Langsung ke konten

Cerita pasien · Penyakit Pembuluh Darah (Vaskular)

Mengira Hanya Diare, Bu Helen Ternyata Mengalami Diseksi Aorta

Cerita Ibu Helen.

Bu Helen, asal Surabaya, menjalani hari-harinya dengan aktif di usia lanjut, salah satunya dengan merajut. Suatu hari, keluhan yang awalnya ia kira gangguan pencernaan biasa ternyata berasal dari aorta, pembuluh darah utama tubuh. Ia kemudian menjalani operasi besar di Heartology.

Awal Keluhan

Awalnya Bu Helen mengalami diare seharian. Matanya lalu berkunang-kunang, kepalanya sakit, dan dadanya terasa nyeri. Tak lama kemudian, ia pingsan di pundak asisten rumah tangganya. Ia segera dirawat inap dan menjalani USG serta CT scan. Hasilnya mengejutkan: aortanya sudah sobek.

Kondisi ini disebut diseksi aorta, yaitu robekan pada lapisan dalam dinding aorta, pembuluh darah utama yang membawa darah dari jantung ke seluruh tubuh. Bu Helen merasa bingung dan takut, sementara keluarganya sangat khawatir karena kondisi ini mereka kenal sebagai penyakit langka. Meski begitu, ia merasakan ketenangan yang menyelimutinya. “Tuhan kasih saya selimut, supaya saya enggak stres,” kenangnya.

Mencari Jawaban di Heartology

Bu Helen mendapat rekomendasi tentang Heartology. Di saat yang sama, anaknya mencari informasi di media sosial dan menemukan profil dokter bedah jantung di Heartology. Keluarga pun memutuskan membawanya ke sini. Di Heartology, ia menjalani CT scan dari atas hingga bawah, yang memastikan diagnosis diseksi aorta.

Penanganannya melibatkan banyak keahlian: tim bedah toraks dan kardiovaskular Heartology, dokter jantung termasuk dr. Suko Adiarto, Sp.JP (K), Ph.D., dokter anestesi, serta dokter penyakit dalam, paru, saraf, dan gigi. Bu Helen menjalani operasi besar yang berlangsung sekitar enam sampai delapan jam, lalu operasi lanjutan sekitar sebulan kemudian.

Pemulihan dan Pesan Bu Helen

Setelah operasi, Bu Helen dirawat sembilan hari di ICCU, ruang perawatan intensif khusus jantung, dan pulang pada hari ke-20 perawatan. Ia memaknai pengalaman ini dengan caranya sendiri. “Tuhan mau saya dikasih gejala supaya saya break, dikasih saya pingsan,” ujarnya. Baginya, pingsan itulah yang membuatnya berhenti sejenak dan memeriksakan diri.

Saat video direkam, Bu Helen masih menjalani pemulihan. Kakinya sudah kuat dipakai berjalan sekitar 20 menit. Pesannya untuk Anda yang menghadapi keputusan serupa: jangan takut menjalani tindakan, percayakan penanganan kepada dokter yang berpengalaman, dan ingat bahwa hidup dan mati ada di tangan Tuhan. Ia meyakini, bila Tuhan mengizinkan seseorang berumur panjang, Tuhan bekerja melalui tangan dokter yang mengoperasinya. Keyakinan itulah yang membuatnya tenang menjalani setiap tahap perawatan.

Setiap perjalanan berbeda. Cerita ini merupakan pengalaman pribadi. Kondisi, pilihan penanganan, dan hasil perawatan setiap orang dapat berbeda.

Cerita dalam Suaranya Sendiri.

Awalnya Mengira Hanya Diare, Ternyata Saya Alami Diseksi Aorta

Simak pengalaman yang dibagikan pasien melalui kanal Heartology. Durasi 19 menit 57 detik.

Tonton di YouTube Video dibuka di YouTube, di tab baru.

Pengalaman lainnya

Cerita dengan Perawatan Serupa.

Semua Cerita Pasien

Langkah berikutnya

Bicarakan Kebutuhan
Perawatan Anda.

Mulai dengan konsultasi bersama dokter yang terkait dalam cerita ini. Penanganan akan disesuaikan dengan kondisi Anda.

Janji Temu dengan DokterKenali Kondisi TerkaitBersama dr. Suko Adiarto, Sp.JP(K), Ph.D..