Jawaban singkat
Apa Itu Restenosis?
Restenosis adalah menyempitnya kembali arteri koroner di tempat yang pernah dilebarkan dengan balon atau dipasang stent (ring jantung), akibat pertumbuhan jaringan di dalamnya. Keluhannya biasanya nyeri dada saat aktivitas yang muncul kembali secara bertahap.
Sumber informasiTanda yang Memerlukan Pertolongan Segera
- Nyeri dada saat istirahat atau tidak hilang setelah 5 menit beristirahat
- Nyeri dada yang makin sering, makin berat, atau dipicu aktivitas lebih ringan
- Keringat dingin, mual, atau lemas disertai nyeri dada
- Sesak napas berat
- Pingsan atau hampir pingsan
Bila tanda ini muncul, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258.
01 / Memahami kondisi
Mengenal Restenosis
Restenosis adalah penyempitan ulang pada bagian arteri yang sebelumnya sudah dilebarkan. Pada jantung, restenosis umumnya terjadi di dalam stent koroner yang dipasang saat angioplasti, sehingga disebut restenosis dalam stent (in-stent restenosis). Restenosis juga dapat terjadi di arteri lain yang pernah dilebarkan, seperti arteri tungkai, tetapi halaman ini membahas restenosis di arteri koroner. Restenosis bukan sumbatan mendadak oleh bekuan darah. Keadaan mendadak itu disebut trombosis stent dan dibahas di halaman Trombosis Stent.
Mengapa Arteri Dapat Menyempit Lagi
Setelah balon dan stent melebarkan arteri, dinding pembuluh mengalami luka kecil lalu mulai pulih. Pada sebagian orang, proses pemulihan ini berlebihan: sel otot polos dan jaringan ikat tumbuh menebal di dalam stent sehingga rongga arteri menyempit kembali. Penyempitan jenis ini biasanya muncul dalam 3 sampai 12 bulan setelah tindakan. Bertahun-tahun kemudian, plak kolesterol baru juga dapat tumbuh di dalam stent. Faktor lain yang berperan adalah stent yang kurang mengembang, ukuran stent yang terlalu kecil, atau patahnya kerangka stent.
Seberapa Sering Terjadi
Pada masa stent logam tanpa lapisan obat, penyempitan ulang ditemukan pada sekitar 20 sampai 30 dari 100 pasien. Stent berlapis obat (drug-eluting stent), yang melepaskan obat penghambat pertumbuhan jaringan secara perlahan, menurunkan angka ini menjadi kurang dari 10 dari 100 pasien. Karena itu, pedoman ESC menganjurkan stent berlapis obat untuk pemasangan stent koroner. Risiko lebih tinggi pada penyandang diabetes, arteri berdiameter kecil, penyempitan yang panjang, dan penyempitan di percabangan arteri.
Bagaimana Restenosis Ditangani
Tidak semua restenosis perlu tindakan. Bila penyempitan ringan dan tidak mengurangi aliran darah, dokter dapat memilih obat dan pemantauan. Bila arteri perlu dibuka kembali, pilihan utamanya adalah stent berlapis obat baru di dalam stent lama atau balon berlapis obat. Pencitraan dari dalam arteri dengan IVUS atau OCT membantu dokter melihat penyebab penyempitan sebelum memilih cara. Pada restenosis berulang atau penyakit di banyak pembuluh, operasi bypass koroner dapat dipertimbangkan. Tindakan pembukaan arteri dibahas di halaman Angioplasti Koroner dan di halaman Intervensi Koroner Perkutan (PCI).
02 / Memahami kondisi
Gejala yang Perlu Dikenali.
Gejala Umum
Sebagian restenosis tidak menimbulkan keluhan dan baru ditemukan lewat pemeriksaan.
- Nyeri, rasa berat, atau tertekan di dada saat aktivitas, mirip keluhan sebelum stent dipasang
- Nyeri menjalar ke lengan, leher, rahang, atau punggung saat beraktivitas
- Sesak napas saat aktivitas yang dulu terasa ringan
- Kemampuan berjalan atau naik tangga menurun dibanding setelah tindakan
- Mudah lelah saat beraktivitas
- Keluhan yang mereda setelah istirahat beberapa menit
03 / Memahami kondisi
Apa yang Menyebabkan Kondisi Ini?
- Pertumbuhan jaringan parut berlebih di dalam stent sebagai bagian dari proses penyembuhan dinding arteri
- Plak kolesterol baru yang tumbuh di dalam stent setelah bertahun-tahun
- Stent yang kurang mengembang atau ukurannya kurang sesuai dengan arteri
- Kerangka stent yang patah atau tertekuk, terutama pada arteri yang banyak bergerak
- Pelebaran dengan balon saja tanpa stent, sehingga dinding arteri dapat mengerut kembali
- Penyempitan yang panjang, di percabangan, atau di arteri berdiameter kecil
04 / Memahami kondisi
Siapa yang Lebih Berisiko?
Medis
Diabetes, penyakit ginjal kronis, dan kolesterol LDL yang tidak terkendali meningkatkan risiko restenosis. Riwayat restenosis sebelumnya juga menaikkan risiko berulang.
Gaya Hidup
Merokok, pola makan tinggi lemak jenuh, kurang gerak, dan berat badan berlebih mempercepat penyempitan baru di dalam maupun di luar stent.
Lainnya
Stent logam tanpa lapisan obat, stent yang panjang atau bertumpuk, arteri kecil, penyempitan di percabangan, dan pemasangan stent pada cangkok bypass dari vena.
Kelompok yang Lebih Berisiko
- Penyandang Diabetes: Diabetes mendorong pertumbuhan jaringan di dalam stent dan penyempitan baru, sehingga risiko restenosis lebih tinggi.
- Pasien dengan Stent Panjang atau Bertumpuk: Stent yang panjang, bertumpuk, atau dipasang di arteri kecil dan percabangan lebih sering menyempit kembali.
- Pasien yang Pernah Mengalami Restenosis: Restenosis yang sudah pernah ditangani lebih mungkin kambuh, terutama bila sudah ada dua lapis stent.
- Penyandang Penyakit Ginjal Kronis: Gangguan ginjal berkaitan dengan pengapuran pembuluh darah dan risiko restenosis yang lebih tinggi.
05 / Memahami kondisi
Bagaimana Diagnosis Ditegakkan?
Dokter mulai dengan menanyakan keluhan, kapan stent dipasang, dan apakah pola nyeri dada mirip keluhan sebelum tindakan. EKG dan uji beban, seperti ekokardiografi stres atau pencitraan perfusi miokard, membantu menilai apakah ada bagian otot jantung yang kekurangan aliran darah. CT koroner dapat dipakai pada stent berukuran besar, tetapi kerangka logam sering membuat bagian dalam stent kecil sulit dinilai.
Bila keluhannya khas atau uji beban menunjukkan kekurangan aliran, dokter melakukan angiografi koroner. Pedoman ESC menganjurkan pencitraan dari dalam arteri dengan IVUS atau OCT untuk mencari penyebab mekanis restenosis, misalnya stent yang kurang mengembang atau kerangka yang patah. Pengukuran FFR dapat dipakai untuk menentukan apakah penyempitan cukup berat untuk dibuka kembali.
Ekokardiografi Stres
Uji beban dengan USG jantung untuk melihat apakah ada bagian dinding jantung yang kekurangan aliran darah saat jantung bekerja lebih keras.
Pencitraan Perfusi Miokard
Pemeriksaan kedokteran nuklir yang membandingkan aliran darah ke otot jantung saat istirahat dan saat dibebani.
Elektrokardiogram / EKG
Mencari tanda kekurangan aliran darah ke otot jantung, terutama saat nyeri dada atau saat uji beban.
Angiografi Koroner
Memastikan letak dan beratnya penyempitan di dalam stent, sekaligus menjadi peta bila arteri perlu dibuka kembali.
Ultrasonografi Intravaskular (IVUS)
Gelombang suara dari dalam arteri menunjukkan apakah stent mengembang penuh dan seberapa tebal jaringan yang tumbuh di dalamnya.
Optical Coherence Tomography (OCT)
Gambar rinci dari dalam stent untuk membedakan jaringan parut, plak baru, atau kerangka stent yang patah.
Cadangan Aliran Fraksional (FFR)
Mengukur tekanan di dalam arteri untuk menentukan apakah penyempitan cukup berat untuk dibuka kembali.
06 / Memahami kondisi
Pilihan Penanganan.
Penanganan ditentukan dokter setelah evaluasi. Kategori berikut membantu Anda memahami pembicaraan dengan dokter.
Obat dan Pemantauan
Bila penyempitan ringan atau tidak mengurangi aliran darah, dokter dapat melanjutkan obat antiangina, obat antiplatelet, dan statin dengan pemantauan berkala.
Stent Berlapis Obat Baru
Stent baru dipasang di dalam stent lama untuk menahan pertumbuhan jaringan. Pilihan ini dianjurkan pedoman untuk restenosis dalam stent.
Balon Berlapis Obat
Balon yang melepaskan obat ke dinding arteri tanpa menambah lapisan logam, berguna terutama bila sudah ada beberapa lapis stent.
Persiapan dengan Balon Khusus
Balon bertekanan tinggi atau balon pemotong dapat dipakai untuk melebarkan stent yang kurang mengembang sebelum stent atau balon berlapis obat dipasang.
Operasi Bypass Koroner
Dipertimbangkan bila restenosis berulang, penyakit mengenai banyak pembuluh, atau penyempitan berada di pangkal arteri koroner kiri.
Pengendalian Faktor Risiko
Berhenti merokok, mengendalikan diabetes, tekanan darah, dan kolesterol LDL, serta mengikuti rehabilitasi jantung membantu mencegah penyempitan baru.
07 / Memahami kondisi
Komplikasi yang Perlu Dipantau.
Angina yang Kambuh
Nyeri dada saat aktivitas kembali muncul dan membatasi kegiatan sehari-hari sampai penyempitan ditangani.
Serangan Jantung
Sebagian restenosis muncul sebagai angina tidak stabil atau serangan jantung, sehingga nyeri dada saat istirahat perlu segera diperiksa. Dibahas di halaman Infark Miokard / Serangan Jantung.
Restenosis Berulang
Setelah ditangani, restenosis dapat kambuh lagi, terutama bila sudah ada beberapa lapis stent, sehingga pilihan berikutnya perlu direncanakan dengan cermat.
Risiko Tindakan Ulang
Pembukaan ulang lewat kateter atau operasi bypass membawa risiko tindakan, termasuk perdarahan di tempat tusukan dan gangguan ginjal akibat zat kontras.
08 / Memahami kondisi
Apa yang Bisa Dilakukan?
- Minum obat antiplatelet, statin, dan obat lain sesuai resep tanpa berhenti sendiri
- Berhenti merokok sepenuhnya, termasuk rokok elektrik
- Kendalikan gula darah, tekanan darah, dan kolesterol LDL sesuai target dari dokter
- Ikuti program rehabilitasi jantung dan tetap aktif bergerak
- Datang kontrol sesuai jadwal dan bawa kartu atau catatan stent Anda
- Laporkan nyeri dada atau sesak yang kembali muncul sejak dini
09 / Memahami kondisi
Kapan Harus ke Dokter?
Segera ke IGD bila nyeri dada muncul saat istirahat, tidak hilang setelah 5 menit, atau disertai keringat dingin dan sesak. Buat janji kontrol lebih awal dengan dokter jantung bila:
- Nyeri atau rasa berat di dada saat aktivitas kembali muncul setelah pemasangan stent
- Anda lebih cepat sesak atau lelah saat berjalan atau naik tangga
- Keluhan muncul dengan pola yang mirip keluhan sebelum tindakan
- Anda penyandang diabetes dan merasa kemampuan beraktivitas menurun
- Anda ragu apakah obat setelah pemasangan stent boleh dihentikan
Jangan Menunggu bila Kondisinya Darurat.
Bila keluhan terasa berat atau muncul mendadak, segera ke IGD terdekat atau hubungi Heart Attack Center 1500 258, bukan menunggu janji temu.
10 / Pertanyaan umum
Hal yang Mungkin Anda Tanyakan.
Pertanyaan yang sering diajukan tentang restenosis.
Apa beda restenosis dengan trombosis stent?
Restenosis adalah penyempitan yang terjadi perlahan dalam beberapa bulan sampai tahun karena jaringan tumbuh di dalam stent, sehingga keluhannya biasanya nyeri dada saat aktivitas yang muncul bertahap. Trombosis stent adalah sumbatan mendadak oleh bekuan darah, umumnya menimbulkan serangan jantung, dan memerlukan pertolongan darurat. Trombosis stent dibahas di halaman Trombosis Stent.
Seberapa besar kemungkinan stent saya menyempit lagi?
Dengan stent berlapis obat, penyempitan ulang dialami kurang dari 10 dari 100 pasien, dan yang memerlukan tindakan ulang lebih sedikit lagi. Angka ini jauh lebih rendah dibanding stent logam tanpa lapisan obat. Risiko pada setiap orang bergantung pada diabetes, ukuran dan panjang stent, serta letak penyempitan. Dokter Anda dapat menjelaskan risiko berdasarkan hasil tindakan Anda.
Apakah restenosis berarti pemasangan stent saya gagal?
Tidak selalu. Restenosis adalah reaksi penyembuhan dinding arteri yang berlebihan dan dapat terjadi walau tindakan berjalan baik. Namun, dokter tetap mencari penyebab mekanis, misalnya stent yang kurang mengembang, karena hal ini memengaruhi cara penanganan. Pencitraan dari dalam arteri dengan IVUS atau OCT membantu menemukan penyebab tersebut sehingga tindakan berikutnya dapat direncanakan lebih tepat.
Apakah saya perlu dipasang stent lagi?
Tidak selalu. Bila penyempitan ringan dan tidak mengurangi aliran darah, obat dan pemantauan dapat cukup. Bila perlu dibuka, pilihannya adalah stent berlapis obat baru di dalam stent lama atau balon berlapis obat yang tidak menambah lapisan logam. Pada restenosis berulang atau penyakit di banyak pembuluh, dokter dapat menyarankan operasi bypass. Pilihan ditentukan dari hasil pencitraan dan keadaan Anda.
Bisakah restenosis dicegah?
Risikonya dapat dikurangi. Stent berlapis obat, ukuran stent yang tepat, dan pemasangan yang dipandu pencitraan dari dalam arteri menurunkan kemungkinan restenosis. Dari sisi Anda, berhenti merokok, mengendalikan diabetes dan kolesterol, serta minum obat sesuai resep membantu mencegah penyempitan baru. Restenosis tidak dapat dicegah sepenuhnya, sehingga keluhan yang kembali muncul perlu segera disampaikan kepada dokter.
Apakah saya perlu angiografi rutin walau tidak ada keluhan?
Umumnya tidak. Pedoman tidak menganjurkan angiografi koroner rutin bagi pasien tanpa keluhan setelah pemasangan stent. Pemeriksaan dilakukan bila keluhan kembali muncul, bila uji beban menunjukkan kekurangan aliran darah, atau pada keadaan tertentu seperti stent di pangkal arteri koroner kiri. Kontrol berkala, EKG, dan uji beban sesuai anjuran dokter umumnya cukup untuk memantau keadaan Anda.
Sumber dan Tinjauan Medis
Ditinjau secara medis oleh dr. Adrianus Kosasih, Sp.JP(K).
- Neumann FJ, Sousa-Uva M, Ahlsson A, Alfonso F, Banning AP, Benedetto U, et al. 2018 ESC/EACTS Guidelines on myocardial revascularization. Eur Heart J. 2019;40(2):87-165.
- Vrints C, Andreotti F, Koskinas KC, Rossello X, Adamo M, Ainslie J, et al. 2024 ESC Guidelines for the management of chronic coronary syndromes. Eur Heart J. 2024;45(36):3415-537.
- Giustino G, Colombo A, Camaj A, Yasumura K, Mehran R, Stone GW, et al. Coronary In-Stent Restenosis: JACC State-of-the-Art Review. J Am Coll Cardiol. 2022;80(4):348-72.
- Alfonso F, Byrne RA, Rivero F, Kastrati A. Current treatment of in-stent restenosis. J Am Coll Cardiol. 2014;63(24):2659-73.
- Räber L, Mintz GS, Koskinas KC, Johnson TW, Holm NR, Onuma Y, et al. Clinical use of intracoronary imaging. Part 1: guidance and optimization of coronary interventions. An expert consensus document of the European Association of Percutaneous Cardiovascular Interventions. Eur Heart J. 2018;39(35):3281-300.
- Byrne RA, Joner M, Kastrati A. Stent thrombosis and restenosis: what have we learned and where are we going? The Andreas Grüntzig Lecture ESC 2014. Eur Heart J. 2015;36(47):3320-31.




