangan jantung, diabetes, penyakit ginjal, kanker, dan merokok.
Penanganan Darurat
Penanganannya sama dengan serangan jantung: arteri dibuka secepat mungkin, umumnya lewat intervensi koroner perkutan darurat. Dokter membuka sumbatan dengan kawat dan balon, melebarkan kembali stent, dan bila perlu memasang stent tambahan atau memberi obat antibekuan lewat infus. Pencitraan dari dalam arteri dengan IVUS atau OCT dianjurkan untuk mencari penyebab mekanis, agar kejadian serupa tidak berulang. Setelah itu, dokter meninjau ulang obat antiplatelet dan memastikan obat diminum dengan teratur. Tindakan pembukaan arteri dibahas di halaman Intervensi Koroner Perkutan (PCI).
02 / Memahami kondisi
Gejala yang Perlu Dikenali.
Gejala Umum
Keluhan biasanya datang tiba-tiba, sering dalam hari atau minggu pertama setelah pemasangan stent, atau setelah obat antiplatelet dihentikan.
- Nyeri, rasa berat, atau tertekan di dada yang datang mendadak dan menetap
- Nyeri menjalar ke lengan, leher, rahang, atau punggung
- Keringat dingin dan kulit pucat
- Sesak napas
- Mual atau muntah
- Pusing, lemas, atau rasa akan pingsan
Gejala pada Lansia
Pada usia lanjut dan pada penyandang diabetes, nyeri dada bisa ringan atau tidak ada sama sekali.
- Sesak napas mendadak tanpa nyeri dada yang jelas
- Lemas berat atau tiba-tiba tidak mampu beraktivitas
- Bingung atau linglung yang baru muncul
- Pingsan atau jatuh tanpa sebab jelas
03 / Memahami kondisi
Apa yang Menyebabkan Kondisi Ini?
- Menghentikan obat antiplatelet ganda terlalu dini, terutama dalam bulan pertama setelah pemasangan stent
- Respons tubuh yang lemah terhadap obat antiplatelet, misalnya pada sebagian orang yang memakai klopidogrel
- Stent yang kurang mengembang atau ukurannya kurang sesuai dengan arteri
- Robekan dinding arteri di tepi stent atau sisa penyempitan yang tidak tertutup stent
- Kerangka stent yang belum tertutup lapisan dinding arteri atau peradangan di sekitar stent
- Plak baru di dalam stent yang pecah, pada trombosis stent yang terjadi bertahun-tahun kemudian
- Keadaan yang memudahkan darah membeku, seperti serangan jantung saat pemasangan, kanker, atau operasi
04 / Memahami kondisi
Siapa yang Lebih Berisiko?
Medis
Diabetes, penyakit ginjal kronis, fungsi pompa jantung yang lemah, kanker, dan pemasangan stent saat serangan jantung meningkatkan risiko trombosis stent.
Gaya Hidup
Merokok membuat darah lebih mudah membeku. Lupa atau sengaja menghentikan obat antiplatelet, misalnya karena biaya atau efek samping, adalah faktor yang dapat dicegah.
Genetik
Varian gen CYP2C19 tertentu membuat klopidogrel kurang efektif pada sebagian orang. Varian ini lebih sering ditemukan pada orang Asia.
Lainnya
Stent yang panjang, bertumpuk, berdiameter kecil, atau dipasang di percabangan, serta operasi atau cabut gigi yang membuat antiplatelet dihentikan tanpa koordinasi dengan dokter jantung.
Kelompok yang Lebih Berisiko
- Pasien dalam Bulan Pertama setelah Pemasangan Stent: Sebagian besar trombosis stent terjadi dalam 30 hari pertama, ketika kerangka stent belum tertutup lapisan dinding arteri.
- Pasien yang Menghentikan Antiplatelet Dini: Berhenti minum antiplatelet ganda dalam bulan-bulan pertama tanpa arahan dokter meningkatkan risiko secara tajam.
- Pasien yang Dipasang Stent saat Serangan Jantung: Bekuan darah dan peradangan saat serangan jantung membuat risiko trombosis stent lebih tinggi dibanding pemasangan terencana.
- Penyandang Diabetes dan Penyakit Ginjal: Kedua keadaan ini membuat trombosit lebih aktif dan meningkatkan risiko bekuan di dalam stent.
- Penyandang Kanker: Kanker dan sebagian terapinya memudahkan darah membeku, dan pengobatan kanker kadang membuat antiplatelet perlu dihentikan.
05 / Memahami kondisi
Bagaimana Diagnosis Ditegakkan?
Trombosis stent dicurigai bila orang yang pernah dipasang stent mengalami keluhan serangan jantung. Di IGD, EKG direkam dalam 10 menit pertama dan darah diambil untuk pemeriksaan troponin. Bila EKG menunjukkan pola serangan jantung dengan elevasi segmen ST, pasien langsung disiapkan untuk tindakan kateterisasi tanpa menunggu hasil tes darah.
Diagnosis dipastikan lewat angiografi koroner, yang memperlihatkan bekuan di dalam atau di tepi stent. Dalam tindakan yang sama, dokter membuka arteri. IVUS atau OCT membantu menemukan penyebab mekanis, misalnya stent yang kurang mengembang, sehingga dapat diperbaiki saat itu juga. Setelah keadaan stabil, dokter menelusuri riwayat minum obat antiplatelet dan dapat memeriksa faktor lain yang memudahkan darah membeku.
Elektrokardiogram / EKG
Direkam di IGD dalam 10 menit pertama untuk melihat pola serangan jantung, termasuk elevasi segmen ST, di wilayah arteri yang dipasang stent.
Tes Troponin Jantung
Kenaikan troponin memastikan adanya kerusakan otot jantung akibat sumbatan.
Angiografi Koroner
Memastikan stent tersumbat bekuan darah dan menjadi langkah awal pembukaan arteri dalam tindakan yang sama.
Ultrasonografi Intravaskular (IVUS)
Menilai dari dalam arteri apakah stent kurang mengembang, ukurannya kurang sesuai, atau ada robekan di tepinya.
Optical Coherence Tomography (OCT)
Gambar rinci dari dalam stent untuk melihat bekuan, kerangka yang belum tertutup jaringan, atau plak baru yang pecah.
Ekokardiografi
Menilai gerak dinding dan kekuatan pompa jantung setelah serangan, serta mencari komplikasi.
06 / Memahami kondisi
Pilihan Penanganan.
Penanganan ditentukan dokter setelah evaluasi. Kategori berikut membantu Anda memahami pembicaraan dengan dokter.
Intervensi Koroner Perkutan Darurat
Arteri dibuka secepatnya lewat kateter dengan kawat dan balon, lalu stent dilebarkan kembali atau ditambah stent baru bila perlu.
Perbaikan Penyebab Mekanis
Dengan panduan IVUS atau OCT, stent yang kurang mengembang dilebarkan dengan balon, dan robekan di tepi stent ditutup dengan stent tambahan.
Obat Antibekuan saat Tindakan
Obat antikoagulan dan antiplatelet lewat infus diberikan selama tindakan untuk mencegah bekuan baru, sesuai keputusan dokter.
Penyesuaian Obat Antiplatelet
Dokter meninjau jenis dan lama antiplatelet ganda, misalnya mengganti klopidogrel dengan penghambat P2Y12 yang lebih kuat, dan menjelaskan pentingnya tidak berhenti sendiri.
Perawatan Intensif Jantung
Pemantauan irama dan dukungan sirkulasi di ruang rawat intensif jantung bila terjadi syok atau gangguan irama berat.
Rehabilitasi dan Pencegahan Sekunder
Program rehabilitasi jantung, berhenti merokok, serta pengendalian diabetes, tekanan darah, dan kolesterol setelah fase darurat.
07 / Memahami kondisi
Komplikasi yang Perlu Dipantau.
Serangan Jantung
Sumbatan mendadak umumnya menimbulkan serangan jantung, sering dengan elevasi segmen ST, yang dibahas di halaman Infark Miokard dengan Elevasi Segmen ST.
Gangguan Irama Berat dan Henti Jantung
Otot jantung yang kekurangan aliran dapat memicu fibrilasi ventrikel dan henti jantung, sehingga pertolongan cepat dan pijat jantung bila perlu sangat menentukan.
Syok Kardiogenik
Bila kerusakan otot luas, jantung tidak mampu memompa cukup darah ke seluruh tubuh, yang dibahas di halaman Syok Kardiogenik.
Gagal Jantung
Otot jantung yang rusak dapat membuat pompa melemah dalam jangka panjang. Dibahas di halaman Gagal Jantung.
Trombosis Stent Berulang
Sebagian pasien dapat mengalaminya lagi, sehingga penyebab mekanis dan kepatuhan minum obat antiplatelet perlu dipastikan.
08 / Memahami kondisi
Apa yang Bisa Dilakukan?
- Minum obat antiplatelet ganda setiap hari sesuai resep, tanpa melewatkannya
- Jangan menghentikan antiplatelet sendiri, termasuk sebelum cabut gigi atau operasi, tanpa bicara dengan dokter jantung
- Pastikan persediaan obat tidak habis, terutama saat bepergian atau libur panjang
- Beri tahu setiap dokter dan dokter gigi bahwa Anda memakai stent dan obat antiplatelet
- Simpan kartu stent atau catatan tindakan dan bawa saat berobat
- Berhenti merokok dan kendalikan diabetes, tekanan darah, serta kolesterol
- Laporkan efek samping obat, seperti perdarahan, agar dokter dapat menyesuaikan obat dengan aman
09 / Memahami kondisi
Kapan Harus ke Dokter?
Bila Anda pernah dipasang stent dan merasakan nyeri dada mendadak yang tidak hilang dengan istirahat, jangan menunggu. Hubungi ambulans atau segera ke IGD terdekat. Hubungi dokter jantung Anda lebih dulu, sebelum ada keluhan, bila:
- Anda akan menjalani operasi, cabut gigi, atau tindakan lain dan diminta menghentikan obat antiplatelet
- Muncul perdarahan, memar luas, atau tinja hitam selama minum obat antiplatelet
- Obat Anda habis atau Anda kesulitan mendapatkannya
- Anda ragu kapan antiplatelet ganda boleh dikurangi menjadi satu obat
- Nyeri dada ringan saat aktivitas mulai muncul kembali
10 / Pertanyaan umum
Hal yang Mungkin Anda Tanyakan.
Pertanyaan yang sering diajukan tentang trombosis stent.
Apa beda trombosis stent dengan restenosis?
Trombosis stent adalah sumbatan mendadak oleh bekuan darah, biasanya terjadi dalam hitungan menit sampai jam, dan umumnya menimbulkan serangan jantung yang perlu pertolongan darurat. Restenosis adalah penyempitan yang terjadi perlahan dalam beberapa bulan karena jaringan tumbuh di dalam stent, sehingga keluhannya muncul bertahap saat aktivitas. Restenosis dibahas di halaman Restenosis.
Mengapa obat antiplatelet tidak boleh dihentikan sendiri?
Obat antiplatelet mencegah trombosit menggumpal di permukaan stent. Pada bulan-bulan pertama, kerangka stent belum tertutup lapisan dinding arteri sehingga bekuan mudah terbentuk bila obat dihentikan. Menghentikan obat tanpa arahan dokter adalah salah satu pemicu utama trombosis stent. Bila ada efek samping, perdarahan, atau rencana operasi, bicarakan dengan dokter jantung agar obat dapat diatur dengan aman.
Berapa lama saya harus minum dua obat antiplatelet?
Lamanya ditentukan dokter berdasarkan alasan pemasangan stent dan risiko perdarahan Anda. Pada pemasangan setelah serangan jantung, pedoman umumnya menganjurkan sekitar 12 bulan, sedangkan pada pemasangan terencana sering sekitar 6 bulan. Bila risiko perdarahan tinggi, masa ini dapat dipersingkat. Setelah itu, umumnya satu obat antiplatelet tetap diminum jangka panjang. Jangan mengubah jadwal ini sendiri.
Bagaimana bila saya perlu operasi atau cabut gigi?
Beri tahu dokter yang akan melakukan tindakan bahwa Anda memakai stent, dan hubungi dokter jantung sebelum menghentikan obat apa pun. Banyak tindakan gigi dan operasi kecil dapat dilakukan tanpa menghentikan aspirin. Operasi yang tidak mendesak umumnya ditunda sampai masa antiplatelet ganda selesai. Bila obat harus dihentikan, dokter jantung dan dokter bedah menyusun rencana bersama untuk menekan risiko bekuan dan perdarahan.
Apakah trombosis stent bisa terjadi bertahun-tahun setelah pemasangan?
Bisa, walau jarang. Trombosis stent sangat lambat terjadi lebih dari satu tahun setelah pemasangan, misalnya karena plak baru di dalam stent pecah, kerangka stent tidak menempel rapat ke dinding arteri, atau ada peradangan di sekitar stent. Karena itu, satu obat antiplatelet umumnya tetap diminum jangka panjang, dan nyeri dada mendadak tetap perlu ditangani sebagai keadaan darurat kapan pun terjadi.
Sumber dan Tinjauan Medis
Ditinjau secara medis oleh dr. Emanoel Oepangat, Sp.JP(K).
- Byrne RA, Rossello X, Coughlan JJ, Barbato E, Berry C, Chieffo A, et al. 2023 ESC Guidelines for the management of acute coronary syndromes. Eur Heart J. 2023;44(38):3720-826.
- Valgimigli M, Bueno H, Byrne RA, Collet JP, Costa F, Jeppsson A, et al. 2017 ESC focused update on dual antiplatelet therapy in coronary artery disease developed in collaboration with EACTS. Eur Heart J. 2018;39(3):213-60.
- Vrints C, Andreotti F, Koskinas KC, Rossello X, Adamo M, Ainslie J, et al. 2024 ESC Guidelines for the management of chronic coronary syndromes. Eur Heart J. 2024;45(36):3415-537.
- Garcia-Garcia HM, McFadden EP, Farb A, Mehran R, Stone GW, Spertus J, et al. Standardized End Point Definitions for Coronary Intervention Trials: The Academic Research Consortium-2 Consensus Document. Circulation. 2018;137(24):2635-50.
- Johnson TW, Räber L, di Mario C, Bourantas C, Jia H, Mattesini A, et al. Clinical use of intracoronary imaging. Part 2: acute coronary syndromes, ambiguous coronary angiography findings, and guiding interventional decision-making: an expert consensus document of the European Association of Percutaneous Cardiovascular Interventions. Eur Heart J. 2019;40(31):2566-84.
- Byrne RA, Joner M, Kastrati A. Stent thrombosis and restenosis: what have we learned and where are we going? The Andreas Grüntzig Lecture ESC 2014. Eur Heart J. 2015;36(47):3320-31.




