Jawaban singkat
Apa Itu Diseksi Aorta?
Diseksi aorta adalah robekan pada lapisan dalam dinding aorta, pembuluh nadi utama yang keluar dari jantung, sehingga darah mengalir di antara lapisan dinding. Keluhan khasnya nyeri dada atau punggung mendadak yang sangat hebat, dan keadaan ini perlu segera ditangani di IGD.
Sumber informasi01 / Memahami kondisi
Mengenal Diseksi Aorta
Aorta adalah pembuluh nadi utama tubuh. Pembuluh ini keluar dari bilik kiri jantung, naik sebentar (aorta asendens), melengkung di atas jantung, lalu turun melalui dada dan perut sebelum bercabang ke kedua tungkai. Dindingnya terdiri dari tiga lapisan. Pada diseksi aorta, lapisan dalam dinding robek. Darah yang dipompa jantung masuk lewat robekan itu dan membelah dinding, sehingga terbentuk saluran kedua di dalam dinding aorta yang disebut lumen palsu. Lumen palsu dapat menekan saluran asli, menutup pangkal cabang aorta, atau membuat dinding luar menipis dan pecah.
Bagian dari Sindrom Aorta Akut
Diseksi aorta termasuk sindrom aorta akut, yaitu kelompok keadaan darurat pada dinding aorta. Kelompok ini juga mencakup hematoma intramural, yaitu perdarahan di dalam dinding aorta tanpa robekan yang terlihat, dan ulkus aterosklerotik penetrans, yaitu luka pada plak yang menggerus dinding aorta. Keluhan dan penanganannya mirip, sehingga dokter menilai ketiganya bersama.
Tipe A dan Tipe B
Dokter membagi diseksi menurut bagian aorta yang terkena. Tipe A melibatkan aorta asendens, bagian yang dekat dengan jantung. Robekan di sini dapat meluas ke katup aorta, pangkal arteri koroner, atau kantong pembungkus jantung, sehingga umumnya memerlukan operasi darurat. Tipe B tidak melibatkan aorta asendens dan biasanya bermula setelah pangkal pembuluh nadi lengan kiri. Tipe B tanpa komplikasi umumnya ditangani dengan obat dan pemantauan ketat, sedangkan tipe B dengan komplikasi memerlukan tindakan. Pedoman ESC 2024 juga menganjurkan pencatatan letak robekan masuk dan cabang aorta yang terganggu untuk merencanakan penanganan.
Mengapa Dinding Aorta Bisa Robek
Diseksi biasanya terjadi pada dinding aorta yang sudah lemah. Tekanan darah tinggi yang lama tidak terkendali ditemukan pada sebagian besar penyandangnya. Faktor lain adalah aorta yang sudah melebar, yang dibahas di halaman Aneurisma Aorta, kelainan jaringan ikat bawaan seperti sindrom Marfan, katup aorta bikuspid, riwayat operasi jantung atau aorta, cedera dada berat, serta pemakaian kokain atau amfetamin. Pada orang berusia muda, diseksi lebih sering berkaitan dengan kelainan bawaan.
Mengapa Perlu Ditangani Segera
Keluhan diseksi dapat menyerupai serangan jantung, emboli paru, atau stroke, padahal penanganannya berbeda. Obat pengencer darah yang dipakai untuk serangan jantung, misalnya, dapat membahayakan bila penyebabnya diseksi. Karena itu, pencitraan aorta perlu dilakukan secepatnya. Setelah fase akut terlewati, penyandang diseksi aorta membutuhkan pengendalian tekanan darah seumur hidup dan pencitraan aorta berkala, karena bagian aorta yang tersisa dapat melebar dari waktu ke waktu.
02 / Memahami kondisi
Gejala yang Perlu Dikenali.
Gejala Umum
- Nyeri dada atau punggung yang muncul mendadak dan langsung sangat hebat
- Nyeri terasa tajam, seperti ditusuk atau dirobek
- Nyeri berpindah ke leher, rahang, perut, atau tungkai seiring meluasnya robekan
- Keringat dingin, pucat, dan gelisah
- Tekanan darah atau denyut nadi berbeda jelas antara lengan kanan dan kiri
- Mual atau muntah yang menyertai nyeri
Gejala pada Lansia
Pada usia lanjut, nyeri sering tidak mendadak atau tidak terlalu hebat, sehingga diseksi mudah dikira penyakit lain.
- Nyeri dada, punggung, atau perut yang tidak terlalu hebat atau muncul perlahan
- Tiba-tiba lemas, bingung, atau tampak linglung
- Sesak napas atau tekanan darah turun tanpa sebab yang jelas
- Pingsan tanpa didahului nyeri yang khas
03 / Memahami kondisi
Apa yang Menyebabkan Kondisi Ini?
- Tekanan darah tinggi yang lama tidak terkendali, yang terus membebani dinding aorta
- Dinding aorta yang melemah dan melebar (aneurisma aorta), termasuk karena proses penuaan
- Kelainan jaringan ikat bawaan, seperti sindrom Marfan, sindrom Loeys-Dietz, dan sindrom Ehlers-Danlos tipe vaskular
- Katup aorta bikuspid, yaitu katup aorta dengan dua daun yang sering disertai dinding aorta yang rapuh
- Plak aterosklerosis yang menggerus dinding aorta sampai membentuk luka (ulkus)
- Cedera dada berat, misalnya kecelakaan lalu lintas, atau cedera saat tindakan kateter dan operasi jantung
- Lonjakan tekanan darah mendadak, misalnya akibat kokain, amfetamin, atau angkat beban yang sangat berat
04 / Memahami kondisi
Siapa yang Lebih Berisiko?
Medis
Hipertensi, aneurisma aorta, katup aorta bikuspid, koarktasio aorta, serta riwayat operasi jantung atau aorta. Peradangan dinding pembuluh darah (vaskulitis) yang mengenai aorta juga menambah risiko.
Genetik
Sindrom Marfan, sindrom Loeys-Dietz, sindrom Ehlers-Danlos tipe vaskular, sindrom Turner, dan penyakit aorta toraks yang diturunkan dalam keluarga. Riwayat keluarga dengan aneurisma atau diseksi aorta perlu disampaikan kepada dokter.
Usia
Rata-rata terjadi pada usia sekitar 60-an tahun, dan sekitar dua pertiga penyandangnya laki-laki. Pada usia di bawah 40 tahun, penyebabnya lebih sering kelainan bawaan.
Gaya Hidup
Merokok, pemakaian kokain atau amfetamin, serta angkat beban sangat berat yang membuat tekanan darah melonjak. Obat tekanan darah yang tidak diminum teratur juga menambah risiko.
Lainnya
Kehamilan, terutama trimester ketiga dan masa setelah melahirkan, pada perempuan dengan kelainan aorta atau jaringan ikat. Cedera dada berat dan tindakan medis pada aorta juga dapat memicu diseksi.
Kelompok yang Lebih Berisiko
- Penyandang Hipertensi yang Tidak Terkendali: Tekanan yang terus tinggi melemahkan dinding aorta. Mengendalikan tekanan darah adalah langkah pencegahan utama.
- Penyandang Aneurisma Aorta: Aorta yang sudah melebar lebih mudah robek, sehingga ukurannya dipantau berkala dan diperbaiki bila mencapai batas yang ditentukan dokter.
- Penyandang Sindrom Marfan dan Kelainan Jaringan Ikat: Diseksi dapat terjadi pada usia muda dan pada ukuran aorta yang lebih kecil, sehingga pencitraan aorta perlu dilakukan berkala.
- Penyandang Katup Aorta Bikuspid: Katup dengan dua daun sering disertai pelebaran aorta asendens, sehingga ukuran aorta dinilai bersama fungsi katup.
- Keluarga Dekat Penyandang Diseksi Aorta: Penyakit aorta dapat diturunkan. Dokter dapat menganjurkan pencitraan aorta dan konseling genetik bagi orang tua, saudara kandung, dan anak.
05 / Memahami kondisi
Bagaimana Diagnosis Ditegakkan?
Di IGD, dokter menanyakan sifat nyeri serta riwayat tekanan darah tinggi, kelainan aorta, atau penyakit aorta dalam keluarga. Dokter mengukur tekanan darah di kedua lengan, meraba denyut nadi lengan dan tungkai, dan mendengarkan bunyi jantung. Ketiga hal ini dirangkum dalam skor risiko diseksi aorta (ADD-RS) untuk menentukan seberapa cepat pencitraan diperlukan.
EKG dan tes troponin dilakukan untuk membedakan diseksi dari serangan jantung, karena keluhannya bisa mirip. Pada orang dengan kemungkinan diseksi yang rendah, hasil D-dimer yang normal membantu menyingkirkannya. Pemeriksaan utama untuk memastikan diagnosis adalah CT angiografi aorta, yaitu CT scan dengan zat kontras dari dada sampai panggul. Pemeriksaan ini menunjukkan letak robekan, tipe diseksi, dan cabang aorta yang terganggu. Ekokardiografi di samping tempat tidur menilai katup aorta dan cairan di sekitar jantung. Bila pasien tidak cukup stabil untuk dibawa ke ruang CT, ekokardiografi transesofageal, yaitu USG lewat kerongkongan, dapat menjadi pilihan.
Setelah fase akut, CT atau MRI aorta diulang secara berkala untuk memantau ukuran aorta dan lumen palsu.
Pemeriksaan Fisik
Wawancara sifat nyeri dan riwayat penyakit, pengukuran tekanan darah di kedua lengan, serta perabaan denyut nadi lengan dan tungkai untuk menilai skor risiko diseksi.
Elektrokardiogram / EKG
Rekaman listrik jantung, bersama tes troponin, untuk membedakan diseksi dari serangan jantung. EKG yang normal tidak menyingkirkan diseksi.
Tes D-dimer
Pada kemungkinan diseksi yang rendah, hasil D-dimer normal membantu menyingkirkannya. Hasil yang tinggi tidak khas dan perlu dilanjutkan dengan CT.
CT-Scan Jantung
CT angiografi aorta dengan zat kontras dari dada sampai panggul, pemeriksaan utama untuk memastikan diseksi, menentukan tipenya, dan melihat cabang yang terganggu.
Ekokardiografi
USG jantung di samping tempat tidur untuk menilai katup aorta, pangkal aorta, dan cairan di sekitar jantung, atau lewat kerongkongan (TEE) bila pasien tidak stabil.
Angiografi Aorta
Pemeriksaan aorta dengan kateter dan zat kontras, umumnya dilakukan bersamaan dengan pemasangan stent graft, bukan untuk diagnosis awal.
CT atau MRI aorta berkala setelah fase akut untuk memantau ukuran aorta dan lumen palsu, misalnya pada bulan pertama, keenam, dan kedua belas, lalu sesuai anjuran dokter.
06 / Memahami kondisi
Pilihan Penanganan.
Penanganan ditentukan dokter setelah evaluasi. Kategori berikut membantu Anda memahami pembicaraan dengan dokter.
Perawatan Intensif dan Pengendalian Nyeri
Pasien dirawat di ruang intensif dengan pemantauan ketat. Obat pereda nyeri diberikan karena nyeri ikut menaikkan tekanan darah dan denyut jantung.
Penurunan Tekanan Darah dan Denyut Jantung
Obat lewat infus, umumnya golongan penghambat beta lebih dahulu, untuk mengurangi tekanan pada dinding aorta. Target dan jenis obat ditentukan dokter, lalu dilanjutkan dengan obat minum.
Operasi Darurat untuk Tipe A
Bagian aorta asendens yang robek diganti dengan pipa buatan, kadang bersama katup aorta atau lengkung aorta. Dibahas di halaman Bedah Aorta.
Pemasangan Stent Graft untuk Tipe B
Tabung berlapis kain dipasang dari dalam aorta lewat arteri di lipat paha untuk menutup robekan masuk. Dianjurkan pada tipe B dengan komplikasi dan dipertimbangkan pada sebagian tipe B tanpa komplikasi.
Terapi Obat dan Pemantauan untuk Tipe B
Tipe B tanpa komplikasi umumnya ditangani dengan obat, pemantauan ketat, dan CT ulang untuk memastikan robekan tidak meluas dan aliran ke organ tetap baik.
Kontrol dan Pencitraan Seumur Hidup
Setelah pulang, tekanan darah dikendalikan sesuai target dokter, aktivitas disesuaikan, dan aorta diperiksa dengan CT atau MRI secara berkala.
07 / Memahami kondisi
Komplikasi yang Perlu Dipantau.
Pecahnya Aorta
Dinding luar aorta yang menipis dapat pecah dan menimbulkan perdarahan di dalam tubuh. Keadaan ini memerlukan operasi segera.
Tamponade Jantung
Darah dapat merembes ke kantong pembungkus jantung dan menekan jantung sehingga pompanya terganggu. Dibahas di halaman Tamponade Jantung.
Kebocoran Katup Aorta
Robekan dekat jantung dapat merusak penyangga katup aorta sehingga katup tidak menutup rapat. Dibahas di halaman Regurgitasi Aorta.
Serangan Jantung
Robekan dapat meluas ke pangkal arteri koroner dan mengganggu aliran darah ke otot jantung.
Stroke dan Gangguan Saraf Tulang Belakang
Aliran darah ke otak atau sumsum tulang belakang dapat terganggu, sehingga muncul kelemahan satu sisi tubuh atau kelumpuhan tungkai.
Gangguan Aliran ke Ginjal, Usus, dan Tungkai
Lumen palsu dapat menutup cabang aorta sehingga ginjal, usus, atau tungkai kekurangan darah. Keadaan ini disebut malperfusi dan memerlukan tindakan.
Pelebaran Aorta di Kemudian Hari
Bagian aorta dengan lumen palsu dapat melebar perlahan menjadi aneurisma dalam bulan atau tahun berikutnya, sehingga perlu pencitraan berkala.
08 / Memahami kondisi
Apa yang Bisa Dilakukan?
- Ukur tekanan darah secara teratur dan kendalikan sesuai target dari dokter.
- Minum obat tekanan darah setiap hari dan jangan menghentikannya tanpa berkonsultasi.
- Berhenti merokok dan jauhi kokain serta amfetamin.
- Bila Anda menyandang pelebaran aorta, jalani pencitraan berkala sesuai jadwal dari dokter.
- Hindari angkat beban sangat berat atau latihan yang membuat Anda menahan napas sambil mengejan; tanyakan jenis olahraga yang aman.
- Bila ada keluarga dengan diseksi, aneurisma aorta, atau sindrom Marfan, sampaikan kepada dokter untuk menilai perlunya pemeriksaan.
- Bila Anda memiliki kelainan aorta dan merencanakan kehamilan, rencanakan kehamilan dan persalinan bersama dokter jantung.
09 / Memahami kondisi
Kapan Harus ke Dokter?
Diseksi aorta adalah keadaan darurat. Bila Anda atau orang di dekat Anda merasakan nyeri dada, punggung, atau perut yang mendadak dan sangat hebat, segera hubungi ambulans (119) atau minta diantar ke IGD terdekat. Jangan menyetir sendiri dan jangan menunggu nyeri reda. Sampaikan kepada petugas bila Anda menyandang tekanan darah tinggi, pelebaran aorta, atau sindrom Marfan.
Buat janji konsultasi dengan dokter bila:
- Anda pernah mengalami diseksi aorta dan perlu kontrol tekanan darah serta pencitraan berkala
- Hasil pemeriksaan menunjukkan pelebaran aorta atau katup aorta bikuspid
- Ada keluarga dekat yang mengalami diseksi atau aneurisma aorta, atau menyandang sindrom Marfan
- Tekanan darah Anda sering tinggi meski sudah minum obat
- Anda merencanakan kehamilan dan memiliki kelainan aorta atau jaringan ikat
10 / Pertanyaan umum
Hal yang Mungkin Anda Tanyakan.
Pertanyaan yang sering diajukan tentang diseksi aorta.
Apa bedanya diseksi aorta dengan serangan jantung?
Serangan jantung terjadi karena arteri koroner tersumbat, sedangkan diseksi aorta adalah robekan di dinding pembuluh nadi utama. Keduanya dapat menimbulkan nyeri dada hebat. Nyeri diseksi biasanya langsung sangat kuat sejak awal, terasa tajam atau seperti dirobek, dan sering menjalar ke punggung. Penanganannya berbeda, sehingga dokter memastikan dengan EKG, tes darah, dan CT sebelum memberikan obat pengencer darah.
Apa bedanya diseksi aorta dengan aneurisma aorta?
Aneurisma adalah pelebaran aorta yang biasanya terjadi perlahan dan sering tanpa keluhan. Diseksi adalah robekan lapisan dalam dinding aorta yang terjadi mendadak. Aorta yang melebar lebih mudah robek, tetapi diseksi juga dapat terjadi pada aorta berukuran normal. Pemantauan dan perbaikan pelebaran aorta dibahas di halaman Aneurisma Aorta.
Apakah semua diseksi aorta harus dioperasi?
Tidak selalu. Diseksi tipe A, yang melibatkan aorta dekat jantung, umumnya memerlukan operasi darurat. Diseksi tipe B tanpa komplikasi biasanya ditangani dengan obat penurun tekanan darah dan denyut jantung serta pemantauan ketat. Bila muncul komplikasi, misalnya aliran darah ke organ terganggu, nyeri tidak mereda, atau aorta cepat melebar, dokter mempertimbangkan pemasangan stent graft atau operasi.
Bagaimana kehidupan setelah diseksi aorta?
Banyak penyintas dapat kembali beraktivitas sehari-hari. Kuncinya adalah tekanan darah yang terkendali, obat yang diminum teratur, dan CT atau MRI aorta berkala karena bagian aorta yang tersisa dapat melebar. Olahraga ringan sampai sedang seperti jalan kaki umumnya dianjurkan, sedangkan angkat beban berat dan olahraga yang membuat Anda mengejan perlu dibicarakan dulu dengan dokter.
Apakah diseksi aorta bisa diturunkan dalam keluarga?
Sebagian bisa. Kelainan jaringan ikat seperti sindrom Marfan, sindrom Loeys-Dietz, dan sindrom Ehlers-Danlos tipe vaskular, serta penyakit aorta toraks keluarga, dapat diwariskan. Bila diseksi terjadi pada usia muda atau ada anggota keluarga lain yang terkena, dokter dapat menganjurkan tes genetik serta pencitraan aorta bagi orang tua, saudara kandung, dan anak penyandang. Sindrom Marfan dibahas di halaman Sindrom Marfan.
Apa yang sebaiknya dilakukan sambil menunggu ambulans?
Minta orang tersebut berbaring atau duduk dengan tenang, dan jangan biarkan ia berjalan atau mengejan. Jangan memberi makan, minum, atau obat apa pun tanpa arahan petugas medis. Siapkan daftar obat dan riwayat penyakitnya untuk disampaikan di IGD. Bila ia tidak sadar dan tidak bernapas normal, mulai pijat jantung sambil menunggu bantuan datang.
Sumber dan Tinjauan Medis
Ditinjau secara medis oleh dr. Suko Adiarto, Sp.JP(K), Ph.D..
- Mazzolai L, Teixido-Tura G, Lanzi S, Boc V, Bossone E, Brodmann M, et al. 2024 ESC Guidelines for the management of peripheral arterial and aortic diseases. Eur Heart J. 2024;45(36):3538-700.
- Isselbacher EM, Preventza O, Hamilton Black J 3rd, Augoustides JG, Beck AW, Bolen MA, et al. 2022 ACC/AHA Guideline for the Diagnosis and Management of Aortic Disease: A Report of the American Heart Association/American College of Cardiology Joint Committee on Clinical Practice Guidelines. Circulation. 2022;146(24):e334-482.
- Czerny M, Grabenwöger M, Berger T, Aboyans V, Della Corte A, Chen EP, et al. EACTS/STS Guidelines for diagnosing and treating acute and chronic syndromes of the aortic organ. Eur J Cardiothorac Surg. 2024;65(2):ezad426.
- Malaisrie SC, Szeto WY, Halas M, Girardi LN, Coselli JS, Sundt TM 3rd, et al. 2021 The American Association for Thoracic Surgery expert consensus document: Surgical treatment of acute type A aortic dissection. J Thorac Cardiovasc Surg. 2021;162(3):735-58.e2.
- Evangelista A, Isselbacher EM, Bossone E, Gleason TG, Eusanio MD, Sechtem U, et al. Insights From the International Registry of Acute Aortic Dissection: A 20-Year Experience of Collaborative Clinical Research. Circulation. 2018;137(17):1846-60.
- Nazerian P, Mueller C, Soeiro AM, Leidel BA, Salvadeo SAT, Giachino F, et al. Diagnostic Accuracy of the Aortic Dissection Detection Risk Score Plus D-Dimer for Acute Aortic Syndromes: The ADvISED Prospective Multicenter Study. Circulation. 2018;137(3):250-8.




