Jawaban singkat
Apa Itu Hipotensi Syok?
Hipotensi syok adalah penurunan tekanan darah berat yang membuat organ tubuh kekurangan aliran darah dan oksigen. Ini keadaan darurat: segera bawa ke IGD atau hubungi layanan gawat darurat.
Sumber informasi01 / Memahami kondisi
Mengenal Hipotensi Syok
Syok adalah keadaan ketika aliran darah tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan oksigen organ tubuh. Tekanan darah rendah, umumnya tekanan atas di bawah 90 mmHg atau tekanan rerata di bawah 65 mmHg, adalah salah satu tanda utamanya. Namun, pada awal syok tekanan darah bisa masih normal karena tubuh berusaha mengimbangi dengan mempercepat denyut jantung dan menyempitkan pembuluh darah di kulit. Karena itu, dokter juga melihat tanda lain: kulit dingin dan pucat, napas cepat, gelisah atau bingung, dan urine yang sedikit.
Empat Jenis Syok
Syok hipovolemik terjadi karena volume darah atau cairan tubuh berkurang banyak, misalnya akibat perdarahan, diare dan muntah hebat, luka bakar luas, atau kebocoran plasma pada demam berdarah dengue. Syok distributif terjadi karena pembuluh darah melebar luas, seperti pada infeksi berat yang menyebar (syok septik), reaksi alergi berat (anafilaksis), atau cedera saraf tulang belakang. Syok kardiogenik terjadi karena pompa jantung gagal, sering akibat serangan jantung, yang dibahas di halaman Syok Kardiogenik. Syok obstruktif terjadi karena aliran darah terhalang, misalnya oleh bekuan di paru atau cairan yang menekan jantung, yang dibahas di halaman Emboli Paru dan Tamponade Jantung.
Apa yang Terjadi di Tubuh
Saat aliran darah tidak cukup, sel tubuh terpaksa menghasilkan energi tanpa cukup oksigen dan menumpuk asam laktat. Ginjal mengurangi produksi urine, otak bekerja lambat sehingga orang tampak gelisah atau bingung, dan jantung sendiri ikut kekurangan oksigen. Bila berlangsung lama, kerusakan dapat mengenai beberapa organ sekaligus. Itulah sebabnya waktu sangat menentukan.
Penanganan di IGD
Di IGD, tim medis menilai jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi, memberi oksigen, memasang infus untuk cairan, dan memantau tekanan darah, irama jantung, serta urine terus-menerus. Bila tekanan darah belum pulih dengan cairan, dokter memberi obat penaik tekanan darah lewat infus. Bersamaan dengan itu, penyebabnya ditangani: menghentikan perdarahan, antibiotik untuk infeksi, obat untuk anafilaksis, atau membuka pembuluh koroner yang tersumbat pada serangan jantung. Perawatan lanjutan biasanya berlangsung di ruang intensif.
Gambaran umum jenis hipotensi lain, dari yang ringan sampai yang memerlukan pemeriksaan lanjutan, dibahas di halaman Hipotensi.
02 / Memahami kondisi
Gejala yang Perlu Dikenali.
Gejala Umum
Tanda syok dapat muncul bertahap atau mendadak.
- Kulit pucat, dingin, lembap, atau tampak berbercak
- Denyut nadi cepat dan lemah
- Napas cepat dan dangkal
- Gelisah, bingung, atau sangat mengantuk
- Pusing berat atau pingsan, terutama saat duduk atau berdiri
- Buang air kecil sangat sedikit atau tidak sama sekali
- Haus berat, mulut kering, dan lemas
- Bibir atau ujung jari kebiruan
Gejala pada Anak-Anak
Pada anak, tekanan darah sering bertahan normal sampai syok sudah berat, sehingga tanda lain lebih bermakna.
- Jantung berdenyut sangat cepat untuk usianya
- Tangan dan kaki dingin dengan kulit belang-belang
- Lemas, tidak mau bermain, atau sulit dibangunkan
- Rewel lalu tampak sangat diam
- Popok kering atau tidak buang air kecil berjam-jam
- Kulit ujung jari yang ditekan lambat kembali merah, lebih dari 2 detik
Gejala pada Lansia
Pada lansia, tanda syok bisa samar, terutama pada pengguna obat yang memperlambat denyut jantung.
- Bingung atau mengantuk mendadak sebagai tanda awal
- Suhu tubuh normal atau rendah walaupun ada infeksi berat
- Denyut nadi tidak selalu cepat bila memakai obat beta-bloker
- Lemas berat, tidak mau makan, atau jatuh
03 / Memahami kondisi
Apa yang Menyebabkan Kondisi Ini?
- Perdarahan berat, baik dari luka maupun di dalam tubuh, seperti di saluran cerna
- Kehilangan cairan hebat karena diare, muntah, atau luka bakar luas
- Kebocoran plasma pada demam berdarah dengue
- Infeksi berat yang menyebar ke seluruh tubuh (sepsis)
- Reaksi alergi berat (anafilaksis) terhadap makanan, obat, atau sengatan serangga
- Serangan jantung, radang otot jantung, atau gangguan irama berat yang melemahkan pompa jantung
- Bekuan darah di paru (emboli paru) atau cairan yang menekan jantung (tamponade)
- Cedera saraf tulang belakang atau kekurangan hormon adrenal yang berat
04 / Memahami kondisi
Siapa yang Lebih Berisiko?
Medis
Penyakit jantung, diabetes, penyakit ginjal atau hati kronis, kanker, dan daya tahan tubuh yang lemah meningkatkan risiko syok saat sakit berat.
Usia
Bayi, anak kecil, dan lansia lebih cepat jatuh ke dalam syok saat kehilangan cairan atau terkena infeksi berat.
Gaya Hidup
Merokok, alkohol berlebihan, dan faktor risiko serangan jantung yang tidak terkendali meningkatkan kemungkinan syok akibat penyakit jantung.
Lainnya
Cedera berat, operasi besar, riwayat alergi berat, dan penggunaan obat yang menekan daya tahan tubuh, seperti kemoterapi.
Kelompok yang Lebih Berisiko
- Lansia: Cadangan tubuh lebih kecil dan tanda syok bisa samar, sehingga infeksi atau kekurangan cairan dapat cepat memburuk.
- Bayi dan Anak-Anak: Cadangan cairan tubuh relatif sedikit, sehingga diare, muntah, atau demam berdarah dapat cepat menyebabkan syok.
- Penyandang Penyakit Jantung: Serangan jantung atau gagal jantung yang memburuk dapat menyebabkan syok kardiogenik.
- Orang dengan Daya Tahan Tubuh Lemah: Penyandang kanker, penerima kemoterapi, atau pengguna obat penekan imun lebih rentan mengalami sepsis.
- Penyandang Alergi Berat: Orang yang pernah mengalami anafilaksis dapat mengalaminya lagi bila terpapar pemicu yang sama.
05 / Memahami kondisi
Bagaimana Diagnosis Ditegakkan?
Pada syok, pemeriksaan dan penanganan berjalan bersamaan. Begitu tiba di IGD, tim medis mengukur tekanan darah, nadi, napas, kadar oksigen, dan kesadaran, lalu memasang infus. Tes darah menilai kadar laktat sebagai penanda kekurangan oksigen jaringan, darah lengkap, elektrolit, fungsi ginjal dan hati, pembekuan darah, serta biakan kuman bila dicurigai infeksi.
EKG dan tes troponin mencari serangan jantung. USG di samping tempat tidur dan ekokardiografi menilai pompa jantung, cairan di sekitar jantung, dan pengisian pembuluh darah besar. Rontgen dada atau CT scan dilakukan sesuai dugaan penyebab. Pada syok yang berat, tekanan di dalam jantung dan paru dapat diukur langsung dengan kateter untuk mengatur cairan dan obat.
Pemeriksaan Fisik
Penilaian cepat tekanan darah, nadi, napas, kesadaran, suhu kulit, dan jumlah urine untuk mengenali syok dan tingkat beratnya.
Pemeriksaan Laboratorium
Tes darah termasuk laktat, darah lengkap, elektrolit, fungsi ginjal dan hati, pembekuan darah, dan biakan kuman bila dicurigai infeksi.
Elektrokardiogram / EKG
Rekaman jantung untuk mencari serangan jantung atau gangguan irama yang menyebabkan syok.
Tes Troponin Jantung
Tes darah untuk memastikan atau menyingkirkan kerusakan otot jantung sebagai penyebab syok.
Ekokardiografi
USG jantung untuk menilai kekuatan pompa, katup, cairan di sekitar jantung, dan tanda beban akibat bekuan di paru.
Kateterisasi Jantung Kanan
Pengukuran tekanan di jantung kanan dan arteri paru pada syok berat untuk membantu mengatur cairan dan obat.
06 / Memahami kondisi
Pilihan Penanganan.
Penanganan ditentukan dokter setelah evaluasi. Kategori berikut membantu Anda memahami pembicaraan dengan dokter.
Pertolongan Pertama
Hubungi layanan gawat darurat, baringkan orang tersebut, angkat tungkainya bila tidak ada cedera, jaga tetap hangat, dan jangan beri makan atau minum.
Cairan Infus
Cairan diberikan lewat infus untuk mengisi pembuluh darah, dengan jumlah yang dinilai berulang sesuai respons tubuh.
Transfusi Darah
Pada syok akibat perdarahan, darah dan komponen pembekuan diberikan sambil sumber perdarahan dihentikan.
Obat Penaik Tekanan Darah
Obat golongan vasopresor atau penguat pompa jantung diberikan lewat infus di IGD atau ruang intensif dengan pemantauan ketat.
Menangani Penyebab
Antibiotik untuk sepsis, adrenalin untuk anafilaksis, pembukaan pembuluh koroner untuk serangan jantung, atau penanganan bekuan dan cairan di sekitar jantung.
Bantuan Napas dan Alat Pendukung
Oksigen, alat bantu napas, dan pada syok kardiogenik tertentu, alat bantu pompa jantung sementara di ruang intensif.
07 / Memahami kondisi
Komplikasi yang Perlu Dipantau.
Gagal Ginjal Akut
Aliran darah yang kurang membuat ginjal berhenti menyaring darah; sebagian pasien memerlukan cuci darah sementara.
Gangguan Banyak Organ
Syok yang berlangsung lama dapat mengganggu paru, hati, usus, otak, dan pembekuan darah secara bersamaan.
Kerusakan Otot Jantung
Tekanan darah yang rendah mengurangi aliran darah koroner sehingga otot jantung ikut kekurangan oksigen.
Henti Jantung
Syok berat yang tidak tertangani dapat berlanjut menjadi henti jantung, sehingga pertolongan sejak awal sangat penting.
Pemulihan Panjang setelah Perawatan Intensif
Sebagian pasien mengalami lemah otot, gangguan konsentrasi, atau rasa cemas setelah keluar dari ruang intensif dan memerlukan rehabilitasi.
08 / Memahami kondisi
Apa yang Bisa Dilakukan?
- Kenali dan obati infeksi sejak awal, terutama pada lansia, bayi, dan penyandang penyakit kronis.
- Saat diare atau muntah, minum oralit sedikit demi sedikit dan segera ke dokter bila tidak bisa minum.
- Pada demam berdarah, pantau tanda bahaya saat demam mulai turun dan periksakan diri sesuai anjuran dokter.
- Bila pernah mengalami anafilaksis, hindari pemicunya dan selalu bawa obat darurat yang diresepkan dokter.
- Kendalikan faktor risiko serangan jantung: tekanan darah, kolesterol, gula darah, dan rokok.
- Lengkapi vaksinasi yang dianjurkan dokter untuk mencegah infeksi berat, seperti influenza dan pneumonia.
09 / Memahami kondisi
Kapan Harus ke Dokter?
Syok tidak bisa ditunggu di rumah. Hubungi layanan gawat darurat 119 atau segera bawa ke IGD terdekat bila muncul tanda berikut, terutama pada orang yang sedang sakit, baru cedera, atau baru terpapar pemicu alergi. Sambil menunggu bantuan, baringkan orang tersebut, jaga tetap hangat, dan jangan beri makan atau minum.
- Kulit pucat, dingin, dan lembap disertai nadi cepat dan lemah
- Gelisah, bingung, sangat mengantuk, atau pingsan
- Napas cepat, sesak, atau bibir kebiruan
- Tidak buang air kecil selama berjam-jam disertai lemas
- Perdarahan banyak, muntah darah, atau tinja hitam
- Bengkak wajah, bibir, atau tenggorokan dengan sesak setelah makan, minum obat, atau tersengat
- Nyeri dada disertai keringat dingin dan lemas
10 / Pertanyaan umum
Hal yang Mungkin Anda Tanyakan.
Pertanyaan yang sering diajukan tentang syok dan tekanan darah yang turun berat.
Apa bedanya syok dengan pingsan biasa?
Pingsan biasa, misalnya karena refleks vasovagal, berlangsung singkat, dan orang segera sadar setelah berbaring dengan tekanan darah yang cepat pulih. Pada syok, tekanan darah dan aliran darah tetap rendah, sehingga kulit tetap dingin dan pucat, napas cepat, orang tampak bingung, dan urine berkurang. Syok selalu memerlukan pertolongan di IGD, sedangkan pingsan biasa tetap perlu dievaluasi dokter.
Apa yang harus dilakukan sambil menunggu ambulans?
Baringkan orang tersebut telentang dan angkat kedua tungkainya sekitar 30 cm bila tidak ada cedera kepala, leher, punggung, atau tungkai. Bila ia sesak napas, biarkan dalam posisi duduk yang nyaman. Selimuti agar tetap hangat dan jangan beri makan atau minum. Tekan luka yang berdarah dengan kain bersih. Bila ia tidak bernapas normal, mulai resusitasi jantung paru sesuai panduan petugas gawat darurat.
Apakah semua orang dengan tekanan darah sangat rendah mengalami syok?
Tidak. Syok ditentukan oleh kurangnya aliran darah ke organ, bukan hanya angka tekanan darah. Sebagian orang sehat memiliki tekanan darah rendah tanpa masalah. Sebaliknya, pada awal syok tekanan darah bisa masih normal karena tubuh sedang mengimbangi. Tanda seperti kulit dingin, nadi cepat, bingung, dan urine sedikit membantu dokter mengenali syok.
Apa hubungan syok dengan serangan jantung?
Serangan jantung yang luas dapat melemahkan pompa jantung sehingga darah tidak cukup dialirkan ke seluruh tubuh. Keadaan ini disebut syok kardiogenik, yang dibahas di halaman Syok Kardiogenik. Penanganannya meliputi obat penaik tekanan darah, pembukaan arteri koroner yang tersumbat secepatnya, dan kadang alat bantu pompa jantung sementara di ruang intensif.
Bisakah demam berdarah menyebabkan syok?
Bisa. Pada demam berdarah dengue, cairan darah dapat merembes keluar dari pembuluh darah, terutama saat demam mulai turun sekitar hari ketiga sampai ketujuh. Waspadai nyeri perut, muntah terus-menerus, gelisah, tangan dan kaki dingin, perdarahan gusi atau hidung, serta jarang buang air kecil. Tanda tersebut perlu segera diperiksa di fasilitas kesehatan terdekat.
Apakah orang bisa pulih sepenuhnya setelah syok?
Banyak orang pulih dengan baik, terutama bila syok dikenali dan ditangani sejak awal. Lama pemulihan bergantung pada penyebab, berat syok, dan organ yang terdampak. Sebagian pasien memerlukan rehabilitasi karena lemah otot, gangguan konsentrasi, atau rasa cemas setelah perawatan intensif. Kontrol rutin membantu memantau fungsi jantung, ginjal, dan organ lain.
Sumber dan Tinjauan Medis
Ditinjau secara medis oleh dr. Debby C. Soemitha, Sp.PD.
- Vincent JL, De Backer D. Circulatory shock. N Engl J Med. 2013;369(18):1726-1734.
- Cecconi M, De Backer D, Antonelli M, Beale R, Bakker J, Hofer C, et al. Consensus on circulatory shock and hemodynamic monitoring. Task force of the European Society of Intensive Care Medicine. Intensive Care Med. 2014;40(12):1795-1815.
- Evans L, Rhodes A, Alhazzani W, Antonelli M, Coopersmith CM, French C, et al. Surviving sepsis campaign: international guidelines for management of sepsis and septic shock 2021. Intensive Care Med. 2021;47(11):1181-1247.
- van Diepen S, Katz JN, Albert NM, Henry TD, Jacobs AK, Kapur NK, et al. Contemporary management of cardiogenic shock: a scientific statement from the American Heart Association. Circulation. 2017;136(16):e232-e268.
- Muraro A, Worm M, Alviani C, Cardona V, DunnGalvin A, Garvey LH, et al. EAACI guidelines: Anaphylaxis (2021 update). Allergy. 2022;77(2):357-377.
- Spahn DR, Bouillon B, Cerny V, Duranteau J, Filipescu D, Hunt BJ, et al. The European guideline on management of major bleeding and coagulopathy following trauma: fifth edition. Crit Care. 2019;23(1):98.




